Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
Extra 13


__ADS_3

Subuh menjelang. Ditandai dengan kumandang suara adzan di kejauhan. Tak ada satupun di antara mereka yang dapat merasakan mata terpejam. Juga tak ada satupun yang beranjak meninggalkan.


Berjuta harapan masih terangkum dalam tiap dada, meski berita tentang pesawat Airbus A380 itu sudah terkonfirmasi dan sangat benar adanya. Berjuta asa juga masih tertanam dalam tiap kepala. Bahwa Damaresh akan kembali ke tengah mereka.


Di antara wajah-wajah lelah yang sama-sama terpaku dalam diam. Di antara raut sedih yang mendominasi setiap pemandangan. Tiba-Tiba saja, Kaivan berdiri dari duduknya sambil berseru dengan suara terbata. "A-Aresh!"


Semua atensi segera teralih pada Kaivan. Setiap rotasi pandangan, hanya terarah pada sahabat Damaresh William itu.


"Katakan padaku sekarang! apa aku salah lihat? apa aku hanya sedang berhalusinasi? lihatlah!" Kaivan menunjuk ke satu arah dengan napas memburu.


"Lihatlah semuanya!"


Semua pasang mata, termasuk Airlangga yang sejak berita itu terdengar seakan lemas tak bertenaga, juga ikut melabuhkan pandang ke arah yang ditunjuk oleh Kaivan.


Seorang laki-laki tengah melangkah sangat tergesa seraya menggulung lengan kemejanya. Wajah lelaki itu, postur tubuhnya, cara jalannya, tatapannya yang selalu lurus dalam tiap langkah, itu semua adalah Damaresh.


"Aresh!" semuanya serentak berseru dan sama-sama berdiri dari duduknya. Seakan hendak menyambut kepala negara yang datang berkunjung.


"Aresh!" bahkan Kaivan tak dapat menahan diri, ia segera menyongsong sahabat sekaligus atasannya itu dan memeluknya erat.


"Apa-apaan nih?!" Itu memang suara Damaresh. Ia mendamprat Kaivan atas tindakannya.


"Kau datang, Aresh. Kau datang," ucap Kaivan berulang-ulang.


"Lepas, Kai!" Aresh cepat mengurai pelukan Kaivan dan melayangkan tatapan tak senang atas tindakan executive asistannya itu.


"Aresh, kau datang? kau selamat?" Anthoni juga menghampiri.


"Aresh, syukurlah kau datang." Edgard juga menghampiri. Mereka menunjukkan antusiasme yang sama atas keadatangan lelaki ganteng itu.


"Apa anakku sudah lahir?" tanya Damaresh mengabaikan semua ekspresi campur aduk yang ditampakkan semua orang terhadapnya. Lelaki itu bahkan segera melewati semuanya, gegas menuju ruangan yang tertutup.


Tapi dua orang perawat menahan langkahnya. "Maaf, Pak. Anda tidak boleh masuk!"


Damaresh yang sudah tak sabar ingin melihat istrinya, menatap kesal pada dua orang petugas itu. "Kenapa aku dilarang, Masuk?"


"Kami hanya menjalankan perintah, Pak!"


"Siapa yang telah memberikan perintah padamu, untuk melarang aku masuk?" tatap mata pekat Damaresh mulai mengintimidasi dua orang perawat yang baru saja berganti shift itu.

__ADS_1


"Di dalam, Nyonya Damaresh akan melahirkan. Jadi siapa pun tidak boleh masuk!" Kedua perawat itu menegaskan apa yang memang sudah ditugaskan kepadanya.


"Kalau aku tidak boleh masuk, rumah sakit ini aku tutup," ancam Damaresh.


"Sus, suster!" Naila tergopoh menghampiri. "Beliau ini tuan Damaresh William!"


Kedua perawat itu langsung mundur dua langkah dengan wajah pucat. Damaresh masih melayangkan tatapan tajam pada keduanya sebelum gegas masuk ke dalam ruangan. Di sana ia mendapati istrinya sedang meringkuk kesakitan di atas sajadah. Claudya dan Sherin sedang membantu membukakan mukena yang melilit tubuh Aura.


Damaresh segera mengangkat tubuh istrinya itu ke atas pembaringan sambil berbisik lembut. "Kuat ya, sayang! anak kita sudah ingin bertemu dengan kita, bertahan ya, Sayang!"


"A-Aresh," bisik Aura dengan suara tercekat. Selanjutnya, Aura memuaskan mata menatap wajah suaminya dengan tatapan tanpa jeda, mengabaikan ras sakit yang semakin meronta. Bahkan tangan wanita itu terangkat untuk menyentuh wajah Damaresh, seakan ingin memastikan kalau penglihatannya tidak salah.


"Masih ingat dengan lafadz Adzan?" tanyanya dengan napas memburu sembari menahan rasa sakit yang seakan diguris sembilu.


"Masih," jawab Aresh dengan suara lirih, sementara tangannya menghapusi air mata di wajah Aura. Hanya Damaresh saja sekarang yang diporbolehkan berada dalam ruangan bersama tim dokter, sedangkan dari keluarga yang lain, sedang menunggu di luar.


"Siap untuk mengadzani anak kita?" tanya Aura lagi dengan suara kian terengah.


Damaresh mengangguk, tak mampu berucap kata, karena tak tega melihat wajah sang istri yang sudah sedemikian pucatnya.


