
"Aku tidak ingin mati cepat, Aresh," lirih Aura sambil mengatupkan matanya rapat-rapat.
"Setidaknya kita bisa mati bersama," sahut Damaresh.
Haa..Kalimat itu terdengar manis dan indah, serta bisa menenangkan Aura dari kekawatirannya yang luar biasa, hingga kini ia tak lagi meracau, tapi memilih diam dan mencoba untuk memasrahkan segalanya, atas hal apapun yang akan terjadi nanti. Tapi matanya masih enggan terbuka,
karna hanya kengerianlah yang ada manakala ia menatap jalanan di depan.
Bagiamana Aura tidak akan meracau masalah
kematian dengan cara menyetir Damaresh yang diatas normal.
Jarak tempuh dari Probolinggo-Surabaya di jalan umum adalah 107,51- km atau 66,66 mil, yang untuk melewati jarak tersebut dengan kecepatan kendaraan
80/km per-jam, maka di butuhkan waktu sekitar satu jam, namun dalam kondisi lalu lintas sekarang, normalnya bisa ditempuh dalam waktu satu jam empat puluh lima menit untuk tiba di kota Surabaya.
Tapi Damaresh hanya melewatinya tak kurang dari empat puluh menit dengan cara menyetirnya yang sukses membuat jantung Aura seakan berhenti berdetak.
"Buka matamu Arra! kita sudah sampai,"
"Benarkah?" Aura membuka matanya perlahan dan mengerjab beberapa kali.
"Kita sudah sampai?" Ia bertanya seakan tak percaya.
Tapi mau diingkari bagaimana, pemandangan rumahnya kini terpampang jelas di depan matanya.
Mobil mewah Damaresh mendarat dengan sempurna di
halaman rumahnya yang sangat sederhana.
"Alhamdulillah, ya Allah, tidak jadi mati," ucap Aura sambil mengusap wajahnya.
Damaresh menatapnya sambil menarik sudut bibirnya samar. Lelaki itu kemudian menggeser tubuhnya mendekati Aura. Semakin dekat dan
sangat dekat hingga hembusan napas hangatnya di
rasakan dengan jelas oleh Aura. Damaresh kemudian menunduk.
"Ka-Kau mau apa?" tanya Aura gugup, pikirannya sudah mengembara kemana-mana.
"Melepaskan seatbelt mu."
Dan kedua tangan Damaresh segera melakukan seperti apa yang dikatakannya barusan, setelah seatbelt itu terlepas dari Aura, Damaresh kembali menjauhkan tubuhnya dan keluar dari dalam mobil.
Setelah menarik napas dalam untuk menormalkan detak jantungnya yang bertalu-talu bak pukulan bedug di malam takbiran, Aura juga segera keluar dari dalam mobil.
Dan alangkah terkejutnya Lukman mana kala ia membuka pintu depan rumahnya dan melihat siapa yang berdiri di hadapannya sekarang.
Rasa kantuk yang masih sangat menguasainya kendati dipaksakan melangkah untuk membuka pintu setelah ketukan berkali-kali, seketika hilang sudah setelah tau siapa yang datang bertamu malam-malam begini.
Bahkan muka bantalnya seketika berubah jadi keceriaan berbalut senyuman karna anak dan menantunya yang datang.
Mereka hanya berbincang sekitar dua puluh menit sebelum Lukman segera mempersilahkan tamu istimewanya itu untuk beristirahat, karna malam yang memang sudah mencapai puncak.
"Kalau kau mau mandi, aku siapkan air hangat ya?"
Aura memutus kecanggungan yang tercipta diantara keduanya dengan pertanyaannya. Pasalnya, Damaresh menatapnya lekat tanpa kata ketika gadis itu keluar dari kamar mandi sangat sederhana di dalam kamarnya dengan wajah basah bekas air wudhu. Wajah Aura yang cantik alami itu terlihat begitu bersinar dalam pandangan Damaresh.
"Tidak usah," tolak Damaresh sambil menggeleng.
