Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
9. Sebagai umpan


__ADS_3

"Siapa kau, berani-beraninya masuk tanpa ijin.." Edgard lansung membentak kasar dengan wajah memerah menahan amarah yang memuncak di dadanya, plus nafsunya yang meminta di puaskan tapi tiba-tiba datang seseorang yang masuk begitu saja dalam ruangannya tanpa mengetuk pintu lebih dulu. Membuat aktifitas terlarangnya itu harus terhenti.


"Aku," Damaresh menjawab dingin. Sepasang matanya menatap tajam sepupunya yang sudah tak memakai baju dengan sempurna itu. Disampingnya berjongkok seorang wanita yang sedang sibuk membenahi pakaiannya di mana dadanya sudah terexpos dengan sempurna pula. Dapat di tebak kan, CEO Mediatama dan sekertarisnya itu habis berbuat apa barusan.


"Da..Damaresh," Edgard langsung gelagapan mendapati siapa yang masuk begitu saja keruangannya. Pantas para penjaga yang di perintahkannya berjaga diluar, tak mampu menghalangi Damaresh untuk masuk, karna kekuasaan


Damaresh Willyam jauh lebih besar dari pada Edgard Willyam. Kendati saat itu mereka tengah berada di Mediatama Corp, daerah kekuasaan Edgard Willyam.


"Harus di ruang kerja ya, tidak ada tempat lain?" Damaresh menyindir tajam. Pada dasarnya dia tak mempermasalahkan kelakuan Edgard dengan sekertarisnya itu, kendati Edgard sudah punya istri.


Karna Damaresh tidak pernah mau ikut campur urusan pribadi orang lain.


Lain halnya dengan Aura, melihat pemandangan tak senonoh di depannya, ia segera sembunyikan dirinya di balik punggung Damaresh sambil merutuk dalam hati.


Yahh kesinilah Damaresh membawa Aura, menemui CEO Mediatama, Edgard Eillyam. Meskipun awalnya di hiasi dengan drama pemaksaan, Aura memilih ikut dengan Damaresh. Karna dia memang tak punya pilihan lain bukan.


"Duduklah!" Edgard mempersilahkan setelah berhasil


merapikan bajunya kembali, sedangkan sang sekertaris segera keluar ruangan sambil tertunduk dalam dengan muka sepucat kertas.


Damaresh segera duduk di depan Edgard, dan Aura duduk tak jauh di sampingnya. Edgard tak sempat memperhatikan siapa wanita yang bersama Damaresh, karna kedatangan CEO pramudya Corp yang tiba-tiba itu sudah cukup memukul mentalnya. Pasti ada hal yang genting jika sampai si raja datang bertandang. Atau justru permainannya tlah di ketahui oleh Damaresh sehingga tiba-tiba datang, sedangkan Edgard tak punya persiapan apa-apa sama sekali untuk menyambutnya, malah dirinya justru tertangkap tengah bergumul dengan sekertarisnya di sofa.


Ckk Edgard ingin memaki dirinya sendiri sekarang.


"Ada hal apa tiba-tiba kau datang?" Tanya Edgard di buat sebiasa mungkin.


"Hanya bertandang, sudah dua hari aku ada di kota ini"


"Oya, maaf aku tidak tau,"


"Kau sangat sibuk, aku tau."

__ADS_1


Cara berkomunikasi yang kaku untuk ukuran saudara sepupu. Batin Aura yang diam-diam memperhatikan keduanya. Wajah Edgard hampir mirip dengan Damaresh yang menandakan kalau mereka memang dari gen yang sama. Tapi jujur, Damaresh memang lebih ganteng dan lebih berwibawa, serta lebih menggetarkan juga. Uups


"Aku kemarin mampir ke proyek Rumah sakit Medika,"


Damaresh memperhatikan expresi Edgard yang sedikit berubah dengan ucapannya itu.


"Proyek itu sudah berjalan sembilan puluh persen, dan aku senang dengan pilihanmu bekerja sama dengan pihak kontraktor yang tepat." Damaresh memuji kinerja Edgard yang memang menangani Proyek Rumah sakit yang di maksud.


"Ia. Semuanya harus sempurna bukan, dan aku mengedepankan itu," Edgard berkata dengan bangga.


"Maksud bapak, Proyek RS Medika di dekat panti asuhan Kasih Bunda?" Aura nyeletuk bertanya pada Damaresh.


"Ia. Itu Proyek yang di tangani Mediatama, bagus kan?"


jawab Damaresh pada Aura.


"Setau saya, Proyek RS Medika itu sudah di ambil alih oleh L&D Foundation, sejak setahun yang lalu."


"Kau tau dari siapa Arra?" Damaresh bertanya santai.


