Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
47 Kerinduan Yang Sama.


__ADS_3

"Arra!" suara serak Damaresh yang memanggilnya membuat Aura menghentikan langkah. Segera ia menggiring pandangannya ke arah tangga dimana suara itu berasal. Damaresh dengan langkah bergegas sedang menuruni tangga menghampirinya.


"Sudah mau berangkat?"


"Iya. kau sudah bangun? atau belum tidur sama sekali?" Aura balik tanya. Ia tau betul kalau Damaresh baru pulang jam tiga dini hari tadi, disaat Aura sudah terbangun untuk melakukan sholat malam.


"Aku tidur sebentar," sahut Damaresh lalu menghempaskan tubuhnya di atas sofa yang ada di dekat jendela tak jauh dari posisi Aura berdiri.


Cahaya matahari yang menyeruak masuk menerpa wajah Damaresh dan menciptakan pesona tersendiri dalam pandangan Aura. Ahh mau di lihat dari sudut manapun dan dari posisi yang bagaimanapun, Damaresh memang tampan sekali, kendati dengan muka bantalnya seperti ini.


"Mau buatkan minuman untukku?" pertanyaan sekaligus permintaan. kalimat tanya seperti itu biasanya akan membuat orang yang diminta tak akan menolak, bagitupun Aura, walau sebenarnya ia sedang terburu ingin pergi.


"Minuman apa?"


"Seperti biasa."


Aura mengangguk. terlebih dulu ia meletakkan tas kerja-nya di atas sofa di samping Damaresh sebelum beringsut untuk memenuhi permintaan suaminya tersebut.


"Lutfi sudah datang, Mbak Aura!" tutur Dirga begitu melihat Aura sedang mengaduk-aduk minuman di pantry.


"Iya sebentar Pak, ini masih bikin minum buat tuan."


"Tuan muda sudah bangun?" Dirga bertanya terlonjak.


Biasanya bila pulang ke rumah sedini itu, Damaresh baru akan bangun jam delapan atau jam sembilan pagi.


Aura mengangguk dan segera membawa minuman yang sudah dibuatnya itu pada Damaresh yang sudah menunggu.


Aura menggeleng kecil melihat apa yang terjadi di depannya kini, terlebih dahulu ia meletakkan minuman yang dibawanya itu di atas meja, sebelum memberitaukan Damaresh yang kini terlihat memejamkan mata.


"Ini minumannya, Aresh!"


Tak ada respon dan reaksi dari Damaresh begitupun ketika Aura memanggilnya untuk yang kedua kali.


Fix dugaan Aura, kalau lelaki itu tertidur.


"Aresh!" Aura menepuk pundaknya pelan, barulah Damaresh menggerakkan kepalanya dan membuka matanya, wajah cantik Aura yang memenuhi pandangannya untuk pertama kali.


"Kau tertidur?"


"Iya." Damaresh membenahi posisi duduknya.


"Aku memang masih mengantuk,"


"Kenapa terbangun? tidurlah kembali!"


Damaresh tak memberi tanggapan, ia meraih minumannya dan menyesapnya perlahan.


"Ada hal yang terlewat jika aku tidak bangun pagi."


Damaresh memberi jawaban setelah meletakkan gelas minumannya kembali di atas meja.


"Apa?" Aura bertanya penasaran.


Damaresh mengubah posisi duduknya menghadap Aura dan melabuhkan netra pekatnya pada sepasang mata teduh Aura, tatapan mereka terkunci untuk sepersekian detik sebelum Aura memutus atensinya dengan menunduk.


"Kau tak lagi mencium tanganku sebelum pergi, dan aku juga sudah tak bisa melihat senyummu." ucap Damaresh.


Aura segera terdongak, yang didengarnya kali ini dari Damaresh adalah hal yang tak diduganya meski mungkin pernah menjadi harapannya.


Kalau Aura memang pernah berharap demikian, kini harapan itu terwujud, Damaresh memang merasa ada yang kurang dari dirinya ketika ritual wajib dari istrinya itu tak lagi didapatinya dalam beberapa hari ini.


Awalnya lelaki itu ingin mengingkarinya atau mengabaikan saja apa yang dirasakannya, tapi rasa kehilangan itu seakan menganga kian dalam di hatinya.


"Itu karna kita jarang bertemu," ujar Aura, ia memilih untuk tak merasa senang dulu atas ucapan Damaresh, sebelum tau yang sebenarnya. Tau sendiri kan, kalau lelaki itu sukar ditebak, dan sudah berapa kali Aura salah mengartikan sikap Damaresh selama ini kepadanya.


