Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
87. Tantangan.


__ADS_3

Flashback On.


Setelah menemukan fakta kalau ternyata kecelakaan tragis yang menimpa Airlangga adalah atas sabotase Claudya, Damaresh berusaha mencari keadilan untuk ayahnya yang saat ini tengah terbaring antara hidup dan mati di ICU Rumah sakit ternama di Jakarta.


Di hadapan Willyam ia sampaikan hasil penyelidikan dari orang-orang suruhannya, atas kecelakaan itu.


Willyam mendengarkan seksama penjelasan sang cucu


tanpa menampakkan kekagetan di wajahnya atas terungkapnya fakta tentang tindakan Claudya, karna sejatinya ia memang sudah bisa membaca situasinya kalau apa yang menimpa Airlangga bukanlah kecelakaan secara murni, melainkan imbas dari kemarahan Claudya yang merasa di khianati oleh sang suami.


Dalam diri Wilyam justru merasa takjub akan kecerdasan Damaresh, di usianya yang masih duduk di


bangku kelas pertama pendidikan menengah pertama itu mampu menguak tabir kejahatan Claudya yang sebenarnya sudah sangat tersusun rapi.


Willyam merasa kalau Damaresh adalah aset yang harus ia rawat dan ia jaga untuk menjadi penerusnya kelak.


"Aku sangat marah sama mommy, Kakek, tapi aku juga tak cukup berani untuk melaporkan kasus ini," kata Damaresh tertunduk dengan wajah memerah menahan gumpalan amarah sekaligus kesedihan di waktu yang bersamaan.


"Aku tawarkan solusi kepadamu, kau mau Aresh?"


Willyam menepuk lembut pundak lelaki tiga belas tahun itu pelan.


"Apa?"


"Aku akan memberikan perawatan terbaik pada daddymu agar ia bisa selamat dan melindunginya dari jangkauan mommymu, agar ia tak menjadi sasaran rencana jahatnya lagi."


"Kau bisa menyelamatkan daddy?"


"Ya, meskipun kondisinya sangat parah saat ini, tapi aku bisa pastikan kalau nyawanya masih bisa tertolong," sahut Willyam pasti.


Damaresh terlihat tersenyum penuh harap.


"Tapi bagaiamana caranya kau akan melindungi daddy dari mommy?"


"Akan aku kirimkan daddymu ke rumah sakit terbaik di Korea, dan disini, akan aku buat berita kalau daddymu


sudah meninggal dunia, dengan demikian tak akan ada siapapun yang tau tentang fakta yang sebenarnya kecuali kau dan aku, Aresh."


"Apa Kakek bisa memastikan kalau daddy bisa diselamatkan?"


"Ya, aku jamin itu."


Dan saat itu juga Willyam menelphon Dokter kepala rumah sakit yang dimaksud, dan memberitaukan secara singkat kalau tak kurang dari duapuluh empat jam, ia akan mengirimkan pasien gawat darurat yang harus segera ditangani dan diusahakan keselamatan nyawanya, berapapun banyaknya dana yang harus ia gelontorkan untuk hal itu bisa terlaksana.


"Tapi aku punya dua sarat untuk semua ini, Aresh," ucap Willyam setelah Damaresh terlihat menyetujui rencananya.


"Apa?"


"Pertama, jangan laporkan kasus ini pada pihak berwajib!" kata Willyam tegas, ia tentu akan melindungi putrinya dari jeratan hukum, karna bila itu terjadi akan berakibat buruk pada keberlangsungan kerajaan bisnisnya yang semakin berkembang pesat


saat ini.


Aresh mengangguk, karna di satu sisi ia memang tak cukup punya keberanian untuk melaporkan ibunya sendiri.


"Dan yang kedua, aku akan mengirimmu ke Amerika, untuk melanjutkan pendidikan di sana, kelak kau yang akan menggantikan aku memimpin Pramudya Corp, tapi dengan catatan kau harus patuh padaku dalam hal apapun, karna kalau tidak keselamatan daddymu yang kau pertaruhkan."


Secerdas-cerdasnya Damaresh, saat itu ia masih remaja tiga belas tahun yang tentu belum bisa berpikir terlampau jauh ke depan, yang ada dalam benaknya hanya keselamatan Airlangga, sebagai satu-satunya orang tua yang tak diragukan kasih sayangnya terhadap dirinya dibanding sang ibu. Bahkan jika saja Damaresh boleh memilih, ia akan lebih rela kehilangan ibunya dari pada kehilangan ayahnya.

__ADS_1


Tentu saja, Damaresh segera menyetujui sarat kedua dari sang kakek, tanpa tau kalau di masa depannya kelak, Willyam akan menjadikan itu sebagai alasan untuk menekannya.


