Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
105. Aura.


__ADS_3

"Waaww!" Seru Kaivan, sesaat kemudian berdecak seakan penuh kekaguman, dan kemudiannya lagi kepalanya menggeleng-geleng kecil seperti sangat menyayangkan dan terakhir, ia meraup napasnya panjang.


"Kakekmu benar-benar luar biasa ya Resh, berita yang kemarin itu, kini tersebar di media dengan polesan yang indah, layaknya itu.."


Kaivan terlihat masih diam berpikir.


"Seperti polesan wajah yang tersentuh skincare mahal," ujarnya dan segera tertawa ringan atas perumpamaan yang dibuatnya sendiri itu.


Acara pengumuman pertunangan kemarin berakhir ricuh, setelah Damaresh pergi meninggalkan ruangan terlebih dahulu usai memberi pernyataan yang membuat rusuh semua pewarta yang ada di sana.


Tapi lihat berita yang tersebar sekarang.


Berita tentang pertunangan Damaresh William, pewaris Pramudya Corp itu dengan Naila Anggara putri pemilik Anggara Corp, tersiar dengan apik, dimana kedua orang yang bersangkutan berdiri berdampingan,  saling mengarahkan pandang pada kamera wartawan.


Dan sang penentu keputusan, William Pramudya memberikan pernyataan penuh kebahagiaan atas pertunangan sang cucu yang telah ditetapkan sebagai pewaris kerajaan bisnisnya.


Bagaimana Kaivan tidak akan berdecak heran melihat berita yang tersebar sekarang.


Damaresh bergeming, ia tetap berdiri diam di depan jendela kaca besar, melayangkan pandangannya keluar, tanpa menjadikan suatu objeck tertentu sebagai sasaran pandngan.


"Bagaimana jika berita ini sampai pada Aura?" gumam Kaivan.


"Dia dan keluarganya sudah tidak ada di Surabaya," sahut Damaresh.


"Apa ini tindakan tuan William?"


"Bukan." Damaresh menggelengkan kepalanya pelan.


"Berarti, Aura sendiri yang memutuskan," ujar Kaivan dengan sebaris kerutan di dahi.


Sampai saat ini, ia masih tak habis pikir kenapa Aura memutuskan pergi, padahal wanita itu punya cinta yang tiada akhir untuk Damaresh.


Pun begitu dengan Damaresh William, lelaki itu seakan enggan untuk menemui Aura, padahal Kaivan juga tau, kalau kepergian istrinya itu juga pukulan besar baginya, meski Damaresh tidak pernah mengatakannya.


"Apa agendaku sekarang?" tanya Damaresh.


"Mencari Aura," sahut Kaivan.


"Aku serius, Kai."


"Aku lebih dari hanya sekedar serius, Aresh.


Hari ini aku temani kau mencari Aura kemanapun, kita obrak-abrik setiap kota di negeri ini, aku akan membantumu dengan sepenuh jiwa ragaku " putus Kaivan dengan tatapan lurus.


"Kau bilang, tuan Alex Wilson di rawat di rumah sakit Saiful Anwar?" Damaresh mengalihkan pembicaraan dengan pertanyaan lain.


"Iya, sewaktu ada ada urusan pekerjaan di kota ini, tuan Alex tiba-tiba pingsan, dan dirawat di rumah sakit Saiful Anwar ini. Kabarnya sampai hari ini, dia masih tetap dirawat," sahut Kaivan menjelaskan.


"Aku kita jenguk tuan Willson sekarang," ajak Damaresh dan gegas keluar.


"Ke rumah sakit?" Tanya Kaivan hampir melongo. Tak biasanya seorang Damaresh Wiliam berkenan menjenguk rekan bisnisnya yang sedang terbaring di rumah sakit. Biasanya pekerjaan itu selalu ia serahkan pada Kaivan atau Clara untuk mewakilkan.


"Ke panti jompo," sahut Damaresh dengan nada dibanting, sebelum tubuh tegapnya hilang di balik pintu.


Kaivan segera menyusul sambil menahan tawa. Dalam hitungan menit, keduanya kini telah berada dalam mobil yang mulai melaju menuju rumah sakit Saiful Anwar.


