
Dulu, bahkan seminggu yang lalu, menemui wanita ini adalah sesuatu yang sangat menyenangkan baginya, harapannya selalu membumbung tinggi setiap kali bersama wanita yang selalu tampil berkelas ini, harapan agar namanya bisa termasuk dalam jajaran keluarga Willyam.
Keluarga kaya raya yang terkenal di seantero negeri.
Tapi itu dulu,tidak untuk saat ini, tepatnya sejak beberapa hari yang lalu, semua harapan dan ambisinya telah hancur jadi abu. bahkan bertemu dengan Claudya kini menjadi sesuatu yang akan ia hindari, tapi tadi ketika Claudya menelfhonnya sampai tiga kali dan meminta bertemu, Yeslin tak bisa mengelak lagi.
"Selamat siang Tante," sapa Yeslin pada wanita cantik yang tengah duduk menyilangkan kaki dengan tas branded di atas pangkuannya, sedangkan tangannya menari lincah diatas gawai yang berlogo buah tak utuh itu.
"Siang, Yeslin," Claudya segera mengalihkan segenap
atensinya pada wanita yang telah diincarnya sebagai mantu itu.
"Maaf aku terlambat tante."
"Gak apa-apa, duduklah Yeslin!"
Claudya menunjuk kursi di depannya, saat Yeslin mendaratkan bokongnya, aroma parfum berkelas dari Claudya segera memenuhi indera penciumannya
"Kau mau minum apa, Yeslin? Biar aku pesankan."
"Tidak usah tante, aku tak cukup punya waktu," tolak Yeslin lembut yang segera membuat Claudya menatapnya dengan penuh selidik.
"Sepertinya kau begitu terburu-buru, Yeslin,"
"Ia tante, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan di kantor."
"Jadi kau lanjut bekerja di kantor papamu? Oh itu bagus Yeslin," puji Claudya. Yeslin hanya menganggukkan kepalanya saja, membuat Claudya kian menatap curiga.
"Apa yang terjadi Yeslin? Kenapa kau tidak pulang bersama dengan Aresh?"
"Jadi Aresh juga sudah pulang?" Yeslin malah balik tanya.
"Menurut laporannya, dia akan tiba hari ini, aku sudah menjemputnya ke bandara, tapi kami tak bertemu di sana, entahlah..mungkin dia sengaja memalsukan berita kedatangannya untuk menghindariku," tukas Claudya.
"Memang kenapa Aresh harus menghindari tante?"
"Aku mengirim orang untuk menyelidiki hubungannya dengan Aura Aneshka itu, tapi sepertinya Aresh mengetahuinya,
sampai sekarang orang-orang yang ku kirim belum ada kabar beritanya."
Yeslin hanya mendengarkan semuanya tanpa memberi komentar apa-apa.
Claudya menatapnya lekat.
"Jadi apa yang kau tau tentang Aresh dan Aura, Yeslin?"
"Tante bisa tanyakan langsung pada Aresh, dia yang lebih bisa menjawab rasa penasaran tante," sahut Yeslin dengan tatapan gelisah.
Claudya meletakkan kedua tangannya di atas meja, tatapannya tajam mengarah pada Yeslin dan pertanyaannya terucap dengan penuh penekanan.
"Apa Aresh mengancammu, Yeslin?"
Yeslin hanya menggeleng cepat.
"Aku yang menjamin keamananmu, Yeslin. Kupastikan apapun ancaman Aresh padamu, itu tak akan terlaksana,"
Tegas Claudya.
Yeslin terlihat menelan salivanya sebelum berkata, "Maaf tan, aku sudah tak bisa melanjutkan semuanya. Aresh benar, kalau aku sudah bertingkah sebagai perempuan yang tak punya harga diri dengan terus mengejar laki-laki yang tak pernah menginginkan keberadaanku."
Claudya mendengkus kesal sambil membuang pandangannya ke samping
__ADS_1
atas ucapan Yeslin itu.
"Satu hal lagi, aku sudah bukan orang yang tepat untuk menjalankan pernikahan bisnis dengan Aresh, karna lima puluh persen saham Blanc Compani sudah menjadi milik Aresh. Mungkin jika sekali saja aku dan papaku
salah mengambil langkah, seluruh kepemilikan Blanc Compani akan berpindah atas nama Damaresh willyam.
Jadi ku rasa tante sudah tak punya alasan untuk terus menjodohkan aku dengan putra tante," ungkap Yeslin yang membuat Claudya menatap nanar.
