
Parade mobil mewah. Sepertinya hal itu yang tengah terjadi saat ini. Tepatnya di area parkir rumah sakit umum DR Mohamad Saleh, Probolinggo.
Sekitar setengah jam lalu, beberapa mobil mewah dengan kisaran harga di atas 1M, datang satu per-satu dan menapaki parkir utama rumah sakit yang berlokasi di jalan Mayjend Panjaitan No 65 itu.
Dan kini sederet mobil mewah tersebut menjadi pemandangan indah tersendiri bagi beberapa pengunjung rumah sakit ataupun yang sedang bekerja di sana. simak saja perbincangan dua tukang parkir yang sedang menjalankan tugasnya saat itu.
"Apa ada pejabat besar yang dirawat ya?"
"Bukan pejabat. Katanya ada orang kaya dari Jakarta yang mau melahirkan di sini," ralat temannya.
"Orang kaya dari Jakarta?"
"Ya, kata mbak-mbak perawat tadi."
"Orang kaya di Jakarta kok mau melahirkan di sini?" si tukang parkir terlihat berpikir, hingga ada beberapa lipatan di keningnya yang legam, karena terpaan sang raja silau.
"Loh, kenapa?" Yang satu bertanya tak paham.
"Itu artinya, dia gak benar-benar kaya, buktinya mau melahirkan saja dia pergi ke rumah sakit daerah. Mungkin karena biaya melahirkan di rumah sakit Jakarta itu sangat mahal."
"Iya benar juga, ya. Tapi itu katanya keluarga yang mau melahirkan, mereka datang dari Jakarta naik mobil mewah semua," tunjuk laki-laki itu pada sederet mobil mewah, yang sejak setengah jam sebelumnya menjadi objek foto beberapa orang secara diam-diam.
"Jaman sejarang itu, rental mobil di mana-mana lho. Siapa pun bisa menyewa, termasuk koe. Bisa tampil jadi orang kaya dengan mobil sewaan."
"Kalau begitu, mereka hanya orang kaya palsu ya." Dan perbincangan kecil itu berakhir dengan tawa mereka yang mengudara.
(Apa yang akan terjadi ya, jika perbincangan kedua petugas parkir itu di dengar oleh Damaresh, atau oleh Edgard, ataupun Anthoni, yang saat itu mereka semua sama-sama ada di rumah sakit DR Moch Saleh itu)
untunglah, Damaresh saat ini berada di ruang rawat VVIP, menunggui sang istri. Dia tidak akan mendengar kasak-kusuk di luar, apalagi obrolan si tukang parkir. Karena segenap perhatiannya hanya tercurah pada Aura. Pandangannya, pendengarannya hanya terfokus pada satu titik saja. Aura Aneshka.
Hingga beberapa saat kemudian, sepasang mata Aura yang terkatup itu menunjukkan pergerakan, dan disusul dengan gerakan di jari tangan.
"Arra, sayang," sapa Damaresh lembut, saat Aura membuka matanya perlahan.
"Aresh?"
"Hmm" Aresh segera berpindah duduk tepat di sisi kepala Aura. Tangannya segera membelai wajah pucat itu seraya bertanya, "Bagaimana? apa masih ada yang terasa sakit ... apa ada yang kau butuhkan sekarang, katakan saja!"
Aura menggeleng pelan. "Di mana anak kita, Aresh?"
"Anak kita?"
"Ya, aku ingin melihatnya."
Damaresh meraih tangan Aura, dan dibawanya tangan itu untuk menyentuh perutnya yang ukurannya masih tetap sama. Masih tetap besar seperti awal ia masuk ke rumah sakit ini. "Anak kita di sini," kata Damaresh.
"Jadi?" Aura segera membulatkan mata.
"Kamu gak melahirkan, sayang. Kamu hanya syok saja melihat tante Sherin, hingga perutmu mengalami kontraksi."
Aura nampak mendengarkan penjelasan Damaresh dengan seksama.
__ADS_1
"Anak kita bilang, dia belum waktunya keluar. jadi, sabar ya sayang," lanjut Damaresh.
Aura mengangguk-angguk. Ia dapat mengingat semua kejadiannya sekarang. Saat tiba-tiba ia hilang kesadaran, kala melihat Sherin masuk UGD didampingi Alarick. Setelah itu, Aura tidak ingat apa-apa lagi hingga sekarang.
Damaresh yang panik, karena tiba-tiba Aura pingsan, segera mengabari Claudya di Jakarta. Wal hasil, inilah yang terjadi. Semua keluarga William datang ke Probolinggo, dan mobil-mobil mewah mereka menghiasi area parkir utama rumah sakit.
"Jadi, aku tidak melahirkan, ya?"
"Belum, sayang," sahut Aresh dengan senyum gemas melihat wajah istrinya yang melongo.
"Kalau Sherin?"
"Barusan katanya sudah masuk ruang operasi, belum tau sekarang."
Aura segera beringsut hendak bangkit, "Aku mau ke sana, Aresh. kasian om Al, sendirian," ujarnya bersikeras.
"Kamu tetap di sini saja, kata dokter kamu harus banyak istirahat."
"Tapi kasian Om Al, dia sendirian menunggu Sherin."
