Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
42. Luka Yang Dalam


__ADS_3

Malam kian bergulir, namun sepasang matanya masih enggan terpejam, kilasan peristiwa tadi sore masih bermain-main dalam ingatannya mengulik tanya yang tak terjawab. Dia tau bahwa semua itu tak hanya sekadar seperti apa yang dijelaskan oleh Damaresh padanya, tapi ia memilih percaya saja karna lelaki itu pantas mendapatkan kepatuhan tak bersyarat darinya sebagai istri.


Tapi inilah yang terjadi, ketika logikanya tak dapat menerima semuanya begitu saja tanpa adanya alasan


yang memuaskan, dirinya terpuruk dalam rasa penasaran yang menggelisahkan dan mengusir jauh rasa kantuk yang seharusnya pada jam seperti ini sudah mendekapnya hangat dalam senandung dewi malam yang menuntunnya menuju mimpi.


Sudah berapa kali doa sebelum tidur ia rapalkan, dan sudah berapa kali juga lantunan shalawat ia dendangkan di dasar jiwanya, namun kantuk itu masih enggan menghampiri bahkan cenderung menjauh pergi.


Prangg


Tiba-tiba terdengar benda pecah yang seperti berasal dari lantai dua, Aura segera duduk dari posisi berbaringnya menatap sekitar dengan penuh tanya.


Dan entah darimana datangnya keberaniannya, gadis itu segera keluar dari kamar dan dengan cepat kini kakinya telah menapaki satu demi satu anak tangga berlapis beludru tebal yang menuju lantai atas.


Menapaki lantai dua rumah megah itu, Aura menoleh kanan-kiri untuk mencari sumber suara yang kini sudah tak terdengar lagi, dan saat dilihatnya sebuah ruangan yang pintunya sedikit terkuak, Aura segera menghampiri dan melongokkan kepalanya melihat suasana dalam ruangan yang disinari lampu temaram.


Ada gelas jatuh di lantai dan pecah berantakan diserta cairan kehitaman yang mungkin adalah minuman,


Arrgggh


Terdengar erangan keras dari dalam ruangan itu yang sontak membuat Aura mendorong pintu hingga terbuka lebar, tampak seseorang yang sedang menelungkupkan kepalanya diatas meja di antara tumpukan kertas yang sebagian juga berserakan dilantai.


"Aresh," Aura menyentuh pundak lelaki itu pelan seiring panggilannya yang lirih.


"Keluar!" segera Damaresh mengeluarkan suara bentakan keras.


"Aresh, ini aku--"


"Ku bilang keluar! siapa yang memperbolehkanmu masuk ke sini!" Damaresh mengangkat kepalanya dan menatap gadis itu tajam. Kemarahan tak hanya tergambar jelas pada netra pekatnya yang tampak berkilat bahkan juga pada keseluruhan raut wajahnya yang tampak mengeras.


"A-Aku-" Aura jadi gugup.


"Aku hanya kawatir mendengar benda pecah barusan, aku kawatir ada apa-apa--"


"Tidak ada apa-apa, sekarang cepat keluar!"


Aura bergidik dengan ucapan kasar itu, tak percaya kalau lelaki yang dalam beberapa jam lalu senantiasa menggenggam tangannya dalam mobil sepanjang perjalanan pulang hingga sampai ke rumah, kini membentaknya kasar bahkan dengan tatapan yang menyiratkan seolah dirinya orang asing.


Tapi bukannya merasa takut, Aura justru lebih merasa kawatir melihat situasi itu. Dari dasar hatinya Aura dapat merasakan kalau tengah terjadi sesuatu dalam diri Damaresh yang pasti tak ingin dilihat ataupun diketahui oleh orang lain.


"Kau baik-baik saja, Aresh?"


"Kau tidak dengar aku bilang apa!?"


Damaresh menaikkan volume suaranya sehingga


menghasilkan atmosfir yang mencekam dalam ruangan itu.


"A-Aku-" Aura menjadi kaget dan gugup.


"Jangan campuri apa yang bukan menjadi urusanmu,


cepat keluar!!" Damaresh kembali membentak kasar.


Lelaki itu benar-benar tak mengharapkan kehadirannya. Rasa kekawatiran Aura pun terkikis dengan kesadaran untuk "tau diri" dan membaca situasi yang kini tak berpihak padanya, Aura segera berbalik badan dan bergegas cepat untuk keluar, namun ternyata langkahnya tak semulus niatnya untuk


segera keluar, ketika Cress..