Satu hal yang mengejutkannya bahwa ternyata Damaresh sudah membeli lima puluh persen saham Blanc Compani.
Pada detik itu, ia sangat mengagumi kecerdasan Damaresh yang dalam sekejab mampu melebarkan kekuasaan Pramudya Corp.
Benarlah, Damaresh memang aset berharga keluarga Willyam, dan aset itu tak boleh jatuh ke tangan sembarang orang, demikian Claudya bertekad dalam diam.
"Aku pamit tante Clau,"
tanpa menunggu jawaban, yeslin pun segera meninggalkan tempat itu, meninggalkan Claudya yang hanya bisa menahan napas setelah gagal menggali informasi dari Yeslin.
******
*********
************
Aku akan menjemputmu.
Tertera pesan singkat dari Damaresh di ponselnya.
Aura langsung terlihat gelisah, pasalnya dirinya saat ini sedang bersama Olivia dan Cristhine, mereka memperbincangkan rencana besok yang akan memberi santunan korban banjir di luar kota.
Olivia menatap Aura dengan pandangan bertanya, demi dilihatnya expresi gadis itu, tapi Aura hanya tersenyum saja. Perbincangan mereka berlanjut seiring harap Aura dalam hati, kalau Damaresh akan tiba di tempat ini setelah nyonya christhine pergi.
Sekitar lima menit kemudian terdengar ketukan di pintu yang memang tak tertutup, membuat semua sama-sama menggiring pandangannya kesana, Aura yang tampak paling terkejut melihat siapa yang datang.
"Kenapa tak memberitaukan sebelumnya kalau kau ingin berkunjung, Aresh?" Cristhine setengah menegur karna menganggap kedatangan lelaki ganteng yang masih memakai atribut kerja lengkap itu terkait dengan urusan pekerjaan. Sebagai pemegang pimpinan tertinggi perusahaan, Damaresh juga punya kuasa penuh atas yayasan yang berada dibawah pimpinan Christhine itu.
"Ini kunjungan pribadi, tante," sahut Damaresh.
"Oya?" Christhine nampak heran. Tumben seorang Damaresh Willyam punya waktu melakukan kunjungan
pribadi ke yayasan, sedangkan dalam acara makan malam bersama keluarga besar Willyam di mansion yang rutin diadakan seminggu sekali, Damaresh tak pernah datang dengan alasan kesibukan.
"Ya," tegas Damaresh singkat, langkahnya lalu terayun ke arah Aura, tatapannya juga hanya bertumpu pada wajah cantik itu saja. Terlihat Aura sedikit salah tingkah, namun tetap memberikan lelaki itu senyum terindah.
Dalam sekejab mata dan dengan gerakan yang tak terduga, Damaresh meraih kepala Aura dengan kedua tangannya dan melabuhkan kecupan lembut di kening Aura dengan durasi yang tidak terlalu singkat.
Christhine nampak terhenyak, begitu pula Olivia yang baru saja dia menutupi kedekatan Damaresh dengan Aura dari Christhine yang mencecarnya dengan pertanyaan penuh selidik. Sepertinya pembina L&D itu mulai menaruh curiga akan adanya kadekatan pribadi antara
Aura dan Damaresh dengan adanya fasilitas mewah yang diterima Aura. Tapi Olivia menjalankan perannya sebaik mungkin, dia menutupi semuanya dengan alasan se logis mungkin.
Tapi kini malah Damaresh sendiri yang seperti sengaja mempertontonkan kedekatannya dengan Aura, bahkan
di hadapan Cristhine yang pastinya akan mudah membocorkan semua itu pada Claudya. Padahal dari beberapa waktu yang lalu, Damaresh sendiri yang gigih menjauhkan Aura dari jangkauan Claudya sampai ia tak lagi mempekerjakan Aura di kantornya.
Entah apa apa yang ada dalam benak Damaresh terkait tindakannya itu?
Yang pasti, Damaresh bukan lelaki bodoh yang tak menyadari akibat dari tindakannya, dia pasti punya alasan tersendiri dan rencana yang sudah tersusun rapi di balik semua ini.
"Sudah waktunya pulang, kan?"
Tanpa memperdulikan keheranan Olivia dan Cristhine,
__ADS_1
Damaresh hanya memfokuskan tanya dan perhatian pada Aura saja.
"Iya. Ta-Tapi kami masih membicarakan sesuatu hal,"
sahut Aura sedikit gugup.
