
"Kak Aresh," panggil Naila, panggilan yang membuat Damaresh menghentikan langkah kakinya.
Tatapannya menemukan Naila yang tergesa menghampiri, dan kini gadis cantik itu sudah berdiri cukup dekat di depannya.
"Kak Aresh sepertinya sangat terburu," tebak Naila.
"Ya, seperti yang kau lihat."
"Aku minta waktunya sebentar ya, Kak."
"Ada apa, Nai?"
Naila sejenak melayangkan pandang, dan sejenak kemudian segera tertunduk dalam.
"Secara pribadi, Kak, aku minta maaf, karna mungkin karna aku, kau harus melawan kakek---"
"Bukan karna kamu, Nai." Damaresh cepat menyanggah ucapan gadis itu.
"Ya, aku tau, kau melakukan semua ini untuk Aura, kau berjuang untuknya," ralat Naila segera. "Tapi, aku juga ada di balik semua ini, Kak," lanjut gadis itu lagi di-iringi helaan nafas dan sekali lagi menatap Damaresh yang terlihat tak menujukkan reaksi hendak menjawab.
"Aku, bukannya ingin mengatakan, kalau di sini aku terpaksa, dan hanya ingin menuruti kemauan kakek William. Karna kenyataannya, aku merasa senang ketika kakek, menyatakan niatnya, ingin menjodohkan kita." Naila memutus ucapannya untuk meraup udara sekali lagi.
Perasaannya gugup sekali kali ini, apalagi saat melihat sorot mata Damaresh plus wajahnya yang tak berexpresi, membuat hatinya ketar-ketir dalam kebimbangan, antara melanjutkan pembicaraan atau tidak.
Namun di sisi hatinya yang lain, seakan menuntut agar ia menuntaskan pembicaraan dan menyampaikan apa yang harus disampaikan, terlepas Damaresh akan suka atau tidak.
"Aku sebenarnya sudah merasa, kalau Kak Aresh tidak akan pernah suka untuk dijodohkan-- tapi-- saat itu aku merasa tak ada salahnya untuk mencoba, karna aku tidak tau sama sekali kalau kau sudah punya wanita pilihan," ungkap Naila dengan sedikit tundukkkan pandangan.
Ia tak berani beradu pandang dengan Damaresh yang dalam tatapannya tidak ada kelembutan.
"Dan sekarang kau sudah tau, Nai."
"Iya, Kak Aresh sangat mencintai Aura," putus Naila. Gadis itu sejenak tertunduk.
"Kau tak berharap untuk bersama laki-laki yang sudah mencintai wanita lain, bukan?"
tanya Damaresh.
Itu pertanyaan atau sindiran ya?
"Tidak, Kak," sahut Naila.
"Kalau kakek tetap memaksa?"
Damaresh seakan ingin menjajaki hati Naila.
"Aku akan menolak dengan caraku,"
Sahutnya, meski tak terlihat adanya tekad yang kuat di matanya.
"Aku pegang kata-katamu, Nai."
Naila mengangguk lemah sambil menelan salivanya diam-diam. Sepertinya Damaresh sudah berhasil menekannya sekarang.
"Ini saja yang ingin kau bicarakan?" tanya Damaresh sembari melihat jarum jam di pergelangan tangannya.
"Satu hal lagi, kak."
"Apa?"
"Aku senang, Kak Aresh menang," ucap naila dengan tatapan sumringah.
Damaresh mengangguk.
"Terima kasih, Nai," ucapnya dan segera berlalu dengan sedikit bergesa.
Menyisakan Naila yang harus berkali-kali menarik napasnya.
Langkah Damaresh untuk secepatnya menemui Aura, kembali terhenti. Ketika Anthoni menghadangnya sambil mengulurkan tangan.
"Congratulation," ucapnya.
Damaresh menatap datar sepupunya itu, sedatar ucapannya. "Belum saatnya." Ia bahkan menolak menjabat tangan Anthoni
dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Ayolah, Aresh, kau seorang pemenang, ini patut dirayakan," ucap Anthoni berseloroh.
__ADS_1
"Belum bisa disebut pemenang, selagi ayahku belum ditemukan," sahut Damaresh dengan wajah mengerut samar.
"Ahh iya." Anthoni terlonjak seperti baru mengingat sesuatu. "Om Elang, apa benar dia masih hidup?"
"Ya."
"Bagaimana bisa? Ah tidak, aku tak perlu tanyakan itu." Anthoni gelengkan kepalanya sendiri. "keluargaku memang ajaib," lanjutnya.
Tak ada hal yang tak bisa dilakukan oleh keluarga William, termasuk memanipulasi berita kematian seseorang. Ini, sudah bukan sesuatu yang mencengang bagi Anthoni.