"Om Al gak sendirian. Di sana ada Mommy, ada tante Christhine juga," terang Damaresh.
"Mommy Claudya dan tante Christhine ada di sini??" tanya Aura heran. Dan belum sempat Damaresh menjawab terdengar pintu ruangan yang terbuka disusul suara tanya seorang wanita.
"Aura sudah sadar?"
"Nola! kamu ada di sini?" Aura heran melihat istri Edgard itu datang. Dan ia tak sendirian, ada Edgard juga di belakang.
"Kalian juga ada di sini?" tanya Aura heran. Dan pandangannya segera mengarah pada Aresh. "Kamu ya, yang menyuruh mereka datang?"
"Aku tadi panik saat kau pingsan, jadi aku menghubungi Mommy, aku gak nyangka kalau mereka semua ikut datang." jawab Aresh.
"Kakek juga baru saja tiba," kata Edgard.
"Kakek di sini juga?" Aura dan Aresh berseru heran.
"Ya, sedang melihat cucu barunya," sahut Anthoni.
"Tante Sherin sudah melahirkan?" tanya Aura segera. ia tak sabar ingin tahu bagaimana kondisi sahabatnya itu.
"Sudah melahirkan. Bayinya cantik dan sehat," sahut Nola sambil meraba perutnya yang mulai membuncit. Nola memang sedang hamil muda saat ini, baru masuk bulan ke empat.
"Aku mau lihat bayinya," tekad Aura dan segera beringsut.
"Ara, jangan sekarang!" cegah Damaresh.
"Gak mau. Aku akan ke sana, sekarang."
Sherin melahirkan seorang bayi perempuan. Sehat dan cantik. kini bayi mungil yang masih belum bisa melihat dan mendengar itu ada dalam pangkuan William. Lelaki tua itu begitu suka cita menatap sang cucu, bahkan sesekali mengajaknya bicara, padahal jelas kalau bayi merah itu tak akan mendengar apa-apa.
"Tadinya aku berharap bisa menggendong dua bayi sekaligus. di tangan kanan dan kiriku. Satu anaknya Aresh, dan satu anak Alarick," cerita William pada semuanya yang saat itu berkumpul di ruangan rawat Sherin.
__ADS_1
Semua yang mendengar itu saling senyum antara satu dengan yang lain. Karena memang Damaresh memberi kabar, kalau Aura dan Sherin akan melahirkan bersamaan.
"Tapi ternyata, anak Aresh belum waktunya lahir, mungkin dia ingin tantenya lahir duluan," kelakar William.
"Anak Aresh memang penuh sopan santun, Kek," celetuk Anthoni.
"Aku memang sudah mengajarkannya sejak dalam kandungan," timpal Damaresh sambil mengusap perut istrinya yang duduk dekat di sampingnya.
"Caranya gimana? kasih tau aku! aku mau mengajarkan anakku juga," pinta Edgard.
"Kau gak akan paham, Ed. ini mesti pakai kitab kuning," tutur Aresh.
"Kitab kuning apa?" tanya Edgard tak paham.
"Nanti tanya aja pada istriku!"
"Ok lah." Edgard mengangguk.
Menafikan celotehan cucu-cucunya, William terus memandangi bayi Alarik di pangkuannya itu dengan senyum-senyum. dan satu kalimatnya meluncur. "Aku merasa sangat senang bisa menggendong cucu terakhirku ini, sesaat setelah dilahirkan."
"Itu bukan cucu terakhir, Ayah," sanggah Alarik. yang membuat William segera menatapnya.
"Dia masih akan punya adik, satu atau dua lagi," ucapnya.
"Mas." Sherin segera mencubit lengan suaminya itu.
"Harus mulai nabung dari sekarang, Om,"" kelakar Anthoni yang kembali disambut gelak tawa yang lain.
"Satu atau dua lagi, Om? yakin?" Damaresh menatap Alarik dengan menahan senyum.
"Yakin."
"Gak papa kalau nanti dijambak-jambak lagi sama Tante Sherin?" Alarik hanya tersenyum diledek demikian oleh Damaresh. Sedangkan Sherin segera menunduk dengan menahan senyum.
"Siapkan kepulangan kita semua ke Jakarta, sekarang!" titah William beberapa saat kemudian.
"Ke Jakarta? kami akan kembali ke Malang, Ayah," kata Alarick.
"Ya, kalau kau dan istrimu akan pulang ke Malang. gak papa, tapi aku akan bawa cucuku ini ke Jakarta," putus William.
"Ayah!" seru Alarik dan istrinya bersamaan.
"Ya, kalau kalian tahan berjauhan dengan anak kalian, silakan! kalau gak, ayo ikut pulang ke Jakarta."
"Tapi, Ayah ..."
"Eh." William segera mengangkat tangannya. "Aku masih William, yang keinginannya tidak bisa ditolak, sekarang." Semua terdiam dan saling pandang. Begitu pun Alarik dan Sherin yang saling bertukar pendapat dengan saling bertukar pandangan.
"Aku hanya ingin, di masa tuaku, berkumpul dengan semua anak dan cucuku. Aku gak mau ada anak keturunanku yang jauh dariku," ungkap William kemudian dengan nada dalam.
Maka segala keinginannya pun di kabulkan.
__ADS_1