Aura mengaduh tertahan bersamaan pecahan gelas yang menusuk telapak kakinya, gadis itu limbung karna perih yang terasa menyayat, tangannya segera menggapai ujung meja untuk menahan bobot tubuhnya yang hampir terjatuh.


Aura terduduk di lantai dengan suara desisan menahan sakit, darah tercecer dari telapak kakinya membuat wajah gadis itu memucat.


Aura mengatupkan matanya rapat-rapat guna mengumpulkan kekuatan untuk kembali melangkah keluar dari ruangan itu, namun tiba-tiba saja terasa ada yang mengangkat tubuhnya yang terduduk di lantai itu, sebelum Aura menyadari sepenuhnya apa yang terjadi, tubuhnya kini terasa melayang dalam posisi kepala yang tepat bersandar di dada Damaresh yang mengangkatnya ala bridal style membawanya keluar dari ruangan tersebut menuju ruangan lain yang juga berada di lantai yang sama.


Damaresh merebahkan Aura di atas tempat tidur king size yang sangat empuk dalam kamar yang di dominasi dengan warna dark grey itu. Sesaat Damaresh meninggalkannya tanpa kata sebelum datang lagi membawa kotak obat di tangannya. Damaresh meraih kaki Aura yang terluka di telapaknya dan meletakkan kaki itu di pangkuannya sebelum mulai membersihkan luka berdarah yang terdapat di sana.


Tak butuh waktu lama ketika kini Aura melihat telapak kakinya sudah terdapat balutan kain kasa dan tak lagi terasa perih. Aura beringsut hendak bangun, tapi Damaresh menahan dengan tangannya.


"Tetaplah di sini!"


Laki-Laki itu sendiri keluar dari kamar untuk waktu yang cukup lama, hingga ia datang lagi saat Aura hampir terlelap karna suasana kamar yang begitu nyaman plus waktu yang memang sudah hampir mencapai tengah malam.


Damaresh merebahkan dirinya di samping Aura, gadis itu segera menoleh menatapnya.


"Aresh aku minta maaf, atas kelancanganku tadi,"


"Kenapa belum tidur?"


Damaresh bertanya lain.


Aura menggeleng lemah.


"Apa kakimu terasa sakit?"


"Tidak."


"Kalau begitu tidurlah!"


Tampak Damaresh memejamkan matanya membuat Aura juga melakukan hal yang sama. Keheningan menyeruak diantara keduanya untuk waktu yang cukup lama, seakan kini mereka sama-sama telah terbuai dalam tidur yang lena, namun sebenarnya tidak bagi Damaresh, laki-laki itu tengah mengembara pada masa puluhan tahun lalu, masa dimana ia menjadi saksi


pertengkaran terakhir ayah dan ibunya.


Flasback on

__ADS_1


Damaresh berdiri mematung di tempatnya berdiri, semua yang di dengar, semua yang di lihatnya terasa lebih dahsyat dari gelegar halilintar yang menghantam dalam jiwanya, lelaki tiga belas tahun itu merasakan tubuhnya kaku. Claudya yang baru menyadari keberadaannya hanya menatap sekilas dengan ujung matanya sebelum meneruskan langkah menuju ke kamarnya, tanpa menyadari luka separah apa yang telah ia torehkan dalam jiwa putra tunggalnya, luka yang membuatnya merasa tak membutuhkan lagi hadirnya seorang ibu dalam hidupnya.


"Tuan muda, mari ke kamar, sudah waktunya tuan muda beristirahat!" Dirga membimbing majikan mudanya itu untuk kembali naik tangga menuju ke kamarnya, dua langkah Damaresh mengikuti, namun untuk selanjutnya lelaki itu berlari menuntaskan tangga yang terakhir dan terus berlari keluar mansion.


"Tuan muda mau kemana?" Dirga berlari mengejar.


"Aku mau menyusul daddy." Damaresh menuju garasi mobil dan langsung menaiki salah satu dari deretan mobil yang berjajar di sana.


"Saya yang akan menyetir, tuan muda!" Dirga segera mengambil alih duduk di tempat kemudi.


"Aku butuh cepat!" bentak Damaresh.


"Saya akan cepat," Dirga bersikeras dan ia memenuhi harapan tuannya melajukan mobil merah itu dengan kecepatan tinggi meninggalkan mansion sedangkan Damaresh duduk di sampingnya dengan tatapan tajam.


Namun laju mobil sport itu harus terhenti ketika terpampang sebuah kecelakaan mobil di depan mereka.


