Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
89. Gebrakan Damaresh.


__ADS_3

"Kau baik-baik saja?" tanya Anthoni segera bahkan sebelum mendaratkan bokongnya di atas kursi yang ada di seberang meja kerja, di depan Damaresh.


"Berhenti menganggapku seakan mau mati!"


sarkas Damaresh disertai tatapan tajam.


Anthoni tergelak. "Aku kawatir kau kalah, Aresh. Waktumu tinggal dua hari lagi, tapi aku tak melihatmu melakukan hal apapun," ucap Anthoni.


"Jadi, kalau menurutmu, harusnya aku bagaimana?"


Anthoni menggeleng "Aku tak melihatmu sebagai orang yang sedang bertarung," ucapnya, ia yang secara diam-diam sering memperhatikan Damaresh, melihat kalau sepupunya itu melakukan pekerjaan sebagaimana biasanya, jam masuk, jam istirahat dan jam pulang juga sebagaimana biasanya, tak ada yang lebih dan tak ada yang kurang.


Hanya saja, Anthoni tidak tau apa yang dilakukan lelaki itu setelah tiba di hotel, karna sekali Aresh masuk ke dalam ranah pribadinya, ia menolak keluar lagi walau apapun cara yang dilakukan Anthoni membujuknya untuk sekedar menikmati keindahan kota London di malam hari. Damaresh baru keluar keesokan harinya untuk bekerja lagi.


"Aku memang tidak sedang bertarung," jawab Damaresh santai.


"Iya juga." Anthoni menggerayangi tengkuknya dengan kelima jari, dan gerakan itu terhenti seketika saat satu hal terlintas dalam benaknya. "Apa kau salah satu pemilik saham di BLC?" tanya Anthoni curiga.


"Tak hanya kau saja yang menduga begitu." Bukan jawaban yang diberikan Damaresh tapi pemberitahuan.


"Karna itu bukan satu hal yang mustahil bagimu, Aresh. Bahkan untuk memiliki satu perusahaan di luar Pramudya, itu bisa saja," tukas Anthoni.


Damaresh hanya menarik sudut bibirnya samar.


"Jadi benar, tidak?" tanya Anthoni.


Damaresh terlihat mengetik sesuatu di layar 9 inchi yang sedari tadi di pegangnya, lalu memberikan benda pipih itu pada Anthoni. "Itu nama-nama para pemegang saham di BLC," tuturnya.


Anthoni memperhatikan dengan seksama. "Ternyata tak ada namamu," ujar Anthoni sambil mengangguk-angguk. "Ini jadi lebih mengherankan sekarang, dengan keberanianmu menantang Kakek--" Anthoni segera menjeda ucapannya karna adanya ketukan di pintu.


Naila yang datang, ia masuk ke dalam ruangan setelah dipersilahkan oleh Damaresh.


"Kak, ee Pak, saya mau melaporkan," ucapnya.


"Apa?"


"Sedang terjadi lelang saham Sagen Industries sekarang, Bukankah kakek ingin mengakuisisi Sagen, Pak?"


"Baiklah, aku mau mengikutinya," ujar Damaresh segera. Ia berjalan keluar di ikuti Anthoni dan Naila, mereka menuju ruang monitoring transaksi saham yang terhubung langsung dengan bursa efek terbesar di London.


Para pelaku pasar saham sudah lengkap terlihat di layar monitor, lelang juga sudah dimulai sejak lima menit lalu, tercatat ada tiga perusahaan tingkat menengah yang mulai membuka harga penawaran, yang kesemuanya masih jauh dibawah harga yang ditetapkan oleh pialang saham untuk Sagen Industries, yang untuk keseluruhan di taksir di atas kisaran angka


16, 43 triliun rupiah. (untuk lebih memudahkan pemahaman, kita pakai mata uang indonesia saja ya,


sekalipun transaksi saham ini terjadi di London dengan mata uang poundsterling)


Damaresh yang duduk di kursi kebesaran memperhatikan itu dengan seksama, tubuhnya sedikit bergerak ke kanan dan ke kiri mengikuti gerak kursi putarnya, belum ada instruksi apapun darinya kendati kini sudah terlihat ada dua perusahaan besar yang mulai bergabung ikut mematok harga.