Airlangga berhasil diselamatkan, setelah terbaring koma selama hampir tiga tahun lamanya. Tapi tak serta merta ia mendapatkan kepulihannya seperti sedia kala, karna setelah tersadar, ia mengalami hilang ingatan selama lima tahun, di samping salah satu matanya yang mengalami kebutaan dan cidera kaki permanen yang membuatnya harus memakai kursi roda selamanya.


Willyam memenuhi janjinya untuk terus merawat Airlangga hingga pulih, dari mulai mengembalikan lagi ingatan Airlangga, mendapatkan donor mata untuknya hingga ia bisa melihat dan mengenali putranya lagi.


Hal tersebut membuat Damaresh patuh pada semua aturan Willyam, yang memang sudah tercetus di atas sebuah kesepakatan.


Flashback off


Ketika Damaresh berpamitan pada Aura untuk pergi ke London, sebenarnya ia tak langsung pergi ke kota itu, tapi ia menuju ke Korea lebih dulu untuk mengunjungi ayahnya yang tinggal di sana, tepatnya di kota Daegu.


Damaresh melakukan itu karna sudah dapat membaca pergerakan Willyam yang mungkin akan menggunakan Airlangga untuk mengancamnya, pasalnya Damaresh secara tak langsung sudah menentang keinginannya, hal itu pasti sangat tidak disukai oleh Willyam.


Ternyata Damaresh kalah satu langkah dari Willyam, lelaki tua itu sudah bergerak sebelum ia tiba di Daegu, Damaresh tak dapat lagi menemukan keberadaan Airlangga di sana berikut beberapa pengawalnya, hanya tinggal dua orang maid yang melaporkan kalau Airlangga telah dibawa pergi oleh beberapa orang yang


menitip pesan untuk disampaikan pada Damaresh, bahwa ia bisa menjemput Airlangga setelah dapat persetujuan dari Willyam.


Lelaki itu hanya bisa mengepalkan tangannya geram.


Bisa di paham, apa yang menjadi alasan jawabannya menerima keputusan Willyam, karna memang nyawa ayahnya yang sedang dipertaruhkan, tapi di satu sisi Damaresh tentu tak akan berpangku tangan, serta menerima kekalahan dengan diam.


"Kau benar Kakek, aku tak akan menolak keputusanmu, karna aku sudah kalah satu langkah darimu, tapi kau tau, bukan? kalau aku ini bukan orang yang mudah menyerah." Itu jawaban Damaresh yang sempat diragukan oleh semua orang kesungguhannya.


Tapi mari kita fokus pada Willyam saja, dengan menafikan tanggapan yang lain atas jawaban Damaresh. Willyam yang terlihat kini tersenyum menang dan senang sudah bisa mengendalikan cucunya tersayang.


"Aku senang kau bukan orang yang mudah menyerah, Aresh. Tapi harus kau sadari, kalau kau ingin melakukan pertempuran, kali ini kau salah memilih lawan. Tapi baiklah, untuk memuaskanmu aku ingin lihat apa yang bisa kau lakukan untuk melawanku," cibir Willyam sembari tersenyum miring.


Tak gentar dengan sikap intimidasi serta meremehkan dari sang kakek, Damaresh hanya menguntai kata singkat. "BLC Corp."


"Apa? kau ingin melawanku dengan bergabung pada perusahaan rivalku!" ucap Willyam bernada tinggi. Ia bahkan sampai menegakkan tubuhnya yang dari semula duduk bersandar dengan nyaman dan santai.


Melihat reaksi sang kakek, Damaresh menarik sudut bibirnya samar. "Kakek bilang, aku ini bukan lawanmu,


tapi kenapa kau jadi semarah ini hanya karna aku menyebut nama perusahaan itu," sindir Damaresh.


Willyam tampak mendengkus, ia memang selalu berada dalam tahap emosi yang tinggi kerap kali membicarakan tentang BLC Corp London, sebuah perusahaan raksasa yang selalu ingin ditaklukkannya dari dulu, tapi sejauh ini, usahanya selalu sia-sia.


Disinyalir kalau perseteruannya dengan BLC Corp bukan hanya semata urusan bisnis, tapi juga urusan pribadi dengan pemilik perusahaan raksasa yang berpusat di Amerika itu.


"Aku hanya ingin bertanya padamu, apa titahmu padaku terkait BLC Corp, Kakek." Damaresh memperjelas maksud ucapannya.


Beberapa orang di sana saling pandang dengan ucapan Damaresh, mereka tak dapat menjangkau kemana arah


pemikiran laki-laki itu terkait ucapannya tersebut.


