
"Kita akan pulang kemana?" tanya Aura.
"Kemanapun yang kau mau," sahut Damaresh.
Aura sesaat melirik suaminya yang duduk di tepi ranjang itu dengan tangan sibuk menari-nari di atas layar 9 inchi benda pipih yang dipegangnya, pun tatapannya yang tak lepas dari layar putihnya.
"Aku ingin tinggal di suatu tempat, yang mana di tempat itu ada kamu," ucap lirih Aura.
"Tentu saja, kita akan tinggal bersama,"
sahut Damaresh.
"Aku ingin tinggal di kota ini, di sekitar area perkebunan, mungkin di dekat wisata agro wonosari," kata Aura sambil menatap suaminya lekat, untuk mencari tau apa reaksi Damaresh setelah mendengar ucapannya itu.
"Kau ingin dekat dengan sherin?"
Ternyata Damaresh tetap menanggapi ucapannya meski perhatiannya hanya tetap terarah pada layar tab-nya saja.
Alarick dan Sherin memang tinggal di area wisata agro tersebut, bahkan Alarick adalah pemilik perkebunan teh terluas di sana.
"Tak hanya itu, aku suka suasananya di sana, adem, asri, hijau, dan bikin betah."
"Baiklah, aku akan membeli rumah di daerah sana," putus Damaresh segera.
"Benarkah?"
"Ya."
"Kau serius?"
"Tentu saja."
"Lalu berapa hari dalam seminggu, kau akan mengunjungiku? Atau berapa hari dalam sebulan?" tanya Aura dengan raut sendu, padahal sesaat lalu wajah itu sangat berbinar bahagia ketika Damaresh memutuskan untuk membelikannya rumah di dekat tempat tinggal Sherin.
"Setiap hari," sahut Damaresh.
"Tidak mungkin," lirih Aura.
"Kenapa gak mungkin, sayang?" Aresh menatap Aura sekejab, namun dengan cepat pula atensinya kembali beralih pada layar tab-nya.
Aura tersenyum, karna kata "sayang" yang disebutkan oleh Damaresh itu membuat perasaannya basah oleh rasa haru dan bahagia.
"Kenapa diam?" tanya Aresh setelah dalam beberapa saat tak terdengar ucapan Aura.
Rupanya kendati ia begitu fokus pada apa yang tengah dikerjakannya, dia juga tetap memperhatikan istrinya.
"Kau kan tinggal di Jakarta," jawab Aura.
"Aku akan tinggal bersama-mu disini."
"Terus bagaimana dengan pekerjaanmu?"
Aresh hanya menggeleng saja.
Aura ingin kembali bertanya, namun urung karena terdengar suara salam dari pintu ruangan yang terkuak sedikit bersamaan dengan hadirnya Sherin dan Quinsha di tempat itu.
Masih sangat terasakan adanya kecanggungan dalam diri Sherin dan Quinsha saat dalam sekejab bersitatap dengan Damaresh yang menampakkan raut datarnya saja itu.
"Aku keluar dulu ya," pamit Damaresh pada Aura yang segera mengangguk.
Saat laki-laki itu melintas di dekat Sherin, istri Alarick itu beranikan diri bertanya.
"Aura, jadi pulang hari ini?"
"Ya," jawabnya singkat dan terus keluar ruangan.
"Klan William, memang terlahir kaku, paling ya," celetuk Quinsha setelah tubuh gagah Damaresh hilang di balik pintu.
"Apaan sih," timpal Sherin.
"Pak Alarick itu menurutku sudah sangat kaku, tapi ternyata ada yang lebih kaku," kata Quinsha sambil mengedikkan bahu.
"Untung ganteng," imbuhnya lagi.
Aura dan Sherin hanya saling melempar senyum menanggapi ucapan Quinsha itu.
"Aku bahagia untukmu," ucap Sherin pada Aura setelah ia duduk tak jauh di samping sahabatnya itu.
"Kau harus kuat, betapapun beratnya..aku tak tau seberapa berat perjuanganmu selama ini untuk tetap berada di samping suamimu, tapi dari apa yang sudah di ceritakan oleh suamiku aku sedikit banyak jadi paham,bagaimana keluarga William itu. Aku bersyukur, aku masuk dalam kehidupan Alarick saat dia sudah tak menjadi bagian dari keluarga William. Jika saja masih, mungkin aku tak akan sekuat dirimu untuk bertahan Aura," tutur Sherin seraya menggenggam lembut tangan Aura.
