Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
101. Hantaman..


__ADS_3

"Aura, bangun nak, ada tamu untukmu," ucap Lukman lembut selembut belaian tangannya di kepala sang putri yang menjadi penunggu kasur dengan setia sejak dua hari lalu, tepatnya sejak Aresh kembali ke Jakarta.


"Ngantuk, Ayah," jawabnya dengan sepasang mata yang enggan terbuka.


Lukman menghela napasnya mendengar itu, karna Aura bahkan sudah tidur dari beberapa jam yang lalu, tapi masih bilang mengantuk saja sekarang. Entah apa yang terjadi, mengapa sang putri kini beralih profesi, dari sosok Aura yang cekatan menjadi tukang tidur dan suka malas-malasan.


Aura hanya akan gegas beranjak kalau ada telphon dari Damaresh, selebihnya ia akan bermalas-malasan lagi.


"Temui dulu tamunya, Nak. Setelah itu lanjut lagi tidurmu!" Titah Lukman.


"Memang siapa tamunya, Yah?"


Aura mulai sedikit membuka matanya.


"Ayah tidak tau, tapi mungkin masih keluarga suami-mu kalau dilihat dari penampilannya," tukas Lukman.


"Laki-laki apa perempuan?"


"Laki-laki dua orang, mungkin seumuran ayah."


Aura terlihat diam berpikir.


"Sudah jangan menebak-nebak, kau temui saja!" nasehat Lukman.


Damian.


Laki-Laki yang memang seumuran Lukman itu yang kini duduk dihadapan Aura bersama seorang rekan, entah siapa.


Aura tidak tau, apa yang menjadi penyebab tangan kanan William di London, itu kini datang bertandang. Dan Yang ingin ditemuinya bukan Damaresh William, tapi Aura Aneshka sendiri.


"Tuan William sangat terkejut, mengetahui kalau Nona dan Tuan Damaresh sudah kembali lebih dulu ke Indonesia," ucap Damian setelah mencicipi minuman yang disuguhkan oleh bik Jum.


"Apakah tuan William masih berada di London, sekarang?" tanya Aura mengimbangi pembicaraan.


"Beliau sudah berada di Jakarta, sejak kemarin siang," sahut Damian dengan senyum. "Karna semua kepemimpinan Pramudya Corp, baik yang di Jakarta maupun yang di luar negeri, sudah diserahkan pada Tuan Damaresh," tuturnya lagi.


Aura mengangguk dengan senyum. Setelah ini, Damaresh akan semakin sibuk.


Batinnya.


"Karna menurut tuan William, tak ada yang lebih pantas menggantikannya selain tuan Damaresh," tutur Damian lagi tanpa diminta.


Aura mengangguk saja, perihal itu, ia juga sudah tau.


Damian memindai tatapannya pada Aura yang terlihat kurang santai dalam menanggapinya, pasti karna gadis itu sudah menebak-nebak maksud kedatangan Damian kesana, yang tak mungkin hanya untuk memuji-muji Damaresh di depannya saja.


"Nona Aura, saya kesini atas perintah tuan William untuk menyampaikan ini padamu," tutur Damian. Ia akhirnya menuju pada titik fokus niatnya datang bertandang.


Lelaki di sampingnya segera berdiri menyerahkan sebuah amplop tipis berwarna coklat dengan ukuran tak terlalu


besar, yang segera di terima oleh Aura dengan tatapan heran.


" Apa ini?" tanya-nya.


"Silahkan dibuka!" Damian menyilahkan dengan tangannya.


Patuh, Aura segera membuka amplop itu yang ternyata berisi satu lembar kertas cukup tebal berwarna krem kecoklatan.


Aura hanya melihatnya sekilas, dan tatapannya lalu mengarah pada Damian yang sedang memperhatikannya dengan seksama.


"Apa ini,  Tuan Damian?" Tanya-nya.

__ADS_1


"Kalau tidak paham, Nona bisa tanyakan pada Tuan Damaresh," sahut Damian menolak memberikan penjelasan.


"Damaresh tidak ada di sini, dia sudah di Jakarta sejak dua hari yang lalu," sahut Aura mulai dengan perasaan tak nyaman.


