
warning..terdapat adegan 21..
"Kepada siapa kau akan mempersembahkan tubuh indahmu?"
"Untuk lelaki yang halal untukku," sahut Aura dengan wajah kaku. Pasalnya Damaresh memiringkan kepalanya hingga ujung hidungnya menyentuh lembut kulit leher Aura yang mulus.
"Bukankah itu aku?"
Kali ini suara Damaresh lebih menyerupai bisikan.
"Ya," sahut Aura cepat sambil buru-buru menarik napas karna kini tak hanya ujung hidungnya, kecupan-kecupan lembut Aresh pun mendarat di sana.
"Apa boleh, jika aku ingin memiliki apa yang memang sudah menjadi hak-ku ini, sekarang?"
tanya Aresh lagi setelah menghentikan aksi kecupan-kecupan kecilnya.
Aura mengangguk. Ah apalagi yang menghalanginya untuk menyerahkan diri seutuhnya pada lelaki halalnya, meski ada beberapa hal yang tak memuaskannya dalam hubungannya dengan Damaresh seperti pengakuan keluarga dan perasaan laki-laki itu sendiri padanya. Tapi keduanya bukan sesuatu yang bisa dijadikan alasan untuk diperbolehkannya menolak melakukan ibadah suami istri. Dan terlebih lagi tubuhnya yang sudah bereaksi dari tadi mampukah untuk menolak apa yang akan terjadi??
Harapnya dalam hati, semoga Allah meridhoi, sehingga semuanya akan sesuai seperti yang diinginkan dalam sanubari.
"Jangan hanya mengangguk, Arra!"
Aresh meraih kepala Aura dan sedikit dimiringkan ke arahnya hingga kini wajah keduanya saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat.
"Iya," jawab Aura tanpa berani menatap netra pekat Damaresh yang bak anak panah melesat dan mengena tepat di jantungnya. Aresh segera meraih bibir yang baru saja menggemakan jawaban yang diinginkannya itu dengan bibirnya,
Menyesapnya pelan, tak lupa disapunya dengan lidahnya yang basah, dan dikulumnya lembut.
Aura mendesah pelan yang berfungsi memberi ruang pada Aresh untuk memperdalam ciuman, lidahnya yang hangat menerjang masuk menjelajah dalam, ciuman lembut itupun berubah menjadi tuntutan, berbalut hasrat yang melambung ke awan. Hingga Aresh harus melepaskan belitan bibirnya untuk keduanya meraup udara sebanyak-banyaknya karna mereka berada dalam mode tak bisa bernapas.
Aresh menempelkan dahinya di kening Aura dengan napas memburu
"Apa benar kau rela menyerahkan dirimu padaku secara utuh, padahal aku bukan lelaki sholih seperti yang kau inginkan?"
Aura tampak terhenyak dengan pertanyaan itu. Ayolah Aresh jangan mengulur waktu. Itu pasti ucapan para pembaca saat ini.
Aresh tidak sedang mengulur waktu. Ia punya alasan dibalik pertanyaannya. Sungguh ia juga sudah tak tahan akan hasratnya yang terus meronta menuntut untuk dituntaskan saat ini juga. apalagi dalam posisi mereka seperti saat ini, bisa dikata mustahil bukan untuk seseorang bisa menghalangi atas
sesuatu yang sewajarnya akan terjadi.
Tapi Aresh ingat dengan jelas, pengakuan Aura yang mengatakan kalau ia hanya menginginkan suami yang sholih, kategori pria yang jauh dari dirinya. Aresh tak ingin gadis itu menyesal nantinya. Meski mereka telah terikat pernikahan yang seharusnya hal itu tak perlu lagi dipertanyakan.
Tapi Arra bagi Aresh adalah bunga nirwana yang akan selalu ia jaga dan hanya akan diperlakukannya dengan sangat lembut dan hati-hati.
"Iya," jawab Aura. Meski ia mendambakan untuk melakukan ritual suami istri seperti yang termaktub dalam kitab qurratul 'uyun, yang diawali
Sholat sunat bersama, berdoa dalam setiap sentuhan pertama, sebelum benar-benar menyatu dalam ibadah khusus pasangan halal di mata Allah.
__ADS_1
Aresh tak akan bisa melakukan itu, bahkan ia memang tidak tau ada etika tersendiri sebelum menyatu.
Tapi, Aresh suaminya saat ini. Lelaki halalnya yang pantas mendapatkan segala apa yang dijaganya selama ini.
Taqdir juga bukan yang telah menyatukan mereka dalam pernikahan.
"Kau tak akan menyesal, Arra?"
Dan ketika kata "tidak" terucap dari bibir Arra, Aresh segera membawa tubuh itu keluar dari bathtub, terlebih dahulu diselimutinya tubuh polos itu dengan handuk lalu di angkatnya tubuh indah istrinya itu keluar dari kamar mandi, dibaringkannya perlahan di atas peraduan, dan handuk yang menghalangi tatapannya dari tubuh Aura juga di singkirkannya dengan hati-hati.
Kali ini, seluruh tubuh Aura terpampang jelas di depan matanya, tak lagi terhalangi air dalam bathtub seperti tadi. Aresh menyelusuri tubuh halus mulus bak pualam itu dengan tatapannya, merangkum segenap rasa takjub dalam dada, bahwa ternyata dibalik pakaian islami yang selalu menutup tubuhnya, Arra menyimpan sebuah keindahan syurgawi yang sungguh memabukkan matanya.
