
Sebenarnya lelah, setiap saat harus berpindah-pindah, bukan hanya dari satu kampung ke kampung yang lain, atau dari satu kota ke kota yang lain, tapi dari satu negara ke negara yang lain. Dengan misi yang sama mengawal dan menjaga seseorang yang harus diperlakukan dengan baik, demikian menurut perintah yang diterimanya.
Untunglah dalam beberapa hari terakhir, kebiasaan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain itu tak dilaksanakan lagi, entah karna sang tuan sudah tak memiliki lagi negara tujuan persinggahan, atau justru sudah tak memiliki dana yang cukup untuk melakukan.
Untuk alasan kedua sepertinya tidak mungkin, karna yang memerintahkannya bukan hanya seorang milyuner, yang tak akan kehabisan uang, karna kekayaannya yang tak berbilang.
Lelah, itu mungkin alasan yang tepat, sebagaimana Pablo yang menjalankan tugas, yang juga merasa lelah. Tapi demi pundi-pundi rupiah yang telah ia terima dengan jumblah berlimpah, jadilah pekerjaan ini dilakoninya dengan senang hati tanpa rasa gundah.
Pablo kembali arahkan tatapan pada lelaki berwajah tampan yang duduk sekitar dua meter di depannya. "Sudah, Tuan?"
Lelaki itu mengangguk.
Pablo sesaat memerhatikan wajah sangat tampan lelaki yang sudah tak lagi muda itu cukup lekat, untuk kembali mengumpulkan ingatannya tentang sosok yang selama hampir sebulan ini selalu dikawalnya, akan tetapi Pablo hanya sampai pada satu rasa pernah melihat, tetapi entah kapan dan dimana, Pablo tak dapat lagi mengingat.
"Silahkan, Tuan!" Pablo berdiri lebih dulu dan menyilahkan dengan tangan untuk lelaki itu mengikutinya, untuk selanjutnya keduanya berjalan keluar dari resort itu dalam jarak yang cukup berjauhan.
Demikian cara kerja Pablo selama ini sesuai dengan instruksi dari sang majikan.
Agar Memperlakukan tawanan istimewanya itu dengan sopan. Dan ketika akan berpindah ke negara lain seperti saat ini, Pablo akan menggunakan transportasi publik dan hanya berdua saja dengan tawanan, membaur dengan semua penumpang yang lain, sehingga tak memancing kecurigaan, apabila mungkin pergerakannya sedang dalam pengawasan.
Tapi jangan salah, dalam jarak beberapa meter ke belakang, ke samping kanan kiri, dan di depan keduanya, ada beberapa pengawal bayangan dengan mata yang siaga, dan dengan perlengkapan senjata yang siap diarahkan kapan dan dimana saja.
Keduanya kini telah memasuki bandara, tanpa perlu melewati tahap demi tahap sebagaimana penumpang pesawat pada umumnya, keduanya langsung menuju terminal keberangkatan jalur pribadi, dimana telah ada sebuah pesawat pribadi yang telah menanti seperti biasanya, namun tak biasanya kini, pesawat itu terlambat hampir setengah jam, membuat Pablo harus berlama-lama di dalam restoran.
Terhitung ada sekitar sepuluh orang yang mengiukuti Pablo naik ke dalam pesawat. Dan pada saat itulah, Pablo mendapat telfon dari William yang menginstruksikan untuk mengekseskusi rencana awal setelah tiba di negara tujuan yaitu Dubai.
Pablo baru bisa menghempaskan napasnya penuh kelegaan setelah pesawat lepas landas, karena setidaknya untuk saat ini, mereka telah aman dari kemungkinan dikejar oleh orang-orangnya Damaresh Willliam. Tinggal kini mengatur strategi setelah tiba di negara tujuan.
Pablo hanya berharap dalam hati, semoga setelah ini sang tuan tak akan menyuruh untuk berpindah-pindah negara lagi. Meskipun dengan segala fasilitas yang terpenuhi, tapi berpindah-pindah dalam rentan waktu yang sangat berdekatan sekali adalah pekerjaan yang sangat melelahkan.
