Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
114. Aroma Bantal.


__ADS_3

"Hati-Hati sayang!"


Claudya setengah berteriak melihat Aura yang berlari-lari menghampirinya.


"Pelan-pelan, nanti jatuh, lho."


Claudya kembali mengingatkan pada anak menantunya yang begitu exited melihat kedatangan Claudya.


"Mommy." Aura sudah sampai di depan wanita cantik  yang selalu tampil anggun itu. Claudya segera merentangkan tangannya dan membawa tubuh wanita berhijab itu ke dalam pelukannya.


Untuk sesaat kedua wanita beda generasi itu saling berangkulan melepaskan kerinduan.


"Aku senang Mommy datang," ucap Aura dengan senyum merekah setelah keduanya sama-sama mengurai pelukan.


"Sebenarnya sudah cukup lama aku ingin kesini. Pasti sangat menyenangkan berada di tempat seperti ini bersama anak dan menantuku, tapi masih ada beberapa hal yang harus mommy selesaikan," tutur Claudya, juga dengan senyuman yang lepas dan tanpa beban.


"Aku bangga pada Mommy," kata Aura dengan suara tertahan.


"Benarkah? Kau tidak merasa malu punya ibu mertua sepertiku?"


"Tidak. Seseorang yang berani mengakui kesalahannya dan mempertanggung jawabkannya, itu adalah seorang yang berjiwa besar, Mommy. Karnanya aku bangga pada Mommy," puji Aura seiring senyum berbinar.


"Terima kasih, Sayang." Claudya kembali memeluk Aura penuh dengan rasa keharuan. "Semua ini, tak lepas dari peran serta darimu juga. Kehadiranmu dalam hidup Aresh, yang sangat membawa peran besar dalam perubahan putraku, juga aku, hingga kini, ... terima kasih ya, Nak."


Claudya menyematkan kecupan lembut di kening Aura yang diterima oleh wanita itu dengan penuh rasa senang.


"Kau duduk saja, Aura! biar mommy yang masak," titah Claudya sambil menunjuk kursi.


Ya, keduanya kini telah berada di dapur  untuk melakukan ritual memasak bersama setelah melewati beberapa obrolan ringan dan santai barusan.


Namun pada kenyataanya, Claudya malah meminta menantunya itu untuk duduk saja, sementara dirinya berkutat dengan semua peralatan memasak itu sendirian.


"Aku akan menelphon Aresh, Mommy, Supaya kita bisa makan siang bersama."


"Sebaiknya jangan mengganggunya, Aura, jika dia sedang sibuk," cegah Claudya dengan tangan yang lincah menari-nari di atas panci penggorengan.


"Dia hanya berpamit sebentar pergi ke pabrik, Mommy, sekalian menemui om Alarick," sahut Aura seraya meraih ponselnya untuk mulai menelphon Damaresh.


"Nanti sore, mommy juga mau pergi ke rumah Alarick, kau mau menemaniku nanti, Aura?"


"Dengan senang hati, Mommy."


Berkali-kali Aura mencoba menghubungi Damaresh, namun berkali-kali pula panggilan telphonnya tak terjawab, hingga gadis itu berpindah ke ruang depan yang lalu berakhir dengan duduk di beranda, berharap akan mendapatkan jaringan yang lancar, agar panggilannya mendapatkan jawaban.


Ternyata setelah sekian kali, barulah Aresh menjawab telphonnya.


"Arra," sapanya singkat di telphon.


"Aresh, kau dimana?"


"Di pabrik."


"Kok kedengarannya ramai sekali, ada apa?"


"Aku masih ada urusan, Arra, nanti ku telphon lagi." Damaresh bukannya menjawab pertanyaan Aura, tapi malah mengalihkan pembicaraan dan segera memutuskan sambungan.


Aura hanya bisa menarik napas pelan, meletakkan ponsel di tangan dan mengedarkan pandangannya menembus halaman menuju jalanan hijau di depan.


Terlihat beberapa orang yang sedang berlarian, tapi tak serupa seperti orang yang sedang berkejar-kejaran.


Mungkin mereka, yang diketahui Aura sebagai pekerja pabrik itu sedang melatih ototnya sembari menikmati pemandangan hijau.


Tapi terasa ada yang janggal, ketika di detik berikutnya orang-orang yang lain juga terlihat berlarian, dan di wajah mereka tergambarkan kepanikan, bukan kesenangan.


