Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
Memberikan Tantangan Untuk Devan


__ADS_3

Mendengar ucapan dari Devan, Demian masih terdiam. Kemudian dia mengangkat tangannya dan memberikan isyarat pada pelayannya agar menuangkan wine untuknya. Dan tak berselang lama, sang pelayan pun langsung menuangkan wine ke gelas sloki dan memberikannya pada Demian.


"Lalu? Apa yang membuatmu begitu yakin jika aku akan menerima lamaranmu, anak muda?" tanya Demian sambil menyesap wine yang ada di tangannya dan menyandarkan punggungnya di kursi.


"Mungkin jawaban dari saya ini akan terdengar klasik, jika aku menjanjikan akan selalu membahagiakan putrimu dan menjaganya dengan baik. Atau segala jenis sebuah janji yang sering digunakan oleh para laki-laki. Namun, aku hanya ingin mengatakan ini padamu Tuan Jhonson, kalau aku itu hanya menginginkan putrimu. Yah, meskipun dia memiliki nama Jhonson di belakang namanya ataupun tidak, aku sama sekali tidak peduli akan hal itu. Karena aku hanya jatuh cinta dengan putrimu bukan karena fisik yang di miliknya melainkan dengan sifatnya. Jadi? Jika Tuan Jhonson bertanya kepadaku, kenapa aku begitu yakin maka jawabanku adalah karena aku seorang pria yang tidak mudah menyerah untuk mendapatkan apa yang aku inginkan. Dan aku akan terus memperjuangkannya. Meski itu sangat sulit sekalipun aku akan selalu berusaha untuk terus berjuang mendapatkannya." jawab Devan dengan penuh percaya diri dan suara yang lantang.


Mendengar ucapan dari Devan seperti itu membuat Liora merasa kagum. Begitu pun dengan Alexa yang masih tidak menyangka jika Devan bisa mengatakan hal seperti itu. Dan Adel, sudah sejak tadi dia menatap tajam ke arah Devan. Ya, ingin sekali Adel memaki Devan. Tetapi dia langsung mengurungkan niatnya karena saat berhadapan dengan kedua orang tuanya Adel tidak mungkin berani untuk memaki Devan.


"Aku sangat menyukai jawabanmu, anak muda." ucap Demian sambil menggerakkan gelas sloki yang ada di tangannya dan terus menatap ke arah Devan. "Tapi, harus kau ketahui juga, jika Adel itu adalah putriku satu - satunya. Dia hidupku. Dan aku pun tidak akan pernah sembarangan melepas putriku pada pria yang belum pernah aku kenal sama sekali. Meskipun aku juga sebenarnya mengenal Anggara Group karena Ayahmu juga pernah bekerja sama dengan perusahaanku di beberapa tahun yang lalu. Tapi aku tidak pernah mengenal dirimu dengan baik. Aku juga tidak akan langsung menolak lamaranmu tetapi aku hanya ingin melihat seberapa seriusnya kau pada putriku." sambungnya.


"Tuan Jhonson, tentu saja aku akan menunjukkan keseriusanku pada putrimu. Aku juga akan membuat putrimu jatuh cinta padaku." jawab Devan penuh dengan ketegasan.


"Pah-"


Belum selesai Adel menyelesaikan ucapannya, Demian langsung mengangkat tangannya dan memberikan isyarat pada putrinya untuk diam. Lagi dan lagi Adel hanya bisa mengumpat di dalam hati. Dan Alexa yang melihat kekesalan di wajah Adel hanya bisa mengulum senyumannya.