Kisaran angka hanya bergerak pelan, cukup jauh dari angka yang diharapkan, saat itulah Damaresh terlihat memberi kode yang segera di angguki oleh team IT di ruangan itu. Maka segera nama Pramudya Corp terdaftar dan mulai mengajukan harga, tak tanggung-tanggung CEO ganteng Pramudya Corp itu langsung membuka angka sepuluh persen lebih tinggi dari penawaran terakhir, membuat beberapa pesaing segera mundur teratur, bisa dipastikan kalau Sagen Industries dalam hitungan menit akan segera beralih kepemilikan atas nama Pramudya Corp.


Tapi, tak seperti yang dibayangkan, karna secara tiba-tiba BLC Corp juga ikut bergabung dan segera membuka harga tiga persen lebih tinggi dari Pramudya Corp. Damaresh tak tinggal diam, ia segera pasang angka dua persen di atas BLC, yang juga mendapat sambutan serupa dari BLC, sama-sama tak tinggal diam dan kembali memasang angka lima persen di atas Pramudya.


kejar-kejaran angka dan saling berebut untuk mengungguli di antara BLC Corp dan Pramudya Corp itu berlangsung seru, kisaran angka kini bahkan sudah lebih tinggi dari patokan harga yang ditetapkan pialang saham atas Sagen industries.


Dua perusahaan besar yang diketahui sebagai rival bisnis itu sepertinya bukan lagi berebut untuk mendapatkan Sagen Industries, tapi untuk menunjukkan kekuatannya sebagai perusahaan raksasa di mata dunia.


Akhirnya Damaresh sepertinya mulai jengah dengan permainan itu, segera kisaran harga fantastis disebutkannya, yang bahkan membuat tercengang semua yang ada di ruangan sana, bahkan beberapa orang yang memutar kepalanya menatap sang pimpinan tak dapat mengembalikan dengan segera pada posisi semula, dikarenakan begitu terpana atas keputusan yang tak dinyana.


Pasalnya Damaresh memberi angka 32,40 Triliun rupiah, dua kali kali lipat di atas harga nofmal.


"Aresh cukup! ini sudah diluar nalar, harga seperti itu cukup untuk mengakuisisi dua perusahaan sekaliber Sagen Industries sekaligus."


Anthoni mengingatkan secara terang-terangan.


"Benar, Kak, dengan seperti itu, kita akan rugi," timpal Naila yang juga mulai terlihat panik.


Damaresh bergeming, ia bahkan memberi isyarat pada timnya untuk segera mengirim angka yang sudah diketik, namun..


"Tunggu! tunggu dulu!" Anthoni menginterupsi.


"Aresh pikirkanlah dulu," pinta Anthoni.


Tapi Damaresh tak menggubris, ia menatap pada tim nya sambil berkata "Di sini, hanya aku yang bisa memberi perintah, lakukan saja sesuai perintahku!"


Maka, angka penawaran pun terkirim sesuai instruksi dari Damaresh. Anthoni terlihat meraup wajahnya frustasi, ia sama sekali tak mengerti dengan pola pikir


sepupunya itu.


Dan ternyata, tak butuh hitungan menit ketika BLC


segera menyambut tantangan Pramudya dengan memasang harga tak tanggung-tanggung, yaitu 65,24 triliun rupiah, dua kali lipat di atas Damaresh.


Melihat tindakan BLC, semua yang ada dalam ruangan itu, serempak membulatkan mata dan melebarkan mulutnya, tapi rupanya spot jantung yang mereka alami tak berhenti sampai di situ saja, karna Damaresh yang memutuskan untuk memasang harga labih tinggi


lagi, setelah dinyatakan kalau angka fantastis dari BLC itu sudah terkunci.

__ADS_1


75,12 triliun rupiah, ditetapkan Damaresh untuk mengungguli BLC, angka itu telah terkirim kendati mendapat protes keras dari Anthoni dan Naila begitu juga para stafnya di sana, tapi keputusan Damaresh sepertinya sudah bulat dan tak dapat di ganggu gugat.