"Kalau begitu aku mau sholat 'isya dulu, tadi belum sempat. Atau kita sholat bersama, jadi aku akan menunggumu." Aura menatap Damaresh dengan senyum, berharap kalau tawarannya akan diterima oleh lelaki itu.
"Kau saja," ucap Damaresh dan segera berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
Aura mendesah kecewa dalam hati, satu keinginannya setelah menikah yang sampai kini masih belum terlaksana, yaitu melaksanakan sholat berjamaah bersama sang suami. Tapi rupanya untuk saat ini, Aura harus menekan keinginannya itu dulu dalam-dalam.
Damaresh duduk di kursi tunggal di samping pembaringan sambil memeriksa ponselnya, wajah tampannya terlihat sangat segar setelah mandi.
Aura yang baru menuntaskan sholat 'isya segera menghampiri dan meraih tangan Damaresh, menciumnya.
"Maaf, aku tadi lupa," ujar Aura sambil tersenyum.
Di pesantren tadi, ketika melihat Damaresh, Aura terlupa untuk melakukan ritual wajib itu dikarenakan
sudah dibuat kaget lebih dulu dengan kehadiran
Damaresh yang tiba-tiba di sana.
"Baru ingat setelah lewat satu jam," kata Damaresh.
"Apa kau akan tidur di kamar depan?" tanya Aura kemudian.
"Kau mengusirku?" Damaresh menatapnya seksama.
"Bu-Bukan begitu, aku takut kalau kau merasa kurang nyaman jika tidur di sini," kata Aura cepat.
"Ku rasa bukan ide buruk kalau aku juga tidur di sini,
apa kau keberatan, Arra?"
"Ti-Tidak." Aura menggeleng cepat bersamaan dengan jantungnya yang mulai berdetak dua kali lebih cepat.
__ADS_1
"Aku akan tidur di sini, tapi kau tidurlah lebih dulu! aku masih perlu menyelesaikan sesuatu,"
"Baiklah,"
Aura segera beringsut naik ke atas tempat tidurnya yang tak selebar dan tak se-empuk di rumah Damaresh. Gadis itu mengatur napasnya, membaca doa dan mulai memejamkan matanya, Tapi seberapapun lamanya waktu yang terlewat, dan seberapa kuat sepasang matanya mengatup rapat, Aura belum meraih tidurnya, padahal tubuhnya terasa sangat lelah
seharusnya ia langsung terbang ke alam mimpi.
Sesaat terasa tempat tidurnya bergerak, Aura perlahan menoleh, terlihat Damaresh telah merebahkan tubuhnya tak jauh di sampingnya.
"Kenapa belum tidur?" tanya lelaki itu, padahal ia tak menatap pada Aura, tapi ia tau kalau gadis di sampingnya itu masih diam-diam menatapnya.
"Aku akan tidur,"
"Tidurlah! kalau besok kau kesiangan, akan aku tinggal!" Damaresh memberikan sedikit ancaman.
"Tidak apa-apa, biar aku bisa puas melepas rindu pada ayah," sahut Aura.
Damaresh menoleh sekejab menatap Aura.
"Jadi ini bukan ancaman yang tepat, ya?"
"Begitulah." Aura tersenyum.
Damaresh mengembalikan tubuhnya pada posisi
awal, sepertinya menatap langit-langit kamar itu lebih menyenangkan baginya dari pada menatap wajah Aura yang berbaring di sampingnya.
"Tadi ketemu Akhtar?" tanya Damaresh tiba-tiba.
" Iya, tadi dia jadi MC di acara itu,"
"Sepertinya kalian juga sempat bicara,"
"Kau tau?" Aura nampak heran.
"Aku melihatnya," sahut Damaresh.
Ketika ia memutuskan tetap menunggu dalam mobil di parkiran pesantren, Damaresh memang melihat Aura berbicara berdua dengan Akhtar sebelum akhirnya dua orang teman Aura datang menghampiri mereka.
"Iya, tadi dia hanya menyapaku dan meminta maaf karna terlalu cepat menuduh, katanya."
