Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
64. Hal Kecil Yang Tak Biasa.


__ADS_3

"Ishh,"


Aura mendesis kecil sambil memiringkan wajahnya dan menatap Damaresh kaget.


"Empuk."


Lelaki itu mengungkapkan penilaiannya setelah berhasil mencubit kecil pipi Aura, karna gadis itu yang tak menggubris panggilannya.


"Usil," lirih Aura sambil mengusap bekas cubitan Damaresh di pipinya, gak terasa sakit sih karna gerakan jari Damaresh itu terlalu lembut untuk disebut sebuah cubitan.


"Kenapa berpuasa kata?"


Hal itu yang sebenarnya ingin ditanyakan oleh Aresh ketika lewat separoh perjalanan hanya dilewati dengan diam oleh Aura, sedangkan Aresh sendiri ia memang bukan seorang yang banyak berhambur kata, meski kebiasaan itu sudah sedikit berubah setiap bersama Aura.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Aresh lagi.


"Pembicaraanmu dengan Nyonya Cristhine, barusan," jawab Aura.


Damaresh tak memberi tanggapan, padahal awalnya ia terlihat ingin tau akan hal apa yang meresahkan Aura hingga tenggelam dalam lamunan terlalu lama, tapi begitu gadis itu mengungkap ihwalnya, Damaresh malah diam saja.


"Aku gak boleh tau?" tanya Aura pelan.


"Kalau gak boleh tau, aku tak akan bicara di depanmu," sahut Aresh datar.


"Jadi, aku boleh tau maksud semuanya itu?" Aura sampai memiringkan posisi duduknya menghadap Damaresh agar lebih fokus pada lelaki itiu terhadap apa yang mungkin akan dikatakannya.


"Kita bicarakan di rumah saja, nanti," putus Damaresh dan mobil memasuki


Halaman utama kantor Pramudya.


Tak seperti biasanya, dimana lelaki itu akan langsung memarkirkan mobilnya di tempat khusus yang langsung menghubungkannya dengan elevator khusus, kali ini ia malah meletakkan mobilnya di halaman utama berjejer dengan beberapa mobil yang lain.


"Kenapa kita kemari?" tanya Aura.


"Bukankah dulu kau selalu ingin datang ke sini bersamaku?" retoris Damaresh yang membuat Aura mengulum senyum tipis, teringat keinginan yang hanya menempati angan.


"Aku ingin memenuhi keinginanmu itu sekarang, maaf kalau sedikit terlambat,"


Lelaki itu mengulurkan tangannya pada Aura yang segera disambut oleh wanita berhijab itu disertai senyuman. Keduanya melangkah bersamaan menuju lobi berpintu kaca tebal yang kanan kirinya di jaga oleh security berperalatan keamanan lengkap.


"Tidak ada kata terlambat, Aresh, selagi kau tetap ingin aku disisimu," ucap Aura dalam ayunan langkah sejajar keduanya.


"Jika aku yang tak lagi bekerja disini?"


Ucapan sekaligus pertanyaan dari Damaresh itu mendatangkan berbagai dugaan dalam diri Aura, yang harus mengendap tanpa terucap karna perhatiannya yang teralihkan pada ke empat security itu yang menjura hormat,


Lalu menepi memberi jalan sedangkan yang lain membukakan pintu untuk keduanya lewat.


Memasuki loby kantor yang sangat lebar dengan design mewah dan elegant, semua pelaku aktifitas di sana segera meluangkan waktu untuk memberi hormat pada sang pemangku kuasa, yang kali ini melintasi mereka dengan cara tak biasa, yakni berjalan beriringan dengan seorang wanita dalam posisi tangan yang saling bergenggaman mesra.


Aura merasa cukup gugup dan tidak nyaman, ketika dalam sekejab semua atensi terfokuskan hanya padanya dan pada jemari tangannya yang berada dalam genggaman lembut Damaresh,


bahkan sekilas ia melihat dua orang resepsionist cantik itu saling mencuri bisikan, melihat pemandangan yang disuguhkan oleh Damaresh Willyam.


"Ini pasti akan menjadi rumor besar,Aresh," lirih Aura dengan berusaha tenang dan sejajar dalam langkahnya.

__ADS_1


"Ah, aku tak pernah tau rumor apa saja yang berkembang selama ini di kantor, dan aku juga tidak mau tau,"


ucap Damaresh santai.


"Ya, karna selama ini kau terlalu acuh pada orang lain," sahut Aura.


Kini langkah keduanya mengarah pada lift karyawan, bukan lift khusus yang selalu dipakai oleh CEO.


"Bukankah itu bagus untukmu, Ara."


Damaresh memutar kepalanya untuk dapat melihat wajah cantik disampingnya.


"Maksudnya?"


Damaresh makin mendekatkan wajahnya hingga ujung hidungnya menyentuh hijab yang menghiasi wajah Aura. "Karna hanya kau saja yang akan mendapatkan perhatianku," bisiknya yang sukses membuat wajah Aura merona.


Pintu lift terbuka keduanya segera masuk. "Kenapa kau memilih pakai lift ini?" tanya Aura begitu lemari besi itu telah melesat ke atas.


"Karna aku ingin berdesak-desakan denganmu."


"Tapi keinginanmu tak bisa terlaksana, karna kita hanya berdua saja di sini, dan lift ini terlalu lebar untuk kita bisa berdesak-desakan, Aresh"


"Kita lihat saja," ucap Damaresh santai.


