Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
17. Patah


__ADS_3

"Laki, husnal wajhi yurooniyu al-kawaakibi"


Kalimat pujian berbahasa arab itu meluncur dengan mulus dari mulut Akhtar ketika netranya menangkap wajah cantik alami Aura yang begitu cerah dengan hijab soft yang di kenakan.


(Kamu memiliki kecantikan wajah yang menyaingi bintang-bintang)


Di puji sedemikian rupa, Aura sempat gugup, kepalanya menunduk dengan wajah bersemu merah,


jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.


Akhtar mengahiri intensitas pandangannya dengan menyisipkan senyum lembut.


"Duduk dek, kakak mau bicara," Akhtar menunjuk kursi di sebelahnya.


"Ayah sudah tidur kak?" Aura bertanya sembari mendudukkan dirinya di kursi yang di tunjuk Akhtar.


Karna barusan ketika Aura pamit untuk mandi dan sholat, Lukman sedang berbincang dengan Akhtar di ruang tengah rumah mereka. Akhtar mengangguk.


Lukman memang sudah pulang dari rumah sakit tadi siang, setelah Dokter menyatakan kalau kesehatannya semakin membaik.


"Aku mau pulang nanti sore dik, karna ayah sudah baikan," Akhtar membuka percakapan, baru kali inilah mereka punya waktu bicara berdua. Sekalipun sama-sama menjaga Lukman di rumah sakit, namun mereka tidak pernah benar-benar berdua, terkadang ada bibi Hasna dan saudara sepupu Aura yang juga ada disana.


"Ah iya kak, terima kasih untuk semuanya ya,"


Akhtar mengangguk tak lupa di sertai senyum.


"Dik Aura sendiri kapan akan kembali ke Jakarta?"


"Belum tau kak, nunggu ayah benar-benar pulih dulu,


atau bisa jadi saya gak akan kembali sampai,.."


Aura tak melanjutkan ucapannya.


"Sampai apa?" Akhtar cepat bertanya.


"Sampai acara kita digelar,"


Akhtar langsung tersenyum mendengarnya "Kalau benar seperti itu aku akan senang sekali, dik. Tapi apa boleh sama atasanmu?"


"Iya. ini aku akan ijin dulu kak, mudah-mudahan boleh,"


Aura sangat berharap meski hatinya tidaklah begitu yaqin.


"Pasti berat ya dek, tugas menjadi sekretaris excecutive bos?" tanya Akhtar.


"Aku bukan sekretaris kak, aku hanya personal Asisstant."


"Apa bedanya dengan Sekretaris dek?" Karna setau Akhtar kalau di indonesia seorang sekretaris itu merangkap asisten pribadi beda dengan di negara luar seperti Hongkong misalnya, disana jelas sekali perbedaan tugas antara seorang sekretaris dan asisten pribadi.


"Beda kak, setidaknya itu yang aku lihat di Pramudya Corp. Pramudya itukan perusahaan induk yang memiliki beberapa anak perusahaan dengan beberapa lini bisnis, jadi jadwal kerja CEO Pramudya sangat padat dan banyak. Karnanya ia tak hanya punya seorang sekretaris tapi juga personal asistant dan executive asistant."


"Siapa saja mereka?" Akhtar sepertinya ingin tau seperti apa lingkup kerja calon istrinya. Atau sebenarnya dia sedang menyelidiki sesuatu. Entahlah, Aura tak berpikir ke arah situ, ia hanya menjawab saja apa yang di tanyakan berdasarkan fakta.


"Sekretaris, mbak Clara, Executiv asistant itu pak Kaivan, dan PA nya aku, kak. Jadi kami berbagi pekerjaan sesuai tugas masing-masing. Kalau mbak Clara dan Pak Kaivan itu indeed tugasnya lebih tentang tanggung jawab pada perusahaan secara umum.


Semisal bekerja dengan team administrasi untuk membuat spreadsheet dan informasi presentasi. Mengorganisir dan merencanakan pertemuan atas nama atasan, dan sebagainya."