__ADS_1
"Selama ini aku kuat, karna Aresh yang selalu membelaku," sahut Aura.
"Dia sangat mencintaimu, aku tau dibalik sikapnya yang kaku, dia sangat menyayangimu," kata Sherin dengan senyum.
"Dia sebenarnya lembut dan penyayang-" ujar Aura yang segera disanggah oleh Quinsha.
"Iya, kelembutan dan sayangnya itu hanya ia peruntukkan padamu tidak pada yang lain. Kau lihat saja bagaimana sikapnya pada orang lain. Tapi dengan itu kau harus bersyukur karena itu artinya, kau yang paling istimewa di hatinya."
"Alhamdulillah," sahut Aura dengan senyum.
Sherin dan Quinsha lalu mulai berkemas untuk kepulangan Aura dari rumah sakit. Setelah semuanya selesai dan sembari menunggu dokter mereka duduk bersantai di sofa.
"Apa kau akan langaung pulang ke Surabaya?" tanya Quinsha pada Aura.
"Tidak, mereka akan pulang ke rumahku dulu, sembari menunggu untuk mendapatkan rumah yang cocok."
Sherin yang menjawab pertanyaan Quinsha, sedangkan Aura hanya menganggukkan kepalanya saja.
"Jadi, kau akan tinggal disini?"
"Insha-Allah," jawab Aura.
"Alhamdulillah, aku senang sekali kita tinggal dalam satu kota, ya meskipun tidak dalam jarak yang sangat berdekatan, tapi dengan berada dalam satu kota yang sama, silaturrahmi kita akan lebih mudah," seloroh Quinsha dengan mata berbinar terang diliputi perasaan senang.
Ekpresi yang sama juga diperlihatkan oleh
Aura dan Sherin. Tapi sesaat kemudian Quinsha baru teringat sesuatu.
"Jadi, kau akan tinggal berjauhan lagi dengan suami mu, ya Aura? Suamimu, kan pekerjaannya ada di Jakarta?"
"Tidak berjauhan, mereka akan tinggal bersama, karna Damaresh sudah melepaskan jabatannya sebagai CEO, Pramudya Corp," sahut Sherin.
"Apa?" Quinsha bertanya kaget.
Dan tak hanya Quinsha, Aura juga menampakkan kekagetan yang sama.
"Apa itu benar? Kau tau dari siapa, Rin?"
tanya Aura.
"Lho? Jadi kau belum tau hal ini? Suami kamu tidak menceritakannya padamu?"
Sherin jadi balik bertanya heran.
"Aku tau dari suamiku, dan beritanya sudah tersebar luas kok, coba lihat saja!"
usul Sherin.
Aura hanya menerawangkan pandangannya ke luar jendela, beda dengan Quinsha yang segera meraih ponselnya dan tangannya dengan lincah menari-nari di atas layar pipihnya, menscrool dari atas ke bawah, dan terkadang sebaliknya.
"Wahh, iya benar." Quisha segera berseru heboh setelah mendapatakan apa yang tengah dicarinya.
"Damares William, CEO Pramudya Corp, menyatakan diri mundur dari jabatannya dan sekaligus memutuskan perjodohannya dengan putri pemilik Anggara Corp, hanya tiga hari setelah pertunangan mereka di-umumkan."
Quinsha membacakan berita yang tengah dilihatnya sekarang.
Aura nampak terhenyak, dan dalam sekejab, sepasang matanya nampak mengembun oleh tumpukan air yang siap menerjang turun.
"Jadi, kau belum tau hal ini?"
tanya Sherin lembut. Aura hanya menggeleng lemah dan segera menunduk, bersamaan dengan air matanya yang jatuh.
Quinsha dan Sherin jadi saling beradu pandang.
Pintu ruangan kembali dibuka dari luar, dan menampilkan sosok Damaresh yang masuk bersama Kaivan. Mereka membawa perbincangan kecil yang belum terselesaikan dari luar.
"Jam berapa aku berangkat, Resh?"
"Terserah, kau saja."
"Baiklah, aku akan--" kaivan memutus ucapannya begitu saja, saat tatapannya menangkap wajah Aura yang tertunduk dengan dua bulir air mata.
Kaivan segera mengirimkan isyarat pada Damaresh yang sepertinya juga belum mengetahuinya. Sedangkan Quinsha dan Sherin sudah diam seribu bahasa.
"Arra, kenapa?" Aresh segera duduk di depan istrinya itu dan meraih tangannya.
"Kau mengundurkan diri dari jabatanmu?"