Dan benar saja, di lantai tiga masuk seorang karyawan wanita yang sempat meragu setelah tau siapa yang ada dalam lift itu, tapi Damaresh segera memberi isyarat agar wanita itu segera masuk.


Di lantai lima masuk dua orang karyawan lagi, yang juga menujukkan expresi yang sama dengan si karyawan wanita tadi, dan lagi-lagi Damaresh mempersilahkan.


Di lantai ke sembilan lift pun penuh setelah di masuki tiga orang karyawan, alhasil Damaresh mengapit pinggang Aura yang berdiri sangat dekat di sampingnya. "Keinginanku terlaksana


"Ya, kau berhasil."


Dan mereka kini telah menapak di lantai 27 dimana ruangan CEO itu berada,masih dalam mode saling bergenggaman tangan, tiba-tiba Aura menghentikan langkah.


"Aresh, aku boleh minta sesuatu?"


"Apa?"


Aura melepaskan jemarinya dari penguasaan tangan Damaresh, lalu meraih lengan kokoh lelaki itu dan menautkan tangannya di sana.


"Bolehkah aku berjalan denganmu seperti ini?"


Sebuah pertanyaan sekaligus bujukan dilontarkan Aura.


Damaresh tak langsung menjawab, pasalnya ia dibuat begitu takjub dengan cara Aura merajuk ditambah senyuman yang teramat indah, ah rasanya ia ingin menancapkan ujung hidungnya di belahan pipi yang kemerahan meski tanpa sapuan blush on itu.


"Dulu aku pernah melihatmu berjalan dengan perempuan yang menautkan tangannya di lenganmu seperti ini, Saat itu aku merasa berhak melakukan itu padamu, tapi aku tak bisa--"


"Berjalanlah di sampingku dengan cara apapun yang kau mau, Arra!"


Damaresh segera menjawab sebelum Aura tuntas berucap.


Kini keduanya berjalan dengan sesuai seperti yang di-inginkan oleh Aura. " Aresh terima kasih untuk hari ini dan saat ini," ucap Aura seiring langkah yang terayun bersama. Menurut Aura apa yang dilakukan oleh Aresh untuknya kali ini patut diapresiasi.


Memang hanya sebuah hal yang kecil, tapi hal kecil itu diluar kebiasaannya, pasti butuh keberanian dan tekad untuk melakukannya, mengingat ia seorang penguasa yang setiap tindakannya akan menjadi berita, apalagi untuk hal yang tak biasa, maka akan mendatangkan selaksa tanda tanya.

__ADS_1


Damaresh menarik sudut bibirnya membentuk senyuman tipis dan keduanya terus melangkah


Hingga mereka tiba di ruangan, dimana ada Clara dan Kaivan yang sedang duduk berdua memperbincangkan sesuatu hal.


"Wahh," keduanya sama berseru takjub melihat atasan mereka yang datang tak sendiri itu.


"Pantas gak mau ditemani, gak mau pakai sopir," dengung Kaivan yang seperti biasa tak mendapatkan tanggapan. Sementara Aura nampak membalas senyum yang dilemparkan Clara terhadapnya.


"Pak, Nyonya Claudya datang meminta bertemu dengan anda," Clara segera melaporkan. ketika dilihatnya Damaresh diam, Clara pun meneruskan laporan.


"karna Bapak sedang keluar, Nyonya Claudya minta dijadwalkan bertemu besok," lanjut Clara.


"Ya, aku akan menemuinya setelah makan siang besok," sahut Damaresh.


"Baik pak, segera saya sampaikan."


Selanjutnya Damaresh beralih pada Kaivan.


"Tamu kita hari ini sudah datang?"


"Sudah setengah jam lalu, Pak," sahut Kaivan.


"Sekarang mereka di mana?"


"Di small guest room, "


"Ayo kita temui mereka," ajak Damaresh dan sebelum melangkah ia meremas lembut jemari Aura.


"Kau mau ikut aku, atau tetap di sini bersama Clara?"


tanya-nya.


"Aku di sini saja," sahut Aura.


Damaresh mengangguk dan segera melangkah diikuti Kaivan. Clara segera menghampiri Aura.


"Apa kabar, ee ... aku harus memanggil apa ya?"


"Kabar baik mbak Clara, panggil Aura saja seperti biasa!" sahut Aura cepat.


"Gimana bulan madu-nya, lancar?"


"Bulan madu?" Aura terlihat mengerutkan keningnya.


"Iya, kata Mas Kai, kepergian ke Bali kemarin sekalian acara bulan madu kamu sama pak Damaresh," tutur Clara.


"Ohh," Aura tersenyum lembut. "Mas Kai, bisa saja ya,"


"Dari dulu aku ingin mengucapkan hal ini,"


Clara meraih tangan Aura dan menatap gadis itu lekat.


"Kau sangat beruntung Aura. Pak Damaresh memperlakukanmu dengan sangat istimewa, semua itu pasti karna ia punya perasaan yang sangat istimewa pula padamu," Clara menghentikan ucapannya untuk sekedar menarik napas.


"Yang aku tau, laki-laki dalam keluarga Willyam, bila sudah mencintai, mereka tidak punya jalan untuk kembali," lanjut Clara lagi.

__ADS_1


__ADS_2