
"Apa yang terjadi dengan Arra, Bro? apa dia kedinginan, ketakutan, atau kembali kecebur kolam?"
Kaivan langsung mencecar dengan pertanyaan konyol
pada Damaresh yang memasuki ruang itu lalu duduk dengan nyaman di samping Kaivan.
"Aku akan menaikkan gajimu," ucap Damaresh santai.
"Apa hanya dengan itu semuanya selesai?" Kaivan masih tetap dalam mode kesal menatap bos sekaligus sahabatnya itu. Pasalnya, pasca insiden Aura jatuh ke kolam renang, Damaresh dan Kaivan melanjutkan pekerjaan mereka yang sempat tertunda.
Damaresh kemudian pamit untuk melihat Aura sebentar di kamarnya, tapi ia justru tak datang lagi sampai pagi.
Jadilah Kaivan harus menyelesaikan semuanya sendirian yang tentunya akan memakan waktu lebih lama dari pada dikerjakan berdua.
Dan sekarang sang bos tampan itu hanya menatapnya tanpa dosa. Ahh Bos mah bebas, Kai.
"Lalu apa?"
"Kau tau, gara-gara ulahmu aku harus membatalkan janji temu dengan seseorang!"
"Baiklah, kau boleh meneruskan rencanamu itu sekarang." Damaresh melihat jam tangannya. "Aku memberimu waktu setengah jam," imbuhnya dengan santai.
"Setengah jam?" Kaivan menggeleng tegas.
"Tidak bos, terima kasih," tolaknya keras. Ya kali kencan dikasih waktu setengah jam, gerutu Kaivan dalam hati.
"Aku gak bisa kasih waktu lebih banyak Kai, setengah jam lagi kita akan meninjau lokasi proyek,"
"Ya, aku tau. Setelah itu aku akan melanjutkan rencanaku," ucap Kaivan.
"Terserah padamu! tapi ingat, nanti malam kita ada janji ketemu dengan walikota Mangupura dan beberapa pemangku adat di sini," Damaresh mengingatkan.
"Tentu saja, aku ingat itu. Pertemuan nanti, Yeslin pasti ikut, apa kau tidak ingin membawa Aura?"
"Tidak." Damaresh menggeleng. "Pertemuan seperti itu tidak cocok untuk Arra."
****
Sebagai perusahaan yang baru pertama kalinya melebarkan sayap bisnisnya di Bali, penting untuk berpermisi atau kulo nuwwun pada pemerintah setempat dan para pemangku adat, di mana para pemuka adat di Bali memang memiliki tempat yang cukup penting sebagaimana pemerintah.
Sebenarnya hal itu sudah dilakukan sebelum memulai proses pembangunan, namun saat itu, Darwin yang hadir mewakili perusahaan. Dan kini Damaresh sendiri yang turun langsung untuk menjalin keakraban dengan pemerintah setempat, hal ini tentu akan menjadi nilai lebih untuk perusahaan dan pimpinannya dan sekaligus akan semakin mempermulus jalannya kepak sayap bisnis Pramudya Corp di sana.
__ADS_1
Sebagaimana tradisi yang sudah berlaku, dalam pertemuan yang berbau-bau adat tak lepas dari sajian arak khas Bali, begitu acara formal selesai, mereka semua yang terlibat akan melanjutkan obrolan ringan dengan sebotol arak di atas meja masing-masing.
Di sinilah, Yeslin memainkan perannya, wanita yang tampil all out itu memang selalu memilih posisi berdekatan dengan Damaresh, bahkan di beberapa kesempatan ia menautkan tangannya di lengan Damaresh yang selalu mendapat penolakan halus dari sang empunya tangan. Bahkan ketika tadi berkenalan dengan istri walikota dengan beraninya dia memperkenalkan diri sebagai calon istri Damaresh Willyam, tapi Kaivan yang mendengar semuanya tak tinggal diam, ia segera menjelaskan kalau Yeslin mewakili perusahaan kontraktor proyek saja bukan sebagai calon istri CEO Pramudya.
Yeslin kembali menuangkan arak ke dalam gelas Damaresh yang masih tersisa sedikit di sana.
"Tidak usah!" Damaresh menolak dengan isyarat tangan sedang fokus perhatiannya tetap mengarah pada Pak wali yang sedang saling berkelakar dengan pemuka adat di sana juga pak Darwin.
"Kau harus meminumnya, Aresh. ini adalah sebentuk penghormatan untuk mereka." Yeslin tetap bersikeras menuangkan araknya hingga terisi separuh dari ukuran gelas.
Sebenarnya Damaresh sudah tak berminat menenggak minuman itu lagi, Meski alkohol bukan hal baru baginya tapi tubuhnya selalu bereaksi tak biasa bila yang diminumnya adalah arak Bali, minuman yang mengandung kadar alkohol 40-45 persen itu selalu bisa membuat kepalanya cepat merasa pusing dengan pandangan yang berkunang-kunang. Hal ini berbeda bila yang minumnya bukan arak dari Bali kendati dengan kadar alkohol yang lebih tinggi. Karnanya Damaresh sudah mewanti-wanti dirinya sendiri untuk hanya sekedar mencicipi
Tapi akibat ulah Yeslin yang kembali menuangkan minuman ke dalam gelasnya membuat Damaresh terpaksa kembali menenggak minuman itu sampai tandas, karna salah satu pemuka adat yang mengatakan, tak elok meninggalkan pertemuan dengan arak yang masih tersisa di dalam gelas.
