Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
24. Istri, Dan Calon Istri.


__ADS_3

Tap..Tap..Tap..


Suara hentakan heels di atas lantai keramik yang membentuk irama tersendiri itu, menyeruak masuk dalam pendengaran Clara yang sedang duduk berdua dengan Aura menyelesaikan resume hasil meeting barusan.


Keduanya kompak menoleh ke arah sumber suara.


Dan terpampanglah pemandangan yang sangat luar biasa menurut penilaian sebagian orang, Yeslin yang sangat cantik dengan balutan busana ketat membungkus tubuh sexinya melangkah berlenggak-lenggok bak seorang model di atas Catwalk. Mengabaikan dua orang yang duduk melihatnya dan langsung hendak membuka pintu ruangan CEO yang tertutup rapat.


"Mau ketemu siapa mbak?" Clara menegur.


"Mau ketemu Damaresh lah, masih nanya," Yeslin menjawab sewot.


"Pak Damaresh sedang keluar," Clara memberitaukan setelah memutar bola matanya jengah dengan sikap Yeslin barusan.


"Aku mau tunggu dia di dalam," Yeslin tetap ingin membuka pintu.


"Pesan pak Damaresh, gak boleh ada siapapun yang memasuki ruangannya tanpa seijin pak Damaresh,"


"Termasuk aku?" Yeslin menatap tajam Clara.


"Termasuk Nyonya Claudia, ibunya pak Damaresh sendiri, apalagi 'hanya' mbak Yeslin," Sahut Clara dengan tatapan yang tak kalah tajam.


"Hanya, kau bilang?" Yeslin melangkah menghampiri Clara yang duduk berhadapan dengan Aura itu.


"Ia. 'Hanya' mbak Yeslin." Clara mengulang ucapannya dengan berani, mengabaikan tatap mata kesal dari Yeslin.


"Kau tau siapa aku?" Yeslin menaikkan sedikit suaranya.


"Yeslin Adelina, putri Tuan Alex Wilson, pemilik Blanc Compani," Clara menyebutkan dengan lancar.


"Bukan itu maksudku," Ralat Yeslin. "Aku ini calon istrinya Damaresh Willyam, kau tau?" Yeslin berkata


dengan membusungkan dada.


"Calon istri pak Damaresh? saya baru dengar,"


Clara tersenyum meragukan. Sebenarnya kasak-kusuk tentang hal tersebut memang sudah lama terdengar di kantor Pramudya Corp, namun sejauh ini belum ada yang mengonfirmasikan kebenarannya. Yang ada malah sikap Damaresh yang begitu dingin pada Yeslin, hal itu dilihat langsung oleh Clara.


Sekretaris Damaresh itu beralih tanya pada Aura.


"Apa kau tau Aura, kalau pak Damaresh sudah punya calon istri?"


Yang aku tau, pak Damaresh bukan punya calon istri mbak Clara, tapi sudah punya istri. Istri rahasia.


Jawab Aura dalam hati saja. Sedangkan penampakan luarnya gadis cantik berhijab itu hanya tersenyum sambil menggeleng.


"Kalian bisa minta konfirmasi sendiri nanti pada bos kalian,"


Tukas Yeslin dengan Expresi yang jauh dari kata ramah,


dalam hati Yeslin berjanji kalau dirinya sudah resmi bertunangan dengan Damaresh, ia akan mengganti posisi Clara sebagai sekretaris Damaresh dengan orang lain. Begitu juga dengan Aura jika gadis berhijab itu akan sama tidak hormatnya terhadap dirinya seperti Clara saat ini.


"Sayangnya, pekerjaan kami di sini bukanlah mengurusi masalah pribadi, Mbak," Jawab Clara dengan senyuman santai.


Aura yang merasakan kalau Clara sedang mengibarkan bendera perang dingin dengan Yeslin itu segera menengahi. "Silahkan duduk mbak! mungkin sebentar lagi pak Damaresh datang," Aura mempersilahkan Yeslin duduk di seat sofa yang ada di sana.

