Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
120. Pemilik Alpha DMC.


__ADS_3

Tersisa waktu duapuluh menit lagi, William pun merubah posisi duduknya, raut kegelisahan kini mulai terpancar juga dari raut wajahnya yang terlihat cukup tenang dari tadi.


Beda dengan Edgard, yang sedari awal mereka berkumpul dalam ruangan ini, sudah menunjukkan ketegangan yang tak bisa ditutupi.


Namun demikian, William belum mengatakan apapun, tidak berupa isyarat kecil yang pasti akan mampu dipaham oleh Damian yang duduk di sampingnya.


Pemilik Pramudya Corp itu seperti terus mencoba untuk membangun sikap tenang, walau berjibun kegelisahan telah menggerogoti jiwanya dari dalam.


Waktu yang tersisa kini tinggal sepuluh menit lagi. Hembusan pelan napas William mulai terdengar hingga ke telinga Damian.


Sepertinya beberapa perasaan yang berkecamuk dalam dirinya mulai meronta meminta untuk dikeluarkan.


Sepuluh menit lagi, Komisaris Alpha DMC akan tiba di sana, sesuai dengan yang sudah disepakati oleh Edgard dan Joana.


Sedangkan Damaresh yang diminta kehadirannya oleh William untuk membantu mengatasi permasalahan kini juga belum menunjukkan tanda-tanda akan datang. Membuat harapan yang dari semalam sempat tersusun untuk menyelamatkan Pramudya Corp, kini hanya seakan tinggal angan-angan.


Kegelisahan yang memuncak juga terlihat dari Edgard, ia sesekali menyeka titik peluh di dahinya, dan entah sudah berapa kali hembusan napas beratnya diperdengarkan.


Serupa pula dengan para pemegang saham yang lain serta semua dewan direksi yang juga ikut berada dalam ruangan, yang sama-sama tenggelam dalam kegelisahan yang sama.


Pada menit yang ke tuju, sebelum menuntaskan perjalanan menuju menit kesepuluh, pintu besar meeting room dibuka dari luar. Semua rotasi mata segera teralihkan untuk melihat siapa gerangan yang datang, dengan berbagai dugaan yang mulai bersemayam.


Dan adalah William yang pertama kali menunjukkan kelegaan, begitu melihat seorang tampan rupawan yang memasuki ruangan. Sedangkan selain William dan Damian, justru menunjukkan keheranan setelah melihat yang datang itu adalah Damaresh William.


"Kupikir kau sudah berubah menjadi orang yang tidak sportiv lagi sekarang."


Itulah kata sambutan yang diucapkan oleh William pada sang cucu kesayangan.


Harusnya, ia ucapkan terima kasih dan tunjukkan kebahagiaan karena kehadiran orang yang memang sudah sangat diharapkan, malah kalimat sindiran yang ia lontarkan.


Begitulah, William.


Berdoalah, semoga William segera bertobat, sebelum segenap kesombongannya, membuatnya tidak selamat.


"Sepertinya aku telah membuatmu terlalu lama menunggu, Kakek," sahut Damaresh santai.


"Kau sudah melewatkan waktu selama hampir satu jam, Aresh," ujar William ke arah cucunya yang kini telah duduk di kursi yang telah di sediakan, dan itu tepat di hadapan William dan Edgard.


"Karena aku masih harus menemui orang pertama yang wajib kutemui lebih dulu,"


Sahut Damaresh tetap bertahan dengan mode santai.


Pasti sudah dapat ditebak, siapa orang yang dimaksudkan oleh Damaresh itu.


Siapa lagi, kalau bukan Aura Aneshka, istrinya.


Selang lima menit, dari William yang meninggalkan mansion menuju kantor Pramudya, saat itulah, mobil yang membawa Damaresh memasuki halaman megah hunian keluarga besar William.

__ADS_1


Ia menemui istrinya dan masih melepaskan rindu dengan wanita kesayangannya itu, tak perduli dengan William yang sudah jamuran menunggunya di kantor Pramudya.


"Apa yang bisa kulakukan, sekarang?" Tanya lelaki gagah itu segera.


Damian segera berdiri membawa sebuah berkas dan diletakkan diatas meja di depan


Damaresh. Dari hal tersebut, semuanya dapat memahami kalau William meminta bantuan Damaresh untuk menghadapi Alpha DMC. Dan Atas hal itu pula, hampir semua yang hadir disana menghela napas lega, karena merasa kalau cucu pertama William yang jenius itu akan bisa menyelamatkan Pramudya dari diambil alih oleh Alpha DMC.


"Dalam waktu dua menit sepersekian detik, kau suruh aku membaca berkas sebanyak ini?" tukas William pada Damian yang langsung merasa tak nyaman dengan caranya sendiri.


"Jelaskan saja secara ringkas!" Titah lelaki itu lagi yang segera diangguki oleh Damian.


"Biar Edgard saja yang menjelaskan, karena dia yang memotori semuanya,"


Kata William.


Maka sesuai perintah, Edgard pun memberikan penjelasannya dengan ringkas dan padat. Bersamaan dengan kalimat terakhir yang di ucapkan Edgard, terdengar laporan dari security luar ruangan, yang memberitahukan kalau dari pihak Alpha DMC sudah datang.


Seketika raut ketegangan terpancar dari wajah mereka semua, terkecuali Damaresh yang terlihat santai-santai saja.