Rumah sakit Saiful Anwar?? Itukan rumah sakit di kota Malang??


Iya betul. Damaresh dan Kaivan saat ini memang sedang ada di Malang, Kota pelajar kedua di Jawa Timur setelah Surabaya, dan Jember, menempati urutan ketiga.


Dan tuan Alex Wilson, masih ingat siapa dia? Dia ayahnya Yeslin Wilson, sekaligus pemilik Blanc Compani yang kini sebagian besar sahamnya sudah beralih atas nama Damaresh William.


Dari sini pasti dapat dipahami, kalau kunjungan Damaresh ke rumah sakit tersebut, bukan hanya semata menjenguk Alex Wilson yang sedang sakit, tapi ada urusan bisnis juga.


Panas yang cukup menyengat siang ini, ditambah dengan lalu lintas yang cukup padat di ruas jalan jaksa agung Suprapto, no 2 Malang itu, membuat beberapa titik keringat luruh di wajah cantiknya yang berbalut hijab. Belum lagi makanan pedas yang dinikmatinya sejak lima belas menit lalu, sukses membuat titik air mengalir kian deras di wajah putihnya.


"Udah sha?" tanya gadis berhijab juga yang duduk di sampingnya.

__ADS_1


" Sisa dikit," sahutnya, dan kembali menikmati makanannya yang sudah tiba pada suapan-suapan terakhir.


"Lama amat sih, Sha," gerutu gadis itu dengan wajah sedikit di tekuk, namun begitu masih terlihat cantik. Dua orang berhijab yang sama-sama cantik itu memang sempat menjadi pusat perhatian saat masuk ke rumah makan yang ada di seputaran rumah sakit Saiful Anwar tersebut.


"Kalau makan itu memang harus penuh penjiwaan, Sherin, dinikmati dalam setiap suapan, untuk mensyukuri karunia Tuhan."


"Iya, Iya.."


Sepersekian menit, keduanya sudah keluar dari rumah makan. Mereka berjalan beriringan di plataran halaman rumah sakit.


"Pilih yang kau mau," tukas Sherin saat melihat temannya memperhatikan deretan mobil mewah yang terparkir tak jauh dari posisi keduanya.


Quinsha tak menjawab candaan temannya itu, ia bahkan hentikan langkahnya ketika netranya menangkap satu sosok di sana.


"Ikut aku, Sherin."


Quinsha segera menarik tangan Sherin dan dibawanya bergegas.


"Mau kemana, Sha?"


"Ikut saja," titah Quinsha gak bisa dibantah.


Kedua gadis itu menghampiri dua orang lelaki tampan menawan yang sedang berdiri di samping sebuah mobil lexus hitam, sedang bertelphonan. Di sampingnya, berdiri seorang pemuda yang juga tampan, yang tangannya juga sibuk dengan layar pipih di tangan.


'Assalamu alaikum," Quinsha segera menyapa dengan salam, yang berhasil mengalihkan atensi kedua lelaki yang sibuk sendiri-sendiri itu.


"Tuan Damaresh William?" tanya Quinsha langsung tanpa perlu basa-basi.


" ya," sahut Damaresh singkat, bahkan segera memutus tatapannya dalam sekejab, beda dengan Kaivan yang segera tatapan menelisik ia arahkan kepada dua orang wanita berhijab itu.


"Masih ingat pada kami?" Masih Quinsha yang memegang peran sebagai penanya.


"Tidak," jawab Damaresh singkat. Singkat dan datar, ekpresinya ini sempat membuat sherin mencolek lengan sahabatnya itu memperingatkan.


"Saya Quinsha Daneen, dan ini Sherin Mumtaza, istrinya tuan Alarick William," tutur Quinsha. Yang segera membuat Damaresh kembali arahkan tatapan pada dua wanita cantik berhijab di depannya.


"Kita pernah ketemu di pesantren, Darul Falah, kami ini teman2nya Aura Aneshka," tutur Sherin dengan bahasa lebih sopan.


"Iya, kami ini sahabatnya Aura, mantan istri, Anda," ucap Quinsha dengan nada tajam.


