Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
Extra Part 2


__ADS_3

Entah wangsit apa yang didapat oleh Aura semalam. kenapa tiba-tiba ia mempunyai keinginan yang hampir tak masuk akal--setidaknya itu menurut Aresh--tapi tidak bagi sebagian besar orang yang lain.


Lelaki tampan itu bukan hanya merasa pegal dan capek, tapi terlebih lagi harus menahan rasa kesal yang hampir tak bisa ia pendam. Namun lagi-lagi semua kekesalan itu luruh hanya karena melihat sekelumit senyuman. Senyum bahagia penuh rasa senang yang menghiasi wajah ayu Aura sepanjang jalan.


"Kamu gak suka, ya?" Akhirnya setelah hampir dua jam perjalanan, Aura peka juga dengan Ekspresi suaminya yang tak menunjukkan rasa senang.


"Suka," jawab Aresh. Apa ia jujur? tentu saja, Tidak.


"Kalau suka, kenapa raut wajahnya gitu? gak ada senyuman sama sekali. Apa kamu mau kembali menjadi Damaresh di awal cerita, yang 'terlahir tanpa senyum' itu judul Episodenya," kelakar Aura. sungguh menggemaskan sekali raut wajahnya ketika mengatakan demikian. Membuat senyuman indah Aresh segera bertandang tanpa diundang.


"Capek?" tanya Aura penuh perhatian.


"Mungkin, karena aku tak biasa," sahut Damaresh. Terlalu takutkah ia untuk mengatakan yang sebenarnya? Bahwa ia merasa lelah, capek dan kesal di saat yang bersamaan.


"Kalau begitu, duduklah!" pinta Aura.


"Jadi aku sudah boleh duduk?"


"Boleh," sahut Aura sambil menarik tangan Damaresh dan menuntunnya untuk duduk.


"Aku sudah merasakan bagaimana rasanya duduk dalam kereta dan dijaga oleh suamiku sendiri," tutur Aura setelah Aresh duduk di dekatnya.


"Gimana rasanya?" Damaresh bertanya sambil sibuk mengusap beberapa titik peluh di wajahnya.


"Tenang dan senang," seloroh Aura dengan senyuman ringan tanpa beban.


Sebenarnya, ada di manakah mereka sekarang?


Pasti sudah dapat ditebak ya, kalau Aura sedang menyiksa Damaresh dengan keinginannya yang tak wajar. Ralat, bukan menyiksa. Aura adalah istri saliha yang begitu mencintai suaminya. Sangat tidak mungkin ia melakukan atau meminta sesuatu hal yang akan membuat, sang suami tak senang.


Aura hanya memiliki keinginan "sederhana" yang bahkan sangat mudah dilakukan. Tapi tidak bagi seorang Damaresh William. Seperti apa yang diucapkannya barusan, bahwa ia tak biasa. Apa keinginan itu?


Naik Kereta api. Bukan KRL, MRT, atau LRT. Suatu keinginan yang mudah, bukan? Keinginan yang sangat sederhana. Tapi Aura sadar, keinginan sederhananya itu tidak lah "sederhana" di mata Aresh yang tak biasa menggunakan transportasi publik. Dari sejak dalam kandungan, pemilik dua perusahaan raksasa itu hanya mengenal hal yang bersifat privat dan VVIP.


Kenapa Aura harus sampai membuat drama air mata ketika menyampaikan keinginan ini? itu karena ia tau, kalau suaminya tak kan suka diajak naik kereta api, apalagi kelas ekonomi seperti ini.

__ADS_1


Awalnya, Damaresh merasa biasa saja dengan permintaan istrinya naik kereta api. Ia segera meminta sang asistant memesan tiket VIP untuk jenis kereta api kelas Eksekutive. Yang jadi masalah kemudian, Aura menolak semuanya. Ia bersikeras memakai kereta api kelas biasa saja, karena ingin berbaur dengan penumpang yang lain.


Maka inilah yang terjadi, padat, panas. Apalagi Aura malah meminta Damaresh untuk berdiri di sampingnya dengan alasan untuk melindungi.


Dan kemanakah tujuan mereka?


Awalnya Aura meminta naik kereta apa dari Jakarta ke Probolinggo. Tapi di bagian ini, Aresh berhasil melakukan tawar menawar dengan istrinya itu, bak tengah ada di pasar tradisional saja. karena akan memakan waktu berapa lama kalau harus dari Jakarta ke sana. Dan kesepakatan di dapat. Mereka naik Kereta Api dari Surabaya, tepatnya dari Stasiun Gubeng yang terletak di Kelurahan Pacar Keling, Kecamatan Tambak Sari, Kota Surabaya.


