
Terdengar ketukan pintu depan berkali-kali,
Aura yang baru menuntaskan shollat dhuha segera membuka mukennah yang membalut tubuh rampingnya, tak lupa menghias wajah ayunya dengan hijab, lalu gegas menuju pintu yang ketukannya masih intesn dari tadi.
Entah siapa yang datang bertamu, jelas bukan tetangga sekitar ataupun kerabat sendiri yang umumnya mereka punya ciri khas ketika bertamu, yang tak hanya sekedar mengetuk pintu tapi juga disertai ucapan salam.
Ketika pintu dibuka Aura dari dalam, langsung menampilkan seraut wajah yang tidak di sangka akan datang bertandang.
"Tante Claudya..?"
Raut heran sangat terlihat jelas di wajah Aura melihat wanita cantik dengan penampilan elegantnya itu berdiri di depan rumahnya.
"Rupanya benar kau ada di sini, Aura," ucap Claudya diserta seulas senyuman.
"Tante mencari saya?"
"Ya, tentu saja. Apa aku boleh masuk?" Claudya mengedarkan pandang ke dalam rumah yang terlihat bersih dan rapi.
"Ooh, tentu saja Tante. Mari silahkan!"
Aura menepikan tubuhnya dan mempersilahkan dengan sopan, Claudya tersenyum, terasa hatinya menghangat dengan cara Aura yang memperlakukannya dengan hormat, walau bukan dengan sebentuk penghormatan seperti yang sudah biasa diterimanya selama ini, tapi justru terasa "lebih" yang dirasakannya di dalam hati.
" Silahkan duduk, Tante!" Aura mempersilahkan.
"Terima kasih, Aura," ucap Claudya setelah kini mereka duduk berhadapan.
" Aku dua kali mendatangi L&D untuk menemuimu, tapi temanmu bilang sudah lima hari kau cuti, dan anehnya Olivia tidak memberitaukanku kalau kau ada di sini, karna pasti dia bukan tidak tau, kan?"
" Saya tidak sempat pamit langsung pada bu Olivia, Tante."
"Oo." Claudya mengangguk dapat diduga
kalau Aura pasti terburu-buru pulang ke Surabaya. "ada apa Aura? Apa kesehatan ayahmu kurang baik?"
tanya Claudya perhatian, karna mungkin itu yang jadi alasan Aura tiba-tiba pulang ke Surabaya.
"Tidak, Tante. Alhamdulillah ayah baik-baik saja, saya-- kesini atas perintah dari Aresh," sahut Aura jujur.
Terlihat Claudya diam, ia segera mengerti kenapa Damaresh meminta Aura pulang ke Surabaya.
"Tante kapan datang dari London,?" tanya Aura segera.
"Empat hari yang lalu, aku hanya tiga hari di London, karna ya .... " Claudya menggeleng sendiri terlihat enggan untuk melanjutkan kalimatnya. Hal itu memantik rasa penasaran dalam diri Aura.
" Ada apa, Tante?"
"Gak ada apa-apa, Aura," sahutnya cepat.
"Tante ketemu, Aresh?" Aura segera mengalihkan pertanyaan, terlihat ia tak dapat menyembunyikan rasa penasarannya akan apa yang terjadi, yang tidak dijelaskan oleh Damaresh padanya.
Claudya mengangguk. "Dia tidak menelfhonmu?"
"Pernah sekali, Tante. Dan dia gak bilang apa-apa kecuali hanya nyuruh saya kesini, entahlah, kenapa saya ngerasa kawatir," lirihnya mengadukan apa yang dirasakan.
Aura sepertinya tak lagi berpikir, apakah Claudya itu adalah orang yang tepat untuk mendengarkan pengaduannya atau tidak.
Tapi yang terlihat kini, Claudya tengah memperhatikan istri putranya itu dengan seksama. "Jangan terlalu kawatir, Aura. Aresh itu punya kepribadian yang tenang, orang-orang seperti itu biasanya, akan bisa mengatasi masalah sebesar apapun," kata Claudya mencoba menenangkan.
