
"Ya, Sayang,"
mendengar suara Damaresh di telepon itu, Aura langsung terlihat girang.
"Kenapa lama angkat telponnya?" tuntut-nya dengan suara bercampur aduk, antara me-rengek, me-manja dan memprotes.
"Sedang meeting, Yangg. Kan sudah aku kasih tau tadi," sahut Damaresh di seberang sana.
"Wah iya, aku hampir lupa," seloroh Aura.
"Ada apa telepon?"
"Kok tanya gitu, gak suka ya aku telepon?"
Nada suara Aura naik satu oktav.
"Bukan begitu, Sayang..ini bukan kebiasaanmu, kan, meneleponku saat aku ada meeting, jadi aku tanya--"
Tapi belum selesai Damaresh menjawab, Aura sudah mengancam. "Ya udah kalau gak suka, aku tutup teleponnya."
"Tunggu ya sebentar lagi aku pulang,"
"Aku bukan minta kamu pulang, Aresh."
"Lalu?"
"Aku ingin nasi goreng buatanmu lagi," rengek Aura ditambah lagi dengan senyum merajuknya, sayang, Damaresh tak melihat itu, karena keduanya sedang bicara di telepon. Kalau melihatnya lelaki itu pasti akan menarik ujung hidung istrinya karena gemas.
"Ya dua jam lagi, aku pulang ya, tunggu!"
"Awas kalau sampai lewat dua jam," Ancam Aura.
"iya..iya." suara Damaresh terdengar menahan sabar, dan terdengar juga helaan nafasnya di akhir ucapan.
Dan, Tatapannya lalu beralih ke dalam ruang meeting, dimana semua anggota direksi sama-sama menunggunya untuk menuntaskan teleponnya dulu, ketika sang bos besar masih harus menjeda pembahasan saat ada panggilan telepon dari istrinya
yang tak bisa diabaikan.
Pasalnya, kemarin Damaresh harus membujuk istrinya hampir setengah jam untuk berhenti menangis, karena teleponnya yang tidak di angkat oleh Aresh yang sedang dalam perjalanan pulang, dalam posisi ia menyetir sendiri.
Tak ingin hal itu terulang, Damaresh memilih keluar sejenak dari ruang meeting demi Menerima telepon dari istrinya itu, yang tak disangka kepentingannya hanya ingin minta dibuatkan nasi goreng.
"Kau istirahat dulu, Arra. Aku mau lanjut meeting."
"Baiklah." Aura menjawab patuh.
"Sini keningnya dulu, Sayang," pinta Aresh di telepon.
"ini..." sahut Aura dengan senyum terkembang.
"Muaaccchhh,"
ciuman jarak jauh di berikan, Aura terlihat senang.
"Aku lanjut dulu ya, Yanng.."
Dan sambungan telepon pun di matikan.
Entah sudah berapa lama Aura tertidur di sofa menunggu kedatangan Damaresh yang berjanji untuk pulang cepat demi untuk membuatkan nasi goreng keinginannya. Ia terjaga dengan sendirinya karena rasa lapar yang melilit perutnya.
Aura melangkah menuju pantry untuk mendapatkan makanan yang bisa mengganjal perutnya. Tapi di sana ia justru melihat sosok lelaki dengan tubuh tinggi tegap sedang sibuk memasak.
Aura segera bergegas memeluk tubuh itu dari belakang . "Kau sudah pulang? kenapa aku tak dibangunkan?"
"Sudah bangun, Sayang?"
"Hmmm." Aura mengangguk lalu berpindah posisi berdiri di hadapan suaminya. "Gak cium aku dulu?"
tuntutnya pada Aresh dengan wajah sedikit di tekuk.
Aresh segera memberinya ciuman singkat di kening. "Dikit amat." Aura malah manyun.
Aresh kembali men-jeda gerakan tangannya yang sedang mengaduk nasi goreng di atas wajan itu untuk kembali memberikan ciuman di wajah istrinya. ciuman singkat juga.
"Aah..lagi," rengek Aura.
"Ya nanti, Arra. Aku akan menciummu sampai kau tak bisa bernapas," ucap Aresh di akhiri dengan tawa. Tak bisa ia bayangkan apa yang akan terjadi jika ucapannya itu terlaksana.
__ADS_1
"Sekarang, Sayangg," pinta Aura kian merengek bahkan di sertai sedikit hentakan di kedua kakinya.
