Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
21. Jangan saling jatuh cinta


__ADS_3

Setelah semua kerabat yang di minta datang oleh Lukman untuk menjadi saksi akad nikah putrinya itu pulang, Lukman menghampiri Damaresh dan Kaivan yang duduk berdua di teras.


Keduanya memang langsung menyisih keluar ruangan setelah rangkaian acara yang dilakukan dengan sangat sederhana itu selesai.


Dan kini mereka sedang bicara serius bukan soal perkara barusan tapi tentang pekerjaan yang terpaksa ada beberapa yang harus di tunda gara-gara sang bos besar harus menjalani acara nikah dadakan.


"Kenapa tidak bicara di dalam saja?" Lukman berdiri di tengah pintu menatap keduanya.


"Ah iya pak, di sini lebih segar," Kaivan yang menjawab.


sedangkan Damaresh, ia hanya melihat saja.


Lukman melangkah mendekati dan kali ini tatapannya terarah pada Damaresh saja "Kalau kau mau beristirahat, kamar Aura ada di sana!" Lukman menunjuk kamar nomer dua dalam rumahnya. Bahasanya terdengar sedikit canggung.


"Iya. Terima kasih" sahut Damaresh.


"Dan kamu," Lukman mengalihkan pandangan pada Kaivan "Bisa tidur di kamar depan," Lukman sepertinya masih bingung akan memanggil apa pada ledua lelaki itu, haruskah tetap memanggil bapak seperti biasanya atau tidak.


"Terima kasih pak, tapi saya akan tidur di hotel saja,"


jawab Kaivan.


"Baiklah," Lukman mengangguk dan segera ke dalam.


sepeninggal ayah Aura itu keduanya melanjutkan pembicaraan hingga setengah jam kemudian.


"Sebaiknya kau istirahat Aresh,"


"Baru jam Sembilan,"


"Ini malam pengantinmu bos," Kaivan menaikkan sebelah alisnya.


Damaresh berdecak tidak senang. "Bawakan baju ganti untukku Kai!" titahnya.


"Jadi aku harus kembali kemari?" padahal Kaivan sudah tampak sangat kelelahan sekali.


Damaresh mengangguk tanpa rasa bersalah.


"Baiklah. Untuk malam pengantin sahabatku." Ujar Kaivan tergelak. Damaresh hanya menatap datar tak


berminat untuk menjawab.


****


Entah sudah berapa lama Aura berdiri di depan jendela dengan pandangan menerawang keluar seakan hendak menembus pekatnya malam. Ponselnya masih belum lepas dari genggaman, setelah mendapat pesan tertulis dari Akhtar barusan.


Pikirannya masih mengulang berkali-kali apa yang telah dikatakan Akhtar.


Selamat, akhirnya menjadi wanita yang halal untuknya.


hanya sayangnya, kalian sudah membuka hadiah sebelum waktunya. Tapi semoga saja pernikahan kalian berkah.


Dalam kalimat yang diucapkan oleh Akhtar itu ada

__ADS_1


ucapan selamat, ada sindiran dan ada do'a. Tapi entahlah, bagi Aura semuanya adalah kalimat sindiran


yang membuat perasaannya sakit, terlebih masih ada


nama Akhtar di sisi hatinya saat ini. Entah dari siapa


mantan calon suaminya itu tau, kalau dirinya menikah


malam ini.


Pintu kamar dibuka dari luar, Aura segera menoleh. Damaresh berdiri di tengah pintu dengan menyampirkan jas nya di lengan, dua kancing kemejanya bagian atas dibiarkan terbuka, mungkin lelaki itu kegerahan karna di rumah Aura memang tidak terdapat AC.


"Ini kamarmu?"


Aura mengangguk. Lelaki itu mengedarkan pandangan menatap seluruh isi kamar, sesaat. Tentu saja hanya sesaat, karna tak ada hal yang menarik pandangannya


dalam kamar itu, selain ruangan yang tak terlalu lebar dan perabotan yang sederhana.


Aura melangkah sedikit ragu ke arahnya. Tepat setelah tiba di depannya, gadis itu menunduk meraih tangan Damaresh.


"Mau apa?" Lelaki itu segera menepis tangannya.


Aura meraih tangan itu kembali dan mencium punggung tangan itu singkat. Damaresh sedikit menahan nafas dengan perlakuan gadis itu.


"Maaf baru bisa melakukannya sekarang," ucap Aura setelah melepaskan tangan Damaresh kembali. Raut mukanya tampak sendu ia juga menghindari kontak mata dengan Damaresh.


Setelah ijab-kabul satu jam yang lalu dimana kata sah menggema dari ruang tamu, Aura tetap memilih diam saja di dalam kamar hingga saat ini.


