Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
Extra Part.


__ADS_3

"Pulang, Damaresh Aybars Perkasa!"


Suara Claudya langsung menggema di pendengaran Damaresh begitu telphonnya dia angkat. Kata perintah bernada tegas di kombinasi suara Claudya yang melengking dan berat itu seakan suara erupsi gunung berapi saja. Damaresh bahkan harus menjauhkan ponsel, sesaat dari pendengaran, karena teriakan sang nyonya yang seakan hendak merobek gendang telinganya.


"Ada apa, Mommy?" Tanya Damaresh sejurus kemudian.


"Ada sesuatu dengan istrimu, cepat pulang sekarang!"


Kalau sudah perihal istrinya, Aura Aneshka yang sedang hamil itu sekarang. Damaresh tak dapat lagi bertahan dalam mode santai.


Jika teriakan sang Mommy telah membuatnya terkejut setengah mati, namun efeck kejutnya hanya sepersekian menit saja, dirinya segera kembali pada pola santai dan tenang, seakan tiada hal apapun yang mampu menggelisahkan jiwanya.


Tapi bila sudah nama Aura Aneshka yang disebutkan, lelaki itu akan segera pasang perhatian 1000% untuk menyimak dengan sangat serius dan siaga satu tentunya.


"Ada apa dengan Arra, Mom?"


"Kau pulang saja cepat!" Perintah Claudya segera dan memutus sambungan dengan tiba-tiba.


Damaresh segera mengemas ponselnya ke dalam saku berikut meraih kontak mobil dalam laci meja kerja-nya, lalu bergegas bangkit dan berjalan keluar dengan bergesa, hampir saja bertubrukan dengan Kaivan yang masuk ke dalam ruangannya dengan tiba-tiba.


"Bos, meetingnya akan di mulai sepuluh menit lagi, Mr Darwin sudah datang lebih awal dari yang dijadwalkan!" Kaivan langsung memberikan laporan tanpa memerhatikan kondisi wajah panik sang atasan.


"Kau handle saja semuanya, Kai. Aku harus pulang," jawab Damaresh tanpa mengurangi kecepatan langkahnya.


"Tapi, Bos, rapat kali ini sangat penting."


Kaivan mengingatkan.


"Istriku lebih penting," sahut Damaresh dan tubuhnya pun menghilang di balik pintu ruangan yang tertutup rapat.


Kaivan hanya mampu menghela napas tertahan, bila sudah berkaitan dengan Aura, siapa yang kan mampu menahan langkah kaki bos-nya. Rapat sepenting apa yang bisa mengalihkan perhatiannya dari kepentingan sang istri. Penghasilan sebanyak apa yang dapat membuatnya menangguhkan kepentingan sang istri.


Bahkan, andaikata dia dalam kondisi sakaratul maut, di hadapan malaikat pencabut nyawa, niscaya Damaresh akan minta ditangguhkan dulu. (Kalau bisa, tentunya)


Atau justru ia akan melawan, dan tak membiarkan nyawanya diambil sang istri tak menginginkan dia pergi.


Ahh..luar biasa cinta Aresh pada Arra.

__ADS_1


Damaresh ahirnya tiba di mansion dengan tergesa, setelah barusan ia menunjukkan kelihaiannya dalam menaklukkan jalanan padat kota Jakarta dengan mobil sport keluaran ter-anyar yang dinaikinya.


"Kakek, sedang apa?" Tanya Damaresh pada William yang menggulirkan kursi rodanya ke depan meja.


William tak menjawab pertanyaan sang cucu, bahkan juga tidak menoleh sedikit pun. Tangan lelaki tua yang sejak sadar dari koma sudah menjadi penunggu kursi roda itu terulur ke depan hendak meraih sebuah teko dari keramik berikut gelas yang ada di dekatnya.


"Kakek mau minum?" tanya Damaresh lagi.


"Aku mau mengambilkan minuman untuk cucuku," sahut William yang kini telah berhasil meraih teko itu dan menuangkan airnya ke dalam gelas.


Damaresh langsung paham siapa yang dimaksud 'cucuku' oleh William. Ya, siapa lagi kalau bukan Aura, istrinya. Sejak William sadar dari tidurnya yang panjang, lelaki tua itu selalu memanggil Aura dengan kata 'cucuku' saja. Menafikan cucu-cucunya yang lain--yang hanya dipanggil namanya saja--termasuk Damaresh, yang semula menjadi cucu kesayangan plus kebanggaan, sekarang posisi terhormat itu sudah diambil alih oleh Aura Aneshka.


"Aku saja, Kek," pinta Damaresh.


"Tidak usah! Aku juga bisa," tolak William.


Damaresh segera celingukan mencari keberadaan maid yang ditugas untuk menjaga William. seorang wanita paruh baya berlari menghampiri. Lelaki itu tak perlu menjelaskan apa yang akan diperintahkan, melihat tatap mata setajam elang dari tuan mudanya itu saja, si bibi sudah mengerti, bahwa ia telah melakukan kesalahan membiarkan William memenuhi keperluannya sendiri.