"Istri, bukan mantan istri," ralat Damaresh cepat.


"Oya, jadi Aura masih berstatus istri? Lalu mengapa Anda yang masih berstatus suami Aura, malah bertunangan dengan wanita lain? Dan bahkan mengumumkannya di depan media?" Pertanyaan bernada sindiran dilayangkan oleh Quinsha diiring tatapan tajam.


Damaresh tak memberikan jawaban  ia hanya menatap saja pada salah satu teman istrinya itu yang kini tengah berbicara padanya dengan semangat ber-api-api.


"Anda tidak tau apa yang terjadi pada Aura saat melihat berita itu? Dia shock, dia pingsan dan harus dirawat di rumah sakit ini sekarang," ujar Quinsha lagi tetap dengan nada tajam, yang harus mendapat teguran dari Sheriin.


"Jadi dia ada di kota ini?"


"Ya."


"Dimana dia dirawat?"


"Untuk apa, Anda tau? Untuk memintanya mengucapkan selamat?" tandas Quinsha tajam. Damaresh diam, baginya tak guna melawan ucapan tajam Quinsha yang sedang meluapkan kemarahan pada Damaresh, atas nama Aura. Lelaki itu segera mengulang pertanyaannya.


"Dimana dia dirawat?"


"Di lantai 3, ruangan anggrek." Sherin yang mengambil alih memberi jawaban. "Mari ikuti kami! Kami juga akan kesana," ujar wanita itu lagi.


Dalam ruang rawat anggrek lantai 3 yang dimaksud. Lukman duduk sendiri di samping bed hospital dengan pandangan tak lepas dari wajah pucat sang putri yang memejam rapat. Berkali Lukman meraih tangan Aura dan mengusap-usapnya lalu berakhir dengan helaaan napas berat.


Pintu ruang terbuka dari luar, namun tak segera ada yang memasuki ruangan. Lukman memutar kepalanya untuk melihat siapa yang datang, dan sepasang mata tua-nya menjadi terkesima melihat lelaki tampan itu yang berdiri di tengah pintu yang terbuka, dengan tatapan yang sepenuhnya terarah pada Aura.


Lukman segera berdiri, seiring Damaresh yang melangkah pelan menghampiri, diikuti oleh Quinsha dan Sherin serta Kaivan diurutan paling belakang.


"Apa yang terjadi pada Aura?" Gumam lelaki itu bertanya, sembari sepasang netranya enggan teralihkan dari wajah Aura.

__ADS_1


"Aku tidak tau, Nak." Lukman gelengkan kepalanya pelan. Ia memang dihubungi oleh Sherin untuk datang ke rumah sakit tadi malam, ihwal apa yang menyebabkan putrinya menjadi sedemikian belum sempat ia tanyakan, karna lebih mencemaskan kondisi Aura yang lemah dan berada dalam kondisi antara sadar dan tidak sekarang.


"Saya jelaskan," ucap Sherin, ia maju dua langkah.


"Kami bertiga, Saya, Quinsha dan Aura sedang mengobrol bersama semalam sambil menonton siaran televisi. Dan ternyata ada berita perihal pertunangan Pak Damaresh di sana." Sherin menjeda ceritanya untuk sekedar mencuri lihat sebentar pada Damaresh. Terlihat kalau lelaki itu fokus mendengarkan apa yang ia kisahkan.


Sherin pun melanjutkan ceritanya.


Aura saat melihat itu tetlihat tegar dan biasa saja, walau tak dapat ditampik ada expresi kekagetan yang terbaca jelas di raut wajahnya. Sesaat kemudian Aura berpamit untuk ke toliet yang dipahami oleh kedua temannya mungkin Aura butuh menepi untuk menenangkan dirinya.


Tapi hampir setengah jam Aura tak kembali lagi pada mereka, Quinsha dan Sherin tanpa basa-basi menyusul ke kamar mandi, setelah tiga kali mereka memanggil Aura dan tak ada jawaban, keduanya segera membuka pintu kamar mandi yang ternyata tak dikunci, dan mereka menemukan Aura pingsan didalamnya dengan terdapat noda darah di kedua kakinya. mungkin saja Aura terjatuh tanpa ada yang tau dan pingsan di sana.