__ADS_1


Mau tak mau, Yeslin harus mengikuti usul Aura, karna tak mungkin ia tetap berdiri saja, sementara Damaresh belum berhasil dihubunginya.


Clara dan Aura kembali fokus pada pekerjaan semula


hingga terlihat kalau Damaresh dan Kaivan datang ketempat itu.


"Aresh, syukurlah kau segera datang," Yeslin menyambutnya dengan sumringah, berikut senyuman yang di buat se-sempurna mungkin.


"Ada apa?" Sayangnya Damaresh hanya menatap datar


seirama dengan nada pertanyaannya yang juga datar.


"Ada hal yang harus aku sampaikan,"


"Katakan saja!"


"Bagaimana kalau kita bicara di dalam?"


Bukannya mengiyakan permintaan Yeslin, Damaresh malah mendudukkan dirinya di sofa itu juga tak jauh di depan Yeslin yang sudah berdiri. Meski sedikit kesal dengan sikap Damaresh, namun mau tak mau Yeslin segera duduk kembali.


"Papa ingin mengundangmu makan malam di rumah,"


Yeslin menyampaikan maksudnya. "Apa kau bisa, Aresh?"


Bukannya menjawab, Damaresh malah memutar kepalanya ke sisi lain. "Arra, apa agendaku untuk nanti malam?"


"Ee" mendapat pertanyaan tak terduga begitu, Aura sedikit tercekat, apalagi biasanya ia tak pernah mendapat tugas mengatur jadwal Damaresh di luar jam kantor, kendati hal itu memang menjadi salah satu tugas seorang PA. Tapi selama ini Kaivan-lah yang lebih sering berperan untuk hal itu.


"Apa Arra?" Damaresh ingin gadis itu segera menjawabnya. Aura sadar kalau Damaresh ingin menghindari ajakan Yeslin, Tapi Aura juga bukan orang yang piawai berbohong, cukup sudah ia membohongi ayahnya dalam tiga hari terakhir. Tapi di satu sisi ia harus patuh pada Damaresh bukan?


"Berarti aku tidak bisa, Yeslin." Ucap Damaresh.


"Bagaimana kalau setelah itu?"


"Aku tidak yakin ini akan selesai dengan cepat. Jadi, lain kali saja," Damaresh ingin segera mengahiri pembicaraan itu.


"Lalu kapan kau punya waktu, Aresh?"


"Kau bisa atur itu dengan Arra," Damaresh segera bangkit.


"Kenapa harus dengan Aura?" Yeslin ikut berdiri sambil bertanya tak senang.


"Kalau begitu dengan Kai, atau dengan Clara," Damaresh menjawab santai dan segera berlalu untuk masuk ke dalam ruangannya. Yeslin mendengus kesal, sepertinya posisinya kini sudah terkalahkan oleh seorang asisten pribadi.


"Aura, aku akan datang ke sini lagi besok, kuharap kau sudah atur jadwal untukku makan malam dengan calon suamiku," Yeslin berucap penuh penekanan di akhir kalimat. Aura hanya mengangguk sambil menahan napas. pasalnya kalimat "Calon suami" yang ditegaskan Yeslin itu sangat memberikan efek tidak nyaman dalam perasaannya.


"Aresh, kenapa kau tolak ajakan Yeslin?" Kaivan mengajukan protes setelah kini mereka hanya berdua saja dalam ruangan itu.


"Kau sudah tau jawabannya," Damaresh melepaskan jas yang dipakainya dan disampirkan pada sandaran kursi.


"Kupikir bagus bila kau memenuhi undangan makan malam itu. Kau bisa ajak Aura juga," usul Kaivan yang membuat Damaresh menatapnya seksama.


"Lalu?"


