
"Aura, kau sedang menunggu jemputan?" tanya Claudya sesaat setelah turun dari mobilnya dan mendapati Aura duduk sendiri di kursi putih, di pojok taman yayasan.
"Tante Claudya." Aura berdiri menyambut hadirnya wanita itu yang tampak mengembang senyum dan segera duduk di samping Aura yang sudah kembali duduk setelah dipersilahkan oleh Claudya dengan isyarat tangan.
"Tante dari mana?"
"Aku memang ingin menemuimu." wanita itu kembali memberikan Aura senyuman. "Hampir terlambat ya, L&D sudah waktunya pulang," ucapnya lagi sambil melayangkan pandang pada bangunan megah kantor yayasan.
"Baru lima belas menit yang lalu, Tante."
"Ya, untunglah jemputanmu belum datang, tapi tumben, biasanya sopirmu
standby?"
"Aresh bilang, mau menjemput saya sendiri, Tante," sahut Aura tak lupa
dengan tampilan senyum ramah di wajahnya.
"Aresh? Dia tidak ke London?"
tanya Claudya heran.
"Tidak, Tante," jawab Aura disertai gelengan kepala.
Claudya terlihat menunduk, segera expresi sendu terpancar di wajahnya.
"Berkali aku ingin menemui Aresh, di kantor Pramudya tapi dia selalu menolakku, Arra," keluhnya dengan suara pelan.
"Sejak bertemu di rumah Bogor, seminggu yang lalu, aku tak pernah berjumpa sekalipun dengannya," tutur Claudya lagi masih tetap dengan mode sendu-nya.
Aura terlihat mendengarkan itu dengan seksama, namun belum ada kalimat apapun yang diucapkannya.
"Padahal aku hanya ingin tahu, di mana keberadaan ayahnya." Claudya terlihat menghela napas berat. "Apa menurutmu, perasaanku sekarang terlihat seperti sebuah kebohongan, Aura?"
Aura tersenyum lembut dan menggeleng pelan, setidaknya hal itu berdasarkan apa yang dirasakannya sekarang dari apa yang dilihatnya pada diri Claudya Willyam.
Bibir memang bisa berdusta, tapi tatapan mata selalu menyiratkan rasa yang sebenarnya, walaupun harus
di-akui ada beberapa kasus dimana seseorang yang pandai memanipulasi keadaan, dan ahli dalam melakukan kebohongan, tatapan matanya juga adalah tipuan yang menggiring penilaian serupa seperti yang diucapkan, akan tetapi kalau kita mau melihat dengan jeli, sesungguhnya itu terlihat berbeda sekali, mana yang berasal dari hati atau yang hanya manipulasi.
Dan perbedaan tersebut dirasakan di dalam hati, imbas dari kebohongan atau kejujuran dari orang lain, hati yang memiliki kekuatan menerima signal-signal
Ilahi, mampu menimbang dan menyeleksi. Ia akan bereaksi dengan rasa tenang dan nyaman ketika yang disuguhkan adalah kejujuran.
Sebaliknya, hati akan bereaksi dengan kegelisahan ketika yang ditemuinya adalah kebohongan. Tak salah kiranya adanya sebuah ungkapan: yang datang dari hati, akan sampai pada hati, dan yang datang dari mulut hanya sampai pada telinga saja.
"Tapi Aresh tak percaya padaku, Aura," ucap Claudya mengadu, tatapannya makin menyipit karna penolakannya sendiri pada tumpukan air yang sepertinya mulai mengumpul di sepasang matanya.
"Aresh butuh waktu, Tante," ucap Aura pelan.
Claudya mengangguk, sesungguhnya ia paham, bahwa ucapan Aura itu benar.
"Aku tau, kalau kesalahanku, tidak akan termaafkan," ucapnya dalam. "Tapi aku hanya ingin dia memberitaukanku, dimana Airlangga berada," ucapnya lagi dengan tertunduk kian dalam.
Himpitan rindu tak terperi telah merejam jiwanya siang malam, membuatnya merasa informasi tentang keberadaan suami yang sempat dibencinya dan sekaligus juga dicintainya begitu dalam, harus segera didapatkan, dan hanya Damaresh saja yang bisa memberikan, tapi sang putra telah benar-benar menutup semua pintu untuknya.
"Tak ada yang tau, Aura, kalau selama ini aku sangat merindukan seseorang yang aku kira telah meninggal, dan ternyata aku tau sekarang, kalau dia masih hidup, bisa kau bayangkan, kalau aku sangat ingin menemuinya." Dan satu titik air mata Claudya jatuh di wajahnya yang segera dihapusnya dengan kasar, seakan ia benci dengan hadirnya airmata itu sekarang.
"Apa orang yang telah melakukan banyak salah, tidak boleh lagi mencintai?"
