Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
81. Trik.


__ADS_3

Wanita cantik itu berdiri menyandar pada mobil mewahnya, tatapannya terarah pada seorang gadis berhijab yang baru saja keluar dari gedung L&D Foundation. gadis yang melangkah teratur dan kepalanya menunduk itu tak sadar kalau tengah ada seseorang yang telah menunggunya sejak lima belas menit lamanya.


Wanita itu segera menghadang langkahnya cepat, tatkala si gadis hendak mencapai mobil jenis Toyota camry yang sudah menunggunya dari tadi.


"Nyonya Claudya?" Aura terhenyak.


"Ya Aura, kau baru selesai rupanya," jawab Claudya sambil menyunggingkan senyuman, senyum yang tak bisa terbaca maknanya, yang tak terkesan lembut dan juga tak terkesan ramah, senyuman khas seorang Claudya Willyam yang membuat orang lain enggan mendekatinya, kalau tidak berasal dari circle yang sepadan dengannya.


"Nyonya ada keperluan dengan saya?"


"Tentu saja. Mari kita bicara di dalam mobil saja," ajak Claudya sambil memberi isyarat mata pada sang sopir yang berdiri di samping mobil mercy itu untuk membuka pintu.


"Nona!"


Lutfi, sopir yang biasa mengantar jemput Aura itu memanggil tertahan, tatkala melihat nona-nya hendak masuk ke dalam mobil mewah milik Claudya.


"Tidak apa-apa Lutfi, Nyonya Claudya ada keperluan denganku," ujar Aura yang mengerti kekawatiran sopirnya.


Lutfi mengangguk pelan, tapi tatapannya tampak ragu.


"Kalau kau kawatir pada nona-mu, kau boleh ikuti mobilku," saran Claudya.


Yang segera di setujui oleh Lutfi dengan anggukan cepat. Lutfi tentu akan mengikuti saran itu, dari pada dia pulang sendiri tanpa Aura, sampai di rumah, Dirga pasti akan murka.


"Harusnya aku menemuimu lagi dua hari yang lalu, sesuai janjiku." Claudya membuka percakapan setelah mobil mewahnya itu melaju meninggalkan halaman yayasan L&D.


"Untungnya Nyonya tidak kesini dua hari yang lalu, karna saya baru masuk kerja mulai kemarin," sahut Aura.


"Ku dengar kau ke luar negeri," kata Claudya. Ia sepertinya tengah berusaha membangun komunikasi dengan Aura, meski dalam setiap ucapan yang ia lontarkan, wajahnya tetap menatap lurus ke depan saja, hanya sesekali, ujung matanya melirik Aura.


"Ya, dan saya tidak enak badan setelah kembali dari sana," tutur Aura memberitaukan apa adanya.


"Mungkin karna kau belum pernah ke luar negeri sebelumnya."


Aura mengangguk, bisa menempuh perjalanan memakai pesawat terbang, dulu itu satu hal yang sulit bagi Aura, apalagi sampai bepergian ke luar dari negara tercinta Indonesia Raya.


"Kita mau kemana, Nyonya?" tanya Aura kemudian, satu pertanyaan yang ingin ia ucapkan dari awal, sejak menyadari kalau mobil mercy itu melaju.


"Kau kawatir aku culik?" tebak Claudya


Sambil menatap Aura.


"Maaf, Nyonya. Saya tak bermaksud begitu," sahut Aura lembut meski sebenarnya sempat terbersit kekawatiran seperti yang diucap oleh Claudya.


"Kau tenang saja, kalaupun aku ingin menculikmu, orang-orangnya Aresh pasti akan bisa menemukanmu." Claudya kembali melempar tatap ke depan. "Anak itu lebih pintar dari yang aku duga," lanjutnya.


Aura diam saja tak memberi tanggapan untuk ucapannya kali ini.


"Ku dengar dia juga sudah kembali dari London," ucap Claudya lagi.


"Ya semalam."


Selanjutnya tak ada lagi pembicaraan diantara keduanya hanya sesekali Claudya memberi interuksi pada sopirnya terkait tujuan perjalanan mereka.


*************


***********"**


***********


Clara gegas menghampiri saat dilihatnya Damaresh keluar dari ruangannya.


"Pak, ada telfhon!"


"Dari siapa?"


"Nyonya Claudya."


"Lagi?" Damaresh menatap Clara tajam.