Melihat tingkah polah istrinya itu, Aresh tak dapat menahan tawa renyah, sepertinya ini bukan Aura yang ia kenal dengan sifat manja-nya sekarang, apalagi sampai merengek meminta ciuman. Tapi Damaresh menikmati itu sebagai sesuatu yang baru, bukan sebagai sesuatu yang janggal dan patut di pertanyakan.
"Nanti masakannya gosong, Arra." lelaki itu berucap lembut, tentu saja setelah meluruskan permintaan istrinya, memberikan kecupan singkat di kening dan kedua belahan pipinya.
"Kau masak apa, Aresh?"
Barulah Aura melihat pada apa yang sedang di lakukan oleh suaminya.
"Nasi goreng yang kau inginkan," sahut Damaresh.
"Ihh bau nya gak enak." Aura langsung menutup hidungnya dengan tangan, membuat Damaresh menatap istrinya itu heran.
"Kau pakai bumbu apa sih Aresh, kok baunya gak enak sekali."
"Bumbu yang seperti biasanya, Arra."
"Gak..itu pasti beda, baunya gak enak sekali, aku gak suka," putus Aura.
"Arra." Damaresh jadi melongo heran. Biasanya dari jarak beberapa meter saja bila Damaresh sedang membuatkan nasi goreng itu, Aura akan mengatakan suka dengan aromanya, apalagi setelah menikmati masakannya. Tapi sekarang, istrinya itu justru menutup hidungnya dan merasa tidak suka, padahal belum berlalu beberapa jam ketika ia menelepon dirinya yang sedang meeting hanya untuk meminta dibuatkan nasi goreng.
Aura bahkan menjauh dan hampir menubruk Dirga yang masuk begitu saja sambil membawa sepiring olahan sosis buatannya.
"Maaf, Mbak Aura."
"Pak Dirga, itu apa?" tanya Aura terlonjak melihat apa yang dibawa oleh Dirga.
"Olahan sosis, Mbak."
"Kelihatannya sangat enak," puji Aura dengan mata berbinar dan selera makannya yang mendobrak-dobrak minta di puaskan.
"Kalau mbak Aura mau, silahkan!" kata Dirga sambil menatap tak nyaman pada Damaresh yang tengah memperhatikan interaksi keduanya dengan tatapan tajam.
"Benarkah? terima kasih, Pak Dirga." Aura segera menyambar piring sosis di tangan Dirga dengan cepat.
"Apa-Apaan ini Arra!" Damaresh segera merebut piring berisi olahan sosis itu dari tangan Aura.
"kau tidak suka makanan seperti ini, kenapa tiba-tiba sekarang malah ingin makan ini?"
"Aku ingin memakannya sekarang Aresh, aku sudah sangat lapar," ucap Aura setengah merengek dan setengah memohon.
"Aku suka Aresh, itu terlihat lebih enak, dari pada nasi goreng buatanmu," ungkap Aura dan dengan cepat menarik piring itu lagi dari tangan Damaresh.
"Apa?!" Damaresh terlihat shock dengan ucapan Aura. "Kau membandingkan aku dengan Dirga?"
"Maaf Tuan muda, Nona pasti tak bermaksud demikian," ucap Dirga segera yang kawatir akan kemurkaan tuan muda-nya.
"Aura, kau ingin makanan ini?" Claudya datang tepat waktu dan ia segera memberikan piring makanan itu pada menantunya.
"Iya, mommy, aku sangat ingin memakannya."
Aura segera menerima piring itu dan sebelum duduk dengan sempurna, wanita itu segera menyantap makanannya dengan lahapnya.
Terlihat Damaresh mendengkus menahan kesal.
Claudya mengusap pelan pundak putranya itu.
"Biarkan dia menikmati makanan yang diinginkannya, Aresh."
Damaresh mengangguk pelan, dia berusaha mengalah dari amarahnya sendiri demi dilihatnya, istrinya menyantap makanannya dengan begitu lahap, hingga makanan yang selama ini tidak pernah disukainya itu, tandas.
"Sudah sayang?" Claudya menghampiri dan mengusap pundaknya.
"Sudah Momm, Alhamdulillah rasanya sangat enak dan sekarang aku kenyang," sahut Aura dengan raut wajah senang dan puas.
"Ayo ikut mommy sekarang," ajak Claudya.
"Sebentar, Momm, aku ingin buang air kecil dulu,"
sahut Aura.
"Justru itu, Sayang, ayo ke kamar kalian saja."
Aura mengangguk, Claudya segera menuntun tangannya setelah terlebih dahulu memberi isyarat pada Damaresh untuk mengikuti pula.
Setiba di kamar mereka.