Aura bergegas bangkit dan melangkah cepat melintasi halaman, menuju ke jalanan depan. "Nuhun, Pak, sebentar. Ada apa ya, Pak, kok terlihat terburu-buru?" tanya Aura pada seorang yang sedang melintas dengan tergesa.


"Ada kebakaran, neng."


"Kebakaran? Dimana?"


"Di pabrik." Dan orang itu gegas berlalu dengan langkah terburu.

__ADS_1


Pasti karna hal itu, kenapa Aresh menutup telphonnya dengan terburu dan menolak untuk memberitahu, akan hal yang terjadi di pabrik itu.


Begitulah Damaresh, yang selalu menutupi hal apapun yang akan membuat Aura panik dan kawatir. Di beberapa tempat, tindakannya ini terkesan baik, tapi di tempat yang lain, malah justru membuat Aura kian panik, seperti yang terjadi sekarang, dimana gadis itu segera mengajak Claudya untuk menyusul ke pabrik, dengan raut kecemasan yang luar biasa, kendati apapun yang dilakukan oleh Claudya untuk menenangkannya.


Hampir 90% bangunan pabrik ludes terbakar, jangan tanyakan bagaimana dengan isinya. Beberapa pekerja yang sedang beraktivitas di sana, mengalami luka bakar dari yang sedang, ringan dan cukup serius juga ada.


Alarick sigap menyelamatkan para pekerjanya lebih dulu, daripada mengamankan beberapa properti di dalam pabrik dari lalapan si jago merah. Semua orang sigap saling membantu, hingga mobil damkar datang dan dalam waktu hampir satu setengah jam, api berhasil di padamkan.


Dua jam setelah kejadian, wajah-wajah lelah tergambar dari mereka yang sedang duduk di ruang depan rumah Alarick yang megah. Masih tak ada apapun yang bisa diucapkan oleh putra bungsu William itu, mengingat pabriknya yang tiba-tiba terbakar, setelah beberapa hari sebelumnya semua barang produksinya di tolak di pasaran.


Damaresh dengan segala kejelian otak bisnisnya, sudah berhasil mendapatkan pasokan baru untuk produksi teh kemasan Alarick itu di daerah sumatera dan kalimantan. Tapi kini barang-barang yang sudah siap terkirim itu, ludes, dan habis terbakar.


"Mommy, bawa Arra pulang lebih dulu, aku masih ada keperluan dengan om Alarick,"


Pinta Damaresh pada Claudya yang segera mengangguk setuju.


"Tidak, Aresh," tolak Aura dengan cepat.


"Aku ingin di sini dulu."


"Kau harus istirahat, Arra," tegas Damaresh yang melihat istrinya itu begitu sigap membantu dari tadi bersama Sherin dan Claudya. Aura pasti merasa lelah, itulah yang dilihat oleh Damaresh.


"Aku gak merasa lelah, aku ingin di sini saja," tolak Aura sekali lagi.


"Jangan bantah, Arra. Kau harus istirahat, kau tidak boleh terlalu lelah."


Aiih..sikap posesif Aresh kumat di saat yang tak tepat.


"Aku gak lelah, Aresh, aku baik-baik saja."


"Sayang, please!"


Lembut ucapannya, tapi tajam tatapannya.


Itulah Damaresh saat ini pada Aura yang tak ingin perintahnya ditampik.


"Aku ingin tetap di sini menemani Sherin," ucap Aura dengan suara melemah.


"Aura, Sherin, ayo kita masuk ke dalam dan betistirahat," ucap Claudya menengahi.


"Aresh, biar Aura di sini dulu, aku yang akan menjaganya," ucap Claudya lagi yang tak mendapatkan bantahan dari Damaresh.


"Aku minta maaf, Om," ucap Damaresh pada Alarick setelah kini mereka hanya tinggal berdua saja, sepeninggal Aura, Sherin dan Claudya.


"Maaf, untuk?" Tanya Alarick dengan tatapan tak mengerti.


"Semua yang telah terjadi," sahut Damaresh.


"Apa semua ini salahmu?"


"Bukan. Tapi semua ini karena aku, Om."


"Apa maksudmu, Aresh?"


"Apa Om Al, benar-benar tak memahami?"


Damaresh malah balik tanya.


