
"Kenapa Kai?" Damaresh langsung bertanya begitu benda pipih itu telah menempel di bagian samping kepalanya.
"Sepertinya aku dalam masalah," suara Kaivan terdengar berat.
"Masalah apa?" Damaresh mendudukkan dirinya di sofa. Damaresh Baru saja sampai di apartemen, tapi Kaivan sudah menelfhonnya.
"Ada yang meletakkan obat di minumanku," tutur Kaivan.
"Bagus lah, biar pusingmu segera hilang," jawab Damaresh malas, sebenarnya ia ingin segera mengahiri panggilan telfhon itu untuk segera mandi dan tidur.
Capek, itulah yang sangat dirasakannya malam ini.
"Ini bukan sembarang obat," jelas Kaivan
"Lalu?"
"Sildenafil.." Suara Kaivan terdengar hampir berbisik karna menahan hawa panas yang sangat kuat di tubuhya.
"Apa? Siapa yang melakukannya?" Damaresh sedikit terkejut sambil memicingkan mata.
"Kalau aku tau, sudah aku cincang tubuhnya." Kaivan terdengar geram. "obat itu sekarang sudah bekerja," imbuhnya lagi.
Damaresh tergelak mendengarnya. Meski bukan Dokter, Damaresh dan Kaivan sudah sangat paham dengan obat yang di sebutkan itu. Sildenafil Bila di kombinasikan dengan Alkohol hasilnya akan membuat si peminum terangsang sangat kuat. Dan Kaivan baru saja menenggak minuman ber-alkohol di Club meski katanya tidak banyak, tapi tetap saja akan membuat obat itu bekerja dengan sempurna
"Ini tidak lucu Resh, aku sudah sangat kepanasan," Kaivan mendampratnya. Lelaki itu bahkan sudah meringkuk di kamar mandi setelah mengguyur tubuhnya dengan air berkali-kali, mencoba untuk menahan hasratnya yang dengan sangat tidak tau diri sudah menari-nari sampai ke ubun-ubun.
"Kau tinggal hubungi Baron saja, Kai. Minta dia mengirimkan penawar," usul Damaresh sambil berdecak. Hal begini saja masih bicara padaku. pikirnya.
Baron yang di maksud adalah seseorang yang biasa menyediakan jasa wanita pemuas di atas ranjang. Kaivan sekarang pasti membutuhkan itu untuk menyalurkan hasrat seksualnya yang sangat tinggi akibat efek dari obat Sildenafil plus alkohol yang telah di minumnya.
"Masalahnya, disini ada Aura," ucap Kaivan dengan nafas memburu.
"Arra, dimana?" Damaresh terlonjak.
"Di dalam apartemenku, Aresh,"
"Kok bisa?" Damaresh yang semula duduk santai kini mulai menegakkan tubuhnya.
"Aku juga tidak tau, sepertinya ada yang membawanya kesini, sekarang entah ia dalam keadaan tidur atau tak sadarkan diri," Sahut Kaivan.
"Sial." Damaresh mengepalkan tinjunya. Dapat dengan mudah di paham kalau ini adalah jebakan. Kaivan dan Aura sengaja di jebak oleh seseorang.
"Kai, keluar kau dari apartemenmu sekarang, aku akan minta Baron untuk mengirim orang kepadamu,"
Damaresh segera mematikan telfhonnya untuk menghubungi seseorang yang di maksud.
Namun tak lama ia menghubungi Kaivan kembali.
__ADS_1
"Jangan sentuh Arra, Kai!" ia langsung memberi peringatan dengan cepat ketika Kaivan menerima panggilannya.
"Aku tidak bisa keluar Resh, tubuhku tidak kuat, sekarang aku mengunci diri di kamar mandi."
suara Kaivan memang terdengar terengah, bukti kuat kalau ia tengah berusaha menahan diri.
"Lalu Arra?"
"Dia ada di depan, di sofa. Aku tak menyentuhnya sama sekali, tapi tak tau jika kau terlalu lama, dan aku sudah tak tahan lagi," Sahut Kaivan.
