Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
66. Pengakuan.


__ADS_3

Aura melangkah tergesa memasuki loby kantor Pramudya, dimana beberapa orang yang berpapasan dengannya masih sejenak hentikan langkah untuk tersenyum dan mengangguk hormat, Aura membalas mereka dengan senyum ramahnya.


Ah ini mungkin efek sikap Damaresh kemarin yang sedikit mempertontonkan


kedekatannya dengan Aura.


Kini sepasang kakinya yang tak terlihat karna tertutup gamis panjangnya itu sudah berdiri di depan lift karyawan seperti biasa, ketika tiba-tiba Kaivan menghampirinya.


"Arra, lewat di sana saja, ayo,"


Kaivan langsung memberi isyarat untuk mengikuti langkah kakinya yang mengarah pada lift khusus petinggi perusahaan.


"Aresh menunggunmu di small guest room lantai 21 ya," tutur Kaivan.


"Iya mas, saya tau tempat itu, terima


kasih," kata Aura dan segera masuk kedalam lemari besi yang pintunya telah terbuka itu. Dia harus segera bergegas mengingat waktu yang dijanjikannya memenuhi panggilan Damaresh sudah terlewat setengah jam, karna masih menuntaskan pekerjaannya di yayasan.


Kaivan juga ikut masuk ke dalam lift tersebut yang menghasilkan tatap tanya dari Aura ke arahnya.


"Aku akan mengantarmu," ucap Kaivan.


"Terima kasih mas, tapi gak perlu, saya bisa kesana sendiri saja, saya hampir dua bulan kan bekerja di sini,"


tolak Aura, yang mementahkan kekawatiran Kaivan kalau gadis itu akan tersesat.


"Jangan mempersulitku, Arra!"


"Maksudnya?"


"Suamimu itu akan memberikan sanksi besar padaku kalau aku tak menjalankan perintahnya," tutur Kaivan.


"Jadi maksudnya dia nyuruh Mas Kai untuk mengantarkan saya?"


"Hmm." Kaivan mengangguk. "Masih untung kalau sanksi yang dia jatuhkan padaku berupa potong gaji, tapi kalau kepalaku yang dipancung?" Kaivan terlihat bergidik seakan sahabatnya itu akan benar-benar menjatuhkan sanksi yang teramat sadis tersebut padanya.


"Aku belum menikah, Aura. Belum ingin mati," ucapan Kaivan terdengar seperti mengadu yang langsung disambut Aura dengan tawa renyah.


"Ya tapi aku gak terlalu awam dalam masalah ranjang, meskipun aku belum ada istri," lanjut Kaivan.


Kali ini Aura segera menghentikan tawanya dan menatap Kaivan tajam.


"Maaf Arra, ucapanku terlalu fulgar ya,"


Kaivan terkekeh sendiri dengan perasaan bersalah atas ucapannya yang kelepasan.


"Mas Kai nikah saja, lebih baik," tandas Aura.


"Belum menemukan yang pas untuk ku ajak ke penghulu," sahut Kaivan sambil menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tak gatal.


Aura harus mengatupkan bibirnya meski sudah ada kata yang terangkai di ujung lidahnya, karna lift itu memasukkan dua penumpang lain di lantai 10, membuat obrolan harus terjeda.


Ketika menapaki lantai 21 setelah keluar dari elevator itu, Aura melanjutkan ucapannya yang tadi sempat tertahan di tenggorokan saja.


"Siapa yang lebih mas Kai pilih antara mbak Clara dan mbak Maureen?"


"Apa?" Kaivan jadi terhenyak mendapatkan pertanyaan seperti itu.


"Ya kemarin, mbak Clara nanya sama saya tentang Mas Kai dan mbak Maureen, katanya Mas Kai dekat dengan mereka berdua belakangan ini, tapi gak mungkin pilih kedua-duanya kan, Mas?"

__ADS_1


todong Aura langsung yang membuat Kaivan tak bisa mengelak. Dan satu anggukan diberikannya pada Aura sebagai jawaban.