"Saya pernah tiga kali kesana bersama Bu Olivia, dan beliau yang memberitaukan, bahkan ada berkasnya juga. Kata Bu olivia, Mediatama menyerahkan pengalihan proyek itu pada L&D ketika baru berjalan 20


persen." Aura menjelaskan dengan gamblang, jujur sesuai apa yang dia ketahui.


Umpan yang di pasang oleh Damaresh ditangkap oleh Aura dengan sempurna. Tepat, rencana yang disusun Damaresh berjalan dengan sesuai. Dan lihat bagaimana Expresi Edgard sekarang, jauh lebih kaget dari pada ketika Damaresh memergokinya bergumul tadi.


"Ah iya Arra, aku lupa kalau kau pernah bekerja di L&D Foundation cukup lama dan menjadi kepercayaan Olivia juga" Ucap Damaresh sambil mengarahkan tatapan pada Edgard yang mulai tertunduk.


Aura mengangguk tenang. Dia tak sadar kalau dirinya sedang di jadikan umpan.


Umpan?.. iya Itu tujuan Damaresh mengajak Aura mendampinginya menemui Edgard Willyam di kantor Mediatama. Sampai ia rela menjemput gadis itu di rumahnya pagi-pagi sekali. Mendandaninya di butik Maureen dan rela berdebat dengan gadis itu ketika Aura menyatakan penolakannya untuk ikut.

__ADS_1


Semua adalah demi tujuannya menjebak Edgard Willyam yang berhasil menggelapkan uang perusahaan berjumblah milyaran dengan dalih untuk proyek RS Medika yang sebenarnya sudah di limpahkan pada L&D Foundation sejak lama.


Damaresh sudah tau itu dari beberapa waktu lalu, meski tak ada laporan resmi dari pihak L&D Foundation, karna Pembina L&D Adalah Nyonya Cristine, ibunya Edgard sendiri yang tentu akan menutupi kelalaian anaknya. Walaupun Damaresh punya kekuatan untuk menekan Olivia selaku ketua yayasan, tapi Damaresh belum ingin menggunakan kekuatannya. Karna ia masih bisa bermain cantik dulu dengan menggunakan Aura Aneshka yang memang cukup tau banyak tentang hal proyek itu.


Dan terbukti bukan, rencananya berhasil. Tanpa Aura tau kalau dirinya di jadikan umpan untuk menyerang Edgard.


Damaresh juga sebenarnya, belum ingin mengulik hal itu, karna dengan permainan kecil Edgard ini tak akan membuat Mediatama gulung tikar, apalagi Pramudya Corp. Tapi karna edgard sudah berani bermain api dengannya dengan mengirimkan model selingkuhan Edgard untuk menggoda Damaresh, membuat lelaki itu merasa perlu melayani permainan kecil saudaranya itu, guna menunjukkan seberapa kuat kekuasaannya


"Kau bisa menunjukkan berkasnya padaku, Arra?"


"Bisa. Saya akan minta tolong rekan saya diasana untuk mengirimkannya pada saya." sahut Aura. Damaresh mengangguk senang.


"Kuharap kau punya penjelasan padaku, Edgard!"


Damaresh menatap datar Edgard yang tampak melirik tajam pada Aura tanpa gadis itu sadari.


Edgard tentu tak akan tinggal diam atas kesaksian Aura.


"Aku pamit, kau bisa melanjutkan kesenanganmu lagi."


Damaresh segera memberi isyarat pada Aura untuk mengikuti.


"Siall," Edgard mengumpat kasar sambil memukul tepi meja dengan keras, hasilnya ia meringis sendiri karna merasakan tangannya yang kesakitan. Tapi Edgard tak perduli, ia mendengus.


"Damaresh sudah tau semuanya, ia akan menggunakan ini untuk menekanku di depan kakek." Kembali Edgard melayangkan tinjunya keruang kosong, kali ini ia takut kesakitan lagi jika harus meninju mejanya kembali.


"Siapa gadis itu, berani-beraninya dia bersaksi begitu,


aku akan mencari tau siapa dia." Edgard segera meraih ponselnya dan mulai berbicara dengannya.


Damaresh menyeret Aura dalam pusaran bahaya, entah apa yang akan di hadapi gadis itu nantinya.

__ADS_1


Dan kenapa Edgard seperti begitu kebakaran jenggot dengan hal itu, padahal Damaresh barusan hanya memintanya untuk memberi penjelasan. Pasalnya Damaresh punya hak untuk memecat Edgard dari Jabatan sebagai ketua Mediatama jika terbukti ia melakukan tiga kesalahan total. Hal itu yang sangat di takuti oleh Edgard yang sebenarnya sangat mengincar kedudukan Damaresh willyam saat ini.


__ADS_2