Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
62. Hadiah Dari Syurga.


__ADS_3

"Tuan muda tidak ikut pulang Mas Kai?"


Tanya Dirga heran, karna hanya Kaivan yang dilihatnya turun dari mobil sendirian. Dirga yang memang selalu sangat antusias dengan kedatangan tuan muda-nya segera berdiri menyambut di depan pintu begitu mobil itu memasuki halaman, namun dirinya menjadi heran karna hanya Kaivan seorang diri yang datang.


Mereka memang telah tiba di Jakarta


Kembali setelah menempuh perjalanan selama satu jam tiga puluh menit dari Bandara Igusti Ngurah Ray Bali.


Jarak tempuh Bali-Jakarta yang normalnya sekitar satu jam empat puluh lima menit dapat ditempuh dengan sedikit lebih singkat karna mereka menggunakan jet pribadi.


Sekitar jam lima sore kurang sekian mobil yang dikemudikan oleh Kaivan itu meninggalkan bandara Soeta menuju rumah kediaman Damaresh, dan kuda besi itu mendarat dengan sempurna di halaman rumah mewah itu setelah satu setengah jam kemudian.


"Pulang juga Pak, tapi masih di dalam," sahut Kaivan dan segera melangkah ke dalam rumah melewati Dirga yang masih berdiri untuk menyambut kedatangan tuan mudanya.


"Gak usah ditunggu Pak, Damaresh masih menjaga istrinya yang tidur," ujar Kaivan yang melihat Dirga belum beralih dari posisi semula.


Mendengar ucapan Kaivan itu, Dirga menggiring pandangannya ke arah lelaki tersebut dengan tatapan heran disertai dengan kerutan di dahi.


"Istri? Maksud Mas Kai, tuan muda sudah menikah?"


"Ya," sahut Kai dan terus berlalu, satu yang menjadi tujuannya sekarang adalah mengambil minuman di dalam kulkas karna tenggorokannya yang sudah kering kerontang bak berada di tengah padang gersang.


Ternyata Dirga mengikutinya setelah tadi sempat bimbang, antara tetap menunggu Damaresh yang tak memberikan tanda-tanda akan segera turun dari mobil atau mengejar Kaivan dan mempertanyakan kebenaran dari ucapannya.


" Kapan tuan muda menikah, Mas Kai? Dan dia menikah dengan siapa?"


tanya Dirga pada Kaivan yang sedang menenggak minumannya.


"Masak Pak Dirga tidak tau?" Kaivan malah balik tanya heran pada Dirga setelah ia menandaskan minuman dalam gelasnya.


Dirga menggeleng, pandangannya penuh rasa ingin tau. kaivan berdecak sebal.


"Apa saja sih yang dilakukan dua orang itu selama tinggal serumah? Sampai Pak Dirga saja tidak tau, apa status mereka,"


kaivan menggerutu sendiri lalu menghempaskan tubuhnya di atas sofa.


"Apa mau saya siapkan makanan Mas Kai?" Dirga menawarkan dan sejenak melupakan pertanyaannya yang tidak di jawab oleh Kaivan.


"Boleh, saya memang sudah jadi joki sejak dari bandara tadi."


Kaivan memang merasa perutnya cukup lapar, karna Damaresh yang menolak berhenti untuk sekedar makan di restoran, lelaki itu ingin segera sampai di rumah karna melihat Aura yang sudah menahan kantuk.


Nyatanya, Aura malah tertidur dengan menyandarkan kepalanya di pundak Damaresh, saat sudah separuh perjalanan dari bandara menuju rumah.


(Aura nih betul kata teh Yeni Eka ya, ***** dia. Nempel molor)


Àura mengerjapkan sepasang matanya


karna cahaya putih menyilaukan yang


pertama kali dilihatnya ketika ia membuka mata. Wanita itu menegakkan tubuhnya setelah bersandar nyaman pada pundak Damaresh yang jemarinya sedang lincah menari di atas layar tab.


"Kok berhenti? Kita sudah sampai dimana?"