"Mas harus pilih salah satunya, mbak Clara atau mbak Maureen," ucap Aura tegas yang membuat Kaivan


melongo takjub. Baru kali ini lho ada satu orang yang memintanya tegas untuk menentukan pilihan, dan itu adalah istri sahabatnya sendiri.


kaivan terdiam hingga langkah mereka tiba di depan pintu Small Guest room satu itu. Kaivan segera membukakan pintu lebih dulu, dan ia mengekori Aura yang terlebih dahulu masuk ke dalamnya.


Di atas sofa super empuk terlihat Damaresh terbaring celentang dengan dua kaki terangkat dan bertumpu pada sandaran sofa. Sepasang mata terpejam, jas yang di kenakan tersampir di atas sandaran difa yang lain.


Dasi yang melilit dilehernya mulai dilonggarkan, sepertinya ia menikmati tidur di antara kesibukan.


Aura menarik napas pelan, ia paham kalau Aresh kelelahan karna pria itu memang kurang tidur semalam.


Aura segera meraih salah satu bantal sofa, ia mengangkat kepala Damaresh dan meletakkan bantal tersebut di bawahnya. Selanjutnya Aura memilih duduk tak jauh di dekat kepala suaminya itu yang masih tetap memejamkan mata.


Kaivan juga mengambil posisi duduk di depan keduanya.


"Apa Mas Kai, mau menjawab pertanyaan saya?" tanya Aura melanjutkan obrolan yang sempat terjeda.


"Aku bingung, Arra," sahut Kaivan.


"Bingung untuk menjawabnya, atau bingung untuk memilihnya?"


"Ya kedua-duanya. Karna sepertinya aku punya pilihan lain sekarang,"


"Pilihan apa Mas?"


"Aku ingin bersama dengan wanita berhijab juga seperti---"


belum sempat Kaivan menuntaskan ucapannya, terdengar Damaresh berkata pedas, lelaki yang mereka sangka tidur itu rupanya mendengar semuanya dengan jelas.


"Apa kau bisa mempertanggung jawabkan ucapanmu, Kai?"


"Tenang Broo..! yang aku maksud itu wanita berhijab sepert Arra, bukan Ara,"


tegas Kaivan.


"Aura, Kai. Hanya aku yang boleh memanggil Arra, itu sebutan istimewa dariku untuknya, kau tak perlu ikut-ikutan," sergah Damaresh tajam dan langsung mendudukkan dirinya dengan seketika.


"Terserah lah," Kaivan mengedikkan bahunya dan merotasi matanya ke arah Aura. "Kau lihat si es balok ini sekarang,


betapa cemburunya dia padaku, padahal siapa juga yang akan mengambilmu darinya, aku tak mau berkalang tanah sebelum menikah," gerutu Kaivan pada Aura.


Aura hanya terkekeh pelan sambil megusap-usap punggung tangan Damaresh yang bertumpu di atas pangkuannya. Ia tau kalau dua orang itu tak sepenuhnya berseteru tentang dirinya.


"Terima kasih sudah mengantar Arra, Kai. Sekarang kau boleh keluar!" Nah betul Kan? Damaresh kini berkata biasa pada Kaivan lalu kembali merebahkan tubuhnya lagi dengan meletakkan kepalanya di atas pangkuan Aura.


Kaivan sedikit mencebik melihat itu,


"Ku pikir kau tulus berterima kasih padaku, Resh, tapi ujung-ujungnya kau mengusirku." Kaivan segera bangkit dan keluar dari kamar tamu spesial itu membiarkan sang atasan berduaan dengan istrinya di sana.


"Kenapa kau memanggilku kemari, Aresh? dan kenapa kau tiduran di sini?"


tanya Aura sambil jemarinya membelai lembut rambut Damaresh yang rebah di pangkuannya.


"Aku ada janji temu dengan seseorang, dan aku ingin kau menemaniku," jawab Damaresh dengan tetap memejamkan matanya. Tangannya meraih tangan Aura yang membelai rambutnya dan mengecupnya singkat.


"Baiklah," patuh Aura. Ia menurut tanpa bertanya siapa yang sedang ditunggu.

__ADS_1


"Mungkin sebentar lagi dia datang, aku masih ingin lelap sebentar,"


"Iya. Tidurlah!"


Selanjutnya Aura diam untuk memberi ruang pada Damaresh meraih tidurnya dengan nyaman walau cuma sebentar.


