Cintaku Terhalang Tahtamu

Cintaku Terhalang Tahtamu
98. Untuk Bersama, Tak Harus Sama.


__ADS_3

"Aresh," panggil Aura lirih.


Lelaki yang masih setia berdiri di depan jendela itu memutar kepalanya sejenak, melabuhkan tatap, sebelum kembali melempar pandang keluar, menembus gelapnya malam benderang di tengah kota London yang seakan tak pernah terpejam.


Aura perlahan bangkit sambil memegangi kepalanya yang berdenyut.


"Mau kemana?" Aresh bertanya datar.


"Kau marah padaku?" Aura balik tanya dengan tatapan sayu. Sejak pulang dari acara penghargaan itu, selama perjalanan sampai tiba di kediaman, Damaresh memang menutup bahasanya pada Aura.


Ia hanya bicara pada dokter yang dipanggil ke panthouse untuk memeriksa Aura. Dan hampir setengah jam, setelah dokter itu pergi, Damaresh masih setia berdiri di depan jendela, tanpa sedikitpun memberi kata tanya atau kata sapa pada Aura.


"Masih pusing?" Bukannya menjawab


Pertanyaan, Aresh malah bertanya lain.


"Ya, sedikit," jawabnya bohong, karna kenyataannya kepalanya masih berdenyut kuat.


Damaresh membuka jas yang masih setia


Membalut tubuh atletisnya, dan menyampirkannya di sandaran kursi.


"Tidurlah!" Ujarnya singkat dan segera keluar kamar sambil menggulung kedua lengan bajunya.


Aura menarik napasnya pelan, ada rasa sedih yang terasa kuat menjalar di rongga dada, bahkan sesaat kemudian, sepasang matanya telah mengembun oleh tumpukan bening yang lalu luruh menggelinding di atas belahan pipinya yang pucat. Dan dalam hitungan detik, isakan lembutnya pun terdengar.


Entah berapa lama waktu yang ia habiskan dengan duduk bersandar di headboard, dan dengan titik air mata yang mengalir tanpa permisi, ketika terasa ada satu tangan yang mengusap airmata itu.


Aura tersentak, entah pikirannya mengembara kemana, hingga tak sadar kalau Aresh sudah duduk di sampingnya. Tangannya memegang gelas yang terisi penuh oleh jus buah.


"Minumlah!" Aresh menyorongkan gelas itu yang segera di terima Aura dan meminumnya dalam pengawasan Damaresh hingga tersisa separuhnya. Lelaki itu lalu mengambil gelas tersebut dari tangan Aura dan meletakkannya diatas nakas.


"Aku minta maaf," ujar Aura sambil menatap wajah suaminya lekat. "Aku pergi tanpa pamit, aku tak seharusnya ada di sana, aku telah mengacaukan semuanya..."


Dan Aura memutus kalimatnya begitu saja, padahal belum semua kata yang telah tersusun dalam benaknya itu terucap lengkap.


Semua karna imbas tatapan Aresh yang tak terbaca, yang kini tengah menyapu wajahnya. Aura akhirnya memilih menunduk saja.


"Kau tidak mengacaukan acara, kau justru datang di saat yang tepat, kau membalik keadaan seratus delapan puluh derajat.


Hanya kau tidak tau apa yang sebenarnya terjadi di sana, kan?"


Aura hanya menggeleng tanpa berani mendongak untuk menatap.


"Aku hanya kecewa, karna seharusnya kau tak perlu memenuhi undangan kakek, kau pergi tanpa pamit padaku, ini di luar kebiasaanmu," tandas Damaresh yang sukses membuat Aura kian merasa bersalah.


"Iya, aku salah. Tapi aku punya alasan," sahut Aura dengan takut-takut menatap Damaresh yang masih berexpresi datar.


"Apa alasanmu?"


"Aku ingin tunjukkan pada kakekmu, kalau aku pantas berada di sampingmu," sahut Aura.


"Dengan menyakiti dirimu?" Sergah Damaresh cepat.


"Yang namanya perjuangan pasti harus melewati sesuatu yang menyakitkan, bukan?" Aura coba menatap Aresh dengan sisa keberanian.


"Dan kau berharap kalau perjuanganmu itu akan dilihat oleh kakek?"


"Mungkin tidak sekarang, tapi suatu saat, aku yakin--"


"Yakin kalau seorang William akan menghargai usahamu?" Cibir Damaresh.


" keyakinan yang salah," ujarnya lagi. Yang seketika menyulut api keberanian dalam diri Aura.


" keyakinan itu tidak pernah salah, Aresh." Aura berkata tegas.


