
"Maafkan aku Arra,"
Damaresh menatap lekat wajah Aura yang tertidur dengan sisa-sisa air mata di wajahnya.
Entah sudah berapa lama gadis itu tenggelam dalam tangisnya hingga lalu kantuk menyeretnya dalam dekap tidur lena tanpa ia sempat menyusut bening kristalnya.
Begitupun Damaresh, sudah berapa lama pula ia membiarkan waktu berlalu dalam diam kesendiriannya setelah Aura berlalu meninggalkannya. Hingga lalu ia putuskan untuk kembali ke kamarnya di lantai atas dan beristirahat.
Nyatanya langkah kakinya berhenti di depan kamar Aura dan tangannya membuka pintunya dengan tak terduga. Lalu tubuhnya seakan bergerak dengan sendirinya melangkah mendekati Aura yang terbaring
tidak dengan posisi yang benar di ranjangnya.
Gadis itu telah lelap dalam tidurnya, matanya memejam sempurna, nafasnya teratur sesuai ritmenya,
Damaresh diam-diam menarik napasnya lega, dan berniat keluar dari sana. Namun netranya menangkap adanya kejanggalan di wajah Aura, wajah cantik itu nampak basah oleh air, kelopaknya pun terlihat sembab. Damaresh langsung paham kalau gadis itu pasti habis menangis.
Pelan Damaresh mengusap air mata di wajah Aura seraya kembali mengucapkan maaf dalam hatinya.
"jika nanti kita bisa terus bersama, aku tak akan membuatmu berada di dalam salah satu posisi itu, Arra. Aku janji...tapi untuk saat ini aku tak bisa memberikanmu apapun, meskipun hanya sebentuk harapan..aku takut akan mengecewakanmu,"
Damaresh bermonolog dalam hatinya. mengucapkan sebuah janji. Janji hati untuk Aura.
******
"Selamat malam, Tuan muda," sambut Anthoni menyusul datangnya Damaresh setelah ia membukakan pintu.
Damaresh mengangguk kecil dan segera melewati Dirga untuk menuju ke lantai atas di mana kamarnya berada, rencananya adalah segera beristirahat karna penat yang menjerat, setelah aktifitas yang sangat padat.
"Mbak Aura mungkin sudah tidur," lapor Dirga tanpa diminta, yang sukses membuat Damaresh hentikan langkah.
"Saya melaporkan, karna biasanya tuan muda bertanya," ucap Dirga.
Damaresh mengangguk kecil. "Terima kasih, Dirga."
Ini memang sudah di atas jam 22, Aura pasti sudah tidur. Namun saat Damaresh melintasi kamar Aura, cahaya terang masih terpancar dari dalam sana melalui
celah pintu yang sedikit terbuka.
Damaresh hentikan langkah tepat di depan pintu itu.
Ia merasa harus bertemu dengan Aura malam ini, setelah sepanjang hari ini, netra Damaresh tak menemukan wajah cantik Aura sama sekali.
tok..tok..
Ia ketuk pintu kamar itu pelan. " Kau sudah tidur, Arra?"
Tak ada jawaban. Lelaki tampan yang tubuh atletisnya masih terbalut pakaian kerja lengkap berupa jas warna
hitam serta dasinya itu perlahan mendorong pintu, dan terlihat Aura sedang bersimpuh di atas sajadah berbalut mukennah.
Damaresh menatap itu semua dengan pandangan lembut, entah itu efeck terlalu lelah atau justru pemandangan di depannya begitu menyejukkan jiwanya, sehingga netranya yang setajam elang itu kini surut menjadi pandangan lembut menghanyutkan.
source: pinterest
Untuk sesaat lelaki itu enggan mengalih pandang hingga Aura mengahiri ritual ibadahnya dan berdiri
melepas mukennahnya lalu melipatnya.
__ADS_1
"Selesai sholat?" tanya Damaresh.
Aura sontak menoleh, sesaat terkejut melihat Damaresh berdiri di tengah pintu, namun lalu gadis cantik yang wajahnya terhias hijab putih itu menampakkan senyum indahnya. Senyum yang membuat Damaresh enggan mengalihkan atensinya.
Source: pinterest
Tapi Aura tak membiarkan Damaresh menikmati kecantikan wajahnya plus senyum indahnya dengan lebih lama, karna ia segera menarik wajahnya untuk tertunduk melanjutkan melipat mukennahnya bersama kata "Iya," sebagai jawaban atas pertanyaan Damaresh baru saja.
"Kau belum mengantuk?" kembali ajukan tanya karna sepertinya Aura enggan berbanyak kata meski tetap menampakkan senyum seolah dirinya baik-baik saja.
"Sepertinya belum, kenapa?"
Damaresh membawa dirinya masuk ke dalam kamar itu dan berdiri jarak satu meter di depan Aura.
"Besok siang aku akan pergi ke Bali-"
"Iya hati-hati," ujar Aura cepat bahkan sebelum Damaresh tuntas berucap.
"Aku ingin kau juga pergi bersamaku!"
"Maaf Aresh, aku tak bisa," aura langsung menolak dengan ucapan lembut.
"Kenapa?"
"Aku bukan personal asistenmu sekarang," Aura mengemukakan alasan.
