Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
65. Tempat Bersandar.


__ADS_3

Masih tak beralih pandang, masih tak melepas tatapan, masih tak ada yang bisa menarik segenap perhatian dari wajah ayu yang terkapar lelah dengan mata memejam.


"Terima kasih,"


Kata yang terucap untuk sekian kali,


dari yang benar-benar terucap di bibir, atau yang hanya sekedar terpahat di hati, seakan berapapun banyaknya kata, tak terwakilkan rasa yang sebenarnya ada.


Rasa yang belum sepenuhnya dimengerti, rasa yang telah terdeteksi namun tanpa definisi.


Aresh mengusap titik titik peluh di wajah istrinya dengan ujung jari,


Kembali kata terima kasih terucap, atas kenikmatan yang telah tercecap, di ujung pendakian menuju puncak, dalam ibadah kebersamaan suami istri, yang telah bersama mereka lakoni, hingga kini Aura terlelap tanpa sempat mengusap titik keringatnya sendiri.


Damaresh mengambil tugasnya, mengusap titik peluh istrinya, menemaninya menuju tidur lena dan ia lalu keluar dari kamar untuk menuntaskan apa yang perlu diselesaikan.


"Aresh.."


Tiba-tiba suara lembut memanggilnya, menguar diantara keheningan dalam kesendiriannya.


"Arra, kenapa kau belum tidur?"


Aresh bangkit dari duduknya dan membimbing Aura untuk masuk ke dalam ruangan itu, karna gadis itu hanya tetap berdiri saja di tengah pintu.


Damaresh yakin betul, saat dia keluar dari kamar satu jam lalu, Aura telah lelap dalam tidur setelah pergumulan mereka. Ternyata kini Aura malah menghampirinya yang sedang berkutat di ruang kerja.


"Apa kau memang selalu begini?"


Aura menatap Aresh lembut.


"Mungkin aku imsomnia," ucap Damaresh dengan nada getir.


"Sejak kapan?"


"Aku tak tau pasti. Seingatku, hanya dua kali aku bisa tidur lelap sampai pagi,


Pertama ketika kita pertama kali tidur sekamar di rumahmu waktu itu. Dan kedua setelah aku memilikimu secara utuh di Bali."


Damaresh berkata dengan menghindari bersitatap dengan Aura, dimana wanita itu tengah memperhatikannya dengan sepenuh pandangannya. Yah itu faktanya ia bisa tidur lena hanya saat mendekap tubuh Aura.


"Dan malam ini---?"


Aura mengantungkan pertanyaannya.


Malam ini mereka melakukannya lagi untuk yang kedua kali. Tapi Damaresh tetap tak bisa tidur setelah aktifitas yang menguras tenaga lahir batin itu.


"Seharusnya aku bisa tidur, aku juga sudah merasa mengantuk tadi, tapi ada hal yang perlu ku selesaikan,"


sahut Damaresh dan memang itulah yang menyebabkannya kini berada dalam ruang kerjanya saat ini, di waktu yang selarut ini.


"Seberat itu tugas seorang CEO perusahaan besar? sampai kau tak punya waktu untuk mengistirahatkan tubuhmu sendiri?"


Pertanyaan bernada protes di ucapkan dengan lembut oleh Aura.


Damaresh mengerti ada teguran dibalik ucapan istrinya itu, tapi lidahnya masih kelu untuk memberitaukan yang sebenarnya bahwa bukan tugasnya di Pramudya Corp yang membuat malam-malamnya terampas oleh pekerjaan, dan waktu istirahatnya tersita oleh kesibukan.


"Tubuhmu bukan besi, Aresh. Kau butuh istirahat," ucap Aura dengan suara bergetar. Ada kekawatiran dan perhatian yang sangat besar dibalik ucapannya.


Aura sudah lama tau kalau Damaresh selalu tidur dini hari menjelang pagi.