"Di sana nanti, kau akan duduk di apit oleh dua wanita itu. Aura dan Yeslin. Yang satu Istrimu, yang satu calon istrimu, enak banget ya hidupmu,"

__ADS_1


Kaivan tergelak dengan ucapannya sendiri. Beda dengan Damaresh yang terlihat mendengus kesal.


"Aku tidak sabar melihat bagaimana expresimu saat itu, ku kira itu akan jadi pemandangan langka yang harus diabadikan." Kaivan kembali memperdengarkan tawanya.


"Damaresh Willyam, CEO Pramudya corp di antara istri dan calon istri," Kaivan berlagak seperti sedang membaca buletin mingguan. Damaresh hanya menatap datar dan segera berlalu menuju ruangan pribadinya.


Di dalam ruangan kerjanya itu memang terdapat sebuah ruangan pribadi yang biasa ditempati Damaresh beristirahat setelah melakukan pekerjaan yang melelahkan bila ia masih belum ingin pulang.


"Kau mau kemana Resh?" Seru Kaivan.


"Tidur,"


"Kok tidur?" Kaivan heran karna ini masih juga belum pukul Lima belas siang.


"Kepalaku sedikit pusing," Damaresh pun hilang di balik pintu ruangan.


"Yah istirahatlah, sobat. Yang artinya aku juga punya waktu istirahat," Kaivan bermonolog pada dirinya sendiri plus tersenyum sendiri.


Dua jam waktu yang dilalui Damaresh dalam tidurnya dan memang setelah itu, kepalanya yang terasa berat berangsur normal kembali. Setelah membasuh wajahnya, lelaki itu segera keluar ruangan dan mendapati Aura tengah duduk di sofa dekat kursi kerjanya dengan santai.


"Kau belum pulang?" sapa Damaresh, jam pulang kantor memang telah terlewat setengah jam yang lalu.


"Belum pak," Aura menatap Damaresh yang tampak lebih tampan dengan wajah basah begitu. Sudah tidak ada batasan kan bagi Aura bila ingin berlama-lama menatap lelaki yang halal untuknya itu. Jadi Aura tak perlu lagi membatasi pandangannya seperti selama ini.


"Tadi pak Kaivan bilang, kalau bapak sedikit kurang sehat,"


"Dia menyuruhmu menungguku?"


"Ah tidak, ini memang inisiatif saya pribadi. Bapak sudah baik-baik saja?" Kembali Aura melabuhkan tatapannya pada Damaresh disaat bersamaan Damaresh juga menatapnya. Keduanya lalu kompak membuang pandangan.


"Ia. aku baik-baik saja, apa kau mau menagih janjiku padamu tadi?"


"Bukankah janji memang harus ditepati, pak?"


Damaresh mengangguk, ia segera duduk tak jauh di depan Aura. "Sini ponselmu"


Dengan senang hati, Aura segera menyerahkan ponsel miliknya dan selanjutnya ia mendengarkan saja ketika Damaresh berbicara dengan Lukman di telfhon.


Tidak terlalu lama, dan juga tidak terlalu akrab, tapi itu sudah cukup bagi Aura. Cukup meyakinkan ayahnya kalau kehidupannya dan suaminya baik-baik saja.


Aura menerima kembali ponselnya dengan senyum.


"Terima kasih pak." Senyum indah itu masih menghias wajahnya.


Tak ingin dirinya mendapatkan kesan berlebih dari senyuman indah Aura, Damaresh segera berkata.


"Kau sudah lupa aturanku ya?"


"Saya masih ingat, bapak bilang saya tidak boleh tersenyum seperti ini kepada bapak, dan kepada siapapun. Dan saya juga sudah memutuskan pak,"


"Apa?"


"Saya akan tersenyum seperti ini 'hanya' kepada bapak.


Karna hanya pak Damaresh yang sudah mendapat label halal dari Allah untuk mendapatkan senyuman saya."

__ADS_1


Demi apapun, Damaresh tergagu mendengar ucapan gadis yang senantiasa menghiasi wajah cantiknya dengan hijab itu.


__ADS_2