Aura sejenak menatap Damaresh, tak ada respon apa-apa dari lelaki itu. "Dia sudah menikah dan istrinya
sedang hamil sekarang," lanjut Aura lagi.
Tetap tak ada respon apapun dari Damaresh, ia bahkan belum merubah posisi tidurnya. Sepasang matanya juga tetap masih terbuka.
Aura mengubah haluan pembicaraan.
"Tanyakan saja!"
"Aku tau kalau Pak Alarick itu suaminya Sheriin, sahabatku. tapi kami tak pernah tau kalau pak Alarick itu pamanmu."
"Iya, dia putra bungsu kakek,"
"Sherin juga sepertinya belum tau itu, padahal mereka
menikah sudah lebih dua tahun."
"Pasti ada alasan kenapa om Alarick tak memberitaukan hal itu pada istrinya," kata Damaresh.
"Jadi, keluarga besar-mu juga tidak mengetahui keberadaan Sherin ya?"
pikir Aura, dia memiliki nasib yang sama dengan sahabatnya yang menikah dengan salah satu keluarga Willyam, namun tak diketahui keberadaannya oleh keluarga besar Willyam Pramudya.
Apa laki-laki dalam keluarga besar Willyam memang suka menikah diam-diam?
"Mereka juga tidak tau dimana keberadaan om Alarick
sekarang," sahut Damaresh
"Apa! kenapa bisa begitu?" tanya Aura heran.
"Om Alarick sudah meninggalkan keluarga besar Willyam sejak lima belas tahun yang lalu,"
"Hah? Ke-kenapa bisa begitu?" Lagi. Aura semakin dibuat keheranan.
"Satu hal yang tak bisa ku ceritakan, Arra."
Damaresh tetap dengan keputusannya, bahwa ia belum bisa berbagi kisah tentang keluarganya yang sangat rumit kepada orang lain, siapapun itu, bahkan dirinya sendiri justru ingin mengubur dalam kisah tentang keluarganya yang telah menorehkan luka yang teramat dalam di hatinya itu. namun nyatanya segala kelukaan yang telah dialaminya teramat dalam membeliti jiwanya, bahkan telah membentuk kepribadiannya, dan mengubah cara pandangnya tentang cinta dan pernikahan. Hingga kedua hal tersebut menjadi sesuatu yang sangat ingin dihindarinya.
Tapi siapa sangka, jika akibat permainannya sendiri justru membuatnya terjebak pernikahan dengan gadis
yang kini berbaring di sampingnya, gadis yang memiliki cara pandang yang sangat berbeda dengan dirinya tentang sebuah pernikahan.
(Perbedaan cara pandang Aresh dan Arra tentang pernikahan ada di part 10, bagi yang belum baca, sebaiknya baca dulu ya, agar bisa memahami alur ceritanya dengan lebih utuh)
Kembali pada Aresh dan Arra.
"Aresh, suatu saat jika kau butuh tempat untuk bercerita, aku akan selalu siap untuk mendengarkanmu," ucap Aura dengan tulus dari hatinya yang paling dalam.
__ADS_1
"Kapanpun?"
"Iya, kapanpun," tegas Aura.
Damaresh merubah posisi tubuhnya dengan tidur menyamping menghadap Aura. "Kau yakin akan bertahan lama di sampingku?" tanya-nya.
Yang membuat Aura sejenak terdiam dengan pertanyaan itu yang sepertinya mengandung makna luas yang tersimpan, namun Aura tak mau menebak-nebak yang hanya akan menyudutkannya pada prasangka yang terselubung. Aura memilih fokus saja untuk menjawab apa yang ditanyakan
"Iya, Insha-Allah," jawab Aura.
"Kau akan bertahan, walau apapun yang terjadi?"
tanya Damaresh dengan tatapan dalam.
"Iya. Kecuali kau yang mengusirku dari hidupmu," putus Aura.
Damaresh menarik dua sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman yang indah.