Terakhir ketika Aura sudah bersuka cita ketika mereka berangkat kerja bersama, nyatanya, Damaresh malah membawa Aura ke yayasan dan menitahkan gadis itu untuk kembali bekerja di sana.


"Iya. Dan karna kau juga menghindariku," tukas Damaresh.


"Aku hanya butuh waktu untuk memahami keputusanmu, tapi sampai sekarang, aku juga belum paham," Aura menampakkan raut sedih.


"Aku akan menjelaskan setelah aku siap, Arra."


"Baiklah, aku tak punya pilihan lain selain mematuhimu, Aresh." Aura beringsut mendekat meraih tangan Damaresh.


"Aku pamit berangkat kerja, Lutfi sudah menungguku


di luar." Aura segera mencium tangan lelaki itu, untuk mengobati kerinduan Damaresh dicium tangannya oleh Aura, yang sebenarnya Aura juga merasakan kerinduan yang sama, rindu mencium tangan suaminya.


"Aku akan mengantarmu," ucap Damaresh ketika Aura melepaskan tangannya.


"Kau sedang mengantuk, aku takut kau tidak akan menyetir dengan benar," tolak Aura dengan halus.


Ia kawatir akan keselamatannya di jalan kalau yang mengemudikan mobil tidak dalam kondisi sadar seratus persen, berapa banyak terjadi laka-lantas, karna sang pengemudi mengantuk.


"Aku akan mengutamakan keselamatanmu di atas apapun, Arra," tegas Damaresh dengan tatapan lurus


menyapu wajah Aura.


"Apa kau sedang merayuku?" Aura menanggapi ucapan itu dengan pertanyaan menggoda.

__ADS_1


Damaresh menggeleng. "Kau tau aku ini orang yang kaku, aku tak tau caranya merayu, aku hanya mengatakan apa yang kurasakan," sahutnya.


Ya iyalah, Damaresh tak tau cara merayu, karna memang ia tak pernah dan tak perlu merayu siapapun.


Pesona ketampanannya saja sudah memabukkan ditambah lagi dengan jumlah kekayannya yang tak terhitungkan, dengan itu semua, sekali ia melabuhkan pandang pada perempuan, perempuan itu sendiri yang akan datang tanpa ia susah-susah mengeluarkan jurus rayuan.


Aura tersenyum menatapnya. "Aku mau diantar olehmu, Aresh," ucapnya dengan tanpa melepaskan senyuman.


"Tunggu sebentar ya, kalau sampai dua puluh menit aku belum turun kau boleh pergi diantar Lutfi!"


Aura menggeleng. "Aku lebih suka pergi bersamamu,"


Damaresh tersenyum singkat mendengar itu dan gegas menaiki tangga untuk menuju ke kamarnya.


"Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Damaresh. mereka kini telah berdua dalam mobil yang melaju menuju gedung yayasan L&D.


"Alhamdulillahh..lancar," sahut Aura di iring senyuman lepas.


"Mereka memperlakukanmu dengan baik?" lanjut interogasi Damaresh.


"Sangat baik, mereka membimbing dan mengarahkanku, padahal aku bukan pertama kalinya bekerja disana, entahlah kurasa mereka semua lebih respek kepadaku sekarang ketimbang dulu, apalagi bu Olivia, dia sangat memerhatikanku," tutur Aura dengan antusias.


"Apa karna aku datang kesana, diantar olehmu ya?"


Gadis itu menoleh ke arah Damaresh.


"Bisa jadi,"


"Lalu apa sekarang kau akan mampir ke kantor?"


"Tidak. Aku hanya khusus mengantarmu saja,"


Mobil itupun berhenti di dekat gerbang kantor L&D, Aura bersiap untuk turun. Namun sebelumnya ia kembali mencium tangan Damaresh membuat lelaki itu menatapnya karna tadi Aura sudah melakukannya di rumah. "Untuk mengobati kerinduanmu," ucap Aura.


Damaresh menggennggam tangan Aura dan mendekatkan wajahnya, cup. Satu kecupan lembut mendarat di bibir mungil Aura. "Aku juga rindu itu,"


ucapnya. Akupun merindukannya juga. Kerinduan yang sama. Balas Aura di dalam hati.


*****


Hari sudah merambah sore, waktu pulang kerja yayasan sudah berlalu sejak setengah jam lalu, tapi Aura masih betah duduk menunggu dikursi taman itu


sambil mengotak-atik hpnya. Ada beberapa aplikasi yang dilihatnya, dari mulai sosial medianya yang selalu sepi notifikasi karna dirinya memang bukan seorang yang aktif di sosmed, lalu aplikasi novel online dan berakhir pada aplikasi tafsir Al-qur'an, semua dilakukannya untuk membunuh waktu selagi menunggu. Menunggu jemputan yang sudah telat hampir satu jam berlalu.