"Di depan ada kecelakaan, Tuan muda,"


"Itu mobil daddy," Damaresh yang jeli segera dapat mengenali sebuah mobil hitam yang terbalik diruas jalan tak jauh di depan keduanya. Laki-Laki itu segera turun dari mobil dan berlari menghampiri.


"Daddy!" teriakan Damaresh segera melengking melihat sosok sang ayah yang terkapar bersimbah darah dengan posisi tubuh hampir terlindas roda mobilnya sendiri.


menurut saksi mata kecelakaan tunggal itu terjadi tepat sepuluh menit yang lalu, dimana mobil tersebut seperti melaju kehilangan kendali sebelum akhirnya menabrak pohon besar di pinggir jalan dan terbalik.


flasback off


Arghhh.


Damaresh berteriak singkat dan segera terduduk dengan wajah bermandi keringat.


"Aresh, kau mimpi buruk?"


Aura mengusap-usap wajah lelaki itu yang masih mematung setelah sepenggal ingatan itu mengulik jiwanya kembali.


"Aku belum tidur,"


"Lalu apa yang terjadi? kenapa kau berteriak?"


Damaresh menggeleng dengan tatapan kosong.


Aura menoleh ke arah nakas dilihatnya ada segelas minuman di sana, gadis itu segera beringsut meraihnya dan memberikannya pada Damaresh.


"Minumlah dulu! agar kau tenang,"


Damaresh menurut, ia segera menenggak minuman itu sampai tandas.


Aura mengusap lembut pundak Damaresh. "Kau baik-baik saja?"


Damaresh mengangguk dan menghela napasnya pelan.


"Apa yang harus ku ceritakan?"


"Apa yang menjadi bebanmu, berbagilah denganku!"


Damaresh tersenyum kecut mendengar ucapan itu,


"Aku tau, mungkin aku tidak akan sepenuhnya mengerti, dan dengan itu bebanmu juga tak akan sepenuhnya pergi, tapi setidaknya aku bisa membantumu merasa lebih tenang, Aresh," ucap Aura lembut.


"Berbaringlah kembali di sampingku, Arra!"


Damaresh menatap gadis itu lekat.


Aura mengangguk, ia segera membantu lelaki itu untuk kembali merebahkan tubuhnya dan Aura pun berbaring tepat di sampingnya. Aura bahkan memiringkn tubuhnya menghadap Damaresh dan melingkarkan lengannya di dada lelaki itu.


"Tepat di malam ini, pada jam begini, sembilas belas tahun yang lalu, ayahku mengalami kecelakaan."


Terdengar ucapan lirih Damaresh yang membuat Aura tersentak.


"Peristiwa itu masih sangat membekas dalam ingatanmu?" Aura meraih tangan Damaresh dan menggennggamnya, untuk memberi kekuatan pada lelaki itu atas sebuah ingatan yang pasti telah memberikannya luka yang dalam.


"Ya, tepat di waktu itu juga, seharusnya aku ber-ulang tahun,"


"Berarti malam ini juga, adalah ulang tahunmu, Aresh?"


Damaresh mengangguk.


"Mari kita rayakan ulang tahunmu, Aresh,"


"Merayakan ulang tahunku, sama dengan merayakan kecelakaan ayahku," ucap Damaresh dengan suara berat.


"Mari kita berziarah ke makam beliau, kita berdoa bersama di sana," ajak Aura.


"Ayahku masih hidup."


"A-Apa? ma-maaf Aresh, aku pikir-"


Aura langsung merasa sangat tidak nyaman dengan itu.


"Ayahku masih hidup sampai sekarang, tapi hidup yang tak lagi bisa mengenali siapapun," ucap Damaresh lagi.


"Maksudmu?"


Damaresh menggeleng, tak ada lagi kata yang bisa ia ucapkan, tak ada lagi cerita yang bisa ia lanjutkan, karna semua kalimatnya hanya terhenti di tenggorokan.

__ADS_1


"Karna itukah, kau tak dapat melupakan semua peristiwa itu?"


"Lebih dari itu, Arra. Fakta yang ada dibalik kecelakaan itu yang membuatku merasa sakit, sangat sakit, dan tak bisa terobati sampai saat ini," lirih Damaresh.


Aura kini perlahan mengerti akan adanya kesakitan yang dalam yang dirasakan Damaresh jauh di relung jiwanya. Kesakitan yang mungkin telah membentuk kepribadiannya dan pola pikirnya tentang kehidupan yang dijalani.