"Di rumah."


"Benarkah?" Aura mengedarkan pandangan kanan-kiri,


lalu beralih menatap lelaki di sampingnya itu.


"Aku tidak dibangunkan?"


"Itu, kau sudah bangun sendiri," Damaresh kemudian menghentikan aktifitasnya di atas layar 9 inch itu dan menatap Aura. "Ayo turun! kita sudah hampir setengah jam di sini," ajaknya pada Aura.


"Apa?"


Mengabaikan Aura yang masih melongo, Damaresh meraih tangan wanita itu dan menggenggam jemarinya menuntunnya turun dari dalam mobil dan terus ayunkan langkah masuk ke dalam rumah.


Dirga yang sedang meletakkan makanan diatas meja di bantu Kaivan melihat seksama pada dua orang yang sedang melintas itu terutama pada tangan keduanya yang saling bergenggaman erat.

__ADS_1


"Biasa Pak, orang habis bulan madu," celetuk Kai yang melihat arah tatapan Dirga.


"Jadi maksud Mas Kai, tuan muda menikah dengan mbak Aura?"


"Memang Pak Dirga tidak tau itu?" Kaivan malah balik tanya yang cukup dipahami Dirga kalau itu juga jawabannya.


********


********


Kaivan berpamitan pulang sekitar satu jam kemudian,


tentunya setelah keduanya menuntaskan beberapa pembicaraan penting, Damaresh lalu melangkah ke kamar Aura, dan kepalanya menggeleng kecil melihat istrinya itu tertidur di atas sajadahnya dengan tanpa melepas mukennah. Pasti Aura tertidur usai sholat isya'.


"Arra!" Damaresh menepuk lembut pipi mulus itu.


"Lepas ini dulu!" Damaresh menunjuk mukennah Aura begitu gadis itu terlihat membuka mata.


Aura beringsut malas dan membuka mukennahnya dengan bantuan dari Damaresh juga.


"Kau terlihat sangat lelah," Aresh menatap Aura prihatin.


"Aku kerap kali merasa pusing kalau sudah naik pesawat, mungkin karna belum terbiasa,"


"Kenapa tadi tidak bilang?"


"Kalau aku bilang, kau akan memilih pulang lewat jalur darat?"


"Tidak juga, karna aku butuh cepat, cuma aku bisa mengantisipasi sebelumnya agar kau tidak terlalu pusing." Damaresh membimbing tangan Aura untuk bangkit menuju tempat tidur.


"Jangan tidur di sini, Arra!"


"Lalu aku harus tidur di mana?"


"Di kamarku, bersamaku."


"Aku gendong, mau?"


Aura tersenyum lembut menyetujui tawaran indah itu.


"Kalau pinggangmu terasa pegal, aku pijitin ya,"


ucap Aura setelah Damaresh membaringkannya di atas


peraduan yang super empuk itu.


"Tidak kalau hanya sekali saja, tapi kalau berkali-kali, mungkin aku butuh therapi," jawab Damaresh ia lalu merebahkan tubuhnya di samping Aura.


"Tidurlah! aku temani sampai kau lelap,"


tangannya lembut mengusap rambut Aura.


"Kau sendiri tidak akan tidur?"


"Masih ada hal yang harus aku lakukan."


"Aresh, kau pasti lelah kan, kenapa tidak istirahat saja, kenapa kau suka sekali bekerja?" Aura sedikit melayangkan protesnya.


Lelaki itu tak segera menjawab, ia melayangkan tatapannya sesaat pada wajah cantik di depannya.


"Aku harus melakukan ini, Arra. untuk melindungi hubungan kita ke depannya," ucapnya pelan, kemudian.


"Maksudnya?" Aura menatap tak mengerti.


Damaresh segera mencium kening mulus bak pualam itu, dan berkata "Tidurlah! mungkin akan ada bidadari yang akan menjelaskan padamu nanti, di dalam mimpi."


