Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
38. Dia Istriku.


__ADS_3

Akhtar yang di dapok sebagai Master Off Ceremony dalam acara milad Pesantren Darul-Falah yang ke 97


sangat tampil memukau malam ini. Acara yang dihadiri oleh ribuan santri dan alumni beserta simpatisan dan para tamu kehormatan termasuk diantaranya, Aura Aneshka yang hadir sebagai perwakilan dari L&D Foundation, berjalan lancar dan sukses dalam panduan Akhtar sebagai MC yang mampu menghadirkan tatanan bahasa yang santun dan apik dalam menyilahkan para pelaksana tugas acara dari awal sampai Akhir.


Tak heran jika tatapan kekaguman dilayangkan oleh Aura terhadap mantan calon suaminya yang seakan menjadi bintang malam ini. Pun begitu yang dirasakan Akhtar ketika Aura tampil membawakan sambutan mewakili L&D Foundation yang menjadi pengantar santri-santri terpilih Darul-Falah mengenyam pendidikan tinggi di salah satu Universitas terbaik di


Jakarta, Akhtar juga mengarahkan tatapan terpesona pada gadis yang beberapa waktu yang terlewat selalu menjadi bunga tidurnya sebelum tragedi itu terjadi.


Tatapan kagum dibalut kerinduan tercetak jelas dari lelaki yang tampil dengan busana ciri khas santri itu,


ketika memiliki kesempatan menyapa langsung Aura di akhir acara, saat tanpa sengaja keduanya berpapasan.


"Apa kabar?" tanya Akhtar canggung sambil membuang tatapannya ke sembarang arah agar tak beradu pandang dengan pemilik tatapan teduh, Aura Aneshka.


"Alhamdulillah, baik,"


"Ee- aku sempat gak nyangka, kalau kamu yang hadir mewakili L&D, karna kamu kan sudah tidak bekerja di sana," ucap Akhtar yang terdengar gugup di awal kalimat, namun untuk selanjutnya lelaki itu sudah mampu menguasai keadaan.


"Iya, L&D memintaku untuk mewakili mereka," sahut Aura dengan disertai seulas senyum.


"Bagaimana sekarang? apa kau bahagia?"


Sejurus tampak Akhtar menatap dalam sebelum melempar tatapan itu ke lain arah, dia seakan takut kalau isi hatinya akan dipahami oleh Aura dari tatapan matanya.


"Insha-Allah," jawab Aura singkat, yang tak menyatakan dengan jelas kalau ia bahagia atau tidak.


Tapi menyandarkan pada kehendak Allah, untuknya bisa berbahagia atau tidak.


"Iya, kulihat kau juga sudah bahagia." Akhtar menyatakan penilaiannya.


"Kalau begitu ku harap kau juga bahagia, mendapatkan kebaikan dan kebahagaiaan di dunia dan Akhirat adalah sebaik-baik apa yang harus kita pinta pada Allah,"


sahut Aura dengan bahasa yang lugas.


"Tepat sekali," timpal seorang gadis berwajah cantik dengan balutan hijab berwarna soft yang tau-tau sudah berdiri di samping kiri Aura.


"Bahkan ada doa yang masyhur, yang dianjurkan baginda nabi tentang hal itu." Ucapan itu berasal dari gadis berparas ayu yang menghiasi wajah indahnya dengan balutan pasmina yang juga tau-tau telah berdiri di samping kanan Aura.


Keduanya lalu kompak saling pandang sembari melafadzkan satu kalimat doa yang sama.


"Robbanaa aatina fid dunya hasanah, wa fil a-khirati hasanah, wa qina 'adzaban naar."


Dan sama-sama mengakhiri untaian doa itu dengan tersenyum ke arah Akhtar.


Akhtar tersenyum kikuk, rencananya untuk berbicara sebentar berdua dengan Aura harus berakhir sekarang dengan kehadiran dua orang sahabat Aura dari sejak di pesantren. Sheriin mumtaza yang cantik di sebelah kiri Aura, dan Quinsha Daniin yang berparas ayu di samping kanannya. Keduanya hadir bak menjadi pagar bagi Aura dari segala macam gangguan yang mungkin akan didapati oleh gadis itu, salah satunya mungkin dari Akhtar.


"Kak Akhtar, apa kabar?" Quinsya bertanya lebih dulu,


dan caranya ini sedikit mengurai kegugupan dari diri Akhtar.


"Baik, alhamdulillah "


"Bersama istri juga kesini, Kak?"