__ADS_1
"Pakai ini, Arra." Claudya meletakkan beberapa benda di tangan Aura yang sudah melenggang hendak masuk ke kamar mandi.
"Pakai ini?" Aura menatap heran beberapa benda tersebut dan berganti menatap Claudya dengan pandangan penuh tanya.
"Ya, pakailah. Kamu tentu tau caranya, kan? di situ ada petunjuknya, atau kalau kau tidak bisa, biar aku bantu."
"Gak usah, Momm. Aku bisa."
Aura segera masuk ke dalam kamar mandi dengan membawa beberapa benda pemberian Claudya di tangannya.
"Mommy, kenapa menyuruh Arra pakai test pack?"
Damaresh segera menegur ibunya setelah tubuh istrinya hilang di balik tembok kamar mandi.
"Apa kau tidak sadar dengan sikap istrimu belakangan ini, Aresh?" Claudya malah balik tanya.
"Dia lebih sensitif dan sangat manja, mood nya juga berubah-ubah tanpa sebab," tutur Claudya.
"Apa itu masalah, Momm? aku suka dengan sikap Arra yang manja itu," sahut Aresh.
"Tapi kau harus bisa membedakan, mana sifat aslinya, dan mana yang patut di pertanyakan."
"Lalu?" Damaresh terlihat belum paham arah pembicaraan ibunya.
"sudah berapa lama istrimu terlambat datang bulan?"
Pertanyaan Claudya itu membuat Damaresh mengerutkan kening, dan sejurus kemudian ia menjadi mondar-mandir kesana kemari layaknya setrika pakaian.
"Sayang, buka pintunya! kenapa kau sangat lama sekali di dalam sana, Ara?"
Tak tahan dalam perasaan gelisah, Damaresh segera mengetuk pintu kamar mandi yaang tertutup rapat itu.
"Kita tunggu sebentar, Aresh." Claudya mengingatkan.
"Ini sudah lewat lima belas menit, Momm."
Damaresh kembali mengetuk pintu kamar mandi itu, setelah panggilannya tak mendapakan sahutan dari Aura.
"Sayang, kalau kau tak mau keluar juga, aku dobrak pintunya ya!" ancam Damaresh dengan perasaan kacau.
Dan ternyata, ancamannya berhasil, pintu perlahan terkuak dari dalam, menampilkan Aura yang keluar dengan wajah basah bersimbah air mata.
"Sayang, apa yang terjadi, hmmm..kenapa kau menangis?" tanya Aresh dengan nada memburu seiring rasa khawatir yang memuncak melihat tangisan istrinya, jari-jemarinya segera dengan lincah menghapus air mata di wajah itu.
"Katakan ada apa!"
Aura tak menjawab, tapi kedua tangannya segera terangkat memperlihatkan beberapa test pack di tangannya. Dari sekitar lima buah test pack, empat
di antaranya memperlihatkan dua garis biru.
"Subhanallah.." Tak ada kata apalagi yang terucap dari bibirnya saat melihat semua itu, selain mengagungkan kebesaran nama Tuhan. Dan kedua lengannya segera menarik lembut tubuh istrinya dalam dekapan, tangis Aura pecah dalam pelukan suaminya.
Untuk beberapa jenak, Damaresh juga tak mampu berucap apa-apa. Hingga terdengar ucapan Aura di sela isak tangisnya.
"Aku diberi kepercayaan lagi, setelah dulu aku tak dapat menjaganya."
"Iya sayang." Aresh mengangkat wajah Aura dan menatapnya lembut. "Kita jaga dia, dia amanah, Allah memberikan amanah itu pada kita, karena kita dianggap telah mampu menjadi orang tua."
Aura mengangguk dengan tersenyum. "Terima kasih, Ayah," ucapnya.
"Terima kasih juga, Bunda," sahut Aresh dengan senyum yang juga merekah.
"Aresh." Claudya menginterupsi putranya yang sedang saling memandang penuh cinta dengan istrinya.
"Mommy boleh peluk mantu mommy, gak?"
Aresh mengangguk dan melepaskan pelukannya pada Aura. Claudya pun membawa tubuh menantu-nya ke dalam pelukan hangat penuh rasa haru dan bahagia.
********
********
***********
Sudah lengkap kan...
Sudah sempurna perjalanan cinta Aresh dan Arra.
__ADS_1
Mohon doanya ya..untuk dua pasangan ini, yang sudah meminta padaku, agar kisah mereka tak lagi di publish, karena ingin memiliki lebih banyak privasi katanya..
ini kataku, lho...