Aura mendesah kecewa sambil memasang muka cemberut. Damaresh menatapnya dengan tersenyum tipis. "Wajahmu yang sangat cantik dikombinasi cemberut begitu, sangat tidak cocok sekali, Arra."


Lelaki itu lalu membawa tubuh Aura dalam dekapan

__ADS_1


hangatnya dan wajah cantik Aura dihujaninya dengan ciuman lembut, hingga berakhir dengan melabuhkan tatapan teduh.


"Aku menginginkamu, Arra," ucapnya tanpa melepas tatap. Aura tampak menelan salivanya, susana seperti ini sungguh membuai jiwanya dan terhanyut dalam suasana romantis yang tak terelakkan.


"Tapi aku tau kau lelah, kau merasa pusing, jadi aku akan menunggu sampai kau baik-baik saja," putus Damaresh kemudian.


Begitu memang kenyataannya, tatapan mata Aura pun tak bisa menyembunyikan letih tubuhnya, efek dari mabuk perjalanan, beruntunglah Damaresh sangat paham, meskipun Aura tak akan menolak kalau hasrat suaminya itu sudah dalam taraf "Tidak boleh tidak".


Begitu memang seharusnya kan, ibadah suami istri adalah sesuatu yang berjalan di atas kebersamaan,


sama-sama senang, sama-sama puas, bukan hanya menyenangkan dan memuaskan bagi salah satu pihak.


"Terima kasih, Aresh, kau sangat pengertian," Aura memuji suaminya itu dengan mata berbinar.


Dan seperti yang telah ia ucapkan, Damaresh keluar dari kamar, setelah mengantarkan Aura menuju tidur yang lena. Disini ia berada sekarang, di depan tumpukan berkas dan laptop yang menyala, entah sudah berapa lama ia menekuni pekerjaannya ketika Dirga datang ke ruangan itu, setelah terlebih dahulu mengetuk pintu.


"Sudah larut tuan muda," ucap Dirga mengingatkan.


"Ya sebentar lagi."


"Kalau ada yang bisa aku lakukan, katakan saja tuan muda!" Dirga duduk tak jauh di depannya menatap wajah tampan tuan muda-nya itu seksama.


"Bagaimana penyelidikanmu tentang keluarga almarhum ibu Saraswati, Dirga?"


"Tinggal sedikit lagi, tuan muda. setelah lengkap aku akan melaporkannya,"


"Baiklah, ingat jangan sampai ada yang tau hal ini, Dirga!"


"Aku juga sangat menjaga kerahasiannya, tuan muda."


Damaresh bangkit dan menepuk pundak Dirga.


"Terima kasih, kalau begitu aku akan beristirahat."


Damaresh memutar tumitnya keluar dari ruangan.


Tapi Dirga menahan dengan panggilannya.


"Tuan muda!"


"Ya?"


"Kapan Tuan muda menikah dengan mbak Aura?"


"Sebelum dia tinggal di rumah ini!"


"Jadi kalian sudah menikah sebelum tinggal bersama?"


Dirga menggumam seakan tak percaya.


"Kalau bukan karna adanya ikatan seperti itu, Arra tentu tak akan mau aku ajak tinggal bersama, dia adalah seoarang yang sangat menjaga dirinya dari pergaulan dengan yang-- apa istilahnya?"


"Bukan muhrim, Tuan muda," lanjut Dirga.


"Iya betul."


"Saya turut merasa senang, dengan pernikahan kalian,


mbak Aura itu sangat sopan dan religius, Tuan muda bisa menikah dengannya seakan


mendapat hadiah dari syurga,"


ungkap Dirga tentang penilaiannya terhadap Aura.


"Hadiah dari syurga"


Damaresh mengulang kalimat itu, seperti berlebihan rasanya, Tapi ia setuju kalau Aura memang sangat istimewa, semua yang ada padanya begitu indah dan luar biasa. Aura Seumpama hadiah dari syurga baginya.


Akhirnya Aresh juga setuju dengan ungkapan itu.

__ADS_1


__ADS_2