Entah ini memang aturan adat yang berlaku di sana, atau hanya sekedar canda saja.
"Kuat jalan sampai mobil, Resh? atau aku panggil Darwin?" Kaivan terlihat cukup panik melihat Damaresh melangkah terhuyung menuju tempat parkir sedangkan keringat dingin sudah memenuhi wajahnya.
"Aku bisa, Kai."
Damaresh terus berusaha menahan pusing yang menyerang kuat hingga tubuhnya menunbruk mobil yang pintunya segera di bukakan oleh Yeslin.
Yeslin yang memang keluar mengikuti keduanya sigap memberikan bantuan begitu dilihatnya ada peluang.
"Aku butuh injeksi sumatriptan, " sahut Damaresh dengan mata mengatup rapat. Seperti itulah biasanya tiap kali Damaresh merasa sangat pusing akibat pengaruh alkohol yang terkandung dalam arak Bali, ia akan mengatasinya dengan injeksi sumatriptan, yaitu sejenis obat untuk migrain dan sakit kepala cluster.
Tapi nyatanya obat itu juga bisa meredakan rasa pusingnya yang berlebihan.
"Ya." Kaivan segera merintahkan sopir untuk menuju rumah sakit terdekat.
Dengan satu kode dari Kaivan, Damaresh mendapatkan perawatan kelas wahid di rumah sakit itu, karna menurut dokter, setelah mendapatkan suntikan tersebut, Damaresh harus beristirahat minimal tiga jam sebelum kembali ke rumah.
"Bagaimana Aresh?"
Yeslin menampilkan muka yang sangat panik, ia sengaja menyusul ke rumah sakit karna sangat kawatir dengan Damaresh.
"Dia baik-baik saja, hanya perlu tidur sebentar," sahut Kaivan. "Semua ini karna salahmu juga, kau tau Damaresh itu sangat sensitif dengan arak Bali, tapi kau
sok perhatian menuangkan minuman itu berkali-kali!"
Kaivan melabuhkan tatapan tajamnya pada Yeslin yang memang sudah merasa kalau dirinya salah dari tadi.
__ADS_1
"Maaf, aku tidak tau," ucap Yeslin pelan sambil memperhatikan Damaresh yang tertidur dengan wajah tenang. "Aku akan menebus kesalahanku, dengan menjaganya di sini." ucapnya kemudian.
"Tidak usah, kau pulang saja! aku yang akan menemaninya di sini," tandas Kaivan. Ia tak pernah percaya kalau Yeslin akan tulus dengan ucapannya.
Tapi Yeslin tetap bersikukuh tidak mau pergi.
Meski berada dalam ruangan yang sama, Kaivan merasa enggan untuk membuka percakapan dengan Yeslin, jadilah keduanya diam saja, dan sibuk dengan gawainya masing-masing. hingga pada menit yang kesekian Kaivan bangkit menuju kamar mandi dengan meninggalkan ponselnya di atas meja begitu juga dengan ponsel milik Damaresh.
Dan bersamaan dengan Kaivan yang menutup pintu kamar mandi, salah satu ponsel di atas meja itu berbunyi.
Yeslin menatap kanan kiri setelah tau kalau panggilan masuk itu berasal dari ponsel milik Damaresh, dilihatnya tidur Damaresh juga tak terusik dengan raungan di ponselnya, Kaivan juga pasti tak akan mendengar, karna kucuran air yang sangat deras di kamar mandi terdengar sampai ke luar ruangan.
Yeslin segera beringsut meraih ponsel yang ternyata tidak dalam mode terkunci, tertera nama Aura pada layarnya, ide licik Yeslinpun keluar dari kepalanya.
"Hallo Aresh, Kau di mana?"
Terdengar suara Aura begitu Yeslin mengangkat telfhonnya.
"Aresh sedang tidur" jawab Yeslin.
"Apa? tidur? I-Ini siapa?"
Terdengar tanya heran dari Aura.
"Siapa aku? kau tanyakan sendiri besok pada Aresh ya, aku ini siapa!" Dan Yeslin pun mematikan telfhonnya.
Tak hanya itu saja, ide licik yang lain juga muncul di kepala Yeslin. Mumpung Kaivan masih di kamar mandi.
pikirnya. Satu kesempatan dalam kesempitan.
Kaivan menuntaskan ritualnya di kamar mandi setelah lima belas menit kemudian, begitu ia keluar dari sana dilihatnya Yeslin sedang beringsut turun dari ranjang Damaresh. "Apa yang kau lakukan?" Kaivan menghardik keras.
"A-Aku hanya membetulkan posisi bantal Damaresh yang kurang tepat, kepalanya bisa pegal nanti bila posisi tidurnya kurang nyaman," jawab Yeslin dengan senyum pasti.
Kaivan terdiam, terus terang perasaannya tak sepenuhnya percaya dengan jawaban Yeslin, tapi untuk
menuduh tanpa bukti, itu juga bukan hal yang tepat dilakukan.
"Sebaiknya kau pulang saja, Yeslin. ini sudah malam,"
Kaivan pun memilih mengusir secara halus saja, karna perasaannya mengatakan kalau Damaresh yang sedang dalam kondisi tidak berdaya, tidak aman berada di dekat Yeslin.
__ADS_1
"Baiklah, aku pulang dulu," Yeslin patuh dan segera keluar dari sana. Meski tak bisa menemani Aresh, setidaknya satu misiku sudah berhasil. ucapnya dalam hati sambil melenggang pergi.