
"Arra, di mana?" suara Damaresh dengan nada datar pertanyaannya langsung memenuhi pendengaran, ketika Aura mengangkat telfhonnya.
"Di Basement,"
"Sudah mau pulang?"
"Iya, kan ini memang sudah waktunya pulang, Aresh,"
"Ada yang ketinggalan, Arra,"
klik. Usai mengucapkan itu, Damaresh langsung mematikan telfhonnya, padahal Aura sudah membuka mulutnya untuk bertanya tentang hal apa yang ketinggalan itu. Gadis itu hanya bisa mendesah pelan dan menghampiri Dirga yang sudah menunggu di samping mobil.
"Sebentar ya, Pak. Saya mau kembali lagi ke atas, ada yang ketinggalan, katanya bos!"
"Iya, Mbak. Silahkan!"
Aura kembali memasuki kantor yang mulai di tinggalkan oleh orang-orangnya satu persatu, dan langkahnya langsung terayun menuju lemari besi yang akan membawanya ke lantai duapuluh tuju, dimana tahta Pramudya Corp berada.
Di dalam ruangan CEO itu sendiri, Kaivan masih terlibat perbincangan dengan Damaresh dari sejak satu jam lalu, tapi kini dengan mode santai tak seperti tadi yang terlihat begitu serius, hingga Aura sampai tak berani untuk berpamitan pulang lebih dulu pada keduanya karna tak ingin menjeda pembicaraan yang terlihat sangat penting itu.
"Aura tau, kalau daerah di sekitar kontrakannya itu akan segera di gusur?" tanya Kaivan.
"Iya,"
"Apa tanggapannya?"
"Sempat tak setuju,"
"Lalu?"
"Lalu apa?"
"Lalu di mana Aura akan tinggal selanjutnya, Aresh,"
"Di tempat yang aman," kata Damaresh santai.
"Tempat yang aman untuk Aura tinggal itu, di sampingmu. Karna dia itu istrimu!" Kaivan menatap kesal sahabat sekaligus bos besarnya itu.
"Gak usah diperjelas, itu juga aku udah tau," timpal Damaresh tetap dengan raut santainya.
Kaivan memang belum tau kalau Aura sekarang sudah tinggal Di rumah Damaresh, karna sudah cukup lama Kai gak pernah datang ke rumah itu. Biasanya Kaivan bertemu Damaresh di apartement atau di luar rumah.
"Bagus kalau kau sadar sebelum aku memutuskan untuk me-ruqyahmu," ujar Kaivan sambil tertawa lepas, membuat Damaresh menatapnya tajam.
Terdengar ketukan di pintu.
"Masuk!"
Pintu besar itu di dorong dari luar, menampilkan wajah Aura Aneshka yang menatap keduanya dengan tersenyum lembut.
Beda dengan Damaresh yang menatap saja pada Aura, Kaivan segera bertanya heran. "Aura, ada apa? kenapa kau kembali lagi? bukannya kau sudah pulang?"
"Eeh itu pak, kata Pak Damaresh, ada sesuatu yang ketinggalan!"
"Oo," Kaivan mengangguk-anggukkan kepalanya. Aura segera maju mendekati Damaresh.
"Jadi, apa yang ketinggalan, Pak?" tanya Aura.
"Jadi kau belum tau apa yang ketinggalan?" Damaresh malah balik tanya, itulah kebiasaannya memang.
Aura menggeleng.
"Aku beri waktu sepuluh menit untukmu mengingat, hal apa yang ketinggalan itu," ucap Damaresh.
__ADS_1
Aura menatapnya dengan kening berkerut.
"Suamimu sedang bermain teka-teki denganmu, Ra."
Kaivan segera menanggapi demi dilihatnya expresi Aura yang nampak bingung, dan Damaresh yang nampak serius.
"Kau periksa saja dalam tasmu, Ra! Ada yang ketinggalan tidak?" usul Kaivan yang segera di angguki Aura, gadis itu lalu duduk di sofa sambil memeriksa isi tasnya dengan teliti, dan hasilnya semua barang yang dibawanya berkumpul lengkap dalam tas, dan tak ada yang tertinggal.
"Lengkap kok, Pak. Gak ada yang tertinggal," ucap Aura menatap Kaivan dan Damaresh bergantian.
"Kau pikirkan saja dulu, sampai kau ingat semuanya!"
titah Damaresh yang masih enggan untuk memberitau hal apa yang tertinggal itu.
"Tapi pak Dirga sudah menungguku di bawah,"
"Dirga akan tetap menunggumu sampai berapapun lamanya, Arra."
Aura memilih diam, dan patuh saja pada perintah Damaresh, berdebat dengan lelaki itu sekarang adalah bukan pilihan yang tepat.
"Ada yang tak beres ini," kata Kaivan sambil menatap Damaresh curiga, namun lelaki itu segera mengalihkan pembicaraan tentang lain hal, mengabaikan Aura yang masih duduk termangu dengan segala tanda tanya dalam kepalanya.
Sejurus kemudian, Aura menghampiri Damaresh.
"Aku sudah tau, apa yang ketinggalan itu," kata gadis itu sambil tersenyum.
"Apa?"
"Ini," Aura segera meraih tangan Damaresh, lalu membungkukkan tubuhnya mencium punggung tangan lelaki itu.
"Bagus kalau kau ingat," ucap Damaresh.
"Maaf aku tadi tak sempat pamit, karna takut mengganggu pembicaraan kalian yang sepertinya sangat penting," tutur Aura sambil tersenyum.