"Dengar anak muda. Dulu, aku juga mendapatkan istriku tidaklah mudah. Banyak sekali pengorbanan yang harus aku lalui selama bertahun-tahun untuk bisa mendapatkannya. Dan aku ingin bertanya padamu? Apakah kau sungguh siap untuk menunggu selama bertahun-tahun hanya untuk mendapatkan cinta dari putriku?" Demian bertanya dengan tatapan yang begitu serius pada Devan.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan dari Demian, Devan pun terdiam sejenak. Raut wajah datar dan tanpa ekspresi kini terarah langsung pada Demian. "Tuan, jika aku menjawab akan menunggu putrimu rasanya aku akan terdengar berbohong. Aku juga yakin, semua orang pasti memilki batas kesabaran untuk menunggu. Namun, percayalah padaku aku itu akan selalu berjuang sampai mendapatkan kata cinta dari putrimu. Aku juga tidak akan pernah bisa menebak apa yang akan terjadi pada tahun depan ataupun pada tahun - tahun berikutnya. Karena yang aku selalu yakin adalah, aku itu selalu mendapatkan apapun yang aku inginkan dalam waktu dekat."


Sedangkan Julian yang sedari tadi hanya diam, kini dia melirik sekilas ke arah Devan. Terlihat dari iris mata coklatnya menatap dingin dan tegas Devan. Tampak Julian terlihat tersenyum mendengar jawaban dari sahabatnya itu. Dan Alexa pun berdecak kagum mendengar ucapan dari Devan.


Demian tersenyum samar. "Baiklah, aku akan memberikanmu waktu selama satu bulan agar kau bisa membuat putriku jatuh cinta padamu. Tetapi, jika dalam waktu satu bulan yang kuberikan tadi, putriku masih tidak bisa jatuh cinta padamu, aku harap kau akan menyerah. Sebenarnya banyak sekali anak dari rekan bisnisku yang ingin melamar putriku. Sayangnya, putriku itu tidak pernah menyukai yang namanya perjodohan. Sekarang, aku sudah membuat tantangan untukmu. Dan ingat, jangan pernah memaksa putriku agar mau bersama denganmu. Jika, aku mengetahui kau memaksanya. Kau akan tahu akibatnya!" Ucapnya menekankan dan penuh peringatan pada Devan.


Devan menganggukkan kepalanya. "Baiklah, aku setuju dan dengan senang hati aku menerima tantanganmu itu. Tapi Tuan Jhonson juga harus berjanji padaku, jika dalam waktu satu bulan aku berhasil menaklukkan hati putrimu. Aku tidak akan pernah menunda pernikahanku dengannya. Apa kau akan keberatan tentang itu, Tuan?"


Demian mengangkat bahunya tak acuh. "Tentunya aku sama sekali tidak akan pernah keberatan untuk itu. Bahkan, jika kau bisa menaklukkan putriku dalam waktu kurang dari satu minggu pun aku akan dengan senang hati untuk menikahkan mu dengan putriku. Dan satu hal lagi, aku juga akan mencari tahu tentang dirimu. Jika nantinya aku mendapatkan laporan tentang riwayat masa lalumu yang buruk, aku meminta maaf padamu, aku akan langsung membatalkan tantangan ini."


Devan menyeringai penuh arti. "Untuk hal itu, kau tidak perlu khawatir Tuan Jhonson. Karena aku jamin, bahwa aku tidak pernah memiliki riwayat masa lalu yang buruk. Jika kau masih tidak percaya dan masih ragu dengan ucapanku tadi kau bisa langsung memeriksanya."


"Alright, kalau begitu aku pamit pulang, Tuan Jhonson. Karena masih banyak sekali pekerjaan yang harus saya selesaikan." ucap Devan berpamitan.


Demian mengangguk singkat, dan Devan pun langsung bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan ruang makan itu. Dan semua orang yang masih berada di ruang makan tersebut masih menatap punggung Devan yang mulai menghilang dari pandangan mereka.


"Papah! Apa Papah juga ikutan tidak waras sama seperti pria aneh itu?!" Seru Adel kesal.

__ADS_1


"Jaga bicaramu, Adel!" Jawab Demian memberikan peringatan pada putrinya.


Adel pun menghembuskan nafas kasar, dan berkata dengan penuh kekesalan. "Bukannya aku bermaksud tidak sopan. Tapi aku itu tidak pernah menyukai Devan Anggara. Dan harusnya Papah itu langsung menolaknya bukannya malah memberikan tantangan pada pria aneh itu!"


******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote dan juga hadiahnya.


__ADS_2