Sherin juga ikut bertanya yang membuat Akhtar kembali tersudut dalam rasa tak nyaman, bahkan ujung matanya terlihat mencuri pandang terhadap Aura, sekedar ingin tau, kalau-kalau gadis itu terkejut mendengar fakta kalau dirinya juga sudah menikah.


Namun tak ada expresi yang dapat terbaca dari raut wajah Aura Aneshka.


"Dia kurang enak badan, jadi tidak bisa ikut," sahut Akhtar.


"Atau mungkin sudah 'isi'?" tanya Sherin asal-asalan.


Namun segera mendapat anggukan dari Akhtar.


"Waahh!" seru Quinsha dan Sherin bersamaan.


"Sudah hampir lengkap nih perjalanannya kak, punya istri dan punya anak," lanjut sherin.


Akhtar mengangguk dengan senyum, selanjutnya ia mengarahkan tatapan pada Aura.


"Aura, aku minta maaf ya, untuk semua kesalahan yang kulakukan, untuk-- tuduhanku yang terlalu cepat padamu,"


"Sama-sama, aku juga minta maaf," sahut Aura tanpa beban. Akhtar mengangguk dan selanjutnya lelaki itu berpamit pergi


Sekilas cerita tentang Aura Aneshka, dan Sherin Mumtaza serta Quinsha Danin, ketiganya bersahabat dekat selama berada di pesantren Darul-Falah dari sejak tahun pertama mereka masuk sebagai santri.


Keakraban itu terjalin karna diawali dengan banyaknya kesamaan diantara mereka. Tinggal di asrama santri yang sama dalam blok yang sama, di kelas yang sama dengan jurusan yang sama, sama-sama cerdas bahkan karna kecerdasan itu, mereka sampai dijuluki trio cerdas Darul-Falah, selain itu ketiganya juga mempunyai pesona kecantikannya masing-masing sebagai gadis muslimah.


(Insha-Allah nanti akan ada lapak ceritanya tersendiri tentang Sherin Mumtaza dan Quinsha Daniin. Insha-Allah, setelah cerita Aura Aneshka dan Damaresh Willyam ini tuntas. Nanti.)


"Tidak ada goncangan yang terjadi, kan?"


tanya sheriin pada Aura sepeninggal Akhtar.


"Goncangan apa?"


"Goncangan badai atau gempa bumi, bisa jadi."

__ADS_1


Quinsha yang menjawab.


"Gak ada, hanya semilir angin saja," sahut Aura.


"Gak usah ada apapun, meski hanya angin semilir.


Sadar sikon, sudah punya lelaki halal yang wajib dicintai dan dita'ati. Lelaki lain yang berada diluar lingkup halal, wajib diusir pergi."


"Iya, Ustadza." jawab Aura atas petuah berbahasa puitis yang diucapkan oleh Quinsha barusan.


"Jadi kapan, akan memperkenalkan kami pada suami-mu?" tanya Sherin sejurus kemudian.


"Yah betul, kapan?" Quinsha ikut menimpali.


"Pertanyaan yang sama, Sha. Kapan akan memperkenalkan calon suami-mu pada kami?"


Aura mengalihkan pembicaraan tentang Quinsha yang memang satu-satunya yang berstatus single diantara mereka.


"Nanti, tanya sendiri langsung pada Allah, di sepertiga malam yang akhir," jawab Quinsha. yang menandakan bahwa dirinya belum ada calon imam sampai sekarang.


"Mudah-mudahan di segerakan ya, Sha."


"Amiin, jadi kan kalian nginap di rumahku?" tanya Quinsha. hanya dia yang tinggal di kota ini juga tepatnya lima belas kilo dari pesantren Darul-Falah,


sedangkan Sherin tinggal di Malang, Dan Aura sendiri di Jakarta, namun rencananya Aura akan mampir dulu ke Surabaya untuk menjenguk ayahnya sebelum kembali ke Jakarta.


"Sepertinya aku tidak jadi, karna suamiku tadi telfhon mau jemput," kata Sherin sambil tersenyum senang.


" Ciyee, yang mau dijemput Suami, kayak ada cahaya bintang itu di matanya," ledek Quinsha yang cukup tau


bagaimana hubungan Sherin dengan suaminya.


Dalam pada itu, terdengar notifikasi pesan di ponsel


Aura, yang segera di lihat oleh gadis itu.


"Kau juga mau dijemput sama suamimu, Ra?" tanya sherin melihat expresi Aura.