Dan tak ada sambutan lagi dari BLC, sepertinya mereka sudah memilih menyerah untuk mengungguli angka terakhir yang disodorkan Pramudya.


Namun sepuluh detik, menjelang keputusan di tetapkan kalau Pramudya sebagai pemenang, Damaresh memerintahkan tim IT nya untuk membatalkan penawaran. Meski diwarnai dengan adegan saling pandang, bertanya-tanya heran dalam diam, namun perintah sang tuan segera dilaksanakan.


Dan hasilnya, BLC lah yang memenangi lelang dan sekaligus sebagai pemilik berikutnya atas perusahaan Sagen Industries yang sedang diperebutkan, karna nilai dari BLC sudah dikunci dan tak bisa menariknya lagi.


"Kau sengaja untuk mundur, atau--" Anthoni memutus tanya begitu saja.


"Aku sengaja agar mereka menang," sahut Damaresh dan segera beranjak dari kursi kebesarannya dengan membawa senyuman.


Beberapa dari mereka terlihat saling pandang heran,


dan Anthoni mewakili keheranan mereka dengan pertanyaan. "Lalu untuk apa kau susah-susah memberikan penawaran kalau sebenarnya kau memang ingin mereka yang menang?"


"Aku senang bermain-main dengan mereka," jawabnya dengan santai dan segera keluar ruangan, Anthoni bergegas mengejar, beda dengan Naila yang memilih tetap berdiam.


"Aresh, apa kau sengaja melakukan ini agar BLC, mengeluarkan banyak uang untuk--" Anthoni kembali


memutus kalimatnya karna merasa belum mendapatkan pemahaman yang utuh akan tindakan sepupunya itu.


Damaresh memutar kepalanya menatap Anthoni.


"Lambat banget ya, pahamnya," cibirnya singkat dan berlalu.


Anthoni terlihat menepuk keningnya dan gegas menyusul Damaresh setelah dirinya sempat hentikan langkah sesaat.


"Ok. Ini sebentuk serangan, lalu selanjutnya apa?"


tanya Anthoni.


"Kalau ingin tau, ikut aku besok ke BLC Corp," ajaknya dan kembali gegas menuju ruangan kebesaran.


Dalam hati Anthoni mengagumi kecerdasan pola pikir Damaresh yang tak mudah ditebak. Dan ia tak sabar menunggu gebrakan apa yang akan dilakukan sepupunya itu lagi


untuk memenangkan tantangan.


BLC Corp


Daniel Smith, CEO BLC Corp, adalah cucu pendiri BLC Corp Amerika yang dikabarkan sebagai mantan sahabat Willyam Pramudya, yang entah karna hal pribadi apa yang terjadi diantara keduanya, kenapa teman, lalu berubah jadi Rival.


Kusut, hal itu yang tergambar dari wajah tampan Daniel Smith, meski ia tampak berusaha untuk terlihat baik-baik saja di depan dua orang tamunya sekarang, nyatanya pria yang ditaksir berusia hampir empat puluh tahunan itu terlihat jelas kalau sedang kacau.


"Saya tak hendak memperpanjang waktu, Mr Daniel,


"Terima kasih pengertiannya," jawabnya tak terlihat ramah, sepertinya ia memang ingin kedua tamunya itu segera pergi saja.


"Bagaimana dengan tawaran saya? Apa sudah anda pikirkan?" tanya Aresh dengan sedikit lengkungan di kedua sudut bibirnya. Mendengar itu, Anthoni yang duduk di sampingnya sedikit kerutkan kening.


Tak ada jawaban dari Daniel Smith, pria itu hanya memberi tatapan menelisik.


"Belum terlambat untuk menyelamatkan BLC London, Tuan Daniel," ucap Damaresh. yang berhasil memancing ketenangan Daniel terusik.


"Apa, Tuan Damaresh pikir, perusahaan kami sedang kolaps, ah yang benar saja." Daniel terlihat menampakkan ekpresi tegas, meski hal itu tak didukung dengan tatapannya yang terlihat sedikit gelisah.


"Itu istilah yang terlalu vulgar, Tuan Daniel, saya hanya menyumbangkan pemikiran bahwa dengan 20 % saham yang tersisa, akan sulit bagi perusahaan sekuat BLC untuk menghadapi pasar sekarang," tutur Damaresh.