Dan Aura tetap membunuh waktunya dengan diam, tanpa suara dan tanpa gerakan, ia bahkan tak menggunakan ponsel untuk mengisi waktunya menunggu, karna tak ingin cahaya putih dari benda pipih itu akan mengganggu tidur suaminya itu.


Hingga beberapa waktu kemudian terdengar ketukan pelan di pintu.


"Silahkan masuk!" ucap Aura dengan suara yang tak terlalu keras.


Selanjutnya gadis itu menunduk menepuk pelan pipi Damaresh untuk membangunkannya, Aura lalai dari memperhatikan siapa gerangan yang telah memasuki ruangan, sehingga ia


Tidak tau siapa yang datang.


Aura baru mendongakkan kepalanya ketika tercium aroma parfum mahal memenuhi ruangan.


"Nyonya Claudya?"


Aura begitu terpana dan tak menyangka


kalau ternyata ibunda Damaresh-lah yang hadir di sana. Perempuan itu berdiri di depan Aura dengan tatapan tajam yang berlabuh atas pemandangan yang terpampang di depan matanya.


"Begini cara kalian menyambutku?" tanyanya dingin.


"Maaf Nyonya, Pak Damaresh ketiduran sambil menunggu anda, saya akan bangunkan," ucap Aura segera, mengabaikan desir rasa tak nyaman atas tatapan dan ucapan Claudya yang jauh dari keramahan.


"Ya, sebaiknya cepat kau bangunkan dia!" Claudya menghempaskan tubuhnya dengan kesal di depan Aura.


"Aku sudah bangun," terdengar suara Damaresh. sepasang matanya terbuka sempurna ia lalu duduk, Aura yang menggeser duduknya agar tak terlalu dekat dengan Damaresh malah mendapat tatapan tajam dari pria itu yang seolah memerintah agar Aura tak duduk berjarak darinya. Jadilah mereka kini duduk sangat berdekatan bahkan dengan bahu yang saling bersentuhan.


"Kenapa kau masih disini?


keluarlah! Aku hanya ingin bicara berdua dengan putraku," itu ucapan Claudya pada Aura yang diiringi dengan tatapan sangat tidak suka.


Aura berpaling pada Damaresh, meminta persetujuannya untuk keluar.


"Ara akan tetap di sini, Mommy. Karna aku yang memintanya untuk menemaniku di sini," ujar Damaresh datar mengimbangi ucapan Claudya yang lurus dan tak enak di dengar.


"Jadi, kau mau melibatkan orang lain


atas pembicaraan kita yang bersifat pribadi?" Claudya terlihat menahan emosi atas keputusan putranya itu. Namun demikian ia masih menampilkan posisi duduk yang tenang.


"Arra bukan orang lain bagiku, dia adalah bagian dari diriku," jawaban puitis di gunakan Damaresh untuk ibunya. Seakan ia sengaja agar Claudya bermain dengan emosinya lebih dulu sebelum nanti akan tau kebenarannya.


Claudya sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah sang putra sambil berkata dengan penuh penekanan.


"Tolong perjelas maksud ucapanmu, Aresh! Mommy tidak mengerti."


"Ini jawabanku atas apa yang akan ditanyakan mommy padaku,"


"Jadi?"


"Ya. Aku menjawabnya sebelum mommy bertanya, aku menjawabnya bahkan sebelum kau memasuki ruangan ini, apa masih perlu berbanyak kata untuk menjelaskannya?"


Damaresh terlihat menantang tatap mata Claudya yang berkilat tajam.


"Rupanya benar kalau kau ada hubungan spesial dengan wanita berkerudung ini," Claudya mengarahkan pandangnya pada Aura dengan tatapan meremehkan.

__ADS_1


"Sangat spesial, karna kami bukan hanya sepasang kekasih, tapi sepasang suami istri." Damaresh lalu menyapu wajah Aura dengan tatapan lembutnya dan kemudian menempatkan jemari Aura dalam genggaman lembutnya.


Sikap yang ditunjukkan selaras dengan apa yang diucapkan, sebagai bentuk penegasan atas apa yang diungkapkan, hingga tak perlu lagi ada sanggahan.


__ADS_2