"Aura, kau belum pulang?"


Aura berjengit kaget ketika mendapatkan pertanyaan itu, tak terlihat dari mana datangnya, tetiba Olivia sudah berdiri di dekatnya.


"Ah Iya, bu. Saya sedang menunggu jemputan,"


"Kok tumben jemputanmu telat?" Olivia memperhatikan kalau selama ini Aura selalu dijemput tepat waktu, kecuali hari ini.


"Iya bu, kata Lutfi dia harus mengantar ayahnya dulu ke rumah sakit, dari sana Lutfi akan langsung jemput saya di sini," Aura menjelaskan.


"Jika masih lama, bagaimana kalau kau pulang bersamaku saja?" Olivia menawarkan.


"Terima kasih, Bu. Tapi saya akan menunggu Lutfi saja,"


tolak Aura, karna ia tau betul, jarak dari rumah Olivia ke rumah Damaresh yang ditempati Aura saat ini, itu sangat jauh.


"Kau yakin?"


"Iya,"


"Baiklah, tapi kalau dalam setengah jam, jemputanmu belum datang, kau hubungi aku,ya!"


Olivia harus memastikan Aura baik-baik saja, kan.


Karna kalau tidak, Damaresh pasti akan menuntutnya.


Aura mengangguk sambil tersenyum, senyum yang terus mengiring kepergian Olivia menuju mobilnya.


Sekitar sepuluh menit kemudian, lutfi menelfhonnya dan memberitaukan kalau mobilnya terkena ranjau paku, sekarang dia sedang mengganti ban mobilnya dulu, jadi akan terlambat dari waktu yang seharusnya.


Lagi-Lagi ada kendala, bisik Aura di dalam hati.


Aura menoleh kanan-kiri, terlihat dua orang security mondar-mandir memperhatikan Aura, tapi keduanya melempar senyum ramah begitu gadis itu melihatnya.


Dua orang security itu sebenarnya ditugaskan Olivia untuk memantau Aura, selagi jemputannya belum datang.


Aura melihat jam tangannya, waktu menunjukkan hampir jam 16 Sore, Aura segera berinisiatif menelfhon Damaresh saja, tapi begitu tersambung, ponselnya langsung mati karna low batery. Aura menghela nafas


pelan.


Gadis itu beringsut ke jalan depan dekat gerbang,


dan belum sepuluh menit ia berdiri disana terlihat sebuah sedan mewah menghampirinya.


Dari kaca samping yang terbuka, wajah tampan Anthoni tersembul memberi senyum sebagai salam pertama sebelum menyapa


"Aura, kenapa ada di sini?"

__ADS_1


"Ohh Pak Anthoni? iya saya sedang menunggu jemputan," sahut Aura. Anthoni mengernyitkan kening dan bergegas turun dari mobil.


"Apa kau bekerja di sini?" ia bertanya heran.


"Iya Pak, saya memang sudah cukup lama bekerja di sini,"


"Bukankah kau Asistennya Damaresh?"


"Iya itu pekerjaan sementara saja,"


"Oo" Anthoni menganggukkan kepalanya meski kedengarannya ada yang janggal.


"Kau barusan bilang sedang menunggu jemputan? mobil atau motor?"


tanya Anthoni dengan menyimpan keheranan dalam hati. Sedikit menebak, kalau Aura pasti masih memiliki kedekatan dengan Damaresh kendati tak lagi bekerja padanya, terbukti gadis itu dibekali fasilitas antar jemput, walau belum terbukti kalau itu dari Damaresh, tapi firasatnya mengatakan demikian


"Mobil Pak, jemputannya telat, karna masih ada kendala." jawab yang di berikan Aura itu, membenarkan firasat Anthoni.


"Bagaimana kalau aku mengantarmu pulang,? tawar Anthoni.


"Eee-" Aura merasa kebingungan untuk menolak.


"Perlu ijin dari Damaresh?" tebak Anthoni segera.


Aura tersenyum, karna itu memang salah satu alasannya, tanpa terduga Anthoni mengeluarkan ponsel dan segera menghubungi seseorang, dan begitu panggilan terhubung, Anthoni segera menyerahkan ponselnya pada Aura sambil tersenyum dalam hati, karna ternyata semua dugaannya terbukti.


"Ini Aresh, bicaralah!"


Meski dengan perasaan ragu, Aura menerima ponsel mahal itu dan memperdengarkan suaranya.