"20 %? kelihatannya tuan Damaresh salah menghitung," cibir Daniel masih dengan gaya pongah.


"Apa perlu saya sebutkan di sini?" tanya Damaresh yang hanya ditanggapi Daniel dengan membuang pandangan. Hal itu dimaknai sebagai persetujuan oleh Damaresh yang segera menyebut total saham BLC dengan lengkap tanpa kurang suatu apapun.


"Keluarga Smith, adalah pemilik 65% saham BLC London, karna yang 35% adalah milik keluarga Hayden di Jepang, yang kini sudah menarik seluruh sahamnya dari BLC dikarenakan sebuah skandal yang melibatkan Taun Daniel. Apa saya salah?"


Daniel Smith terlihat menegakkan tubuhnya dengan wajah tegang, tapi expresi itu tak menyurutkan niat Damaresh untuk melanjutkan ucapannya.


"Dari 65% saham yang ada, 25% sudah pindah tangan pada Mrs A&A pemilik Sagen Industries yang sahamnya berhasil anda beli kemarin, lalu 20% lagi untuk membayar liabilities pada perusahaan asing di Dubai, jadi tersisa 20% saja, apa saya salah hitung?" tatapan Damaresh terlihat menantang.


Jelas kini wajah Daniel smith langsung pias, bahkan Anthoni sendiri hampir ternganga mendengar uraian sepupunya itu. Gebrakan yang luar biasa, pikirnya.


Sesaat Daniel Smith tak mampu berkata.


Itu memang kondisi BLC Corp yang dipimpinnya sekarang, semua bermula dari gaya arogannya dalam memimpin yang membuat banyak keputusan kurang strategis yang diambilnya dan berakhir merugi, ditambah kegemarannya bermain-main yang tak kunjung berhenti. Hingga faktanya kini, BLC di balik gedung megahnya terancam ambruk tak bersisa.


Damaresh sudah menemuinya tiga hari yang lalu, menawarkan untuk mengakuisisi, tapi dengan tegas Daniel menolak dan menyatakan kalau BLC baik-baik saja, padahal Damaresh tidak datang kesana kecuali setelah mempelajari BLC sejak berbulan-bulan sebelumnya.


Bahkan masih dengan sikap pongahnya, BLC di bawah pimpinan Daniel itu bermain tawar menawar saham Sagen Industries dengan Pramudya Corp di bursa efek kemarin, dengan penawaran diatas normal, hanya untuk menunjukan eksistensinya yang tak terbantahkan sebagai salah satu perusahaan adikuasa di negara Britania Raya.


Nyatanya, Damaresh memukul telak sikap arogansi pimpinan BLC itu dengan strateginya yang tak terbaca.


"Atau anda lebih suka, menawarkan saham secara terbuka seperti Sagen Industries kemarin?" tanya Damaresh yang tau betul, kalau lawannya kini sudah mati kutu.


Daniel Smith menggeleng lemah. Apa yang bisa dilakukannya sekarang? ketika semua yang dikatakan oleh Damaresh itu adalah benar.


"Kasih saya waktu," pintanya kemudian.

__ADS_1


"Berapa lama saya harus menunggu?" tanya Damaresh.


"Dalam satu jam, saya akan menghubungi anda lagi."


"Baiklah saya tunggu." Damaresh segera bangkit dari duduknya. "Saya permisi." lelaki itu mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan Daniel Smith sebelum pergi, dan diikuti oleh Anthoni.


"Dari mana kau tau semua itu, Aresh?" tanya Anthoni memecah keheningan dalam mobil sepanjang perjalanan pulang ke kantor Pramudya Corp.


"Dari langit," jawab Damaresh sekenanya.


Entahlah.


Anthoni merasa menjadi orang bloon sekarang dibanding Damaresh yang seakan tau segalanya. "Aku takjub," ucapnya.


"Tak usah kau katakan! itu hanya menjatuhkan harga dirimu," kata Damaresh.


"Tapi Aresh, bukankah divisi keuangan tadi mengatakan kalau dana perusahaan yang bisa dicairkan hanya sekitar 20% perhitungan saham BLC ?"