__ADS_1


Pasalnya ini sudah yang ketiga kalinya Clara memberitaukan kalau Claudya menelfhonnya, dan ketiga kalinya pula Damaresh menolaknya.


"Kau sudah tau, kan jawabanku, Clara?"


"Tapi ini lain, Pak." Clara cepat menghadang langkah Damaresh yang hendak berlalu. Kendati tatapan tak suka yang kembali didapatkannya akibat caranya itu, Clara tak surutkan niat untuk memberikan telfhonnya.


"Ini, Mbak Aura yang bicara, Pak," tutur Clara.


Damaresh sejenak diam berpikir sebelum keburu meraih telfon di tangan Clara.


"Hallo"


"Hallo Aresh." suara jawaban dari seberang dan benar itu memang suara Aura.


"Arra? Apa kau sedang bersama wanita itu sekarang?" tanya Damaresh cepat.


"Aresh, nyonya Claudya ingin bicara denganmu," ucap Aura tanpa memberi kesempatan pada Damaresh untuk menjawab lebih dulu. Dan tak lama kemudian suara Claudya yang menyeruak di dalam pendengarannya.


"Kau jemput Aura kesini, Aresh, aku tadi mengajaknya jalan-jalan."


"Apa yang kau lakukan pada Aura?" tanya Damaresh tajam.


"Kau akan tau sendiri nanti," sahut Claudya santai.


"Di mana kau sekarang?"


"Apa tidak ada yang melaporkannya padamu, kalau aku membawa Aura?"


Claudya terdengar berdecak.


"Kali ini kau lalai menjaga istrimu, Aresh," lanjutnya terdengar mencibir.


Damaresh mengepalkan tangannya geram, expresi wajahnya pun tampak mengeras. Bahkan ia segera memutus telfhonnya begitu saja, lalu segera bergegas pergi sambil meraih smartphonnya sendiri dari dalam saku baju dan mulai menghubungi seseorang.


"Hallo Stefan," ucapnya memburu begitu panggilaannya mendapat jawaban.


"Iya, hallo Pak."


"Anu Pak, saya pikir Bapak sudah tau, karna Lutfi mengikuti perjalanan mereka," jawab Stefan.


"Lutfi?"


"Iya, sopirnya Mbak Aura, Pak."


"Baiklah, di mana mereka sekarang?"


"Di rumah Bogor, Pak."


Lagi Damaresh berdecak kesal menyadari ibunya telah membawa Aura sejauh itu. Alhasil ia harus berkendara selama kurang lebih satu setengah jam untuk segera tiba di sana, itupun bila ditempuh lewat tol Jagorawi, dan bila tak terjebak macet tentunya.


Tapi semua tentu masih ingat bagaiamana cara menyetir Damaresh kalau sedang terburu-buru?


Ya, jarak satu setengah jam itu bakalan bisa ia tempuh separuhnya saja.


Dan benar saja, sekitar pukul 16 ia sudah tiba di rumah yang pernah ditempati oleh Airlangga dan Claudya itu diawal-awal mereka menikah, padahal ketika ia keluar dari kantor Pramudya jam sudah menunjukkan pukul 15 lewat. Yeayy tepuk tangan untuk kehebatan Aresh ya..


"Aresh," Claudya yang sedang duduk santai itu di tepi kolam renang itu segera berdiri ketika dilihatnya Damaresh menghampirinya.


Claudya bahkan bergegas hendak memeluk putra tampannya itu karna rasa bahagia dan kerinduannya bisa melihat Damaresh lagi, tapi tentu saja sang putra segera menolaknya.


"Di mana Arra?" tanya Damaresh cepat.


Claudya menghembus napas berat menahan kecewa, sebenarnya dia tau, kalau Aresh bergegas memenuhi undangannya hanya karna Aura saja.


Itulah sebabnya ia menggunakan Aura untuk bisa bertemu dengan putranya itu. Dan trik yang dilakukannya itu berhasil. Sekarang Damaresh sudah ada di depannya, tapi hanya Aura yang tetap menjadi prioritasnya.


"Di mana, Arra?" Damaresh bertanya lebih keras begitu Claudya hanya diam saja.


"Di kamarmu, di lantai atas," jawabnya.

__ADS_1


Dan tanpa ba-bi-bu lagi, Damaresh langsung bergegas. Memang laki-laki itu pernah melewati masa kecilnya selama tiga tahun di rumah ini, rumah yang banyak menyimpan kenangan tentang sebuah keutuhan keluarga antara dirinya dengan kedua orang tuanya.