"Mungkin setelah ini, aku juga akan mendengar kabar, kalau papaku juga masih hidup," tukas Anthoni disertai tawa miris.
Damaresh segera teruskan langkahnya melewati Anthoni. Tapi lagi-lagi Anthoni memghentikan langkahnya.
"Di mana, om Elang sekarang?"
"Di sandera kakek," sahut Damaresh.
"Ckk" Anthoni berdecak. "Dan dia pikir, dia menang bisa menekanmu dengan menggunakan om Elang? Cara yang pengecut," umpat Anthoni kesal.
"Jangan mengumpat! Kau bisa tidak dapat warisan," ancam Damaresh yang sebenarnya sebagai bentuk cibiran.
"Yang terancam tidak dapat warisan itu kau, Aresh. Dia pasti sekarang sedang menimbang-nimbang akan mencoret namamu atau tidak, dalam daftar ahli warisnya," ledek Anthoni yang disertai tawa
renyah.
Damaresh hanya mengedikkan bahunya santai. Anthoni tergelak kencang, ia sedang menertawakan dirinya sendiri yang telah memberikan ancaman tak penting pada Damaresh. Karna ia tau sekarang, Damaresh tak butuh warisan kalau hanya ingin punya perusahaan. Dengan otak bisnisnya yang terlalu pintar, dia pasti bisa membuat Pramudya berpindah tangan, atau justru gulung tikar.
Apalagi sekarang, dia hampir memegang kekuasan penuh atas Pramudya Corp di dalam dan di luar negeri.
Bukankah penting bagi Anthoni untuk bersikap baik-baik pada Damaresh, mana tau dengan itu, bagiannya akan ditambahi.
Ahh, tapi kenapa malah bicara soal warisan sihh. Kembali Anthoni menertawakan dirinya sendiri.
"Kau mau kemana?"
"Menemui seseorang," sahut Damaresh.
"Siapa seseorang istimewa yang membuatmu ingin menemuinya?" Anthoni terlihat penasaran.
"Menurutmu?"
Damaresh tak menjawab, ia sedang menerima kunci mobilnya dari petugas valet yang baru saja keluar dari mobil super mewah yang kini terparkir apik di depannya.
"Boleh juga kan, jika ku bawa Vriska juga kemari, Aresh," usul Anthoni.
"Terserah padamu."
Damaresh segera menghilang di balik body mobilnya yang dalam sekejab rodanya bergulir meninggalkan halaman depan gedung megah kantor Pramudya Corp, London.
*******
*********
Sajian makan siang sudah tertata apik di atas meja makan, tapi siluet wanita cantik yang tak lepas hijab itu tak ditemukannya di manapun dalam setiap sudut ruangan.
Gegas Damaresh mencarinya ke kamar, nihil, Aura tak ditemukannya, di kamar mandi, di pantry, di beberapa kamar yang lain, juga tidak ada.
Panik, itu yang dirasakannya sekarang, ketika Aura tak bisa ditemukan. Tapi mengingat sistem keamanan kediamannya yang sangat terjaga, Aresh berusaha tenang. Langkahnya kemudian menuju kolam renang, walau ia tau, kalau istrinya itu bukan orang yang suka berenang, tapi bisa saja kalau Aura hanya duduk saja sambil main air disana.
Dan ternyata, di sana Aura juga tak ada.
Damaresh segera memutar tubuhnya dengan cepat, namun ekor matanya menangkap sesosok tubuh yang sedang meringkuk di kursi bulat di sudut kolam.
"Arra." Damaresh segera duduk di samping Aura yang sepertinya hampir tertidur dengan posisi meringkuk.
"Aresh."
Aura menutup mulutnya yang hendak menguap. "Kau sudah datang," katanya dengan tatapan lemah, dan sesaat lalu terdengar ia berdesis lirih.
"Kau kenapa?" tanya Aresh dengan tatapan menelisik.
"Hanya sedikit sakit perut,ta--"
Belum tuntas Aura menjelaskan terlihat Damaresh mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Mau apa?" tanya Aura.
__ADS_1
"Panggil dokter."
"Untuk--??"
"Memeriksa-mu."
Aura segeta mengambil ponsel di tangan Damaresh. "Gak perlu sampai ke dokter, Aresh. Aku gak papa," ucapnya.
"Bukan pergi ke dokter, Arra. Tapi dokternya yang akan datang kesini," kata Aresh sambil hendak mengambil ponselnya lagi.
"Apalagi itu, Aresh, aku hanya sakit perut karna lapar, jadi gak perlu ke dokter," kata Aura.
Damaresh memicingkan matanya. "Kalau lapar kenapa gak makan, sampai sakit perut begini."