"Iya aku juga sudah dijemput, tapi bukan oleh suamiku," sahut Aura, karna itu memang dari Dirga yang mengatakan kalau sudah tiba di parkiran pesantren.


"Ya sudah, semoga lain kali kita di beri waktu oleh Allah untuk bisa bersama lebih lama ya," putus Quinsha bijak.


"Amiin," ketiganya menjawab bersamaan lalu mengayunkan langkah menuju parkiran pesantren yang sebenarnya sudah terlihat dari tempat mereka berdiri saat ini.


Di Lain tempat.


Lelaki berwajah tampan rupawan itu memperbaiki posisi duduk nyamannya dalam mobil dan kembali akan fokus pada layar i-padnya ketika kembali netra hitam pekatnya yang setajam mata elang menangkap siluet tubuh seorang laki-laki gagah yang baru turun dari mobil hitàm yang baru datang tersebut, membuatnya melupakan niatnya untuk tetap diam dalam mobil. Lelaki itu segera turun menghampiri


pria yang telah terkunci dalam pandangannya.


"Om Alarick!?"


Pria berwajah tampan berpostur tubuh tinggi tegap sebelas duabelas dengan yang menyapanya, menatap lelaki sangat tampan yang menghampirinya itu dengan tatapan terpana. "Da-Damaresh?, Damaresh Willyam?"


Kaget dan tak percaya demikian arti yang dapat dipaham dari nada tanya dan tatapan matanya.


"Iya, Om. Aku Damaresh," sahut lelaki itu.


"Ya ampun Aresh!" untuk sesaat keduanya saling menatap senang, untuk melepaskan kerinduan masing-masing setelah jarak waktu yang sangat lama telah memisahkan ikatan antara paman dan keponakan diantara keduanya, sebelum tatapan senang itu berubah jadi pelukan hangat dalam sesaat.


Betul sekali, kalau lelaki yang ditemui Damaresh itu adalah Alarick Willyam, putra bungsu tuan Willyam Pramudya, yang telah cukup lama memisahkan diri dari klan Willyam. Lalu ada dimanakah keduanya sekarang?


Dimanakah tempat pertemuan mereka itu?


"Apa kabarmu, Aresh?" tanya Pria yang ditaksir berusia sekitar empat puluh lima tahunan itu, tampan dan gagah diusianya yang sudah matang dan dewasa.


Seakan tak jauh beda dari sejak terakhir kali Damaresh melihatnya sekitar lima belas tahun yang lalu.


"Baik, Om. Om sendiri, bagaimana?"


"Seperti inilah, Aresh." Pria itu tersenyum tipis.


"Tak menyangka bisa bertemu denganmu di tempat ini,


Resh," ucapnya lagi.


"Sama, Om, saya juga sempat berpikir kalau telah salah lihat barusan," kata Damaresh.


"Kau seperti kembaran mas Airlangga, Aresh." Alarick sejenak menatap keponakan tampannya itu.


"Apa kabar, daddymu, sekarang?"


Damaresh menggeleng, sambil menghela napas pelan.


"Tak ada yang bisa saya ceritakan, Om," ucapnya terdengar berat, namun tetap dengan expresi wajah yang datar.


"Assalamu' alaikum, Mas," sebuah ucapan salam dari suara perempuan membuat keduanya serempak menoleh. Ketiga gadis berhijab cantik itu berdiri di sana, dekat dengan mereka. Dari paling ujung, Quinsha Danin, lalu Sherin Mumtaza dan terakhir Aura Aneshka yang sedang bersitatap dengan Damaresh Willyam

__ADS_1


dengan pandangan penuh tanya. Namun Aura memilih mengunci mulutnya rapat karna belum memahami situasinya.


"Mas sudah lama menunggu?" pertanyaan itu datang dari Sherin untuk Alarick setelah diawali dengan mencium punggung tangannya.


Baik Aura maupun Quinsha sudah tau, kalau Alarick adalah suami dari Sherin Mumtaza.


"Tidak, aku baru saja datang," sahut Alarick.


Lalu ia berpaling pada Damaresh Willyam.


"Aresh, ini istriku!" Alarick memperkenalkan istrinya.


"Istri?" Damaresh terlihat cukup terkejut dengan penuturan pamannya itu.


"Iya, aku datang kesini, untuk menjemputnya. Istriku ini alumni di pesantren ini!"


Sesaat terlihat Damaresh menganggukkan kepalanya.


"Beliau siapa, Mas?" tanya Sherin pada Alarick.


"Damaresh Willyam, keponakanku."