Sesaat Pablo memindai matanya ke sekeliiling pesawat dengan kabin yang tak terlalu besar itu. Ia mengawasi anak buahnya satu demi satu yang sudah terlihat dapat menarik napas dengan lega dan tengah menikmati minuman yang dihidangkan oleh dua orang pramugari cantik dengan senyum ramahnya.
Setelahnya, Pablo juga menenggak minumannya sendiri dan memutuskan untuk rehat sejenak, karna tubuhnya yang benar-benar terasa penat, ditambah lagi dengan rasa kantuk yang mulai hinggap.
Pekerjaan yang dilakoninya memang diperlukan mata yang awas, mata yang jarang mengatup rapat, bahkan sering harus menggunakan obat agar sepasang mata tetap melihat.
"Sudah bangun?"
Pertanyaan itu menyambut Pablo yang baru membuka mata setelah beberapa menit terhanyut dalam kantuk yang lena.
Beberapa menit atau beberapa jam.
Entahlah.
Pablo mengerjapkan matanya beberapa kali yang sebenarnya masih terasa berat sekali. "Siapa kau?"
Pablo segera menegakkan tubuhnya saat melihat orang yang duduk disampingnya itu tidak pernah dikenal sebelumnya.
"Aku yang menggantikanmu menjaga tawanan saat kau tidur tadi," sahut lelaki yang menutupi sebagian wajahnya dengan masker hitam itu.
Astaga..
Pablo segera menoleh ke sampingnya. Ke arah tempat duduk Airlangga. Kosong.
"Dimana dia?" Pablo segera berdiri dengan cepat, namun seketika otot-ototnya terasa lemas dan kepalanya yang tiba-tiba berdenyut dahsyat.
"Santai bro, kau baru bangun setelah tidur berjam-jam, tubuhmu masih butuh penyesuaian," ucap lelaki bertubuh tegap disampingnya itu dengan nada akrab.
Astaga.
Ternyata Pablo sudah tidur berjam-jam, bukan dalam hitungan menit seperti yang ia sangka-kan.
"Kau siapa? dan dimana tuan Airlangga?"
"Di tempat seharusnya," sahut lelaki itu dan menyandarkan tubuhnya dengan santai, lalu melakukan gerakan untuk melemaskan otot dengan merentangkan kedua tangan yang saling bertaut kedepan.
Pablo menggiring pandangannya ke sekeliling, dan ia baru menyadari kalau ternyata pesawat telah mendarat, dan semua anak buahnya sudah tidak ada di tempat. "Dimana ini?" Pablo bertanya sekali lagi.
"Di tempat tujuan."
__ADS_1
"Tidak mungkin, aku hanya tidur selama beberapa menit," gumam Pablo.
"Kau tidur selama lima jam, aku sampai lelah menjagamu," sahut lelaki di sampingnya itu.
"Siapa kau sebenarnya? Kau pasti bukan anak buah tuan William." Pablo mulai menatap curiga.
"Kalau kau sudah sadar sepenuhnya, kita turun ke bawah, yang lain sudah menunggu di sana," ucap lelaki itu dan segera berdiri, lalu melangkah bergegas untuk turun dari pesawat.
Pablo segera mengikuti dengan tubuh yang masih terasa sedikit lemas.
Dan setelah turun dari pesawat, lelaki itu menjadi terkesiap, karna bandara tempat pesawat ini mendarat bukan bandara international Dubai / DXB. Tapi hanya sebuah landasan udara yang kecil yang tak diketahuinya ini dimana.
Pablo mulai menyadari kalau ternyata ada yang salah pada dirinya dan semuanya.
Badannya yang terasa lemah, semua anak buahnya yang tidak ada di sana, dan bandara asing yang tidak diketahuinya.