"Ya."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Ya, karna aku memang harus melepasnya,"
Sahut Damaresh.
"Iya, alasannya apa?" tanya Aura lagi dengan air mata jatuh.
"Kau ingat apa yang kau katakan padaku, saat kau meminta cerai dariku?"
Aura tertunduk, untuk mengingat ucapan apa yang dimaksud oleh Damaresh.
Tapi sebelum ia meraih ingatannya, Damaresh sudah menyebutkannya lebih dulu.
"Kau mengatakan, bahwa cintamu kepadaku terhalangi oleh tahtaku. Jadi aku melepaskan tahta itu, agar tak ada lagi yang bisa menjadi penghalang cintamu kepadaku, dan cintaku kepadamu."
Sungguh menakjubkan penampakan wajah Aura sekarang. Dimana wajahnya yang masih bersimbah air mata, namun senyum bahagia terbit pada kedua bibirnya, atas ucapan dari Damaresh tersebut.
Senyum yang datang dari balik tangis, memang membuat seseorang terlihat kian manis. Hal itu pasti yang terbersit dalam benak Damaresh, hingga tatapannya memindai wajah istrinya dengan tanpa kedip. Andai saja ia tidak ingat kalau di tempat itu ada tiga onggok daging bernyawa, ia sudah menarik tubuh Aura dalam pelukan, dan dihujani dengan ciuman. Akhirnya ia hanya menghapus air mata Aura dengan jemarinya saja.
"Tapi bagaimana dengan ayah, Aresh? Ayahmu " tanya Aura sejenak kemudian.
"Daddy sudah berada di tempat yang aman," sahut Damaresh.
"Benarkah?"
"Ya."
Kembali Aura tersenyum senang, namun sedetik kemudian wajahnya kembali sendu.
"Lalu setelah ini, kau akan kerja apa?"
"Aku bisa kerja apa saja," sahut Damaresh santai.
"Kerja apa?" tanya Aura dengan tatapan menelisik.
"Kenapa? Kau kawatir akan hidup susah denganku? Atau kau sedih karna tak lagi menjadi istri seorang CEO?"
Damaresh membalik tanya dengan tatapan seriusnya.
"Bukan, bukan itu." Aura menggelengkan kepalanya kuat. "Yang biasanya terjadi, seperti yang aku baca di novel, atau kisah drama korea, tuan William pasti akan menjegalmu, untuk tidak diterima kerja di perusahaan manapun, apalagi dengan cara pengunduran dirimu yang pasti tidak disukai oleh tuan William."
Damaresh tertawa renyah mendengar apa yang diuraikan oleh Aura itu, ujung jarinya menoel sedikit hidung Aura seraya berkata.
"Jangan terlalu banyak nonton drama korea, biar pikiranmu tidak terkontaminasi."
"Tapi itu bisa saja terjadi, kan?" Aura bersikukuh dengan pendapatnya.
"Ya, bisa jadi," sahut Damaresh santai.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan?"
"Aku bisa kerja apa saja, bisa jadi tukang bakso, tukang shiomay,..."
Terlihat ekpresi miris di wajah Aura atas ucapan Damaresh itu.
"Kenapa? Kau malu?" Tanya Damaresh demi dilihatnya ekpresi Aura itu.
"Tidak. Tak masalah bagiku, kau mau berkerja apa saja, yang penting halal," sahut Aura mantap. " tapi--" gadis itu menggantungkan kalimatnya.
"Tapi apa?" Tanya damaresh cepat.
"Kita pulang ke Surabaya saja, kita tinggal di rumahku. gak usah beli rumah baru," putus Aura.
"Kenapa? Takut aku gak punya uang?"
Aura terdiam.
"Aku memang bukan CEO Pramudya Corp lagi, tapi aku belum bangkrut, Arra," ucap Aresh menahan senyum.
"Kai." Damaresh memberi isyarat pada Kaivan. Lelaki yang sekarang berstatus mantan executive asistant, CEO Pramudya itu segera maju ke arah Aura.
"Ini kunci rumahnya yang baru, Nyonya Damaresh."
Kaivan memberikan sebuah kunci rumah yang diterima Aura dengan kening berkerut.
"Kami baru datang dari bertransaksi rumah yang kau inginkan itu. Tak seberapa jauh dari tempat tinggal om Alarick,"
tutur Aresh.
__ADS_1
"Dan dia membayarnya kontan," imbuh Kaivan.
Aura hanya bisa terdiam, namun dengan senyum yang kembali terkembang.