Sebenarnya itu sugesti untuk dirinya juga, dan kata-kata itu juga baru didapatkannya sesaat sebelum berangkat menyusul Aura ke Surabaya. Itu kalimat seorang psikolog yang belakangan ini sering dikunjunginya, setelah hidupnya merasa tak tenang karna mengetahui fakta kalau ternyata Airlangga masih hidup, tapi dirinya tak bisa menemukan keberadaan suaminya itu, seberapapun banyak orang suruhan yang ia sebar untuk mencarinya.
Tapi atas kata-kata Claudya itu, justru membuat Aura semakin menegaskan dugaan yang tersimpan di benaknya.
"Jadi, benar ada masalah, Tante?"
"Semuanya akan baik-baik saja, Aura ... oya, aku membawakan sesuatu untukmu," ucap Claudya segera untuk mengalihkan topik pembicaraan yang sebenarnya juga membuat dirinya tidak nyaman.
"Apa, Tante?"
Claudya menyerahkan paper bag yang sedari tadi dijinjingnya, Aura menerimanya dan melihat isinya. Ternyata sebuah tas dari brand ternama. Claudya memenuhi ucapannya beberapa waktu lalu pada Aura.
"Wahh...!" Aura berseru senang melihat barang mahal itu. "Ini untuk saya, Tante?"
__ADS_1
"Ya, kuharap kau mau menerimanya, walau saat itu Aresh melarangnya."
" Terima kasih, Tante. Ini sangat bagus, saya suka." Wajah Aura terlihat sumringah seiring senyum yang merekah. Dan Claudya merasakan ada kesenangan tersendiri dalam dirinya melihat semuanya.
Selanjutnya, Claudya terlihat merotasi pandangan ke sekitar rumah yang terlihat sepi saja. "Apa ayahmu sedang pergi, Aura?" Tanya-nya.
"Ayah belum pulang dari kebun, Tante."
"Sebenarnya selain ingin memberikan ini padamu, tujuanku kemari juga, karna aku ingin bertemu dengan ayahmu," tutur Claudya.
"Baiklah, saya akan panggilkan ayah, Tante." Aura segera beringsut, namun cepat Claudya menahan dengan tangannya.
"Jangan aura! Biar aku menunggu saja, gak papa kok."
"Baiklah, tapi tunggu sebentar ya Tante, saya mau buat minuman dulu."
"Tidak usah repot, Aura. Tetap di sini saja kita bisa ngobrol bersama," ajak Claudya.
Selang tak seberapa lama kemudian, Lukman datang menguluk salam, menghentikan obrolan ringan yang mengalir diantara keduanya.
"Ada tamu, rupanya," kata Lukman.
"Ya, apa kabar Pak Lukman?"
Claudya segera berdiri menyambut hadirnya besan sekaligus pemilik rumah.
"Alhamdulillah, baik Bu Claudya," sahut Lukman dengan seutas senyum ramah.
"Saya ingin minta maaf, Pak Lukman, atas sikap saya tempo hari pada, Bapak. yang mungkin karna sikap saya itu, Pak Lukman sampai harus dirawat di ruamah sakit," ucap Claudya segera yang serempak membuat Lukman dan Aura saling memandang heran.
Bagi Lukman dan Aura, tak perlu sampai Claudya meminta maaf dan merasa bersalah, cukup dengan dia bersikap lebih baik saja pada Aura, itu sudah membuat mereka senang dan mensyukurinya.
Tapi itulah hukum Tuhan, siapa yang bersyukur, maka akan ditambah. Seperti Aura dan Lukman yang mensyukuri perubahan sikap Claudya, nikmat mereka ditambah dengan permintaan maaf dari Claudya juga.
Orang bilang, lebih mudah memberi maaf, daripada meminta maaf. Apalagi untuk orang yang gengsinitasnya sangat tinggi seperti Claudya, dia bisa mengajukan permintaan maaf, itu adalah sebuah keajaiban dunia yang nomer.... nomer berapa ya??