Alarick sejenak terdiam, lalu menatap Damaresh sambil berkata yang tak diiringi dengan sepenuh keyakinan.


"Papa, yang ada dibalik semua ini?"


"Ya," sahut Damaresh tegas.


"Apa tujuannya, mengapa baru mengusikku sekarang?"


"Bukan Om Al, tapi aku."


"Kamu?"


Alarick menatap Damaresh seakan tak percaya, lalu kemudian ia menggelengkan kepalanya sendiri. "Aku tidak mau berspekulasi, Aresh," tolaknya.

__ADS_1


"Aku sudah menyelidikinya, Om. Dan aku punya bukti."


"Jadi?" Alarick menatap keponakannya itu meminta penjelasan lebih lanjut.


"Beberapa waktu lalu, kakek menemuiku di Surabaya. Ia memintaku untuk kembali ke Pramudya," tutur Damaresh.


Alarick tertawa sumbang.


"Tumben, papa menjilat ludahnya sendiri,"


Ujarnya takjub.


"Pramudya sedang guncang sekarang, terlebih setelah pengakuan Mommy di media massa. Banyak relasi bisnis yang menarik diri, dan sepertinya Edgard tak mampu menyiasati itu. Pramudya Corp di London, juga sedang butuh penanganan langsung, ada beberapa dewan direksi yang mengundurkan diri setelah aku lepas jabatan dari Pramudya."


"Papa pasti kebakaran jenggot, dan kau satu-satunya orang yang bisa ia andalkan. Karnanya ia menekan egonya untuk menemuimu. Tapi Aresh, jika ia sudah berkeinginan dengan menurunkan gengsinya seperti itu, lalu ia tak mendapatkan apa yang diinginkannya, akibatnya pasti buruk, Aresh," ujar Alarick mengingatkan.


"Ini sudah akibatnya, Om. Kakek membuktikan ancamannya, karena aku menolak kemauannya."


Alarick menghembuskan napasnya kasar.


"Karena itu aku minta maaf, Om. Dan aku janji akan membereskan semua kekacauan ini," ucap Damaresh dengan nada pasti.


"Apa rencanamu, Aresh?" Alarich bertanya curiga, pasalnya dia tau kalau keponakannya itu sering punya gebrakan tak terduga.


"Pertama, akan aku bereskan kekacauan yang di sini dulu, Om. Dan selanjutnya--"


"Selanjutnya apa?" tanya Alarick cepat.


"Om Alarick sepertinya kawatir?"


"Terus terang iya," sahut Alarick.


"Tenang saja, Om..aku sekarang sudah tidak punya apa-apa beda dengan dulu. Kalaupun sekarang aku mau melawan, mungkin hanya perlawanan kecil saja."


"Tapi kecerdasanmu itu yang tak terduga," tukas Alarick.


"Bersyukur kepada Allah yang telah memberikan semua ini, Om," sahut Damaresh dengan senyum singkatnya.


*********


Aura menyambut Damaresh di depan pintu.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Damaresh begitu melihat istrinya itu.


"Menyambutmu," jawab Aura dengan senyum.


"Bukannya istirahat," ujar Damaresh menampilkan muka tak senang.


"Aku baru bangun tidur," ucap Aura.


"Apa iya?" Damaresh terlihat gak percaya.


"Ini lihat, sudah muka bantal!" Aura menunjuk wajahnya sendiri.


"Mana?" Damaresh mendekatkan wajahnya pada Aura yang juga semakin memajukan wajahnya pada suaminya.


cup. kecupan lembut Damaresh hinggap di pipi kanan dan kiri Aura.


"Iya, bau bantal," ujarnya setelah selesai dengan aksinya. Aura terkikik kecil.


"Kau tidak marah padaku?" tanyanya dengan mode merajuk.


Damaresh menggelengkan kepalanya.


"Aku hanya tidak ingin kau kelelahan, itu saja."


"Maafkan aku ya." Aura segera memeluk pinggang suaminya itu erat.


"Hmmm, tapi aku mau lagi," ucap Damaresh.


"Mau apa?"

__ADS_1


"Cium aroma bantal di wajahmu." Dan tanpa tunggu persetujuan Aura wajah lembut istrinya itu pun menjadi sasaran ciumannya yang bertubi-tubi, hingga Claudya yang hendak menghampiri harus mengurungkan langkahnya, karena melihat sang putera sedang beraksi.


__ADS_2