Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
88. Arra-ku.


__ADS_3

"Demi apa?"


Anthoni menatap sepupunya dengan tangan bersedekap.


"Apa?" Damaresh balik tanya.


"Kau melakukan semua ini, demi apa?" Anthoni mengulang pertanyaannya dengan lebih jelas lagi.


"Demi sesuatu yang kuanggap benar," sahut Damaresh dan kembali memperhatikan berkas-berkas di depannya dengan seksama.


"Ckk." Anthoni berdecak sambil membuang pandang.


"Pandai sekali berkilah," cibirnya.


Damaresh tak memberi tanggapan, fokusnya juga tak teralihkan.


"Akui saja Aresh! Kalau kau sudah jatuh cinta, sejatuh-jatuhnya pada Aura, Istri shalihah-mu itu."


Anthoni mengarahkan tatapan lagi pada sepupunya yang masih bertahan dengan mode diam.


"Aku benar, kan?" Anthoni mencondongkan tubuhnya untuk mendapatkan jawaban.


Sikap Anthoni itu berhasil mendapatkan perhatian Damaresh yang segera menatapnya kesal.


"Penting ya, untuk dibahas? Toh, aku jatuh cinta pada istriku sendiri, bukan orang lain," ucapnya.


"Nah itu." Anthoni mengarahkan jari telunjuknya pada Damaresh. "Pengakuan seperti itu yang ingin aku dengar, Aresh," katanya di iring senyum.


"Karna dulu aku sempat berpikir kalau kulkas berjalan sepertimu itu tidak akan merasakan jatuh cinta," lanjut Anthoni


Sambil tergelak dengan perumpamaan yang ia sematkan buat sepupunya itu.


Kulkas berjalan itu sebenarnya sebutan untuk Damaresh dari beberapa wanita yang tak digubrisnya dan berakhir dengan mengadu sambil menangis di pundak Anthoni. Biasanya setelah itu Anthoni akan memacari wanita yang sesuai dengan typenya dari jajaran wanita yang ditolak Damaresh itu walau cuma satu minggu. Hal itu dilakoninya dengan senang hati sebelum akhirnya ia bertemu Vriska dan jatuh cinta padanya.


"Ternyata sekalinya jatuh cinta kau memperjuangkan dengan cara yang luar biasa, aku kagum padamu, Aresh. Tak seperti aku yang bisanya hanya main petak umpet," ucap Anthoni sambil mencibir. Tentunya itu adalah cibiran pada dirinya sendiri. (Lucu ya si Anthoni)


"Tapi di awal-awal kau juga main petak umpet sepertiku," ujar Anthoni lagi sambil terkekeh.


"Itu karna aku belum tau perasaanku," sahut Damaresh.


"Dan setelah tau perasaanmu, kau memperjuangkannya sedemikian rupa, Kau sangat menginspirasi, Aresh." Anthoni mengulurkan tangannya hingga melewati meja yang menjadi pembatas antara dirinya dengan Damaresh untuk memberikan tepukan lembut di pundak


Sepupunya tersebut.


Damaresh sedikit memiringkan tubuhnya menghindar seraya melabuhkan tatap tak suka.


"Tapi Aresh, kau sudah pikirkan masak-masak hal ini?"


Anthoni mulai membuka pembicaraan serius. "Aku tau kemampuanmu, aku dan Edgard tidak ada apa-apanya jika dibandingkan denganmu, tapi mengambil alih BLC Corp dalam waktu seminggu hampir dikata mustahil, Aresh," ucapnya lagi.


Damaresh meletakkan beberapa berkas di tangannya itu ke atas meja dan mulai menyimak ucapan Anthoni dengan seksama.


"Normalnya kita butuh strategi yang matang yang tak hanya bisa dilakukan dalam masa sebulan, Aresh, bahkan bisa satu tahun. Sedangkan kakek saja, yang jauh lebih senior dari kita, tak bisa menaklukkan BLC," ucap Anthoni lagi yang memang harus diakui kalau itu, benar.


"Terima kasih telah mengingatkanku, tapi semuanya memang sudah kuperhitungkan," sahut Damaresh datar.


Keputusannya sepertinya memang sudah final, tak perduli dengan bahaya besar yang mungkin telah menghadang di depan.


"Dalam waktu sesingkat ini?" Anthoni terlihat tak percaya.


"Tidak juga."


"Lalu?"

__ADS_1


"Kau lihat saja, apa yang akan terjadi."


"Kau bisa memberitauku apa rencanamu, Aresh. Kita partner sekarang, kau tau kan, aku yang diutus kakek untuk membantumu di sini,"


"Untuk hal ini, aku tak bisa mempercayai siapapun," jawab Damaresh, selanjutnya ia melihat jam tangannya dan berkata pada Anthoni.


"Kau bisa keluar dulu sekarang, aku ingin menelfhon seseorang."


"Baiklah," Anthoni segera bangkit dari duduknya. "Sampaikan salamku padanya," ucapnya lagi setelah tubuhnya berdiri sempurna.


"Aku tau kau mau menelfhon Aura, kan?" tebak Anthoni menjawab tatap tanya Damaresh sebelum ia membalikkan tubuhnya. Dan tebakan yang benar oleh Anthoni itu ditanggapi oleh Damaresh dengan diam.


********


*********


Cahaya putih menyeruak dari samping bantal, disusul irama lembut yang menguar di pendengaran, Aura membuka matanya perlahan, dan segera tangannya terulurkan, segera benda pipih yang tergeletak di sana, kini telah berpindah dalam rangkuman kelima jarinya.