Panik, keduanya memanggil bantuan untuk membawa Aura ke klinik terdekat, namun karna sudah cukup malam, tak ada dokter jaga di klinik tersebut kecuali hanya beberapa perawat.


Sherin Dan Quinsha sepakat untuk membawa Aura ke rumah sakit Saiful Anwar, rumah sakit terdekat dari lokasi kejadian.


"Disini, setelah melalui beberapa pemeriksaan, ternyata kami baru tau, kalau Aura itu bukan jatuh, darah yang terdapat di kakinya itu karna ia mengalami keguguran." Sherin mengahiri ceritanya dengan sepasang mata basah.


"Keguguran?!" Damaresh berada dalam posisi sangat terkejut sekarang, berita yang di dengarnya kini bak sambaran petir di siang bolong yang tak diawali kelebat mendung.


"Arra, hamil?" ia ajukan pertanyaan yang entah diarahkan pada siapa. yang segera membuat Sherin dan Quinsha saling bertukar pandang heran.


"Ayah juga tidak tau, Nak." Lukman yang mengambil peran menjawab pertanyaan Damaresh.


"Jadi, Pak Damaresh juga tidak tau, kalau Aura hamil?" tanya Quinsha.


Lelaki itu menggeleng pelan, lalu segera meraup wajahnya dengan kedua tangan, dan helaan napas beratnya segera terdengar sesaat kemudian.


"Menurut dokter, usia kehamilannya baru berjalan 4 minggu, jadi tidak perlu dilakukan tindakan kuretasi, tapi dokter juga sudah melakukan tindakan terbaik untuk Aura," lanjut Sherin memberikan penjelasan.


"Masalah Aura yang berada antara kondisi sadar dan tidak sekarang, kata dokter itu karna jiwanya sedang tergoncang." Quinsha menimpali.


Damaresh benar-benar merasa frustasi sekarang, berita yang diterimanya ini benar-benar mengejutkan. Aura hamil, dan dirinya tidak tau. Aura mengalami keguguran, dirinya juga tidak tau, dan yang menjadi penyebab kegugurannya adalah karna berita itu.


Damaresh mengepalkan kedua tangannya dan memukulkannya dengan keras pada tembok ruangan, wajahnya yang memerah nampak mengeras dalam emosi yang memuncak.


Reaksinya yang diluar dua dugaan ini sangat mengagetkan. Kaivan segera menepuk pundaknya untuk menenangkan.


"Aresh, tenang."


"Dia hamil, Kai. Dan aku tidak tau apa-apa. Dia keguguran karna berita laknat itu..bagaimana aku bisa tenang," geram Damaresh dengan tatapan tajam.


"Aku ngerti perasaanmu, Resh. Tapi untuk saat ini, fokus pada Aura dulu, dia belum sadar, Resh.


Setelah dia sadar, dan setelah kalian bicara, tindakan apa yang akan kau lakukan setelah ini aku dukung sepenuhnya, Aresh."


Ucapan Kaivan itu membuat Damaresh memalingkan pandangan pada Aura yang terbaring dengan wajah pucat dengan sepasang mata tertutup rapat.


Aresh segera menghampirinya..meraih tangannya yang tak diinfus, duduk didekatnya, dan mencium tangan putih yang terkulai itu berkali-kali.


"Maafkan aku, Arra," ucapnya terdengar lirih.


Kaivan memberi isyarat pada semuanya untuk keluar dari ruangan, sekedar memberi waktu pada Damaresh untuk meluapkan segenap perasaan yang terpendam.


*****


******


***************


Hai teman2...


Lama ya aku tidak menyapa kalian, aku takut kena marah kalian karna telah memisahkan Aresh dan Arra..tapi disini mereka telah kupertemukan kembali..gak marah lagi, kan..


Pasalnya ada yang bilang aKu mau di sleding, karna memisahkan Aresh dan Arra. hihi..


Tapi aku tau, semua reaksi kalian, adalah karna rasa cinta kalian pada cerita ini.

__ADS_1


Terima kasih banyak ya, banyak cinta untuk kalian.


love u All..


__ADS_2