Damian mengangguk dengan seulas senyum tipis. Tanpa Aura sadari kalau sebenarnya kedatangan Damian memang sengaja diarahkan saat Damaresh tak ada di rumah itu. Jadi tanpa Aura memberi tau, kalau suaminya sedang tidak di rumah, Damian sudah tau.


"Tapi, tuan Damaresh sama sekali tidak datang ke perusahaan," tutur Damian.


Yang membuat Aura juga terlihat sedikit heran, namun segera gadis itu bersangka baik pada suaminya. Bagaimanapun ia tau kalau kesibukan Damaresh tak hanya perihal perusahaan saja.


"Mungkin saja tuan Damaresh sedang berusaha mencari tuan Airlangga," ucap Damian kemudian.


"Mencari tuan Airlangga?" Terdengar Aura bergumam heran.


"Apa Nona tidak tau, apa yang terjadi pada tuan Airlangga?" tanya Damian yang dijawab Aura dengan gelengan.


"Tuan Airlangga di sandera oleh tuan William."


"Apa?" Nyata sekali keterkejutan di wajah Aura mendengar penuturan Damian.


"Ta-Tapi untuk apa?" Aura jadi gugup bertanya.


"Untuk menekan Tuan Damaresh, Nona."


"Apa?"


Spot jantung kedua diterima oleh Aura.


Dan untungnya Damian mau memberikan penjelasan.


Damian menceritakan dengan rinci apa yang menjadi tujuan William menyandera Airlangga, berikut usaha Damaresh untuk lepas dari tekanan kakeknya itu.


Hingga berhasil menumbangkan BLC Corp London, semua dilakukan oleh Damaresh untuk melindungi ikatannya dengan Aura.


Sedangkan Damaresh untuk saat ini juga belum berhasil menemukan keberadaan Airlangga.


Aura tertunduk menyadari ada hal besar yang tengah dihadapi oleh Damaresh diluar pengetahuannya. Rasa sedih dengan seketika menjalari perasaannya.


"Saya bukannya mau meremehkan kemampuan tuan Damaresh yang sudah tak patut diragukan, tapi dalam hal yang berkaitan dengan tuan Airlangga, bagaimanapun usaha tuan Damaresh untuk mencarinya, saya rasa tuan Damaresh tak akan menemukannya sebelum tuan William sendiri yang berkenan melepaskan tuan Airlangga."


"Lalu bagaimana caranya agar tuan William mau melepaskan tuan Airlangga?"


Aura terpancing untuk segera bertanya atas penuturan dari Damian itu.


"Jika tuan William mendapatkan apa yang diinginkannya," sahut Damian.


"Apa itu?" tanya Aura cepat.


"Menyandingkan tuan Damaresh dengan wanita yang dipilihkannya."


Jawaban Damian segera membuat Aura terdiam dengan kepala tertunduk terkulai. Lukman yang duduk di dekatnya memperhatikan putrinya itu seksama, dan turut merasakan apa yang kini berkecamuk dalam perasaannya.


Lukman menepuk pelan pundak Aura guna mentransfer kekuatan agar sang putri kembali baik-baik saja.


"Tuan Damaresh pasti akan mempertahankan ikatan kalian, apapun caranya, meski kemudian ia berada dalam kebingungan, antara memilih wanita yang dicintainya, atau ayahnya."


Terdengar ucapan Damian yang hadir di pendengaran Aura sebagai tambahan beban dari beratnya beban yang sudah ada.


Aura menegakkan kepalanya, dan tatapannya mengarah lurus pada Damian.


"Apakah Tuan Damian mengatakan semua ini pada Saya, juga atas perintah dari tuan William?"

__ADS_1


"Tidak, Nona." Damian menggeleng tegas.


"Tuan William hanya meminta saya memberikan amplop itu padamu. Saya memberitaukan ini padamu atas inisiatif saya sendiri yang mungkin saja Nona Aura dalam hal ini masih belum mengetahui."


Aura terdiam, antara percaya dan tidak dengan penuturan Damian. Tapi ia memutuskan untuk mendengarkan saja apa yang akan diucapkan oleh Damian lagi.