"Ya, aku tau. Keyakinan itu tidak pernah salah, tapi terkadang cara meyakininya itu yang salah," sahut Damaresh tak kalah tegas. "Kau belum tau siapa dan bagaiamana tuan William Pramudya, jika kau tau, kau akan berpikir seribu kali untuk meyakini sesuatu tentangnya," tandasnya lagi yang langsung membuat Aura terdiam.

__ADS_1


Aura hampir tak percaya, kalimat seperti itu meluncur dari bibir seorang Damaresh yang selama ini dirindukannya untuk bisa


menjadi imam shalatnya, tapi sejauh ini pula, hal itu masih belum terlaksana.


Tapi kini lelaki itu bicara tentang keyakinan dengan sebuah ungkapan yang menyiratkan sebuah pemahaman yang dalam.


Semua orang bisa saja mengatakan kalau keyakinan itu tidak pernah salah, tapi hanya segelintir orang saja yang memahami bahwa terkadang cara meyakininya saja yang salah..seperti contoh..sebuah rumah yang kokoh dan baru dibangun itu diyakini akan segera roboh.  maka keyakinan itu tak terbukti, rumah tetap berdiri tegak. Apa keyakinannya yang salah??


Tidak.


Tapi cara meyakininya saja yang tidak tepat.


Dan segelintir orang yang bisa memahami


Itu, adalah orang yang memiliki keimanan matang. Apakah Damaresh termasuk?


Dia bahkan belum pernah terlihat sholat, kan??


Kita lihat saja nanti.


Kembali pada Aresh dan Arra.


Keterdiaman Aura membuat Damaresh kembali melanjutkan ucapannya.


"Datang ke acara itu juga bukan sesutau yang tepat untukmu, Ara. Apa yang terjadi tadi memang merupakan sebuah keberuntungan yang berpihak pada kita, tapi untuk itu, kau juga harus melakukan sesuatu yang bukan dirimu."


"Apa?" tanya Aura dengan mode polosnya.


Bukan gadis cerdas nan berhijab itu sedang memakai topeng sekarang, untuk menghindarkan diri dari kemarahan. Tapi memang ketegasan yang ditunjukkan Damaresh dari expresi dan kalimatnya, membuat kecerdasannya seakan tumpul  bak pisau berkarat yang telah lama tidak di asah.


"Minuman itu, apa kau boleh mencicipinya, walau hanya sedikit? Dan lihat, apa imbas yang terjadi pada tubuhmu sekarang!"


Damaresh memindai tatapan pada seluruh tubuh Aura yang terlihat duduk selonjor dengan santai, padahal segenap jiwanya sedang bergoncang atas segala hal yang diucapkan Damaresh barusan.


"Dan ketika kau menerima ucapan selamat di sampingku, ada sebagian dari mereka yang memelukmu, laki-laki yang kumaksud. Apa kau pernah berinteraksi seperti itu dengan laki-laki asing, selama ini?"


Terlihat Aura menggeleng pelan seraya tertunduk dalam.


Uraian Damaresh yang cukup panjang itu berhasil membuat Aura memperdengarkan isakan. Kesadarannya baru terbuka, kalau suaminya begitu jeli menjaganya. Tapi dari pembicaraan itu pula, Aura juga baru terbangunkan oleh sebuah fakta yang selama ini terluput dari pengamatannya.


"Aku juga tak berniat menyembunyikanmu selamanya, Arra. Aku akan tetap memperkenalkanmu pada dunia dengan cara yang sesuai dengan dirimu  bukan dengan hal yang harus membuatmu melakukan sesuatu yang bukan dirimu seperti tadi," ungkap Damaresh lagi yang diakhiri dengan meraup wajahnya dengan kedua tapak tangannya, menandakan kalau apa yang disampaikannya adalah beban yang cukup berat di jiwanya.


Segala beban pikiran yang terpendam kini tertuntaskan, setelah menyampaikan semua yang ia pendam sejak dalam perjalanan pulang. Namun rasa amarah dan kesal pada William yang telah menyeret Aura pada acara itu serasa belum terbayarkan.


"Kita memang punya gaya hidup yang tidak sama, Aresh," ucap Aura mengungkap hal yang baru saja di dapatinya. "Aku tidak akan bisa menyatu dengan gaya hidupmu, begitupun sebaliknya. Lalu sekarang kita bagaimana?"


"Tetaplah menjadi istriku sebagaimana dirimu adanya, karna


Untuk bisa bersama, tidak harus selalu sama, Arra," sahut Damaresh tegas.