"Damaresh Willyam, CEO Pramudya bukan?" tanya Sherin. Sejak yayasan L&D membidik santri Darul-Falah untuk mendapatkan beasiswa, Pramudya Corp, perusahaan besar yang menjadi pemilik yayasan L&D sudah tak asing lagi bagi para santri dan alumni Darul-Falah, mereka pasti pernah mendengar nama Damaresh Willyam sebagai pimpinan tertinggi Pramudya Corp, meskipun hanya sebatas mendengar namanya saja belum pernah melihat orangnya.


"Iya, benar."


"Dan mas bilang, kalau beliau ini keponakanmu, berarti Mas Alarick juga keturunan Willyam?" tanya Sherin dengan kening berkerut.


Alarick hanya menganggukkan kepalanya saja.


Apa yang terjadi, kenapa sherin seperti baru tau kalau suaminya adalah putra bungsu tuan Wilyam Pramudya.


Kisah Sherin dan Alarick tak akan dibahas dalam cerita Damaresh dan Aura, karna sudah disiapkan rumahnya sendiri. Kehadiran mereka disini adalah sebagai pelengkap dari bagian keluarga besar Willyam.


"Kau sendiri, Aresh? ada hal apa sampai kau bertandang ke pesantren ini?" tanya Alarick heran.


Ditengah kesibukan Damaresh yang pasti super padat, sangat mengherankan kalau ia menyempatkan datang ke sebuah acara perhelatan milad pesantren, kalau bukan karna ada maksud tersendiri.


"Saya mau menjemput dia, om!" Damaresh memberi isyarat pada Aura yang masih sering mendaratkan tatapan heran pada Damaresh yang seakan tak mengindahkan keheranan Aura itu.


"Dia?" Bukan hanya Alarick yang heran dengan pernyataan Damaresh, begitu pula Sherin Dan Quinsha.


"Kau kenal sama pak Damaresh Willyam?" Kedua sahabatnya langsung bertanya bersamaan pada Aura yang hanya diangguki oleh gadis tersebut.


"Apa hubunganmu dengannya, sampai bos besar Pramudya Corp itu datang menjemputmu sendiri?" bisik Quinsha, namun bisikan keras yang didengar pula oleh semuanya.


Aura segera menatap Damaresh, merasa tak tau harus


menjawab apa, lelaki itu juga tengah menatapnya dalam diam.


"Ini Aura Aneshka, sahabat istriku, Aresh. Kau rupanya juga mengenalnya," ucap Alarick


"Dia istriku," kata Damaresh.


"Haa?" Bisa ditebak, kan, kalau semuanya kaget dengan pengakuan dari Damaresh itu. Bahkan termasuk Aura.


Ia terkejut sekaligus senang, pasalnya ini pertama


kalinya Damaresh mengakui dirinya sebagai istrinya di


depan orang lain, meskipun dalam skala kecil, tapi Aura jelas terlihat sangat bahagia. Meminjam ucapannya Quinsha tadi pada Sherin, dimata Aura terlihat ada sinar bintang kejora yang sedang berpijar indah, saat ini. Tak hanya itu ada juga bunga warna-warni dan kupu-kupu yang beterbangan kemana-mana.


"Jadi kau sudah menikah? syukurlah aku turut senang, Aresh," ucap Damaresh.


Sayangnya pertemuan itu hanya berlangsung singkat,


karna waktu yang sudah cukup malam. Akhirnya mereka memutuskan pulang ke rumah masing-masing.


"Assalamu'alaikum keponakanku, aku duluan ya," sempat terdengar ucapan Sherin sambil melambaikan tangan ketika mobil yang dikendarai oleh Alarick itu melaju mendahului Lexus hitam yang juga dikemudikan sendiri oleh Damaresh.


"Kau datang menjemputku sendiri?" tanya Aura setelah kini mereka berdua dalam mobil yang melaju pesat meninggalkan kota.


"Seperti yang kau lihat,"


"Tapi, mana Dirga?" tanya Aura heran.


"Di Jakarta."


"Tapi tadi dia yang mengirimiku pesan, kalau dia sudah ada di parkiran,"


"Itu atas perintahku," ucap Damaresh.


"Maksudmu ingin memberi kejutan untukku?" tebak Aura.


Damaresh tak menjawab kecuali hanya menatap sekilas pada Aura sebelum kembali fokus menyetir.


"Terima kasih, Aresh, untuk semuanya, dan terutama karna kau telah mengakuiku di depan teman-temanku dan tuan Alarick," ucap Aura tulus.

__ADS_1


__ADS_2