Aura mengahiri dengan senyum berasa sedang memberi kuliah pada Akhtar.


"Kalau tugasmu sendiri apa saja dek?" Tapi sepertinya Akhtar tertarik untuk tau lebih jauh tentang pekerjaan Aura.


"Kalau aku tugasnya lebih bertanggung jawab untuk mengatasi kebutuhan Personal CEO kak,"

__ADS_1


"Berarti kau yang paling dekat dengan atasanmu ya?"


"Kalau yang paling dekat itu pak Kaivan,"


"Tapi kau yang pasti lebih sering bersamanya kan, jika tugasmu adalah mengurusi kebutuhan personal nya saja," ucap Akhtar lagi, Aura mengangguk pelan mengingat hanya dirinya saja yang satu ruang dengan Damaresh Willyam. Diam-diam Akhtar menghela nafasnya.


"Jadi apa saja tugasmu dik?" Tanya Akhtar lebih lanjut.


"Memantau email mengenai pelaporan dan memberikan respon jika di perlukan, mempersiapkan komunikasi, menjawab telfhon atas nama atasan, menyiapkan notulen rapat, kalau reshum hasil meeting itu lebih sering mbak Clara," Keterangan Aura itu membuat Akhtar tersenyum, ternyata hal personal yang di maksud adalah masih dalam lingkup pekerjaan.


batinnya, dengan perasaan lega.


"Damaresh Willyam, nama CEO Pramudya Corp ya,"


ujar Akhtar yang di angguki Aura, Akhtar pernah melihat profil Damaresh di geoggle. Ia sengaja ingin tau siapa CEO Pramudya Corp begitu Aura mengatakan kalau dirinya Mmenjadi PA sang CEO.


"Masih muda," Lanjut Akhtar lirih,


"Usianya sekitar 33 tahun kak," Aura menambahkan.


"Hebat ya, jadi CEO sebuah perusahaan besar di usia semuda itu," Akhtar memuji Damaresh, entah ia ikhlas atau tidak, atau bisa jadi kalimat pujian itu hanya umpan untuk Aura agar ia mengemukakan pendapatnya tentang Executive boss nya di kantor.


"Pramudya itukan perusahaan keluarga kak, yang di kelola oleh keluarga, pemegang sahamnya juga keluarga, Keluarga besar Willyam Pramudya, komisaris dan Owner perusahaan. kalau dari ceritanya sih, tuan Willyam Pramudya itu membuat sebuah tantangan besar dan rumit untuk semua anak keturunannya, guna mencari siapa yang pantas menduduki kursi CEO.


Dan tantangan itu hanya Pak Damaresh ini yang bisa menyelesaikan," Aura memang mengemukakan pendapatnya juga tentang Damaresh, tapi itu bersifat umum, tak terselip penilaian pribadi seperti yang di duga Akhtar.


Akhtar mau apa sihh, nanti kalau Aura beneran muji Damaresh, kau sendiri yang akan tidak enak hati.


Tapi Aura juga cerdas dan jeli, ia mampu membaca ke arah mana tujuan pembicaraan ini, karnanya ia menjawab sesuai porsinya saja. Tapi bagi Aura cara yang lakukan Akhtar itu sah-sah saja, karna ia hawatir sekaligus peduli dengan calon istrinya, kepedulian itu lahir dari rasa sayang. Ia siapa juga yang tak hawatir punya calon istri yang pekerjaannya sehari-hari bersama seorang bos yang masih lajang, tampan menawan plus tajir melintir, sampai pelintirannya tak bisa di hitung. Akhtar dulu juga langsung kawatir begitu melihat profil Damaresh Willyam di geogle.


(Tapi warning bagi pembaca, jangan mencari profil Damaresh Willyam dan perusahaannya di geoogle ya,


karna kalian pasti tak akan menemukan apa-apa, kenapa? karna hanya Akhtar saja yang bisa melakukannya, kalian tidak.)