"Aku akan menghabisimu, Kai. Kalau sampai melampiaskan itu pada Arra," ancam Damaresh dan segera berlari keluar setelah meraih kunci mobil. Unitnya yang berada di lantai paling atas membuatnya harus menggunakan lift, Namun pintu lift tak segera terbuka kendati ia sudah menekan-nekan tombolnya beberapa kali, Pasti karna lift itu juga sedang di gunakan. Damaresh hampir saja menedang pintu besi itu, jika saja pintunya tak segera terbuka.
Berpacu dengan waktu, Damaresh menyetir mobilnya seperti orang kesetanan. Tujuannya hanya satu yaitu menyelamatkan Aura, karna seseorang yang sedang berada di bawah pengaruh obat seperti Kaivan saat ini, cenderung tak akan bisa menggunakan akal sehatnya untuk bertindak.
Jarak tempuh dari Apartemen Damaresh ke tempat Kaivan bila di lewati secara normal tak kurang dari tiga
puluh menit, tapi Damaresh hanya melewatinya tak lebih dari lima belas menit. Dengan cara menyetir yang seperti kesetanan begitu, ia telah menyebabkan dua mobil kecelakaan di ruas jalan yang dilaluinya.
Sadarkah Damaresh dengan perbuatannya? Tidak. Ia tidak tau kalau ada dua mobil yang menabrak pembatas jalan karna menghindari laju mobilnya yang seperti sedang berpacu di lapangan sirkuit F1. kalaupun tau, ia tak akan perduli. Karna yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah Aura saja.
Tapi kenapa Damaresh jadi sepanik itu ya??
Tanpa menunggu Kaivan untuk membuka pintu, Damaresh bisa masuk begitu saja kedalam Apartemen itu karna memang sudah tau pada kode aksesnya.
Dan lelaki itu menghela nafas dalam, saat melihat sosok Aura yang terbaring di sofa dengan pakaian utuh, hanya saja sudah tak ada penutup di rambutnya, rambut sehalus sutra itu tergerai bebas, bahkan sebagian memenuhi pipinya.
"Kau masih di dalam?"
"Hmmm" terdengar jawaban Kaivan yang sepertinya memang berasal dari kamar mandi.
"Tunggu sebentar!" Damaresh kembali keruang depan
dan terdengar bel pintu berbunyi. Damaresh bergegas membukanya.
Seorang wanita cantik berdiri di depan pintu. Memakai baju kurang bahan yang memang terlihat **** dengan letak tonjolan dan lekukan di tempat yang pas di tubuhnya.
Wanita itu sempat terpana menatap Damaresh, dan seketika fantasi liarnya mengembara kemana-mana, membayangkan kalau sebentar lagi ia akan bergumul dengan lelaki super tampan di depannya.
Namun untunglah wanita itu sempat bertanya.
"Dengan pak Kaivan?"
"Disana!" Damaresh menunjuk ke arah kamar Kaivan.
"Masuk saja," ujarnya lagi.
Terlihat wanita itu sedikit kecewa, namun sebagai pekerja profesional yang sudah biasa memberi servis untuk orang berkelas, wanita itu segera melenggang masuk dan melangkah cantik melewati Damaresh bak seorang top model yang sedang berlenggak-lenggok di atas red carpet. Tebar pesona pasti, siapa tau kalau lelaki yang telah mengagetkannya dengan ketampanan yang luar biasa itu akan tertarik juga untuk memakai jasanya.
__ADS_1
Damaresh duduk tak jauh di dekat Aura, sempat terpikir untuk membawa gadis itu pulang ke apartemennnya sendiri. Namun menyadari kalau kemungkinan apartemen Kaivan ini masih di awasi oleh si penjebak, Damaresh memutuskan untuk menginap saja disana yang memang terdapat satu kamar yang lain selain kamar yang di tempati Kaivan. Kendati dengan itu ia telah mengambil resiko akan mendengar ******* ataupun jeritan laknat dari kamar Kaivan yang sedang memakai obat penawarnya.