"Tapi kehidupanmu, duniamu, dan profesimu akan menuntut hadirnya pendamping di dekatmu, dan jika aku tidak bisa, maka akan ditunjuk nama wanita lain, apa aku harus diam?"


"Itu bukan kewajiban mutlak, yang tak bisa ku hindarkan, Arra. Kalau tadi aku diam, itu karna kakek saat ini yang memegang permainan. Doakan saja, agar semua ini segera selesai."


"Memegang permainan apa maksudmu?" tanya Aura tak mengerti. Damaresh menggeleng, tak mungkin kalau ia akan mengatakan perihal Elang yang di sandera oleh William, karna dengan itu Aura akan tersudut pada rasa bersalah yang dalam.


Damaresh segera bangkit dari posisi duduknya, menatap wajah Aura yang basah. "Besok, Kita kembali ke Indonesia,"


putusnya. Dan setelahnya ia memutar tumitnya hendak keluar.


"Aresh!" Aura segera menahan tangannya.


Membuat Damaresh membalik badan menatapnya. "Jangan pergi! Aku butuh kamu di sini, sekarang Aresh," pintanya dengan terisak..


Aresh kembali mendekat dan segera memeluk Aura yang kembali terisak kuat.


Bahkan pundaknya sampai terguncang menahan isak. Damaresh pun kian memeluknya erat.

__ADS_1


Entah berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh Aura untuk kembali tenang, hingga tangisannya mulai terkaramkan.


Aresh mengangkat wajah basah itu, menghapusi sisa air matanya dengan jemari, dan memberinya kecupan lembut di kening dan kedua belahan pipi.


"Apa caraku membuatmu tertekan?"


Ia bertanya pelan.


"Aku takut kau marah," lirih Aura dengan suara serak.


"Aku marah. Karna aku kawatir padamu, peristiwa tadi itu, betul-betul diluar pengetahuanku. Aku kawatir tak bisa melindungimu, Arra."


"Aku minta maaf, aku tak akan melakukan apapun lagi tanpa sepengetahuanmu," ucap Aura dengan suara parau dan kembali siap menumpahkan tangisan.


"Aku yang minta maaf, karna aku yang telah membawamu pada situasi seperti ini," sahut Aresh dan kembali membawa tubuh istrinya ke dalam pelukan.


"Istirahatlah," kata Damaresh kemudian setelah merasakan kalau Aura sudah lebih tenang.


"Kau mau kemana?"


"Ada hal yang harus aku lakukan," sahut Aresh.


"Aku boleh minta satu hal?"


"Apa?"


"Temani aku sebentar saja, atau sampai aku terlelap," ucap Aura dengan suara tercekat diujung kalimat, seraya sedikit menggigit bibir bawahnya, kawatir kalau Damaresh tak akan berkenan dengan permintaannya.


Aresh memang tak menjawab, namun ia segera merebahkan Aura dengan posisi berbaring sempurna. Lalu merebahkan tubuhnya sendiri tepat di samping tubuh istrinya dengan posisi sedikit menyamping menghadap Aura.


Satu tangannya melingkari pinggang ramping Aura dan tangan yang lain mengusap rambutnya Lembut dan teratur, untuk mengantarkan Aura menuju tidur.


"Dengan begini, apa kau sudah merasa lebih baik?"


"Sangat," sahut Aura teriring senyum. "Kau tau Aresh, kalau tempat paling nyaman untukku itu adalah di dalam pelukanmu," tutur Aura.


"Ya." Aresh menunduk mencium kening Aura.


"Aku akan selalu memelukmu, sampai--"


Aresh sengaja memutus kalimatnya.


"Sampai apa?" tanya Aura cepat.


"Sampai ada Aresh junior di tengah kita."


"Setelah saat itu tiba, kau tak akan memelukku lagi?" tanya Aura mulai menampakkan wajah cemberut.


"Masih, tapi aku harus berganti posisi untuk melakukannya. Seperti ini." Damaresh segera menindih tubuh Aura dan menghujani wajah ayu itu dengan ciuman.


"Aresh!!" Aura berseru tertahan menahan geli.


*****


*******


**********


maaf ya..kemarin aku gak up...Auto galau...


Ra iso ngetikk..hihi..di dunia nyata hidupku tak semanis Aura, kawan..


jiaaahhh curhat..


Hayo yang udah manggil-manggil dan nungguin,


tunjukkan eksistensimu..

__ADS_1


like..like..ya..koment juga...kalau masih ada yg nyimpen vote, hayukkk..gass-kann..kasih Aura..


biar Author remahan ini gak suka galau lagi..


__ADS_2