"Memang harus?"


melangkah menjauh dan lalu duduk di pojok tempat tidurnya yang tak seberapa besar sambil memberi isyarat pada Damaresh untuk duduk di sofa tunggal yang terdapat di sana, tidak enak juga hanya berdiri saja dari tadi.


"Jangan terlalu berharap pada pernikahan ini," ucap Damaresh sambil menatap Aura dengan seksama.


Melihat gadis itu diam saja bahkan juga tidak terlihat terkejut, Damaresh melanjutkan ucapannya.


"Aku melakukan ini hanya untuk memenuhi permintaan ayahmu, dan juga menjawab tantanganmu dulu padaku, di apartemen Kai, Kau tentu masih ingat."


"Saya ingat," sahut Aura singkat masih tetap dengan mode menghindari bersitatap dengan Damaresh.


Karna di dalam cermin matanya jelas ada luka yang ia tak ingin lelaki yang secara agama sudah shah menjadi suaminya itu bisa membacanya.


"Ini hanya sebuah pernikahan rahasia yang tak boleh diketahui oleh siapapun," ucap lelaki itu lagi dengan tanpa beban. Tentu saja Aura sadar, kalau Damaresh tak akan pernah memberitaukan pernikahan mereka ini pada khalayak luas bahkan juga terhadap keluarganya sendiri. Aura tau itu meski tanpa Damaresh memberitaukannya.


Gadis cantik itu menghela nafas.


"Setidaknya terima kasih, bapak sudah menyelamatkan saya dan ayah saya dari aib." ucap Aura tulus dari hatinya yang paling dalam, meski ia tau Damaresh tidak akan bisa menghargai itu, andaipun dia tau.


"Silahkan bapak tuliskan poin-poin apa saja yang harus saya patuhi dalam pernikahan ini!"


tukas Aura dengan tegas, karna biasanya akan terjadi seperti ini sebagaimana kisah-kisah pernikahan terpaksa yang pernah dibaca Aura dalam novel. Kedua belah pihak akan membuat perjanjian yang harus di patuhi selama menjalankan pernikahan baik secara tertulis ataupun tidak.


"Tidak ada, karna aku rasa kau cukup cerdas untuk memahami semuanya. Kecuali satu hal,"

__ADS_1


"Apa"?


"Jangan saling jatuh cinta!" Damaresh berucap dengan penuh penekanan.


"Apa itu artinya bapak kawatir kalau nantinya akan jatuh cinta sama saya?" Aura menatap Damaresh penuh tanya.


"Gak usah balik tanya, cukup kau patuhi saja," jawab


Damaresh dengan tatapan tajam.


"Jika cinta itu hanya tentang logika saja, saya tidak akan jatuh cinta pada bapak. Tapi cinta itu tentang hati,


sedangkan hati itu ranah kekuasaan Allah, hanya Dia saja yang kuasa membolak-balikkan hati,"


"Jangan ceramah!" Ketus Damaresh sambil kembali melayangkan tatapan tajamnya.


Aura mengangguk.


"Baiklah," jawabnya. " Silahkan bapak kalau mau mandi, tapi maaf kamar mandinya hanya seadanya," Aura memberi isyarat pada kamar mandi kecil di pojok kamarnya.


"Aku menunggu Kai, dia akan datang membawakan baju ganti untukku."


"Kalau begitu saya akan membersihkan kamar tamu


untuk bapak bisa beristirahat,"


Dalam rumah itu memang terdapat tiga kamar tidur,


satu kamar ditempati Lukman, satu lagi ditempati Aura, tersisa satu kamar kosong di depan, pasti itu yang dimaksud Aura sebagai kamar tamu.


"Bagaimana kalau ketahuan ayahmu? dia yang menyuruhku untuk tidur di sini,"


"Ayah pasti sudah tidur, beliau tidak akan tau kalau bapak tidur di kamar depan."


"Baguslah," Damaresh tampak menghela nafas lega.


"Tapi kenapa takut ketahuan ayah?" Aura bertanya penuh rasa penasaran.


"Dia ayahmu, aku hanya menghargainya saja."


Aura tersenyum tipis menatap Damaresh "Syukurlah,


itu saja sudah lebih dari cukup," ujarnya dan segera keluar kamar untuk membersihkan kamar depan yang di maksud.


*****


**Assalamu alaikum semuanya.


Aku mau memberitaukan, kalau cerita CIntaku terhalang tahtamu ini, sedang proses pengajuan kontrak. Maka setelah ini aku akan libur Up dulu ya sampai lulus kontrak.


Minta doanya juga ya teman-teman semoga tidak terlalu lama.


Jangan lupa dukungannya selalu untuk cerita ini.

__ADS_1


aku tunggu.


wassalamu alaikumm**


__ADS_2