Damaresh mengangkat tubuh Aura kedalam kamar. Terlaksana juga niatnya untuk menggendong Aura kan, ingat beberapa waktu lalu ketika ia mengancam akan menggendong Aura yang kelelahan setelah di ajaknya naik turun tangga. makanya hati-hati kalau berbicara, karna setiap ucapan itu adalah do'a.
Setelah membaringkan tubuh Aura dengan posisi sempurna di atas tempat tidur, Damaresh segera meneruskan niatnya semula untuk mandi, membersihkan tubuhnya yang terasa lengket, dan ia membaringkan tubuhnya di sofa tak jauh dari tempat tidur dalam keadaan segar seusai mandi.
Lelaki itu akhirnya terlelap setelah sempat menyusun beberapa rencana dalam otaknya. Hingga beberapa jam kemudian suara panggilan telfhon membangunkannya.
Dengan sepasang mata yang masih enggan terbuka dengan sempurna ia meraih gawainya di atas meja yang ternyata sepi, bukan dari smartfhonnya itu panggilan tersebut terdengar.
Damaresh bangkit menghampiri Aura yang masih terpejam sempurna setelah tau kalau suara panggilan telfhon itu berasal dari gadis itu, tepatnya dari ponsel yang berada dalam saku bajunya.
Karna panggilan telfhon yang terus berulang, Damaresh mengambil ponsel itu dari saku baju Aura dan melihat nama si pemannggil yang tertulis atas nama calon imam. Damaresh meletakkan ponsel itu kembali enggan untuk mengangkatnya.
Ia segera berinisiatif melanjutkan tidurnya di sofa.
Namun suara panggilan telfhon kembali terdengar.
"Hallo..Assalamu'alaikum dik," Suara si penelfhon begitu Damaresh memutuskan untuk menerima panggilannya. Itu adalah suara Akhtar.
"Sudah jam tiga dik, sholat tahajjud dulu ya," Suara Akhtar lagi dengan nada membujuk lembut. ini Adalah kebiasaannya membangunkan Aura pada jam segini untuk melakukan sholat malam.
"Dik Aura, sangat capek ya," Tanya Akhtar begitu tak terdengar respon dari Aura.
"Ini bukan Aura," Damaresh menjawab dengan suara berat.
"Lho, kok suara laik-laki, kamu siapa, Dik Aura mana?"
Akhtar jelas terdengar kaget menyadari bukan Aura yang mengangkat telfhonnya, bahkan seorang lali-laki.
iapun segera memberondong dengan pertanyaan.
"Aura sedang tidur," sahut Damaresh. Tak sadarkah dia kalau jawabannya itu bisa menciptakan kesalah pahaman yang besar.
"Tidur?" Akhtar terdengar lebih kaget.
"Kamu siapa, kenapa kamu bisa bersama calon istriku pada jam segini," Akhtar bertanya dengan suara yang mulai tinggi.
Damaresh berdecak malas, "Tanya sendiri nanti pada Aura," ujarnya dan segera mematikan sambungan telfhon. Satu yang ada dalam pikirannya sekarang, tidur lagi. Namun belum lagi Damaresh meletakkan ponsel Aura itu di nakas, Akhtar mengulang panggilan.
Pasti dia sangat penasaran kan, siapa pria yang sedang bersama Aura pada dini hari seperti ini, apalagi pria itu mengatakan kalau Aura sedang tidur.
Siapa yang dapat membendung pikiran buruk yang tiba-tiba hinggap didalam kepala Akhtar tentang Aura dan pria yang sedang bersamanya sekarang.
Damaresh bukannya mengangkat telfhon Akhtar itu lagi tapi justru mematikan ponsel Aura dan segera melanjutkan tidur indahnya yang sempat terganggu.
Lalu bagaimana dengan Akhtar, ketika telfhonnya terputus begitu saja, dan ketika coba kembali di hubungi, ponsel sudah tidak aktif.
__ADS_1