Begitu pintu terbuka dari luar, semuanya serempak berdiri menyambut hadirnya sang tamu kehormatan yang mungkin sebentar lagi akan berganti status menjadi pemilik baru dari Pramudya Corp ini.


Tapi pandangan mereka jadi saling bertaut heran, ketika yang terlihat memasuki ruangan itu adalah Joana Liem bersama dengan Kaivan dan diiringi dua orang bodyguard di belakang.


Lalu, di manakah pemilik Alpha DMC yang di sebut Joana akan datang? Kenapa ia justru bersama Kaivan yang di ketahui sebagai Executif asistant Damaresh William selama menjabat sebagai CEO Pramudya Corp.


"Maaf, saya datang terlambat," ujarnya bahkan dengan sedikit membungkukkan badan, pertanda pengakuan bersalah yang begitu dalam akan keterlambatan yang telah dilakukan.


Semua terdiam dan tak ada yang mempermasalahkan. Tapi tunggu! mari kita perhatikan lagi dengan lebih seksama.


Etika yang ditunjukkan oleh Joana itu sepertinya tidak tertuju pada semua orang yang ada dalam ruangan itu, melainkan sepertinya hanya tertuju pada Damaresh William saja, karena tatapan matanya yang hanya mengarah pada lelaki tampan itu, begitupun dengan gerak tubuh rampingnya yang memang hanya menghadap pada Damaresh saja.


Bahkan tampak, kalau Damaresh William mengangguk samar, anggukan yang hanya di perhatikan oleh beberapa orang saja yang berada di dalam ruangan.


"Apa kabar, Miss Joana?"


Edgard segera maju untuk menyalami wanita cantik itu yang segera menyambut tangan Edgard dengan genggaman hangatnya.


"Sangat baik, Tuan Edgard," jawabnya, tak lupa dengan disertai senyuman.


"Perkenalkan, beliau adalah, Tuan William Pramudya, pemilik Pramudya Corp."


Edgard mengarahkan Joana pada William, dimana wanita itu segera berinisiatif untuk menjabat tangan lebih dulu.


"Saya sangat senang dapat bertemu dengan Anda, Tuan William," ucapnya dengan sangat ramah.


William hanya mengangguk saja, meski tangannya menyambut uluran tangan Joana, namun wajahnya tak menunjukkan sambutan yang cukup ramah pula. Bahkan William segera mengeluarkan ucapan manis tapi mengandung cabe pedas dengan level cukup tinggi.

__ADS_1


"Kami menunggu dalam waktu yang cukup lama untuk hadirnya pemilik Alpha DMC, Miss Joana, apa penantian kami ini, hanya berakhir sia-sia saja?"


Joana terlebih dahulu tersenyum sebelum menjawab ucapan tersebut.


"Tentu saja tidak, Tuan William. Bahkan pemilik Alpha DMC sudah hadir lebih dulu di tempat ini, sebelum kami."


"Benarkah?" William terlihat sangat meragukan keterangan itu.


"Tentu saja," sahut Joana dengan senyum.


Beberapa langkah ia menjauh dari hadapan William dan mendekat pada Damaresh William.


"Perkenalkan semuanya, Tuan Damaresh Aybars Perkasa, pemilik Alpha DMC."


Terlalu jelas ucapan Joana dihadapan semuanya, hingga sulit untuk mengatakan tidak mengerti akan maksudnya, terkecuali kalau memang sengaja ingin mengingkari apa yang didengarnya.


Tapi memang itulah yang terjadi pada mereka semuanya kini, begitu kaget dan tak menyangka, sehingga mereka masih butuh penegasan berikutnya, agar tak menyalahkan pendengaran yang mungkin salah menangkap berita.


"Miss Joana, Anda jangan bercanda!"


Edgard sebagai orang pertama yang menyanggah apa yang disampaikan oleh Joana.


"Saya tidak sedang bercanda, Tuan Edgard.


Tuan Damaresh Aybarsh perkasa, adalah pemilik 80% saham Alpha DMC."


Edgard langsung terdiam, tatapannya menatap sepupunya itu dengan pandangan penuh selidik.


"Di sini, aku di kenal sebagai Damaresh William, Joana. Bukan sebagai Damaresh Aybars Perkasa."


Damaresh angkat bicara di tengah ketegangan penuh tanda tanya yang merebak di dalam sana.


"Jadi,  Tuan--?" Kini giliran Joana yang dilanda keterkejutan.


"Ya, aku adalah cucu tuan William Pramudya, pemilik Pramudya Corp ini," tegas Damaresh.


"Lalu, nama Aybars Perkasa?" tanya Joana.


"Itu, adalah nama ayahku, Airlangga Aybars Perkasa." Damaresh mengahiri penuturannya dengan sedikit membuat lengkungan tipis di kedua sudut bibirnya.


"Baiklah,  karena Joana sudah mengungkap siapa diriku yang sebenarnya, mari kita mulai pertemuan kali ini sesuai dengan agenda yang sudah diketahui bersama."


Damaresh segera berpindah duduk pada kursi yang telah disiapkan untuk sang tamu kehormatan, di samping kanan dan kirinya di apit oleh Joana dan Kaivan.


Apa kabar William, dengan fakta yang terungkapkan..


Next part, Insha Allah.

__ADS_1


__ADS_2