Detik berikutnya, tak hanya sepasang matanya yang ia puaskan melihat keindahan Arra yang tak ternilai nan memuncakkan kekaguman. Jemarinya pun turut serta memberikan penghargaan atas keindahan itu dengan sentuhan demi sentuhan penuh kelembutan.
Tak cukup hanya sampai di sana, ciuman dan kecupan juga turut mempersembahkan kekagumannya, menjelajahi tubuh indah itu tanpa melewatkan setiap bagian.
Arra menutup matanya rapat dan mengatupkan mulutnya kuat seiring tubuhnya yang meremang lalu berganti dengan ketegangan dalam sesaat, napasnya memburu dan lalu ******* meluncur begitu saja, mendatangkan kekuatan baru bagi Aresh untuk menjelajahi semuanya tanpa jeda.
Bibir mereka kembali bertaut sebelum penjelajahan itu berganti ke area yang lain. Arra menarik kepalanya ke atas memberi ruang lebih pada Aresh yang sedang menyapu area itu dengan kecupan basah dan ******* lebih yang meninggalkan tanda kepemilikan di sana-sini.
Kelana Aresh berlanjut ke area yang lain sebuah pendakian pada sepasang gunung kembar yang tegak menjulang di mulai, membawa sensasi lebih yang dirasakan Arra. Tubuhnya menggelinjang membentuk respon tanpa perlu di perintahkan, yang membuat semangat Aresh kian menjulang untuk tak segera mengahiri pengelanaan.
Tapi masih ada area lain yang sangat wajib ia kunjungi, pengelanaan berlanjut dengan cara yang lain lagi hingga tiba pada titik fokus yang dinanti.
"Boleh?" ia masih bertanya, walau titik hasrat sudah membuncah, sepasang matanya sudah memerah karna jeritan nakal yang menuntut untuk berlabuh
Arra mengangguk lemah dengan napas yang memburu. Hasratnya juga sudah di ubun-ubun, tubuhnya dalam posisi sangat siap menerima, tapi satu hentakan dari Aresh mmebuatnya meringis menahan sakit, kedua tangannya mencengkram sprei dengan kuat.
Hentakan kedua membuat rasa sakit yang lebih, Arra menggigit bibirnya kuat
dengan satu titik bening jatuh di antara sepasang matanya yang terkatup rapat,
Aresh segera memeluk tubuh Arra erat sambil menyenandungkan maaf berkali-kali.
"Maaf Ara, maaf. Aku telah membuatmu begitu sakit." Aresh memberikan ciuman berkali kali di wajah cantik itu.
"Aku tak akan melanjutkan jika kau tidak bisa menahan sakitnya," ucapnya lagi dengan suara serak. Meski tentu ia tak rela pengembaraannya harus berakhir sebelum sampai pada tujuannya. Tapi melihat Arra yang sangat kesakitan, ia sungguh tak tega.
Arra membuka matanya, menatap lembut, tersenyum lepas dan menggeleng. "Aku gak papa," ujarnya.
sebentuk tanda agar Aresh menuntaskan semuanya.
Aresh kembali menghujani wajah itu dengan ciuman sebelum kembali memberikan hentakan kuat yang berhasil merobek pertahanan Arra.
Bersamaan dengan jerit tertahan yang lolos dari bibir Arra, Aresh berhasil memasuki singgasana syurgawinya dan merasakan kenikmatan tak tergambarkan di sana.
(... .... ..... ..... ..... ...... ....... ..... .....)
__ADS_1
Beberapa saat kemudian.
Aresh mendekap erat tubuh Arra yang lemas setelah ia peras madunya.
Keduanya kini terkapar setelah bersama dan bekerjasama mencapai titik penyatuan yang sempurna.
"Terima kasih sayangg," ungkap Aresh dengan lembut sepenuh perasaan atas segala kenikmatan keindahan yang telah dipersembahkan Arra padanya.
Arra mengangguk dengan senyum sambil melingkarkan tangannya dengan erat pada tubuh Aresh, keduanya kini terbaring di bawah satu selimut
yang menutupi tubuh polos keduanya.
"Aku tak menyangka kau sangat lembut, Aresh,"
puji Aura yang sangat merasa tersanjung atas perlakuan Aresh yang teramat lembut padanya, seakan istrinya itu benda teramat rapuh yang akan mudah retak jika salah sedikit saja.
Padahal seorang Damaresh Willyam dalam kesehariannya dengan penampilan dan expresinya adalah seseorang yang jauh dari kelembutan. Dan apa jawab Aresh atas ucapan Aura itu.
"Aku juga tak menyangka, Arra."
Aresh menangkup wajah istrinya itu dan kembali berucap. "Kehadiranmu, telah merubahku."
Arra tersenyum dan menyandarkan kepalanya di dada suaminya itu dengan perasaan lepas tanpa beban.
ia faham maksud ucapan Aresh itu, lelaki itu mungkin hanya butuh waktu untuk menyadari perasaannya dan mengungkapkannya pada Aura.
Aresh membelai-belai lembut rambut Aura, menciuminya berkali-kali sebelum keduanya sama-sama terlelap karna kelelahan dengan tetap berpelukan hingga pagi.
-*******..****
**************%
********.
Ini aku penuhin janjiku untuk ngelanjutin cerita mereka.
gimana? sesuai tidak dengan expectasi kalian?
aku senyum2 lho baca koment kalian yang pada gak sabaran banget..
padahal ya..adegan ranjang itu gak boleh di share pada orang lain, kalian malah ingin tau ...
santai, santai..jangan protes dulu. maksudku itu kalau di dunia nyata..karna ini hanya cerita novel ya sah saja.
tapi yang belum 21 jangan baca part ini ya..
bahaya..
__ADS_1