"Tidak, Tante. Perasaan cinta itu fitrah setiap manusia, siapapun dan bagaimanapun dia," ucap Aura lembut seraya mengusap pelan pundak Claudya. "Tante boleh aku kasih saran?"
"Ya, aku siap mendengarkanmu, Aura," sahut Claudya pelan. Tak perlu lagi ia pertanyakan kenapa harus mendengarkan ucapan seorang gadis yang tak pernah dibayangkan akan masuk dalam kehidupannya. Toh kakinya sudah melangkah tanpa penolakan, ketika terbersit niatnya untuk menemui Aura dan sedikit berbagi cerita. Gadis itu dengan segala kelembutannya, telah berhasil menarik kepercayaannya untuk bercerita suatu hal yang ia tak ingin diketahui siapapun,
selain dirinya saja.
"Untuk saat ini, sebaiknya Tante jangan memaksakan Aresh untuk percaya pada Tante, walaupun Tante jujur dengan apa yang dirasa sekarang, karna tak mudah bagi Aresh menutupi luka yang sudah sangat dalam dan menganga, kalau Tante terlalu memaksa, Aresh justru semakin tak percaya," ujar Aura selembut mungkin, kawatir kalau Claudya akan tersinggung karnanya.
__ADS_1
"Lalu, aku harus bagaimana?"
"Tante buktikan saja kesungguhan, Tante, kelak Aresh akan menilai sendiri,
Maaf ya Tante kalau saya katakan ini." Aura meraih jemari Claudya yang mengangguk pelan.
"Citra Tante di mata Aresh sudah terlanjur buruk, dan untuk mengubah citra itu, perlu bukti, Tante," imbuh Aura setelah mendapat persetujuan dari Claudya.
Mendengar ucapan Aura, Claudya terdiam cukup lama, keterdiamannya yang sangat lama itu sempat membuat Aura merasa bersalah, kalau saja dia ada salah kata.
Sebuah mobil lexus hitam, berhenti tepat disamping mercy milik Claudya, tubuh gagah Damaresh keluar dari mobil mewah itu dan gegas melangkah menghampiri Aura yang sedang duduk berdua Claudya.
Aresh segera menunduk mencium kening Aura yang terdongak melihat kemunculannya. "Aku terlambat?" tanya-nya setelah melepas ciuman.
"Ya, hampir setengah jam," sahut Aura.
"Maaf," ucap Damaresh pelan, Aura mengangguk dengan senyuman.
Selanjutnya Damaresh memutar kepalanya menatap Claudya sesaat, lalu kembali teralih pada Aura dengan tersisip tanya. "Ada kepentingan apa dia
menemuimu?"
Aura tak menjawab, tatapannya beralih pada Claudya yang terlihat berkemas, meraih tasnya, merapikan gaunnya, dan berdiri dari duduknya.
"Aku hanya ingin sekedar mengobrol saja dengan Aura, Resh," sahutnya pada Damaresh.
"Memintanya untuk membujukku?"
tebak Aresh dengan tatapan tajam.
"Tidak, tidak. Kau bisa tanya sendiri padanya," kata Claudya.
Aura segera menggelengkan kepalanya ketika Damaresh mengarahkan tatap padanya.
"Kau tidak ke London, Aresh?" Claudya mengalihkan pembicaraan dengan pertanyaannya.
"Ku dengar Edgard yang kesana, tapi kurasa, kakekmu tak sepenuhnya cocok dengan kinerja Edgard, dia pasti masih membutuhkanmu," ucap Claudya lagi yang kali ini tak mendapat tanggapan apa-apa dari Damaresh.
Tapi Claudya tak berhenti untuk bisa mendapat perhatian dari anaknya itu dengan perkataannya lagi.
"Oya, Aresh. Katanya papa ingin kembali tinggal di Jakarta, dan dia akan menyerahkan perusahaan yang di London padamu."
"Ya, aku dengar begitu." kali ini Damaresh menjawabnya meski dengan datar-datar saja.
"Aku rasa ini cara halus yang dilakukan papa, untuk menjauhkanmu dari, Aura," tukas Claudya yang segera tatapan tajam dari Damaresh mengarah padanya.
Damaresh bukan tak mampu membaca arah pikiran Willyam dengan keputusannya itu, ia bahkan sudah menyiapkan langkah untuk menghadapi sikap kakeknya tersebut, tapi Damaresh tak suka ketika Claudya mengungkap hal itu di depan Aura, karna selama ini ia selalu menghindarkan hal apapun yang akan meresahkan itu sampai pada telinga istrinya.
Damaresh menangkap perubahan expresi di wajah Aura atas ucapan dari Claudya itu, ia segera meraih tangan Aura dan berkata tajam pada Claudya.
"Apa kau sudah selesai, aku dan Arra harus pergi."
"Ya, sudah." Claudya terlihat memutar tumitnya untuk pergi, namun segera urungkan langkah dan menatap Aura.