"Ok. Tak masalah, aku bisa menunggu,"
Aresh membimbing tangan Aura untuk kembali duduk dan dirinya juga duduk dalam posisi yang sangat dekat disamping Aura.
"Silahkan dilanjut! aku tidak akan menguping,"
ucap Damaresh pada Olivia dan Christhine yang segera sama-sama duduk.
"Kau ini bisa saja, Aresh, pembicaraan kami sebenarnya sudah mencapai sepakat, hanya kami saling mengobrol supaya saling tau lebih dekat," sahut Cristhine sambil kembangkan senyum.
"Jadi hal apa yang ingin tante cari tau?"
Damaresh langsung menyambut ucapan Christhine itu.
"Ahh tentunya tak baik jika aku ingin tau atas hal yang bukan jadi urusanku, kan? tapi aku cukup terkejut melihat kedekatanmu dengan Aura,"
Cristhine bersilat kata untuk satu pertanyaan yang harusnya bisa diucapkan dengan bahasa yang lugas.
Untuk bisa melontarkan tanya seperti ini, ada kursusnya juga lho, keluarga Willyam biasa ikut kursus kepribadian yang salah satunya mengarahkan cara berbicara dan bertanya yang anggun dan berwibawa,
yang tidak langsung mengarah sehingga tidak terkesan kepo, tapi sebenarnya menuntut untuk dijawab, seperti apa yang dilontarkan oleh Cristhine barusan.
"Anggap saja salah satu kedatanganku kesini adalah untuk memuaskan rasa penasaran Tante, dari pada Tante hanya sekedar bertanya pada Olivia yang jawabannya juga hanya sebatas menduga," ucap Damaresh yang langsung membuat Christhine melirik Olivia dengan penuh tanya, apa mungkin orang kepercayaannya itu sudah melapor pada Damaresh terkait interogasinya dari tadi tentang Damaresh dan Aura.
Olivia sendiri terlihat menahan napas, pasalnya ia tidak atau belum melaporkan apapun pada Damaresh tentang interogasi Cristhine terhadapnya.
Christhine tersenyum ramah. Melempar senyum adalah salah satu cara ampuh mengatasi rasa gugup bukan?
"Aku sedikit belajar dari Anthoni, Tante."
Damaresh menggantungkan kalimatnya sejenak untuk menguasi jemari Aura di dalam genggaman tapak tangannya yang besar. Satu isyarat mutlak yang diperlihatkan Damaresh. Tapi Christhine tak lagi fokus dengan hal itu, karna mendengar nama putranya yang disebut, ia tau semua itu memiliki maksud.
"Anggap saja aku mengambil jalan yang serupa dengan Anthoni, walau tak sepenuhnya sama dan tetap tak akan sama," tandas Damaresh sambil meluruskan tatap pada Cristhine yang kini wajahnya terlihat pias.
Bahkan, "Ka-Kau tau itu, Aresh?"
gugup Cristhine bertanya.
"Dengan sangat jelas, Tante."
Cristhine tak lagi dapat menyembunyikan kekawatiran nya jika memang Damaresh tau pada rahasia Anthoni yang selama ini disembunyikannya.
"Kita bisa saling mempercayai, Tante."
Damaresh langsung menawarkan kerjasama secara halus, jika Cristhine bungkam atas kedekatan Damaresh dengan Aura dihadapan keluarga besar Willyam, maka lelaki itu akan melakukan hal yang sama atas hubungan Anthoni dan Friska.
"Tante bisa mepercayaiku selamanya, atau hanya dalam beberapa hari ke depan saja, karna aku hanya butuh tante diam, sampai aku sendiri yang bicara,"
ucap Damaresh lagi.
Lelaki itu benar-benar punya kharisma kuat dalam dirinya, yang mampu mengarahkan lawan bicaranya pada posisi takluk tanpa mampu membantah. Bahkan dari kata-katanya saja sudah menunjukkan seberapa kuat kekuasaannya. Bak seorang penguasa kata.
"Aku akan mempercayaimu selamanya, Aresh."
Cristhine langsung memutuskan. Justru kini ia merasa mendapatkan sandaran, karna Damaresh Willyam adalah orang kedua dalam keluarga Willyam yang kekuasaannya patut diperhitungka.
__ADS_1
"Sayangnya, Anthoni tak sekuat engkau, Aresh," keluh Cristhine kemudian, namun senyum lepas terkembang di bibirnya.