Aura mengangguk, ia memang ingin tidur siang, sesuatu hal yang susah di dapatkannya selama ini.


"Kakak juga ya,"


Akhtar pun mengangguk, ia mengiringi langkah Aura yang masuk ke dalam kamar dengan tatapan lembut.


Aura benar-benar menikmati tidur siangnya dengan damai, melepas segala penat dan beban pikiran yang terpendam, namun tidur cantiknya itu terputus dengan keributan yang terdengar dari arah ruang tamu. Aura perlahan duduk sambil memasang pendengarannya dengan seksama, terdengar suara wanita yang berbicara dengan meledak-ledak, sesekali di selingi suara lelaki yang juga bernada geram, dan suara pelan ayahnya. Lebih jelasnya lagi, tengah terjadi kegaduhan di ruang tamu rumahnya.


Aura segera melompat turun dari tempat tidur, menyambar hijabnya dan bergegas keluar menuju ruang tamu.


"Nahh ini dia anaknya sudah keluar," suara seorang wanita dengan nada mencibir langsung menyambut kehadiran Aura. Dan suara itu milik ibunya Akhtar.


"Bapak dan ibu kapan datang?" Aura segera beringsut hendak menyalami kedua mertuanya, tapi dengan serta merta tangannya di tepis oleh ibunya Akhtar.


Tak hanya itu ia juga palingkan wajahnya dengan tatapan sengit.


Aura sejenak gelagapan dengan perlakuan kasar itu,


padahal setaunya calon ibu mertuanya itu sangat lembut padanya. "Ada apa bu?" tanya Aura


"Jangan panggil aku ibu, kau bukan calon menantuku lagi." putus ibunya Akhtar.


"Eeh apa maksudnya ini?" Aura menatap semua yang ada di sana, ayahnya yang menunduk dengan wajah pucat, Akhtar yang juga duduk diam dengan raut wajah datar, ayah mertuanya yang juga diam hanya menatapnya dingin. Dan terakhir bi Husna yang meneteskan air mata sambil memandang Aura dengan tatapan sedih. Ada apa ini.


"Pernikahanmu dengan Akhtar kami batalkan, kau sekarang bukan menantuku lagi," ibunya Akhtar berkata tegas atau lebih tepatnya lagi kasar.


"Apa, ta..tapi kenapa bu?" Aura bertanya tak mengerti


bahkan yang lain diam saja dengan sikap intimidasi ibunya Akhtar itu. Dan Akhtar, lelaki itu juga hanya diam saja.

__ADS_1


"Karna kau tak pantas jadi istrinya Akhtar, kau tidak bisa menjaga kehormatanmu sebagai seorang wanita,"


Ibu Akhtar bahkan sampai menuding wajah Aura.


"Maksudnya apa ini?" Aura benar-benar tak mengerti dengan perlakuan itu padanya.


Akhtar bangkit dari duduknya lalu berdiri didepan Aura seraya menyerahkan amplop besar berwarna coklat pada gadis itu tanpa kata.


"Apa ini kak?"


"Buka!" perintah Akhtar bernada dingin.


Aura menurut, segera ia membuka amplop itu dan mengeluarkan isinya yang ternyata dua lembar fhoto berukuran besar dan yang membuat Aura terbelalak


ternyata itu fotonya sendiri sedang tidur dalam pelukan seorang lelaki tampan.


Dan foto yang satunya Aura dan lelaki itu tidur saling berhadapan dengan posisi tangan lelaki itu tetap memeluk tubuh Aura.


"Pak Damaresh," Aura langsung bergumam tak percaya.


"Iya. itu kamu yang sedang tidur dengan atasanmu. Tuan Damaresh Willyam," ucap Akhtar dengan suara bergetar.


"Kakak ini.."


"Apa? kau mau mengatakan itu tak benar? itu hasil editan, siapa yang berani mengedit foto seorang bos besar hanya untuk di kirimkan kerumahku," Akhtar cepat memotong ucapan Aura.