Aura menarik napasnya dalam-dalam, menyiapkan segenap tenaga, sesuai arahan dari tim dokter. Argghh... Ia lakukan tugasnya untuk mendorong calon anaknya melihat dunia.


Ada air mengambang di pelupuk mata Damaresh, melihat sebegitu gigih perjuangan Aura untuk melahirkan anaknya. Hingga, tangis bayi yang sudah lama diidamkan itu terdengar, satu titik bening pun jatuh di wajah Damaresh. pertama kali dalam sejarah, pria itu meneteskan air mata, untuk perjuangan istrinya dan untuk kelahiran putranya.


Tak ada drama cakar-cakaran ataupun jambak-jambakan pada proses persalinan Aura. Yang ada adalah drama kecelakaan pesawat yang dinaiki Damaresh dari London ke Jakarta.


Tapi justru di sanalah hikmahnya. Saat jiwa Aura hampir putus asa mendengar berita tragis tentang perjalanan sang suami, ada secercah asa yang terbangun di atas kuatnya keyakinan seorang hamba atas kekuasaan Sang Pencipta.


Dan tatkala doa dan keyakinan itu diijabah, seakan datang 1000 kali lipat kekuatan dalam diri Aura untuk melahirkan anaknya. Walhasil, tanpa melalui proses yang panjang, Damaresh junior pun launching.


Dan kini, sementara Aura mendapat tindakan medist pasca melahirkan, Damaresh mendaparkan pelukan hangat dan ucapan selamat dari seluruh keluarga yang turut menanti di luar sana.


Duka cita yang sempat hinggap di depan mata, tersulap seketika menjadi suka cita. Tak ada yang tak tenggelam dalam rasa syukur atas semua itu. Menyadari betapa indahnya kuasa Ilahi yang mereka dapatkan dalam hidup ini.


Tapi masih ada satu cerita tak terurai perihal berita pesawat Airbus A380 yang memang diketahui sebagai jet pribadi milik keluarga besar William, yang hilang kontak itu. Bagaimana Damaresh terlepas dari bahaya? Bagaimana tau-tau lelaki itu hadir di rumah sakit dalam kondisi tak kekurangan sesuatu apa.


Semua masih diselimuti tanda tanya, tapi sepakat untuk mengendapkan dulu semuanya, demi mengedepankan suka cita yang ada. Biarlah tanda tanya akan terjawab pada waktunya. Jika waktu untuk bercerita masih ada. Karena sepertinya kisah Damaresh dan Aura akan tutup buku sampai di sini saja.


Tragedi hilangnya pesawat Airbus A380, akan di ungkap dalam kisah Anak-anak mereka kelak. Tapi tentunya untuk hal itu, butuh dukungan dari para pembaca dulu. Kalau dukungannya banyak, cerita baru itu akan aku siapkan. Tapi jika tidak banyak mendapat dukungan seperti Di CTB, maka, rencana ini hanya akan tinggal rencana..

__ADS_1


Tapi sebelum berpisah, mari kita intip dulu kebahagiaan sepasang orang tua baru itu. Damaresh dan Aura yang sama-sama menatap wajah pulas sang putra di atas boxs bayinya.


"Aku bingung Aresh untuk pilih yang mana sebagai nama anak kita," tutur Aura sambil bersandar manja di bahu suaminya.


Arasya Davanka William.


Askara Daniyal Farabi.


"Dua-duanya sama bagus, Sayang. Aku juga bingung." Damaresh kembali mengeja dua nama itu, tapi tak menemukan satu yang menjadi ketetapan. "Bagaimana ini?"


"Masih ada dua cara Aresh yang bisa kita lakukan untuk memilih satu di antara dua nama ini," kata Aura.


"Apa?"


"Pertama, kita istikharah, minta petunjuk pada Allah. Allah akan menghadirkan krmantapan dalam hati kita untuk salah satu yang terbaik. Dan cara kedua, kita minta tolong pembaca untuk memilihkan, bagaimana?"


"Aku setuju dengan usulmu." Damaresh segera melabuhkan kecupan lembut di kening istrinya.


*******


***********


Sepertinya Ares dan Ara sedang bingung ya, minta tolong sama pembaca untuk memilihkan nama untuk anak mereka.


Ditunggu ya..


Dan, aku ucapkan Banyak-banyak terima kasih untuk semua antusiasme kalian dalam mengikuti cerita ini. Jujur, aku tetap ingin melanjutkan, karena dukungan dari pembaca sangat membuat semangatku terpompa. Tapi setiap cerita pasti harus ketemu kata tamat. Seperti perjalanan yang harus berhenti ketika telah sampai di tujuan.


Semoga dapat bersama lagi di cerita yang lain..Banyak cinta dan banyak kasih untuk segenap dukungan kalian.


Oya, jika mungkin berkenan aku undang kalian di kisah CINTA TAK BERTUAN. di sana masih sepi, dukungan kalian sangat dinanti..dan sekarang CTB tampil dengan wajah baru yang lebih cantik.



cover yang sangat cantik, kreasi adikku yang cantik. Author Nofiya Hayati.


Terima kasih, sekali lagi untuk para pembaca semua..Dan Terima kasih juga untuk sesama Author yang senantiasa memberikan cinta dan dukungan untuk cerita ini.


Sampai jumpa lagi di cerita yang lain. insya Allah.

__ADS_1


Assalamu alaikum..


__ADS_2