Dicari sendiri nanti, ya.
Kembali pada Claudya. Wanita itu yang hampir tak bisa diharapkan kebaikannya, kini bisa berubah 180 derajat, hampir gak percaya, kan?
Bukan perkara susah bagi Tuhan, untuk membolak-balikkan hati seseorang.
Satu hal mungkin, yang bisa kita petik dari kisah Claudya. Bahwa sebaik-baiknya seseorang dia pasti punya masa lalu. Dan seburuk-buruknya masa lalu seseorang, dia masih punya masa depan.
Betul, gak?
Diakhir adu pandang antara Lukman dan Aura atas ungkapan Claudya, keduanya sepakat mengakhirinya dengan senyuman.
Sepertinya ayah dan anak itu telah mencapai mufakat, tanpa perlu mengadakan rapat.
"Kami sudah memaafkan ibu," jawab Lukman tetap dengan seutas senyuman. "Dan masalah saya masuk ke rumah sakit, itu bukan semata-mata karna ibu, tapi
karna badan saya yang sudah ringkih akibat kurang istirahat waktu itu," imbuhnya
lagi tanpa menyalahkan siapapun.
"Terima kasih, Pak Lukman, dan terima kasih, Aura." Terlihat Claudya menarik napas lega, setidaknya berkurang satu bebannya. "Saya juga ingin meralat ucapan saya dulu, yang mengatakan kalau sampai kapanpun saya tak akan merestui Damaresh bersama Aura. Ternyata kini saya melihat kalau Aura adalah pendamping yang baik untuk putra saya," ucap Claudya lagi sambil tetsenyum pada Aura yang menatapnya haru diserta sepasang mata yang mulai mengembun.
"Alhamdulillah.." kalimat syukur itu terlontar dari Lukman seiring rasa bahagia dan kelegaan hatinya mendengar ucapan Claudya.
Seterusnya mereka terlibat perbincangan ringan hingga hampir mencapai satu jam kemudian. Saat itulah, Claudya memutuskan untuk kembali ke hotel tempatnya menginap.
Aura dan Lukman mengantar hingga wanita itu naik ke mobilnya yang lalu melaju meninggalkan halaman rumah.
Jika Lukman bergegas masuk ke dalam rumah setelah mobil yang dinaiki Claudya melaju menjauh, tapi Aura masih berdiri di tengah pagar halaman, memandangi laju mobil hingga tak dapat lagi ditangkap pandangan, sekadar untuk mensyukuri anugerah yang didapatkan.
Tetiba saja, dari arah berlainan, hadir sebuah mobil SUV hitam melaju deras ke arahnya dan berhenti tepat di depannya.
Merasa tak mengenali siapa pemilik mobil itu, dan memahami kalau pengendara mobil itu bukan orang yang punya kepentingan padanya, Aura segera memutar tumitnya untuk kembali ke dalam rumah. Namun satu panggilan, membuatnya hentikan langkah
"Mbak Aura, tunggu!"
__ADS_1
Aura segera memutar tubuhnya melihat ke arah yang memanggilnya, tapi sosok yang dilihatnya, tak berada dalam jajaran orang-orang yang dikenalnya, ataupun hanya sekedar diketahuinya.
"Ya, Anda siapa ya?"
"Saya suruhan Pak Damaresh untuk membawa Mbak Aura ikut bersama kami," jawab lelaki bertubuh tinggi besar itu segera.
"Ikut kemana?" tanya Aura dengan tatapan curiga.
"Nanti, Mbak Aura akan tau juga. Mari Mbak, waktu kita sangat terbatas," ajak lelaki itu segera bahkan tangannya segera membukakan pintu mobilnya untuk Aura.
"Maaf, saya tidak bisa ikut sebelum saya mendengar perintah ini langsung dari pak Damaresh," sahut Aura tegas. "Saya akan menelfonnya lebih dulu," imbuhnya lagi.
"Silahkan!"