Dari Stasiun Gubeng ke Stasiun Mayangan-Probilinggo dibutuhkan waktu sekitar 2 jam 21 menit. Selama dua jam itu, Aresh harus berdiri di dekat istrinya yang duduk manis di depan jendela, melayangkan pandangan selama perjalanan yang banyak melintasi pedesaan dan kehijauan.


"Kamu marah ya, karena aku ngajak naik Kereta?"


"Gak kok. Hanya lain kali, kalau mau naik kereta, pilih yang lebih nyaman saja ya," pinta Aresh dengan suara lembut.


"Apa kamu gak nyaman naik Kereta seperti ini?" Aura masih bertanya, padahal ia sudah dapat merasa.


"Bukan hanya tentang aku saja, Ara. Tapi juga demi kenyamanan kamu dan calon anak kita."


"Tapi aku merasa nyaman, kok. Aku senang malah," seloroh Aura dengan wajah Sumringah.


"Kamu tau, apa alasanku ngajak naik Kereta Api ini aja?" tanya Aura yang dijawab oleh Damaresh dengan menggeleng saja.


"Karena aku ingin mengajarkan pada anak kita, bahwa di balik kehidupan kita yang Insya Allah berkecukupan ini, masih ada kehidupan lain di samping kita yang tak sama dengan kita, dan yang tak bisa kita abaikan begitu saja. Aku ingin dia lebih bisa punya jiwa sosial, dia lebih peka pada sesamanya," tutur Aura dengan pancaran semangat yang berpijar di pelupuk mata.


Damaresh bergeming dengan penuturan istrinya. Ia speachless untuk beberapa lama. Terus terang hatinya merasa tercubit, tapi tidak merasa tersindir.


"Jangan karena dia punya ayah yang kayak kulkas berjalan, dia lantas menjadi seperti balok es di kutub," kelakar Aura yang diselingi tawa.


Damaresh pun tertawa renyah sambil merangkul pundak istrinya dan berkata, " Didik dia dengan tuntunan agama yang baik ya! Ajari dia dari sejak dini, kalau dia punya Tuhan yang Maha Kuasa di atas segala-Nya."


"Tentu saja, Ayah anakku, makasih ya," balas Aura dengan senyum. Terlihat ada kupu-kupu beterbangan dari sepasang matanya yang teduh.


Tak lama kemudian, Kereta Api Logawa itu tiba juga di Stasiun Mayangan. Damaresh membimbing tangan istrinya menuju ke sebuah mobil mewah plus sopir pribadi dan beberapa Asistant yang telah menunggu.


"Kita mau ke mana?" tanya Aura dan segera melepaskan genggaman Damaresh dari tangannya.

__ADS_1


"Kita ke Hotel, untuk istirahat," ajak Damaresh.


"Aku gak mau, Aresh," tolak Aura.


"Lho, kenapa sayang? keinginanmu sudah terwujud 'kan? kita sudah naik Kereta Api dari Surabaya ke Probolinggo. Dan sekarang kita sudah tiba di kota ini. Lalu apa lagi?"


"Aku ada tujuan sendiri ngajak ke kota ini, Aresh."


"Lalu, kamu mau kemana?"


"Ke pesantrenku."


"Darul-Falah? ya udah, ayo aku antar ke sana." Damaresh kembali meraih tangan Aura dan menggandengnya untuk masuk ke mobil mewah yang telah menanti.


"Aku gak mau naik mobil ini," tolak Aura.


"Lalu naik apa?" tanya Damaresh heran.


"Itu!" tunjuk Aura ke suatu arah.


"Apa itu?" tanya Damaresh dengan kening berkerut melihat sebuah kendaraan tumpangan yang pasti belum pernah ia lihat sebelumnya. Ya pasti lah, seorang Damaresh hanya taunya kendaraan yang bersifat Privat dan Exclusive.


"Becak motor." Sahut Aura dan segera gegas melangkah tanpa bisa dicegah.


Apa yang bisa dilakukan oleh Damaresh sekarang, selain menghela napas dan segera menyusul Aura, setelah memberi isyarat pada semua Asistantnya untuk mengikuti perjalanan mereka.


**%%%%****%%%****%%


Hai semua..maaf ya, hari ini telat datangnya. Aku ngetiknya ngebut kayak dikejar Kereta, jadi harap maklum kalau banyak typo.


kenapa sampai ngetiknya kebut-kebutan kayak lagi balapan?


jawabnya, Karena aku ingin memenuhi janji pada pembaca sekalian untuk up Extra part lagi hari ini. Padahal, Asli, aku sibuk banget lho. Tapi ada kesenangan tersendiri bisa bertegur sapa dengan kalian lagi.


Eh ya, yang belum berkunjung ke lapak baru. aku tunggu ya, aku sediain kalian kopi dan cemilan asyik di sana..yukk!!!

__ADS_1


__ADS_2