"Hallo, Aresh-"


"Aura?? kenapa kau bersama Anthoni? dan kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi?" Damaresh langsung mencecarnya dengan beberapa pertanyaan.


"Itu," Aura sejenak menelan salivanya. "Ponselku low bat, dan pak Anthoni menawarkan untuk mengantarku pulang,"


"Lutfi kemana?" pertanyaan Damaresh terdengar tergesa dan datar.


"Lutfi terlambat karna mengantar ayahnya ke rumah sakit, terus ketika dalam perjalanan kemari, mobilnya terkena ranjau paku," sahut Aura menjelaskan.


"Shift, kenapa bisa sih," terdengar Damaresh mengumpat singkat.


"Apa aku boleh ikut pak Anthoni? aku takut terlambat sholat ashar!"


"Berikan ponselnya pada Anthoni!"


sesuai perintah Damaresh, Aura segera menyerahkan ponsel itu pada empunya.


"Iya Resh?"


"Antarkan Aura ke Pramudya Corp! aku menunggu di sini," titah Damaresh, setelah Anthoni mengiyakan, lelaki tampan itu segera mematikan telfhon.


Ia merasa tak masalah kalau Anthoni mengantarkan Aura, karna orang-orang Stefan akan mengikuti mereka diam-diam, dan dirinya juga tak mungkin menjemput Aura sendiri, pasalnya ia sedang menerima tamu penting di Small guest room kantor Pramudya saat ini bersama Kaivan.


"Kau tidak duduk di depan?" Anthoni mengernyit heran melihat Aura yang memilih duduk di kursi penumpang bagian belakang, tepatnya di belakang kursi kemudi.


"Saya duduk di sini saja, Pak."


"Tapi aku bukan sopirmu, Aura," ucap Anthoni sembari menatap tajam.


"Saya juga gak berani menganggap Pak Anthoni sebagai sopir saya," kata Aura santai.


"Ya udah, duduk depan!" titah Anthoni.


"Tidak Pak. kalau perkara saya duduk di sini jadi masalah, saya lebih baik tunggu jemputan saya saja, Pak," tukas Aura.


"Ok, kamu menang," Anthoni mengangkat tangannya,


lelaki itu segera duduk di posisinya dan mulai menjalankan mobil.


"Apa itu perintah Damaresh?" Anthoni menyambung pembicaraan mereka dengan pertanyaannya.


"Pak Damaresh tak banyak memberi perintah pada saya, tapi mematuhi perintahnya adalah wajib bagi saya," sahut Aura pasti.


"Aku suka kalimat itu, pasti Damaresh juga selalu menuruti ucapanmu, kan?" tebak Anthoni senang, selangkah lagi menuju puas karna ia merasa percaya diri kalau sebentar lagi tujuannya akan tercapai.


Jika pertanyaannya di iya-kan Aura, maka terbuka lebar kesempatannya untuk membujuk Damaresh melalui Aura, mungkin dengan sedikit memberi tekanan pada gadis itu. Pikir Anthoni yang memang punya satu permintaan pada Damaresh sebagai pimpinan tertinggi Pramudya Corp, yang sampai kini permintaannya belum dikabulkan dengan alasan masih di observasi.


Ahh Anthoni, ternyata tak ikhlas menawarkan bantuan, tapi tetap ada udang dibalik bakwan.


"Tidak pak, dia tak punya kewajiban untuk menuruti saya, dan saya juga tak akan bicara apalagi meminta padanya atas satu hal yang bukan ranah saya," sahut Aura tandas.


"Apa itu sudah pasti?"


Anthoni masih ingin menjajal sebatas mana ketegasan gadis itu walau dirinya sudah setengah kecewa atas jawaban Aura.


"Sangat pasti." sahut Aura dengan tatapan penuh tekad. Bahkan ia melanjutkan ucapannya. "Kalau bapak memiliki maksud tersendiri pada pak Damaresh,


bicarakan langsung padanya Pak, tidak perlu melalui saya, yang tak paham apapun tentang dunia kalian."


Skakmat. Anthoni terdiam menghela napas. Sungguh gadis yang duduk di belakang kursinya itu seorang yang tak terduga, sebelas duabelas dengan Damaresh.

__ADS_1


pikir Anthoni. Tapi Anthoni tak mau terlihat kalah dan salah di depan Aura, lelaki itu segera tertawa renyah.


"Kau sangat cerdas, Aura, sangat serasi dengan Damaresh," puji Anthoni yang tak mendapat tanggapan apapun dari Aura. Anthoni pun mengakhiri percakapan karna laju mobil yang telah menapaki basemen gedung kantor Pramudya Corp.


__ADS_2