"Baik, aku jawab tantanganmu," ucap Willyam, dan ternayata hanya dia saja yang dapat membaca kemana tujuan Damaresh dengan ucapannya. "Kalau Pramudya Corp di sini, bisa mengakuisisi BLC Corp dalam waktu dekat, kau bisa memilih untuk mematuhi keputusanku atau tidak,"


tegas Willyam.


"Berapa lama waktu yang kau berikan?"


"Seminggu, tak lebih."


Apa?? Mengakuisisi perusahaan besar dalam jarak waktu seminggu... itu bukan hanya tindakan nekat, tapi cari mati. Ibarat kata bepergian ke luar negeri dengan jalan kaki dan tanpa bekal. Sampai di tujuan belum tentu, celaka di jalan sudah pasti.


Tapi apa jawab Damaresh atas waktu seminggu yang diberikan oleh kakeknya itu. "Baik, aku setuju," ucapnya, tanpa beban malah.

__ADS_1


"Aresh!" tegur Anthoni segera. "BLC Corp, London, lebih besar dari Pramudya Corp, kau sudah pertimbangkan itu," ucapnya mengingatkan.


"Ya Aresh," timpal Claudya. "Jangan cari mati! mungkin saatnya kau mengalah dulu pada keputusan kakekmu," imbuhnya lagi dengan raut wajah kawatir.


"Kau tadi bilang tidak akan mengambil keputusan yang berseberangan denganku, kenapa sekarang kau sudah goyah? padahal kita belum beranjak dari ruangan ini?"


Ucapan Damaresh itu langsung membuat Claudya bungkam sambil menelan salivannya dalam diam.


Damaresh kembali merotasi matanya pada Willyam.


"Tapi sebelumnya, mari kita perjelas dulu,Kakek. Jika aku berhasil melakukan tantangan ini, apa kau tidak akan mengingkari ucapanmu?"


"Tenang saja, Aresh. Aku bukan orang yang suka menjilat ludahnya sendiri," tegas Willyam.


"Sepakat." Damaresh segera bangkit menghampiri Willyam dan menjabat tangannya selayaknya dua rekan yang baru saja menanda tangani kesepakatan.


"Aku pamit keluar, karna kepentinganku sudah selesai,"


ujar lelaki itu dan segera menuju pintu, sementara yang lain masih diam membisu, mereview kesepakatan


antara Willyam dengan sang cucu yang sama sekali diluar jangakuan nalar itu.


"Kak Aresh!" panggil Naila sebelum tangan Damaresh meraih knop pintu. Gadis itu segera menghampiri kala dilihatnya Damaresh menghentikan langkahnya.


"Apa semua ini berarti, Kak Aresh menolak perjodohan ini?" tanya naila dengan tatapan sayu.


"Apa masih perlu kujawab? kau kan tau sendiri, Nai, kalau aku sudah punya istri," tegas lelaki itu.


"Dan semua ini kau lakukan untuknya?"


"Ya," jawab singkat Damaresh dan selanjutnya ia teruskan langkahnya keluar dari ruangan.


"Kakek--" Naila sudah siap dengan protesnya pada Willyam. Tapi lelaki itu segera memutus ucapan Naila.


"Patuhi saja keputusanku, Nai!"


"Tapi Kakek, kak Aresh tidak setuju dengan perjodohan ini," ucapnya yang kini menyadari sepenuhnya kalau dirinya ditolak.


"Kita lihat saja, apa yang bisa dilakukan oleh anak itu untuk melawanku," ucap Willyam dengan tatap tajam


dari sepasang matanya yang berkilat, mempertegas adanya ancaman yang tersirat.


----


-----


---------


Hai semua..di sini aku mau cerita sedikit ya, masalah cover yang diganti..sebenarnya aku sudah sangat klik dgn cover yang lama, tapi tiba-tiba saja aku temukan novel di platform ini juga dgn cover yang sama. Yah sama persis dengan cover yang lama ini...


Aku jadi kawatir pembacaku akan salah alamat karna ada dua cerita dengan cover yg sama, jadilah aku berencana ganti coverku dengan bantuan teman, tapi sayangnya..covernya gak bisa diganti, sampai aku chat Admin, Nah bang admin ini nawarin untuk buatin covernya..aku setuju dengan request si Imran Abbas dengan cewek berhijab..Nah..inilah jadinya..


Semoga suka..ya..maaf kalau aku gak konsisten soal covernya..tapi alasanku demi kalian juga, makanya tetap dukung cerita ini ya,...sampai tiba pada kata.


End.


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2