Rasanya, sepasang netra teduh itu belum sanggup terbuka sempurna, karna memang baru juga bisa pejamkan mata, setelah berkali-kali jiwa di rejam galau


menunggu kabar berita.


Tapi, tatkala satu nama terteta di layarnya, menginformasikan siapa pengganggu mimpi lena-nya,


Sontak, kedua netra itu terbuka sempurna, seiring semangat yang langsung terpompa di dada.


"A-Aresh," sapanya yang tergesa malah membuat suaranya terbata.


"Arra."


benar, itu suara yang sangat ia rindukan, Aura segera tersenyum senang.


"Kau sudah sholat malam?"


Pertanyaan Damaresh itu membuatnya Aura terpana, dan segera menggiring pandang pada jam di atas nakas, jam tiga dini hari lewat sekian. Memang tepat waktu istikomahnya melakukan sholat malam.


"kenapa diam, Arra?"


"Ah i-iya, aku sedikit terlambat bangun, jadi -- sekarang


aku belum melaksanakan sholat," jawab Aura segera.


"Kenapa terlambat bangun? apa kau susah tidur?"


"Ya, Aresh ... "


"Apa kau sakit?"


"Tidak. Aku sehat-sehat saja, hanya saja aku selalu menunggu-nunggu kabar darimu," ucap Aura pelan. Dan kini sepasang matanya mulai terlihat mengembun.


"Maaf--"


Satu kata terucap dari Damaresh, satu kata saja, yang diterima Aura dengan menggigit bibir bawahnya.


Sebelum pergi, Aresh memintanya untuk tidak menelfhon lebih dulu, tapi tunggu saja kabar darinya.


Nyatanya Aresh tak sekalipun menelfhonnya, hingga empat hari berlalu sejak kepergiannya.


Dan kini ia hanya mengucap kata maaf singkat saja tanpa memberi penjelasan akan apa yang menjadi alasan dibalik tindakannya. Sedangkan Aura tak


sedikitpun meninggalkan ponselnya, bahkan ketika mandi dan berwudhu juga tetap dibawanya, karna kawatir kalau-kalau Damaresh menghubunginya.


"Aku rindu, Arra."

__ADS_1


Tiga kata diucapkan Damaresh yang segera menguapkan segenap rasa sebak dalam dada Aura.


Bahkan segera senyum terkembang di bibirnya ketika berbalas kata.


"Aku juga rindu, Aresh."


Ungkapan Aura di-iring titik bening yang jatuh di belahan pipinya.


Aura, kau tak tau saja, kalau di seberang sana, Aresh sedang berjuang agar kalian tetap bisa bersama.


Suamimu itu memang sosok yang kaku, yang tak mudah mengungkapkan perasaannya secara verbal padamu, tapi telah banyak hal yang ia buktikan, kalau kau begitu berharga di matanya.


"Kau tak lupa berdoa untukku?"


"Selalu.Tidak hanya setiap usai sholat, Aresh, tapi tiap kali aku teringat padamu, aku pasti mendoakanmu."


"Lalu, berapa kali kau ingat padaku?"


"Tak terhitung."


"Dari angka satu sampai sepuluh?


"Jauh di atas itu, atau mungkin dulu waktu sekolah nilai MTK-ku jellek ya, sampai aku gak bisa menghitung jumblahnya berapa kali aku ingat padamu," ucap Aura terdengar diselingi tawa.


"Aku suka mendengar tawamu, Ara."


Sesaat tak ada kata apa lagi yang terdengar dari seberang, hingga Aura memanggil, kalau-kalau Damaresh sudah memutus panggilan.


"Arra, jam tuju pagi, berangkatlah ke Surabaya, Dirga akan mengantarmu!"


"Ada apa, Aresh?" tanya Aura mulai dengan rasa was-was.


"Kau kan sudah lama tidak menjenguk ayah,"


"Ya, aku rindu pada ayah, aku sangat ingin menjenguknya, tapi bukan itu saja alasannya, kan, kau tiba-tiba menyuruhku pergi ke Surabaya," tebak Aura


di iring Expresi panik yang tergambar di wajahnya.


"Ada apa, Aresh?" tanya Aura lagi, karna tak ada sahutan dari Damaresh atas ucapannya barusan.


"Tidak ada apa-apa Arra, hanya saja selagi aku masih ada di sini, aku pikir lebih baik jika kau tinggal di Surabaya."


"Apa kau masih lama di sana?"


"Aku usahakan tidak lama."


"Aku kawatir, Aresh," ucap Aura dengan suara bergetar.


"Jangan nangis!"


"Aku tidak nangis, aku hanya --" Dan Aura segera memutus ucapannya karna air mata yang kembali menetes.


"Kau mau aku terbang ke Jakarta sekarang? untuk menghapus air matamu?"


"A-aku sudah tidak nangis lagi, kok." Aura menarik napasnya pelan.


"pintar, sekarang sholatlah, aku mau lanjut pekerjaan,"


"A-Aresh"


"Ya"


"Jaga dirimu di sana ya," pinta Aura.

__ADS_1


"Ya, kau juga baik-baik di sana, Arra-ku."


Dan panggilan pun terputus, setelah terlebih dahulu mengucap syukur, Aura segera beringsut untuk melakukan sholat malamnya, kali ini dengan semangat yang lebih membara untuk mendoakan suami di seberang sana.


__ADS_2