Aura segera meraih ponsel dari dalam saku gamisnya, mendial nomer ponsel Damaresh, namun yang didapatinya adalah suara operator celuler yang memberitaukan kalau nomer yang dituju, sedang tak bisa dihubungi. Dicoba berapa kalipun hasilnya tetap sama.
"Ini kondisi yang sangat urgens, Mbak. Pak Damaresh pasti tidak bisa dihubungi," ucap lelaki itu yang sepertinya memahami situasi Aura.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Aura cepat.
"Mbak Aura akan tau juga jika segera ikut saya," sahut lelaki itu.
Dan sesaat atensi Aura berfokus pada lelaki yang sebenarnya jauh dari tampang sangar jika ia mau dicurigai akan menculik dirinya. Kulitnya putih bersih, jauh dari tampilan kucel seorang preman.
Tapi jangan salah, jaman sekarang banyak lho preman berdasi. Wajah mereka putih bersih dan rambutnya klimis.
"Saya tidak punya waktu banyak."
Laki-laki itu segera menginterupsi pemikiran Aura yang mulai kemana-mana.
"Katakan saja apa yang terjadi pada Damaresh!" Aura berucap tegas. Bisa dipaham, kalau ia tak ingin mengikuti orang yang tak dikenalnya ini begitu saja, tapi di lain sisi ia juga ingin tau apa yang terjadi dengan suaminya.
"Saya hanya diperintahkan untuk membawa Mbak Aura, itu saja. Lainnya itu, bukan tugas saya untuk menjelaskan," jawabnya tegas.
Aura terdiam dengan perasaan bimbang. Ia takut dirinya akan berakhir jadi korban penculikan.
Tapi jujur saja, orang ini terlalu sopan untuk disebut
sebagai orang yang akan menculiknya. Mana ada penculik yang ketika akan membawa pergi korbannya masih meminta persetujuan.
"Waktu kita sangat terbatas, kalau terlalu lama kita bisa terlambat," ucap lelaki itu segera yang memahami kebingungan Aura.
"Kalau saya tidak mau?"
"Saya akan membawa Mbak Aura dengan paksa, karna ini perintah."
Lelaki itu terlihat sangat bersungguh-sungguh dengan ucapannya, yang membuat Aura berpikir keras karnanya.
"Siapa tamunya, Aura? Kok gak diajak masuk?" Terdengar pertanyaan Lukman, lelaki itu berdiri di ambang pintu memperhatikan.
"Saya pamit pada ayah saya dulu," ujar Aura pada lelaki itu.
Aura bergegas menghampiri Lukman sambil berkata. "Dia katanya orang suruhan suamiku, Yah. Disuruh menjemputku."
" kau akan ikut?" tanya Lukman setelah memperhatikan lelaki itu dengan seksama.
"Ya, aku ingin tau apa yang terjadi pada Aresh, Yah."
"Kau kenal orang itu? atau setidaknya kau pernah tau, atau pernah melihatnya?"
"Tidak." Aura menggeleng.
"Sebaiknya jangan Nak!"
"Tapi dia akan memaksa, jika aku tidak ikut, karna katanya ini perintah," tutur Aura. Lukman nampak ikut bingung.
"Begini saja, Ayah catat nomer plat mobilnya, jika dalam satu jam, aku tidak menghubungimu, Ayah telfon Damares, atau mas Kaivan, atau pak Dirga, siapapun yang bisa dihubungi," ucap Aura cepat.
Lukman anggukkan kepalanya paham. "Hati-Hati, Nak, bismillah " nasihat Lukman, Aura mengangguk dan segera bergegas mengikuti lelaki itu yang sudah terlihat berkali-kali melihat jam tangannya.
Dalam mobil yang mulai melaju cepat.
__ADS_1
"kenakan seatbeltnya, dan kencangkan!" titah lelaki yang duduk di belakang kemudi itu.
Aura menurut tanpa kata, dan ketika seatbelt itu telah terpasang sempurna mobil melesat dengan sangat cepat sepertinya dengan kecepatan di atas rata-rata, membuat Aura harus memejamkan mata dengan erat, diserta segenap doa keselamatan yang terpanjat.