Damaresh mengangguk kecil.
perlakuan Aura yang selalu mencium tangannya, tapi lebih dari itu, Damaresh bahkan merasa ada yang kurang ketika Aura lupa untuk melakukannya.
"Apa yang kulihat barusan Aresh?" tanya Kaivan sepeninggal Aura. "Pertunjukan opera, telenovela, atau drama korea?" Expresi Kaivan dibuat se-heran mungkin.
"Bukan ketiganya," sahut Damaresh cepat.
"Iya memang bukan, itu barusan drama seorang suami yang merasa kecanduan dicium tangannya oleh sang istri. Besok atau lusa pasti kecanduan yang lainnya akan datang juga."
Damaresh terdiam, sepertinya ucapan Kaivan itu memang benar dan ia pun merasakannya sekarang.
Tiba-Tiba kekalutan melingkupi perasaannya dengan cepat, namun secepat itupula, Damaresh segera menepisnya jauh.
****
"Pak, mampir super market sebentar ya!, saya mau belanja beberapa keperluan," kata Aura pada Dirga yang duduk di belakang kemudi.
"Iya, Mbak,"
Hampir setengah jam waktu yang di habiskan Aura untuk berbelanja itu bukan karna telalu banyak belanjaan yang ia borong, melainkan antrian yang cukup panjang di depan kasir.
Memasuki halaman rumah terdapat sebuah mobil jenis mercy E Class yang sudah terparkir di sana. Bukan mobil SUV warna putih atau lexus hitam yang biasa dipakai oleh Damaresh Willyam.
"Apa ada tamu, Pak?" tanya Aura heran, seiring pula dengan keheranan Dirga.
"Entahlah, Mbak, biasanya hanya Mas Kaivan yang bertamu kemari," sahut Dirga.
"Tapi itu bukan mobilnya Pak Kaivan," ucap Aura yang tau betul pada jenis mobil milik Kaivan.
__ADS_1
Dirga mengangguk, bisa jadi itu memang tuan muda yang datang, untuk orang se-kaya tuan, mau beli mobil mewah setiap hari pasti bisa, pikir Dirga. Setelah ia dibuat tegang sendiri dengan beberapa kemungkinan-kemungkinan tentang siapa yang datang, pasalnya Damaresh sangat menjaga kerahasiaan rumah ini dari keluarga besarnya dan orang lain.
Dan benar saja, memasuki ruang dalam, mereka sama-sama melihat Damaresh turun dari tangga tetap dengan pakaian formalnya minus jas yang sudah tak lagi membaluti tubuh gagahnya.
"Dari mana saja? kenapa baru nyampai?" ia langsung bertanya pada Aura dan Dirga.
"Maaf, Tuan. tadi-"
"Aku minta pak Dirga mengantarku ke super market dulu." Aura menjawab cepat memotong ucapan Dirga, karna ia tak ingin Dirga nantinya akan mendapatkan kemarahan Damaresh atas kesalahan yang dilakukan Aura.
"Aku membeli beberapa keperluan di sana," lanjut Aura demi dilihatnya Damaresh hanya diam saja.
"Bayar?" tanya lelaki itu singkat.
"Iya, lah. Masak ngutang," jawab Aura sambil senyum.
"Punya uang?" tanya Damaresh lagi.
"Ada, sisa gaji bulan kemarin,"
Damaresh mengangguk kecil. Aura segera meletakkan satu tas belanjaannya di meja dekat lemari es, sedangkan untuk tas belanjaan yang lebih kecil yang merupakan barang pribadinya akan ia bawa ke dalam kamarnya tentu.
Terdengar Dirga bertanya pada Damaresh. "Saya buatkan minuman, tuan?"
"Tidak perlu, aku hanya mampir sebentar mengambil berkas,"
"Kau akan pergi lagi, Aresh?" tanya Aura sambil melangkah mendekati.
"Iya,"
"Baiklah, hati-hati, ya," Aura kembali mencium tangan Damaresh, karna tak ingin perkara lupa cium tangan akan dipermasalahkan lagi oleh suami tampannya itu.
"Tidak ada yang ketinggalan lagi, kan?" tanya Aura kemudian dengan dibalut senyum manis.
"Ada," kata Damaresh singkat.
"Apa?"
Damaresh meraih tangan Aura meletakkan sesuatu di sana, dan Aura hampir membelalakkan matanya melihat benda yang ada di telapak tangannya kini.
Sebuah black card saudara-saudara.
"Pakai itu kalau mau belanja lagi," kata Damaresh.
Aura sudah membuka mulutnya untuk menyampaikan
penolakannya, namun Damaresh cepat berkata.
"Aku tidak menerima penolakan. Pin-nya nanti aku kirim ke ponselmu,"
Dan lelaki itu segera memutar tumitnya melangkah keluar, namun baru tiga langkah.
"Arra!" Damaresh kembali menatap Aura.
"Apa masih ada yang ketinggalan?" tanya Aura.
"Ada." lelaki itu kembali mendekati Aura, berdiri dekat di depannya, menundukkan kepalanya dan,
Cup. satu kecupan singkat mendarat di bibir ranum Aura. Gadis itu langsung tegang seketika.
Damaresh menatapnya sesaat dengan expresi yang tak bisa terbaca, sebelum kemudian segera bergegas cepat meninggalkan Aura yang masih berdiri mematung dengan wajah yang terasa panas.
Dirga, yang menjadi saksi atas peristiwa manis berdurasi singkat itu segera berlalu dengan menyembunyikan senyumnya.
__ADS_1