"Apa yang bisa ku lakukan untuk mengobati semuanya Aresh?" tanya Aura berdasarkan apa yang dirasakannya, yaitu keperdulian yang sangat dalam pada Damaresh.


"Tak ada yang bisa mengobatinya Arra!"


"Pasti ada caranya, Aresh,"


"Tidak," tolak Damaresh dengan keras.


"Mungkin tidak untuk saat ini, tapi suatu saat pasti, Insha-allah," ucap Aura dengan yakin, Damaresh hanya menatapnya dengan tanpa expresi, walaupun sebenarnya hatinya sangat meragukan apa yang dikatakan Aura, namun dibalik itu semua, hatinya juga sedang bertanya kenapa ia percaya untuk menceritakan sedikit beban jiwanya kepada gadis yang sedang berbaring di sampingnya ini.


"Tidurlah, Aresh!"


Aura berkata dengan sepasang mata yang sudah terasa berat karna menahan kantuk.


"Iya, kita tidur," sahut Damaresh dan segera memejamkan matanya tapi tangannya meraih tangan Aura dan di genggamnya erat di atas dadanya.


"Maaf, tadi aku sudah membentakmu," katanya.


"Aku sudah memaafkanmu tanpa kau minta," sahut Aura sambil tersenyum.


"Terima kasih,"


Keduanya sama-sama berpindah ke alam mimpi dengan saling menautkan tangan membawa rasa hati yang damai dalam kebersamaan.


Semoga ini adalah awal yang baik untuk segalanya.


****


"Kau mau kemana?"


pertanyaan Damaresh itu cukup mengejutkan bagi Aura yang sedang melangkah pelan untuk keluar dari kamar.


"Mau kerja,"


"Gak usah kerja hari ini! kau sedang sakit," putus Damaresh sambil melangkah masuk ke dalam kamarnya itu untuk mengambil laptopnya dan bersiap untuk berangkat ke kantor pagi ini.


"Kakiku sudah tidak apa-apa, Aresh. Lihatlah aku sudah bisa berjalan dengan menapakkan kakiku, semuanya sudah baik-baik saja," Aura berkata meyakinkan sambil menapakkan kakinya berkali-kali dengan cukup keras di atas lantai. Gadis itu benar-benar ingin bekerja hari ini, setelah kemarin Damaresh melarangnya ke kantor karna kakinya yang tertusuk beling.


Damaresh menggeleng. "Tidak, kau harus istirahat sampai kakimu benar-benar pulih."


"Aresh, kakiku sudah pulih. Lagian kalau aku gak kerja hari ini--"


"Jangan bantah Arra!"


"Ta-Tapi, aku gak nyaman kalo harus di rumah sendirian," lirih Aura berharap keinginnya di kabulkan.


"Ada Dirga, yang akan melayani semua kebutuhanmu dengan baik,"


"Bukan itu!"


"Lalu?"


"Aku juga gak nyaman dalam seharian ini gak melihatmu," kata Aura cepat.


Damaresh menatapnya sejenak tanpa kata, setelahnya laki-laki itu memutar langkahnya ke arah tempat tidur dan melepas jas nya berikut dasi dan dalaman vestnya.


"Ka-Kau mau apa?" tanya Aura gugup.


Gadis itu jadi berpikir macam-macam melihat Damaresh yang melepas atribut kerjanya bahkan kini ia juga telah melepas satu demi satu kancing kemejanya.


"Hari ini aku juga gak akan ke kantor, aku akan di sini, biar kau bisa melihatku," sahut Damaresh.


Aura menunduk sambil menahan senyum.


"Mau senyum, senyum saja! gak ada yang larang,"


ujar Damaresh.


Aura terdongak menatapnya dan menampakkan senyum yang sempurna. "Aku sudah senyum Aresh, kamu juga ya," pinta Aura yang merasa ketagihan melihat senyum Damaresh yang begitu indah.


Damaresh melirik Aura dengan ujung matanya, dan tak urung senyum indahnya pun terbit di bibirnya.


Aura ingin meloncat kegirangan karnanya.


 


 


 


**Assalamu alaikum semuanya.


Alhamdulillah sudah di kasih kesehatan kembali berkat doa dari kalian juga, terima kasih ya teman-teman semua.


Maaf kemarin lama gak up, bukan ingin menggantung kalian, tapi karna badanku yang betul-betul gak fit, mau di paksain ngetik, hasilnya pasti gak maximal.


Mudah-mudahan setelah hari ini bisa up teratur lagi, biar kalian gak lupa dengan jalan ceritanya.

__ADS_1


Terima kasih semuanya**.


__ADS_2