Dan ketika keutuhan itu sirna, rumah ini menjadi salah satu tempat yang enggan dikunjunginya, karna hanya dengan melihat rumah ini saja, selalu terbit harapan dalam benaknya untuk sebuah keluarga kecil yang bahagia, sayangnya semua hanya sebatas mimpi, yang kemudian berubah menjadi mimpi buruk ketika ia memergoki ibunya menjadi penyebab kecelakaan tragis yang menimpa ayahnya.


ketika pintu kamar itu terbuka lebar, terlihatlah sesosok tubuh Aura yang sedang berbaring di atas tempat tidur.


Damaresh segera menghambur mendapatinya.


"Arra," ucapnya memburu sekaligus penuh tanya dengan kedua tangan sedikit mengguncang tubuh itu.


Aura yang merasa tidurnya terganggu nampak menggeliat pelan dan mulai membuka mata. "Aresh, kau sudah datang?"


"Kau tidak apa-apa, Arra?" Damaresh segera memperhatikan tubuh istrinya itu dengan seksama, dari atas sampai bawah diperhatikannya tanpa terlewat.


"Aku tidak apa-apa," jawab Aura heran, ia bahkan segera duduk.


"Wanita itu tidak menyakitimu?"


"Maksudmu nyonya Claudya?"


"Hmm."


"Tidak. Memang kenapa Aresh?"


Sekali lagi, Damaresh menatap Aura seksama, gadis itu masih memakai utuh baju dan hijabnya, wajahnya juga terlihat cerah meski baru saja terjaga.


Tak ada tanda-tanda kalau istrinya itu sudah disakiti ataupun dilukai oleh ibunya.


"Dia kawatir aku menyiksamu, Aura," terdengar ucapan Claudya dari arah pintu yang terbuka. Aura menatap pada ibu suaminya itu sekejab lalu berpaling pada Damaresh.


"Jangan berburuk sangka, Aresh. Kami hanya sekedar mengobrol saja, terus habis sholat ashar, karna ngantuk aku tertidur di sini, kata Nyonya Claudya ini adalah kamarmu," tutur Aura.


Damaresh yang duduk di tepi pembaringan itu menoleh pada ibunya.


"Apa maksudmu membawa Arra ke rumah ini?" tanya-nya tajam.


"Karna aku ingin bertemu denganmu," sahut Claudya.


"Jadi semua ini hanya trik darimu?"


"Anggap saja begitu, Aresh. Karna hanya dengan cara ini aku bisa bertemu denganmu."


Claudya melangkah masuk ke dalam kamar itu dan berdiri di tengah ruangan.


"Cck" Damaresh berdecak kesal.


"Kurang kerjaan," sungutnya lalu menarik tangan Aura. "Kita pulang Ara," ajaknya bersiap pergi.


Tapi Aura malah menarik tangan lelaki itu mencegahnya untuk pergi. "Aresh tunggu dulu," pinta Aura.


"Mau ikut pulang denganku, atau tetap tinggal di rumah ini?" Damaresh langsung memberinya dua pilihan yang membuat Aura seketika tertunduk.


"Aresh tunggu!" Claudya segera berdiri di depan lelaki itu. "Hargai aku sedikit saja sebagai ibumu, Nak," lirihnya dengan air muka menyurut.


"Miris memang, sebagai seorang ibu harus melakukan cara seperti ini untuk bisa bertemu dengan anaknya sendiri. Tapi aku tau semua itu karna aku sudah begitu buruk dalam pandanganmu."Claudya menatap Damaresh dengan tatapan lelah penuh harap yang terangkum dalam sebentuk permohonan untuk bisa terkabulkan.


"Kali ini saja, Aresh, beri waktu untukku bicara denganmu," pintanya lagi, lebih tepatnya memohon bukan sekedar meminta saja.


"Apa yang kau mau dariku?" tanya Damaresh datar.


"Informasi tentang ayahmu, Nak. Hanya itu," kata Claudya dengan seberkas asa yang membias di tatap matanya.


"Aku menolak memberikannya padamu," tolak Damaresh tegas.


"Aresh aku mohon--" belum usai Claudya dengan kalimat permohonannya, Damaresh segera berkata tegas.


"Tinggalkan aku berdua dengan istriku!"


"Mm baiklah, aku akan menyiapkan makanan untuk kita bersama ya," kata Claudya dengan wajah berbinar

__ADS_1


dan gegas keluar dari dalam kamar.


__ADS_2