Pablo segera menghadang langkah lelaki di depannya lalu menarik kerah bajunya dengan kasar.
"Siapa kau sebenarnya? Dimana tuan Airlangga? Dimana semua anak buahku? dan bandara apa ini?" Cecar pablo dengan tajam.
"Jangan kasar!" Lelaki itu menepis tangan Pablo dengan mudah. "Kau bahkan sudah tidak kuat membawa bobot tubuhmu sendiri," cibir lelaki itu seraya membenahi kerah bajunya.
"Astaga.." Pablo kian merasakan kalau tubuhnya memang begitu lemas dan tak bertenaga.
Lelaki itu menatap Pablo yang terlihat terengah. "Yang mana pertanyaanmu yang harus ku jawab lebih dulu?"
"Jawab semuanya!" Kendati lemah, Pablo masih bisa membentak.
"Tuan Airlangga sudah berada di tempat yang aman. Anak buahmu satu demi satu sudah aku pulangkan ke tempat asal, dan sekarang tinggal giliranmu..jika saja majikanku tidak memerintahkan padaku untuk membiarkan nyawamu, aku sudah memelintir lehermu yang berani-beraninya menarik kerah bajuku," ancamnya dengan sorot mata tajam.
"Siapa kau sebenarnya?" Tanya Pablo masih dengan mode gertakan.
"Aku Stefan, kepercayaan tuan Damaresh William."
"Apa?"
Sungguh bagi Pablo saat ini, dunia seakan runtuh di depannya. Sepasang matanya setengah melotot karena begitu terkejut.
"Bagaimana bisa kau berada dalam pesawat kami?"
Stefan tergelak dengan pertaanyaan polos Pablo.
"Peswat kami? kau bilang, ini adalah pesawat kirimin dari tuan Damaresh William. Dan pesawat kalian sudah aku bajak, dan sampai saat ini masih hilang dari radar," sahut Stefan dengan tersenyum miring.
Pablo menggeram frustasi.
"Mau ngopi sebentar denganku, untuk menjawab semua rasa penasaranmu?"
Stefan menawarkan dengan tersenyum miring.
Bukk. Belum lagi Pablo menjawab, Stefan sudah melayangkan tinjunya pada rahang Pablo yang membuat lelaki itu terpental, dan dalam hitungan detik, wajahnya mencium aspal landasan dengan keras.
Pablo menjerit tertahan, seiring rasa nyeri yang terasakan.
Stefan berjongkok tak jauh di dekatnya.
"Itu karna kau sudah berani kasar padaku,"
Ucapnya dan menarik tangan Pablo untuk berdiri.
"Apa yang kau lakukan padaku, mengapa tubuhku jadi lemas begini?" Pablo menatap Stefan dengan napas terengah.
"Mungkin pramugari cantik itu terlalu banyak mencampurkan obat dalam minumanmu," sahut Stefan.
"Ckk." Pablo mencibir.
"Cara pengecut," umpatnya kasar.
"Dalam dunia seperti ini, beda tipis antara cerdik dan pengecut," sahut Stefan santai.
__ADS_1
Terdengar deru mesin yang sangat keras bersama munculnya sebuah helikopter yang mendarat tak jauh dari mereka.
"Jemputanmu sudah datang." Tunjuk Stefan pada pesawat yang baling-balingnya masih berputar-putar dengan keras itu.
"Jemputanku?"
"Ya, bos-ku cukup baik bukan, dia tak membiarkanmu terlantar di bandara tak terpakai ini. Tapi sebelum
Kau pergi biar kujawab rasa penasaranmu."
Stefan membenahi posisi berdirinya saat ini seakan orang yang hendak memberikan ceramahnya di depan para jamaah saja.
"Selama sepuluh hari aku mengintai kalian, dari sejak masih ada di Thailand, aku mempelajari bagaimana cara kalian memindahkan tawanan dari negara satu ke negara yang lain, aku mempelajari tempat apa yang biasa kalian jadikan sebagai tempat persembunyian, dalam jarak berapa hari kalian akan berpindah tempat lagi. Sampai disini kau paham?"