"Saya cukup lama mengenal tuan William, berada dalam posisi berseberangan pemikiran dengannya, sangat tidak saya sarankan. Dan biasanya yang berada dalam posisi lemah, yang akan jatuh sebagai korban," ucap Damian lagi dengan pandangan mengarah pada Aura.


"Maksudnya?"


"Seperti posisi Nona saat ini," tandas Damian.


"Menurut saya, pikirkanlah kembali ikatanmu dengan tuan Damaresh! Saya tau kalian saling menyukai, tapi ikatan kalian tidak berada dalam posisi yang dapat dibenarkan menurut tuan William.


Dan Nona Aura juga bukannya tidak merasakan adanya perbedaan itu bukan?"


"Perbedaan apa?"


Aura berusaha tak terpancing ucapan Damian dengan menanyakan seolah-olah dirinya tak merasakan adanya apa yang ditebak oleh Damian.


"Bahkan sebelum orang lain tau dan melihatnya, Nona Aura pasti sudah lebih dulu merasakannya," sahut Damian puitis.


"Kau seorang yang idealis dalam memandang sebuah ikatan rumah tangga. Dan Apakah tuan Damaresh memiliki kriteria lelaki yang sesuai dengan idealisme-mu selama ini?"


Itu Suatu hal yang hanya terasakan dalam dirinya saja, diantara indah hari-harinya nan penuh warna akan kehadiran Damaresh, nyatanya memang menyisakan satu bagian dalam sisi perasaannya yang lain, yang terasa hampa, seumpama ada lubang yang menganga diantara kebahagiaan yang tengah di rasa.


Damaresh yang kaku, nyatanya sangat lembut memperlakukannya. Damaresh yang datar, ternyata menunjukkan tanggung jawabnya yang teramat besar.


Damaresh yang enggan tersenyum, ternyata menjadikan hanya Aura saja sebagai pelabuhan senyumnya.


Tapi dibalik semuanya, Aura merindui seorang suami yang bisa menjadi imam sholatnya, yang mengingatkannya untuk melaksanakan fardu lima waktunya.


Yang sesekali berwudhu bersama dan bersimpuh dalam satu hamparan sajadah untuk berkomunikasi dengan rabb-nya.


Bukan hal muluk yang didamba, bukan pria yang hafidz Al-Qur'an dan ribuan hadist shahih, hanya itu saja yang ia pinta.


Menua bersama dengan seorang imam yang saling berpegang tangan menuju ridho Tuhan.


Dan itu, tak ditemuinya dari seorang Damaresh William.


Sepasang mata Aura kini mengembun, ketika ranah sensitiv itu disinggung.


"Saya pamit, saya sudah terlalu banyak bicara diluar kewenangan dan perintah yang diberikan. Semua itu berdasar keperdulian, Nona Aura. Saya tidak tega melihatmu yang pantas bahagia dengan jalan hidupmu yang selaras dengan agama. Tapi malah selalu berada dalam tekanan tuan William yang otoriter itu."


Damian segera berdiri, setelah kalimatnya sampai pada titik.


Lukman dan Aura mengiring sang tamu hingga sampai di beranda rumah, dan setelah mobil yang membawa Damian dan rekannya hilang dibalik pagar halaman, Aura segera bergegas masuk ke dalam kamar.


Lukman menyusulnya sesaat kemudian, namun baya berusia lima puluh tahunan itu hanya mampu berdiri saja di depan pintu kamar yang tertutup, karna suara isakan lembut sang putri yang sudah memenuhi pendengarannya kini.


"Ayah." Aura gegas memeluk Lukman, ketika ayahnya itu menghampirinya yang sedang menangis di atas peraduan.


"Aku bingung sekarang, Ayah ... Aku gak mau Aresh tertekan karna aku, tapi aku juga gak ingin berpisah darinya," isak Aura.


Berita yang dibawa Damian benar-benar sebuah hantaman baginya.


"Tenangkan dirimu, Nak .." Lukman mencium lembut keningnya dan mengusapi air matanya.


"Yang paling benar untukmu sekarang, lakukan sholat istikhoroh, minta petunjuk pada Allah.


Dan apa nanti yang akan kau dapat, iklas-lah, dan bersabar-lah."

__ADS_1


Lukman segera merangkul sang putri dengan sepenuh sayang.


__ADS_2