"Kau tersenyum lagi, Aresh. Aku suka melihatnya,"
Aura menatap lelaki itu dengan mata berbinar.
"Ucapanmu, adalah alasanku tersenyum."
"Jadi senyummu itu untukku?" Aura masih bertanya karna rasa hati yang berbunga-bunga.
"Apa ada orang lain disini, selain kita?"
Aura menggeleng dengan tanpa melepas senyumannya.
"Tidurlah, sudah larut!" Damaresh mengusap kepala Aura singkat, sungguh membuat hati gadis itu begitu sejuk, bahkan sepasang matanya lansung mengatup rapat dengan senyum yang masih tersungging di bibir ranumnya. Ini sungguh moment yang sangat manis bagi Aura.
Hampir saja Aura terlelap menuju mimpi, ketika satu tangan Damaresh memeluk pinggang rampingnya erat.
Aura segera menoleh, ternyata wajah tampan itu sangat dekat disampingnya, tak ada lagi jarak di antara keduanya.
"Kau keberatan?" lelaki itu bertanya dengan suara serak.
"Ti-Tidak. Kau punya hak atasku," sahut Aura.
"Bahkan sekalipun aku akan berbuat lebih?" Damaresh menatap Aura intens, sedangkan Aura susah payah menghindari berkontak mata langsung dengan Damaresh, pasalnya debaran jantungnya tidak mau diajak kompromi.
"Iya," sahut Aura.
"Aku tau, kalau kau tak akan pernah menolakku, Arra.
Karna itu salah satu prinsip pernikahan yang kau anut.
kan?"
Aura mengangguk merasakan debar jantungnya yang seakan kian bertalu.
"Tapi aku tidak akan melakukan ketidak adilan terhadapmu," kata Damaresh kemudian.
"Maksudmu?"
"Aku bisa mendapatkan apa yang seharusnya aku dapatkan darimu, tapi kau tak bisa mendapatkan apa yang seharusnya kau dapatkan dariku, bukankah itu tidak adil untukmu?"
Aura segera terdiam, bibirnya mengatup rapat, tak ada lagi yang bisa ia katakan setelah mendengar ucapan Damaresh itu.
Cup
Damaresh mencium kening Aura lembut.
"Kita tidur!" ajaknya yang segera mendapat persetujuan dari Aura.
Sang dewi malam pun menggiring mereka bersama-sama menuju ke alam mimpi. Kini yang terlihat adalah wajah tampan Damaresh yang tertidur tenang sambil mendekap sang istri, dan wajah Aura yang tertidur damai dalam pelukan suaminya.
Sungguh manis bukan? Bahkan terlalu manis.
******
Untuk semua pembaca, mohon maaf kalau moment kebersamaan Aresh dan Arra dalam satu kamar dan satu ranjang yang sama ini, tak sesuai dengan expectasi para pembaca.
Alasannya, karna menurut saya secara pribadi.
Damaresh dan Aura adalah dua tokoh yang memiliki
perbedaan yang jauh, dari mulai karakternya, latar belakang kehidupannya, pendidikannya, status sosialnya, kepribadian dan cara berpikirnya, semuanya memiliki perbedaan yang jauh.
Maka butuh sebuah proses untuk menyatukan keduanya dalam satu kesamaan, meskipun mungkin banyak yang bisa melakukan keintiman tanpa adanya kesamaan, tapi bukan alur cerita seperti itu yang ingin saya persembahkan di sini.
Jadi, mari kita nikmati semua proses kedekatan keduanya dengan enjoy.
Dan saran serta kritik para pembaca sangat saya perlukan di sini, agar cerita CINTAKU TERHALANG TAHTAMU menjadi lebih hidup dan dipilih sebagai cerita yang wajib di baca.
Ahh, Wajib di baca?
Apakah ini harapan yang terlalu tinggi?
Dan terakhir dukungan kalian semua sangat saya tunggu. Bisa berupa, like dan komen. Juga vote dan Fav, dan jangan lupa kasih bintang lima ya..
__ADS_1
Aku mohooonnn dehh.