Pablo menghembuskan napasnya pelan, harus ia akui kalau dirinya tertinggal satu langkah dari gerakan halus Stefan.
Dua orang laki-laki memghampiri mereka.
"Kami siap melakukan perintah, Pak," ucap salah satu dari keduanya.
"Bawalah!" Stefan hanya memberi isyarat kecil pada Pablo yang kondisinya benar-benar lemah saat ini. "Dia sudah jinak," ucap Stefan lagi.
Dua orang itu segera membawa Pablo yang sudah setengah tak berdaya ke dalam helikopter yang siap berangkat, sesaat setelah duduk dalam pesawat itu, Pablo baru menyadari apa yang di maksud sudah jinak oleh Stefan. karna ternyata semua perlengkapan yang ada di tubuhnya sudah tidak ada, dari mulai pistol, handphone, dompet bahkan termasuk jam tangan pun sudah tak ada lagi. Apa yang terjadi pada Pablo jika helikopter itu
menurunkannya di tempat terpencil dalam kondisinya yang saat ini tak memiliki perbekalan apapun.
Memang seperti itulah perintah Damaresh pada Stefan terkait Pablo sebagai bentuk hukuman kepada orang yang telah menjadi kaki tangan William itu. Sepintas lalu Pablo dijemput helikopter seakan tamu kehormatan, namun sebenarnya ia akan diturunkan di tempat yang sangat terpencil dan terisolir.
Jika Pablo bisa menahan Airlangga selama hampir satu bulan, maka untuk kali ini bisakah Pablo menjadi Tarzan?
Stefan kembali menaiki private jett itu, yang seperti telah dikatakannya pada Pablo bahwa pesawat itu dikirimkan oleh Damaresh untuk menjemput Airlangga. Sedangkan pesawat yang dikirimkan oleh William untuk menjemput Pablo sudah disabotase oleh Stefan, hingga sampai saat ini, pesawat itu hilang dari radar.
Siap-Siap saja William, untuk mendengar kabar kalau pesawat yang ia kirimkan tenggelam di dasar lautan, atau kandas di atas pegunungan.
Sedangkan untuk anak buah Pablo sendiri, sudah dieksekusi satu persatu oleh anak buah Stefan ketika Pablo masih tertidur panjang karena pengaruh obat-obatan.
Sangat rapi sekali pekerjaan Stefan.
Beberapa jam kemudian pesawat itu mendarat dengan sempurna di bandara Auckland.
menapaki tangga terakhir pesawat, Stefan segera menghidupkan kembali ponselnya yang sempat di non aktifkan untuk segera menelepon Damaresh William.
"Hallo, Pak. Saya ingin melaporkan kalau Tuan Airlangga sudah tiba dengan selamat di negara tujuan."
"Terima kasih, Stefan. Sekarang aku akan memberimu libur panjang."
Itu jawaban Damaresh dari seberang atas laporan Stefan....
"Terima kasih, Pak."
Stefan tersenyum lega.
Dan ditempat yang berbeda, Damaresh juga melakukan hal yang serupa.
Sebenarnya, saat Damaresh dengan lantang menyerahkan tahta Pramudya Corp serta memutuskan pertungannnya dengan Naila, semalam sebelumnya, Stefan telah memberinya laporan kalau telah menemukan sebuah titik terang tentang keberadaan Airlangga.
Damaresh sadar betul, akan akibat yang harus ia tanggung dengan keputusannya tersebut.
Ia berani mengambil keputusan tegas seperti itu, setelah memastikan ayahnya akan segera selamat.
Damaresh tentu tak akan mengorbankan Airlangga begitu saja.
Dan semuanya terbukti.
Airlangga selamat.
---------------------
----------------------
__ADS_1
Yang menginginkan Airlangga selamat..
Tepuk tangannya ya..Tekan vote nya juga..