Memang sebelum pergi ke BLC Corp tadi, Damaresh sempat mengadakan rapat mendadak dengan divisi keuangan Pramudya Corp.


"Kalau BlC menyetujui, sisanya dari mana?" tanya Anthoni lagi.


"Dari Sagen Industries," sahut Damaresh yang segera keluar dari mobil yang sudah terparkir apik di Basement kantor Pramudya.


Anthoni menunda bertanya, pasalnya selama perjalanan menuju ruangan CEO di lantai 15 itu, ada beberapa pegawai yang berpapasan dan menjura hormat pada keduanya.


"Kenapa bisa dari Sagen?" tanya Anthoni setelah keduanya kini ada dalam lift khusus CEO perusahaan.


"Kau tau siapa pemilik Sagen?" Damaresh balik tanya.


"Kemarin di pasar saham itu disebut, dan tadi juga disebut, di kantor BLC," lanjutnya, memberi clue.


"Mrs A&A?"


"Tepat." puji Damaresh.


"Kau kenal?"


"Itu nama istriku, Aura Aneshka."


"Ha??" Karna masih kaget Anthoni hampir tertinggal dalam lift yang sudah terbuka, setelah mendarat dilantai duapuluh lima.


Gegas ia menyusul Damaresh yang sudah melangkah menuju ruangan. "Kok bisa?"


"Aku sudah mengakuisisi Sagen Industries beberapa waktu lalu saat kakek memintaku menggatikannya di sini, dan aku mengatas namakan istriku agar tidak ada yang tau," tutur Damaresh. Lagi, satu gebrakan Damaresh yang tak diketahui.


"Jadi?" Anthoni sejenak menjeda kalimatnya setelah kini memahami satu hal. "Jadi kau sendiri yang mendaftarkan Sagen Industries sebagai pialang saham, dan melelang saham mereka di bursa efek, kemarin?"


"Ya."


"Lalu?" entah sudah berapa kali Anthoni dibuat terkaget-kaget dengan gebrakan tak terduga dari Damaresh, hingga berkali-kali ia melongo, berkali-kali hentikan langkah bak orang tolol begitu.


Damaresh yang sudah meraih knop pintu untuk memasuki ruangannya, segera memutar tubuhnya dan menatap sepupunya itu. "Lalu apa? apa aku perlu menjitak kepalamu itu biar cepat paham," sarkasnya dengan tatapan tajam. Setelah ucapan sarkas itu mencapai titik ia segera masuk ke dalam ruangan dan mendudukkan dirinya dengan nyaman di atas sofa


yang menghadap pada jendela kaca besar, yang menampilkan keindahan kota London saat siang.


"Ide yang sangat brilian," puji Anthoni yang duduk di depannya. "Dari mana kau mendapatkan semua ide itu, Aresh?" tanya Anthoni disertai kekaguman.


"Dari Doa istriku," sahut Damaresh.


"Penting, bagi kita memiliki istri shalihah, karna doanya sangat makbul untuk suaminya," imbuhnya.


Yang membuat Anthoni tak mampu berkata lagi.


Selanjutnya ada panggilan telfhon untuk Damaresh dari CEO BLC Corp, yang sudah dapat ditebak, kalau ia menyetujui menjual sahamnya pada Damaresh Willyam.. Dan Akhirnya..dalam sekali gebrakan,


DAMARESH, MENANG...


 


-------?


---??---????


Aduh part ini panjang banget ya, 2300 K. lebih. Sebenarnya mau aku skip sih jadi dua part, tapi malah klimaksnya gak dapat, lagian takut dikata gantung lagi, oleh kalian.


Ya udah aku lanjutin aja, meski tanganku udah mulai kebas aja dari tadi..tapi aku bela-belain untuk para pembaca yang aku cintai..


Aku tak mengecewakan kalian bukan?


Damaresh ku buat menang, di sini..


Jangan lupa dukungan ya, like, vote, koment, gift dan rate juga ya, biar rate nya jadi bintang lima.


Matur suwwunn.

__ADS_1


Sakalangkong..


__ADS_2