Lelaki itu selalu menghabiskan malamnya di ruang kerja, tanpa mengijinkan siapapun untuk mengusiknya.


Aresh tak mampu menjawab dengan kata, melihat tatapan teduh Aura dirinya langsung di dera rasa bersalah.

__ADS_1


Lelaki itu meraih tubuh Aura yang berdiri di dekatnya, didudukkannya tubuh yang berbalut baju tidur tipis itu di atas pangkuannya.


"Apa yang kau cari sampai bekerja sekeras ini?" Aura lanjut bertanya.


"Aku akan menceritakannya setelah semuanya selesai," sahut Aresh pelan.


"Begitupun dengan maksud pembicaraanmu dengan nyonya Chtisthine tadi, kau juga akan bercerita padaku setelah semuanya selesai?"


Aura mengubah tatapan lembutnya menjadi tajam, pertanda kalau dia benar-benar tak suka dengan sikap Damaresh yang enggan menjawab pertanyaanya.


"Apa kau sama sekali tak punya pemahaman atas pembicaraan kami tadi, Arra?"


"Aku faham, tapi aku ingin tau dengan jelas sebenarnya ada apa? Aku juga mendengar pembicaraanmu tadi dengan Bu Olivia,"


"Apa yang kau dengar?"


tanya Aresh cepat.


***********************************


"Maaf Pak, saya sudah melakukan kewajiban saya semampu saya," ucap Olivia pada Damaresh sepeninggal Christhine.


"Aku tau, apa yang kulakukan sekarang adalah rentetan dari rencana yang harus kujalankan,"


ucap Damaresh tanpa beban.


"Saya sempat kaget dengan keputusan Bapak."


"Tapi dengan aku seperti ini, tak berarti tugasmu telah selesai, Olivia."


"Saya tau, kalau tugas saya masih panjang, dan saya siap melaksanakannya sepenuh kemampuan saya, Pak. Bahkan jika ada yang harus saya korbankan, akan


saya lakukan, karna Bapak telah menyelamatkan putra saya, itu lebih berharga dari kehidupan saya,"


*********************************


Itu adalah rentetan pembicaraan Olivia dan Damaresh yang sempat terdengar oleh Aura.


kini sepasang matanya menatap lekat Damaresh menuntut jawaban dari semua pertanyaannya.


"Aku membantu Olivia menyelesaikan masalah anaknya yang terancam dikeluarkan dari kampus,"


"Dengan imbalan?"


Aura langsung paham kalau bantuan itu tidak secara cuma-cuma.


"Melindungimu, selama ada di L&D," jawab Aresh jujur.


"Melindungiku dari apa?"


"Dari rongrongan keluargaku."


"Kenapa keluargamu mau merongrongku? apa salahku?"


Aura semakin tak mengerti sekarang, bola matanya bergerak-gerak menandakan ketidak sabarannya


untuk segera tau apa yang sebenarnya.


"Karna kau bersamaku, Arra."


Sampai di sini, Aura tak melanjutkan pertanyaannya lagi. Karna bak Kepingan puzle yang dari dulu ia kumpulkan, kini sudah utuh. Membentuk sebuah pernyataan, membentuk sebuah kepahaman.


Bahwa dirinya dan segala perbedaannya dengan Damaresh, adalah satu sandungan besar untuk sebuah "Restu". Restu dari keluarga Damaresh Willyam.

__ADS_1


Aresh memeluk erat Aura setelah keterdiamannya,


ia pun tak punya kata untuk menempatkan Aura pada perasaan yang baik-baik saja setelah mendengar ucapannya.


"Maaf.. telah membawamu dalam kerumitan hidupku,"


ucapan itu terdengar berat.


"Tapi selagi kau masih bersamaku, aku akan melindungimu dari apapun, Arra." lanjutnya.


Aura mengangkat wajahnya yang tenggelam dalam ceruk leher Damaresh dan menatap suaminya itu lekat.