"Aku nunggu kamu," sahut Aura.
"Kenapa menungguku?"
"Ya kamu kan bilang mau makan siang di sini, Aresh. Jadinya aku nunggu kamu dulu, sekalipun aku sudah lapar," lirih Aura sambil tundukkan pandangannya, pasalnya, tatapan Damaresh serasa menghunjam dadanya.
Lelaki itu menatap Aura dengan merangkum dua rasa sekaligus dalam hatinya, Kesal dan gemas secara bersamaan. Ia segera berdiri seraya menggulung lengan kemejanya sampai dibawah siku. "Tunggu di sini," titahnya dan segera pergi, namun baru tiga langkah, ia memutar badannya lagi dan menatap Aura. "Jangan kemana-mana sampai aku kembali!" titahnya lagi.
Aura mengangguk patuh, dan ia kembali dengan posisi meringkuknya tadi guna meneruskan perjalanannya yang ibarat pesawat sudah hampir lepas landas menuju lelap.
"Arra, makan dulu," kata Damaresh yang tau-tau sudah duduk di dekatnya dengan semangkok bubur hangat di tangan.
"Kenapa bubur? Kan di sana banyak makanan?" Protes Aura.
"Kau sudah terlambat makan, jadi harus makan makanan yang teksturnya lembut dulu." Damaresh segera menyendokkan bubur di-tangannya dan menyuapkannya pada Aura.
"Lain kali jangan sampai sakit perut hanya karna terlambat makan, aku gak suka," ucap lelaki itu ketika Aura sudah mengunyah buburnya.
"Aku kan menunggumu," sahut Aura.
"Sekalipun karna menungguku," kata Aresh datar.
Aura tak menjawab, karna sedang menerima satu suapan lagi. "Kau gak makan?" tanya Aura kemudian, setelah sesendok bubur telah tenggelam dalam tenggorokan.
"Ya, setelah ini," ucapnya sambil kembali menyuapi Aura.
"Kau mau dengar ceritaku?" tanya Aura kemudian setelah semangkok bubur telah ia tandaskan.
"Apa?"
"Ning Izza, itu nama putri kyai-ku di pesantren. Beliau menikah dengan putra kyai juga dari kudus. Saat Ning Izza sedang gak enak badan, beliau ingin makan masakan suaminya dan makan berdua juga."
Aura sejenak menatap Damaresh, terlihat kalau suaminya itu tengah menyimak penuturannya dengan seksama membuat Aura semakin bersemangat melanjutkan ceritanya.
"Setelah masakannya siap, ning Izza tertidur, dan suaminya gak tega untuk bangunin, jadi dia nungguin ning Izza bangun sendiri sampai makanannya jadi dingin. Dan suami ning Izza sakit perut karna menahan lapar," tutur Aura mengahiri ceritanya.
"Lalu?" Tanya Damaresh datar.
"So sweaat kan Aresh, mereka. Aku jadi terinspirasi--"
"Aku gak suka," potong Damaresh cepat, sebelum kalimat Aura tuntas.
"Boleh saja kau menghargaiku, atau mengabdi padaku, karna kau istriku. Tapi aku gak suka jika dengan itu kau akan kesakitan atau apapun yang membuatmu tidak nyaman."
"Kenapa begitu?" Protes Aura seakan tak terima.
"Karna aku tak ingin kau tersakiti, sekalipun itu atas nama pengabdian sebagai seorang istri," tandas Damaresh.
"Kata-kata apa ini," Aura terlihat tak terima.
"Kau tak mengerti?"
"Aku mengerti, itu adalah kata-kata yang mengandung makna perhatian dan kasih sayang, tapi kenapa diucapkan dengan datar? Gak ada manis-manisnya sama sekali," ucap Aura sambil sedikit mengerucutkan bibirnya.
"Kau ingin yang manis?"
"Pastinya lah, kan harus sesuai."
Damaresh mengangkat tubuh Aura ke atas pangkuannya. Satu tangan melingkari pinggang Aura dan tangan yang lain mencengkram tengkuknya. Lelaki itu segera menunduk mendaratkan ciuman dari bibir merah mudanya yang alami itu pada bibir ranum Aura, dengan sapuan dan sedikit pagutan lambut, lalu melepasnya lagi.
"Apa ini cukup manis?"
"Sangat manis," sahut Aura dengan senyum dan membuang tatapan ke sembarang arah karna netra pekat Damaresh yang mengunci wajahnya lekat, membuatnya jantungnya seakan melompat-lompat.
__ADS_1
"Aku tambah lagi manisnya ya," pinta Damaresh dan segera mengulang aksinya lagi dengan lebih dalam lagi dan lebih lama lagi.
cut...