"Tapi aku membutuhkanmu di sana, Arra." tandas Damaresh.
Membutuhkan sebagai apa?
Tanya Aura dalam hati, sedang tanya yang terucap
"Kau di sana untuk bekerja, lalu aku akan melakukan
apa?"
"Kau cukup mendampingiku saja!"
"Tidak. Sebaiknya aku tak usah ikut."
Aura tetep keukeuh dengan penolakannya. Saat ini Aura merasa tak ingin pergi kemana-mana, ia lebih suka tetap berada di rumah dan mengadukan segenap keresahannya di atas hamparan sajadah.
"Aku sudah siapkan tiket untukmu Arra, dan aku juga sudah minta ijin Olivia untukmu tak masuk kerja dalam beberapa hari ini."
"Kau memaksa ya?"
Aura melabuhkan tatapan kurang suka.
"Iya, untuk kali ini aku sangat memaksa," jawab Damaresh tanpa dosa.
"Tapi kenapa aku harus ikut?"
"Karna aku menginginkannya."
"Beri aku penjelasan yang lebih masuk akal, Aresh! bukan hanya sekedar karna kau ingin saja!" pinta Aura
mulai memasang wajah kesal atas sikap pemaksa Damaresh.
__ADS_1
"Aku akan berada di Bali selama tiga hari, dan sepertinya aku merasa tak nyaman jika tak melihatmu selama itu. Apa jawaban ini cukup?"
Damaresh memadukan pandangannya dengan tatapan Aura dan mengunci tatapan itu beberapa jenak. Hingga Aura membuang pandangannya ke lain arah, karna ia tak mau tenggelam apalagi terhanyut dalam pandangan Damaresh yang mengandung daya magnetik tinggi itu.
"Bagaimana?"
Damaresh menantikan jawabannya.
" Bukankah Mematuhi-mu itu, bagiku adalah wajib?"
Retoris Aura. ia sadar betul saat ini posisinya adalah sebagai istri yang memiliki kewajiban untuk patuh pada suami. Dari sejak semalam, ketika ia tertidur dengan membawa air matanya, dirinya sudah bertekad untuk menjalankan saja tugasnya sebagai istri, tanpa berharap lebih pada pernikahannya ataupun suaminya.
Apapun yang bakal terjadi nanti, itulah garis takdir yang harus ia jalani dengan tak henti untuk meminta yang terbaik pada sang ilahi.
Damaresh tersenyum tipis, senyum yang membawa kadar lebih tinggi pada ketampanannya yang berpredikat menawan menjadi sangat rupawan.
Setuju gak sihh??
Ia memajukan tubuhnya lebih mendekat lagi pada Aura, lalu sebelah tangannya terulur mengusap kepala gadis cantik itu dan sedetik kemudian wajahnya tertunduk memberi kecupan lembut di kening licin bak pualam milik istrinya.
Tak ada senyum lagi yang tersemat di bibir Aura setelah apa yang dilakukan Damaresh padanya, ia hanya melabuhkan tatapan lembut yang memancar diantara lentik bulu matanya, sebelum tertunduk tanpa kata.
Damaresh berlalu begitu saja dari hadapannya dengan langkahnya yang lebar, gegas keluar dari dalam kamar.
Aura menghela napasnya samar.
Tak ada yang salah dari apa yang dilakukan Damaresh padanya, mereka telah berstempel halal, jadi untuk apa lagi ia pertanyakan alasan Damaresh melakukan hal itu. Pasrah, itulah kemudian yang ia temukan di ujung perenungan.
*****
******
*******
Selamat hari minggu semuanya.
Covernya di ganti lagi ya, semoga teman-teman gak bingung. Sedikit cerita, boleh??
Cerita ini diganti covernya oleh NT yang kemarin, tapi aku kurang sreg dengan cover itu karna si wanita gak berhijab. Sedangkan dalam cerita, Aura pakai hijab.
Berbekal saran dari teh Yeni Eka, Authornya GADIS BERKERUDUNG MERAH, aku chat admin ngasih tau semuanya.
Admin lalu minta aku kirim file cover yang aku mau, dan dua hari setelahnya cover ku di ganti, seperti yang terlihat sekarang ini. Semoga suka.
Spesial terima kasih untuk adik terbaikku dan paling ganteng di MT, Penulis Jelata, Authornya DIA BUKAN TULANG RUSUKKU, darinya aku mendapatkan cover yang di pakai sekarang, aku yang minta sihh..
Syukurlah di kabulkan..trimz tak terhingga.
Lanjut.
Visual yang teman-teman minta udah aku kasih di sini, semoga puas ya..
Aku sempat kebingungan waktu milih visual tokoh Damaresh, karna dia kan berdarah indo-turki gitu, sedang yang aku tau, hanya artis indo saja.
Aku minta bantuan Kak Nofia hayati, Authornya
CINTAMU MENJADI CANDUKU.
nah dikirimkannya lah gambar Imran Abbas ini yang aku langsung klik, begitu juga dgn visual Aura, juga atas usul Kak Nofi..Terima kasih banyakk kak..
__ADS_1
Terima kasih juga untuk readers halim sakdiyah, yang juga sempat menyebut nama Imran Abbas dalam komentarnya.
Dan terakhir terima kasih untuk semuanya..semua, tanpa terkecuali..