"Apa itu berarti, suatu saat kau akan melepaskanku?"


Tak segera terjawab, membuat perasaan Aura bak terhimpit dan sesak, air mengambang itupun terlihat di bingkai matanya, siap untuk terjun di belahan pipinya, karna diamnya Damaresh seakan menjawab "Iya" atas pertanyaannya.


Tapi sebuah kecupan lembut dari bibir lelaki itu di sepasang matanya, membatalkan lolosnya titik bening di wajah Aura. "Aku tak akan melepasmu, sampai kau sendiri yang memutuskan untuk pergi dariku,"


ucapan Damaresh lebih menyerupai sebuah bisikan,


karna tiadanya jarak diantara keduanya.


Aresh bahkan meraih bibir istrinya itu dalam ******* lembut, ketika Aura bungkam atas jawaban yang ia berikan. Hingga Aura bertanya setelah bibirnya terlepas dari ciuman lembut Aresh.


"Kau sepertinya meragukan aku," ucap Aura pelan.


"Karna aku tak mungkin memaksamu untuk terus bertahan, bila dengan ada di dekatku kau merasa tertekan." Damaresh membingkai kalimatnya dalam rangkaian kata yang indah.


Entahlah, ke-kakuannya selalu hilang tak berbekas bila menghadapi Aura. Selalu ada perbendaharaan kata yang muncul begitu saja dalam benaknya setiap kali bersitatap dengan sepasang mata teduh istrinya.


Seakan telah terpayungi segenap jiwanya dari kerontangnya rasa menjadi kedamaian yang paripurna.


Terkadang iapun mengutuk diri karna terlahir di tengah keluarga yang membuat aturan tak berkesuaian rasa, menafikan fitrah manusia yang bisa jatuh cinta pada siapa saja, dan tanpa terencana.


Keluarga yang menjadikan tahta diatas segalanya,


sehingga ketika cinta berlabuh pada tempat yang tak ditemuinya tahta, maka berpisah atau dipisah adalah jalan akhirnya.


"Bolehkah aku berjuang untukmu?" tanya Aura dengan tatapan dalam, berharap permintaannya terkabulkan.


Aresh terdiam. Jika yang dimaksud Aura berjuang dengan meluluhkan hati Claudya dan tuan Willyam untuk merestuinya, maka ia tau betul kalau semua itu akan sia-sia, yang ada Aura akan terjerumus ke dalam bahaya, Aresh tentu tak ingin keburukan menimpa Arra-nya. Itulah kenapa ia tak memberikan persetujuannya.


"Setidaknya dengan do'aku Aresh," lanjut Aura.


"Aku sebenarnya tak butuh ijin siapapun untuk meminta lelaki halalku pada tuhanku, tapi bila dalam hatimu tak merestui langkahku, atau kau sendiri yang


tak ingin terus bersamaku, maka kurasa akan sulit untuk doaku terkabulkan."


Damaresh menarik tangannya membelai rambut halus Aura lalu mengangguk. "Boleh Arra," jawabnya memberi restu.


Aura tersenyum lembut selembut tatapannya yang menyapu wajah Aresh, baginya kini tak masalah suaminya itu belum pernah berkata cinta padanya,


tapi dengan keingiannya untuk terus bersama, itu sudah cukup menandakan seberapa berharganya Aura dalam hatinya.


"Kau tau Aresh?"


"Apa?"


"Tempat yang paling benar untukku saat ini, adalah disampingmu, kau tempatku bersandar, tapi sebaik-baik tempat untukku jadikan sandaran, adalah tuhanku.Dia sebaik-baik pemberi perlindungan."


Aura berucap dengan sangat mantap, selaras dengan keyakinanya pada sang maha kuat.


Hal ini berbanding terbalik dengan Damaresh, membuat lelaki itu diam. Tapi entahlah kenapa kemudian ia merasa dejavu atas ucapan Aura itu.

__ADS_1


__ADS_2