Damaresh pun segera bergegas, satu tujuannya sekarang yaitu mencari keberadaan Aura yang ternyata tak ditemuinya di mana pun, hingga ia turun lagi ke lantai satu dan menanyakan pada beberapa orang yang dijumpai.


"Kenapa baru datang?" sembur sang nyonya besar saat melihat sang putra nan tampan menawan telah hadir di hadapan.


"itu! di pinggir kolam!" tunjuk Claudya ke taman samping. "Dia diam saja dari tadi, gak mau makan dan gak mau bicara. kalau ditanya cuma nangis saja," terang Claudya yang membuat Damaresh mengerutkan kening. Seingatnya saat ia berpamitan hendak ke kantor pagi tadi, istrinya itu masih baik-baik saja, kenapa sekarang jadi berpuasa kata-kata? dan bermandi air mata?


"Apa kalian bertengkar? apa kau memarahi istrimu? dia sedang hamil besar, jangan melakukan sesuatu yang membuatnya tidak nyaman, Aresh!" cecar Caludya seraya menatap tajam putranya.


Damaresh tak mengherankan hal ini. Sejak Aura hamil, dan sejak William kembali, seluruh anggota keluarga besar William Pramudya memang telah berubah menjadi "dayang-dayang' Aura, dimana istri Damaresh itu bak seorang ratu yang setiap hal kecil tentang dirinya menjadi pusat perhatian dan pengawasan dengan seketat-ketatnya.


Dan anehnya tak ada satu anggota keluarga pun--termasuk Nola, istri Edgard yang juga menantu di Rumah ini, merasa tak terima dengan hal itu--Aura telah menjadi sosok primadona, dan tak ada siapa pun yang tak mengakuinya. Meskipun Damaresh telah melayangkan protes, karena sikap posesif keluarganya yang dianggap berlebihan terhadap Aura, tetap saja bagi mereka, istri Damaresh itu, adalah segala-galanya.


"Gak mungkin aku memarahi istriku, Mom. sesayang-sayangnya kalian padanya. Tetap aku yang paling menyayanginya. Angin sepoy saja tak boleh mengusik ketenangan istriku, bagaimana aku akan mengusiknya dengan kata-kataku?" Damaresh segera berlalu setelah sempat menitipkan kalimat puitis di depan sang mommy.


Langkahnya cepat menemui sang istri yang sedang menerima minuman dari William dengan raut wajah berseri. Tapi, saat melihat Damares menghampiri, wajah ayu itu langsung berkabut bak mendung tebal pagi tadi.


Damaresh segera menunduk melabuhkan sentuhan lembut dengan bibirnya, di kening dan di kedua pipi sang istri. "Ada apa, Arra?" pertanyaannya mengalir dengan lembut, tapi walau selembut apa pun, tak berhasil mendapat jawaban dari Aura.


"Katakan saja, cucuku! kalau sampai dia berani tak memenuhi keinginanmu, dia berhadapan denganku," ucap William pada Aura. Sang tetua keluarga besar Pramudya itu masih terlihat sangar dan berwibawa, meski sudah berumur dan jadi "penunggu" kursi roda.

__ADS_1


Aura mengangguk dan tersenyum. Secercah harapan terbit pada kedua matanya. William pun segera berlalu, untuk mengawasi aksi Damaresh membujuk istrinya yang sedang merajuk, dari kejauhan saja.


"Sekarang, udah bisa ngasih tau 'kan? kamu kenapa? atau, perlu aku ci-um 41 kali? ... atau aku harus baca Yasiin 7 kali?"


Aura akhirnya tersenyum setelah mendapat bujukan demikian. Wanita yang perutnya sedang membesar itu memilih untuk menyampaikan keinginannya pada Aresh dengan berbisik.


Aresh memang tak terlihat terkejut mendengar bisikan Aura, tapi terlihat jelas kerutan di kening lelaki itu setelah Aura mengakhiri acara bisik-berbisiknya.


"Nah, itu 'kan? kamu gak mau 'kan?" tebak Aura langsung, dan di wajahnya terdapat sekelebat mendung.


"Siapa bilang? aku cuma sedang berpikir." Damaresh menoel pipi istrinya pelan sambil bertanya, "Kamu mau nya kapan?"


"Sekarang!"


Dan kali ini, Damaresh tak dapat menyembunyikan ekspresi keterkejutannya lagi.


Sebenarnya, Aura mau apa ya?"


*****


*******


\*\*\*\*\*\*\*\*


Hai semua sahabat pembaca tercinta.


Aku baru bangun dari tidur panjang nih, baru sadar kalau ada janji yang belum tuntas pada kalian semua, yaitu nagsih extra part Aresh dan Arra.


Tapi mang sebenarnya, aku nunggu perut Arra makin besar dulu. ha ha ha.


Sekalian aku mau pengumuman novel baru, yang udah rilis hari ini juga.



ini kisah tentang dua orang sahabatnya Aura juga, dan pamannya Damaresh yang udah hengkang dari keluarga William.


yukk, aku tunggu kalian di sana ya, dan jngan lupa tanda cinta kalian setelah membaca. klik aja profil ku ya, biar langsung ketemu novelnya.

__ADS_1


Dan, Extra part Aresh Arra masih ada lho..


besok atau lusa ya..


__ADS_2