"Dikirimkan,?" Aura bergumam. Langsung saja pikirannya mengarah pada Damaresh Willyam sendiri yang kemarin sempat melayangkan ancaman pada Aura. Tapi mungkinkah lelaki itu mau mencemarkan nama baiknya sendiri dengan membuat dan mengirimkan foto seperti itu pada orang lain, sedangkan keluarga besar Willyam adalah keluarga yang sangat mendengung-dengungkan nama baik kendati tak sebenarnya baik, bahkan mereka tak segan-segan menggelontorkan uang milyaran hanya untuk menutupi skandal yang di lakukan salah satu keluarga, apalagi yang di cari kalau bukan nama baik.


Dan bila di lihat dari alamat pengirim amplop itu tertera disana dari Surabaya, sedangkan Damaresh saat ini sedang ada di luar negeri.


"Kenapa kau diam?" pertanyaan Akhtar membuyarkan pikiran Aura yang sedang mencari beberapa kemungkinan-kemungkinan.


"Fhoto ini tak sepenuhnya benar kak," Aura mencoba menjelaskan karna saat ini hanya itu yang bisa ia lakukan.


"Aku tidak mau dengar dek," Akhtar menggelengkan kepalanya. "Kupikir kau seorang yang tegar berprinsip sebagai wanita beriman, ternyata kau pun tergoda dengan Bos-mu yang kaya raya itu ya, memang di hadapan materi dan kekayaan, kebenaran dan kesalahan itu tak ada bedanya dik, karna yang tau salah dan benar itu hanya orang yang punya hati, bukan yang punya materi, dan kau yang ku anggap dari yang punya hati, tapi.."


"Cukup kak," Aura segera menghentikan ucapan Akhtar yang teramat sangat menyakiti perasannya.


"Kalau kita memang tidak jadi menikah, baik, aku terima. Tapi kak Akhtar gak usah menyebut-nyebut salah dan benar disini, karna kau tidak tau apa-apa tentang kebenarannya kak, kau tidak tau bagaimana aku setiap waktunya.." Aura menentang tatapan tajam Akhtar dengan kemarahan.


Aura yang setiap waktunya berusaha menjaga marwahnya sebagai wanita muslimah, menjaga pergaulannya agar sesuai dengan keyaqinan yang selama ini ia anut, tapi begitu mudahnya seorang Akhtar yang tak tau semuanya menuduhnya sehina itu


kendatipun di ucapkan dengan bahasa yang halus.


Aura sangat merasa tersinggung.


"Oo jadi kau setuju pernikahan ini batal?" Akhtar yang sudah terbakar emosi segera berkata dengan nada tinggi.


"Aku harus apa kak, jika kalian sudah memutuskan seperti itu, buat apa aku menjelaskan semuanya pada orang yang sudah menutup telinga dan hatinya untuk mendengar, percuma kan,?" Aura berkata menahan isak, hingga suaranya bergetar kuat.


"Baik," Akhtar menarik nafasnya kuat. " aku permisi," Akhtar sempat menghampiri Lukman mencium tangannya, "Saya pamit ayah," ujarnya.


"Maafkan ayah nak," Lukman mengusap pundaknya dengan setitik air mata yang menggelinding di wajahnya yang pucat. melihat itu terasa ada yang patah dalam diri Aura, patah dan menyisakan sakit yang teramat perih.


Akhtar dan keluarganya telah keluar dari rumah itu.


"Ayah," Aura segera menghampiri Lukman. Namun Lukman segera bangkit meninggalkan Aura setelah sempat melayangkan tatapan kemarahan dan kekecewaan yang menjadi satu.


"Ayahh!"


Lukman terus berlalu menuju ke kamarnya, mengabaikan tangisan Aura yang menyayat. Gadis itu beralih menatap bi husna yang juga segera bangkit dan melangkah keluar tanpa kata. Semua keluarganya sudah tak lagi mempercayainya.


Aura hanya bisa menangis dalam kesendiriannya.

__ADS_1


__ADS_2