"Aura terima kasih ya, untuk saranmu, aku rasa kau memang benar Aura, aku akan berusaha menjalankannya," ucapnya dengan senyum lepas.
"Sama-Sama, Tante."
"Oya, besok aku mau ke London, Aura, apa kau ingin pesan sesuatu? Akan aku bawakan nanti untukmu." Claudya menawarkan.
"Apa ya, Tante?"
"Tas branded mungkin."
"Ah tidak, Tante, terima kasih, lagipula saya tidak cukup tau tentang barang-barang mahal dari brand ternama," jawab Aura jujur sambil tertawa ringan.
"Baiklah, aku akan membelikannya nanti untukmu, ya," ucap Claudya dengan senyum.
__ADS_1
"Kalau Tante punya niat seperti itu, saya terima kasih banyak," sahut Aura.
Akan tetapi, "Tidak usah repot-repot," ucap Damaresh cepat. "Segala kebutuhan dan keinginan Ara, itu tanggung jawabku, bukan orang lain," lanjutnya tandas dan segera berlalu dengan menarik tangan Aura untuk membawanya pergi dari tempat itu.
*******
Aura melepaskan hijabnya perlahan, menggerai rambut panjangnya yang segera dirapikan dengan jari tangan, selanjutnya ia menguncir rambut itu tinggi hingga menampilkan leher jenjangnya yang putih.
Issh.
Aura berdesis lirih ketika satu ciuman mendarat di tengkuknya seiring gelayar indah yang memenuhi rongga dadanya. mendapati reaksi demikian dari sang istri, Aresh melanjutkan aksi ciumannya di area leher Aura.
"Aresh aku mau mandi, nanti telat sholat ashar," Ucap Aura sambil menelengkan kepalanya menghindari aksi Damaresh padanya.
"Aku bantu buka risletingnya ya?" itu pertanyaan apa hanya pemberitahuan ya, nyatanya Damaresh langsung membuka risleting baju Aura sebelum istrinya itu mengiyakan. Dan jangan salahkan Damaresh dong bila lagi-lagi punggung mulus Aura kembali menjadi sasaran ciumannya.
Tapi hanya sebatas itu saja, meski untuk kali ini tak ada kesan penolakan dari Aura, Aresh hanya melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping Aura setelah usai memberikan ciuman bertubi-tubi di punggung dan bahu istrinya yang terexpose sempurna di depan mata.
"Ara," ucap lirihnya.
"Apa?"
"Aku mau ke London," pamitnya.
Aura yang sudah menduga, kalau Aresh memang pasti akan terbang ke negeri ratu Elizabeth itu lagi, terlihat menghela napasnya. "Kapan?" ia bertanya pelan.
"Nanti malam."
"Kau akan lama di sana? atau kau tak akan pernah kembali ke Jakarta?" tanya Aura dengan suara tercekat, ia ingat dengan jelas apa yang dikatakan oleh Claudya tadi di yayasan.
"kali ini mungkin cukup lama, tapi aku pasti kembali ke Jakarta," sahut Damaresh sambil kian mempererat pelukan.
"Ara, apa yang dikatakan mommy tadi, tidak usah terlalu dipikirkan."
"Tapi itu memang benar, bukan?"
Damaresh tak menjawab, ia bahkan menarik kepala Aura untuk bersandar di pundaknya, desah napas hangatnya pun menyapu rata wajah Aura.
"Kita sudah sepakat, untuk tetap berjalan bersama, ingat?"
Terasakan kalau Aura mengangguk pelan.
"Jangan goyah sebelum melangkah!" Aresh mengusap helaian rambut Aura yang jatuh di keningnya pelan.
"Apa yang bisa kulakukan untuk membantumu, Aresh?
tanya Aura.
"Percaya padaku, dan doakan aku! itu saja."
Aura mengangguk dan segera menjerit tertahan karna Damaresh yang tetiba mengangkat tubuhnya ke dalam kamar mandi, dan menurunkan tubuh itu di samping
bathub. "Mandilah, aku keluar dulu," ujar Damaresh setelah mencium bibir istrinya itu singkat.
Aura menghela napas lega, setelah Damaresh menutup
pintu kamar mandi dari luar, pasalnya derap jantungnya yang sudah bertalu-talu bak bedug hari raya idulfitri akibat perlakuan Damaresh itu akan segera normal lagi setelah lelaki itu pergi.
--???---?
-?????---???
Nih aku penuhi janji untuk Up lagi, rencananya mau Up dari tadi, tapi pekerjaan yang lain sudah menanti-nanti.
Trimz ya yang udah kasih vote..kasih like, gift dan komentn..apapun bentuk dukungan kalian, aku sampaikan rasa terima kasih yang sangat dalam.
Sebab dukungan kalian itulah yang membuat jemariku lincah membuat ketikan.
__ADS_1