Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
Kedatangan Vanya


__ADS_3

"Sialan kau, Julian!" Devan mengumpat kasar. Bisa - bisanya Julian meledek dirinya terus menerus. Tapi tidak masalah, Devan tidak memperdulikan itu. Saat ini yang terpenting bagi Devan dia harus mendapatkan hati dari keluarga Jhonson. Meski setelah ini, dia harus menggantikan Julian, untuk menyelesaikan pekerjaan dari sahabatnya itu.


"Aku harus pulang lebih awal. Alexa sedang menungguku." Julian beranjak dari tempat duduknya, dia mengambil kunci mobil dan menatap Devan lekat. "Ingat, aku hanya membantumu membuat Demian Jhonson dan istrinya datang ke negara M. Aku tidak peduli dengan hasil akhir dari apa yang kau perjuangkan. Kau harus tetap mengurus pekerjaanku."


Devan berdecak "Iya! Aku mengingatnya! Aku rasa Alexa sungguh sial bisa jatuh cinta dengan pria sepertimu! Sudahlah, lebih baik aku berusaha untuk mendapatkan Alexa saja!"


Julian langsung menghunuskan tatapan tajam dan penuh peringatan saat Devan mengatakan hal seperti itu.


"Kenapa hidupmu serius sekali! Apa hidupmu itu tidak bisa di ajak untuk bercanda!" Devan membalas tatapan Julian dengan raut wajahnya yang kesal.


***


Alexa menatap kesal note yang di tinggalkan oleh Julian. Ya, tadi pagi dia memang bangun terlambat. Entah kenapa, alarm di ponselnya tidak bekerja. Padahal, dia sengaja ingin bangun lebih awal karena ingin mempersiapkan kebutuhan untuk sang suami. Sejak dirinya sudah tidak mual seperti sebelumnya, Alexa memang lebih suka untuk tidur. Bisa di katakan jika dirinya cepat mudah bosan jika sedang mengerjakan sesuatu.


Seperti saat ini, Alexa sedang bermalas-malasan di atas ranjang. Tak berselang lama Alexa merasakan lapar. Dia mendengus padahal dia sudah makan tapi sekarang dia sudah merasakan lapar lagi. Kini Alexa beranjak dari ranjang seraya mengikat asal rambutnya dia melangkahkan kakinya meninggalkan kamar tidur menuju ke ruang makan.


"Selamat siang, Nyonya." sapa sang pelayan saat Alexa memasuki ruang makan.


"Siang," Alexa menjawab dengan senyuman tipis di wajahnya, kemudian dia menarik kursi dan duduk.


"Nyonya, apa anda ingin memesan sesuatu masakan? Hari ini saya khusus membuatkan rendang untuk anda. Kemarin saya mempelajari cara membuat rendang dan resep saya dapatkan dari internet, Nyonya.Meski saya yakin, rasanya masih jauh berbeda dengan rendang buatan dari Ibunya, Nyonya. Tapi saya sudah berusaha sebaik mungkin. Semoga Nyonya menyukainya." ujar sang pelayan yang langsung membuat Alexa tersentuh.


"Terima kasih. Harusnya kau tidak perlu menyusahkan dirimu." jawab Alexa seraya menatap sang pelayan.


"Tidak, Nyonya. Saya tidak merasa di repotkan. Saya sendiri masih penasaran cara membuat rendang yang benar agar Nyonya juga masih bisa merasakan rendang buatan saya, bisa seperti masakan dari Ibunya Nyonya muda." ujar sang pelayan dengan senyuman di wajahnya.


Alexa mengangguk setuju. "Benar, aku juga sangat merindukan masakan Ibuku."


"Apa aku menganggumu?" suara wanita dengan lembut memasuki ruang makan, sontak membuat Alexa mengalihkan pandangannya pada sumber suara itu.

__ADS_1


"Kak? Kau di sini?" Alexa berdiri. Dia langsung memeluk Vanya, Kakak perempuannya yang datang. Vanya pun membalas pelukan dari Alexa dengan erat.


"Iya, aku juga merindukanmu." Vanya mengurai pelukannya. Kemudian mengajak Alexa kembali duduk.


Pelayan yang ada di sana menyapa Vanya dengan sopan. Vanya menjawab dengan senyuman yang tulus di wajahnya. Tak berselang lama, sang pelayan pamit undur diri dari hadapan Vanya dan Alexa.


"Kak, lama aku tidak melihatmu. Kau terlihat sangat cantik."


Alexa memuji penampilan Vanya pagi. Bagaimana tidak? Dengan balutan mini dress berwarna putih bermotif flower serta model atas dress ini, x-trpas benar - benar membuat lekuk tubuh Vanya, Kakak perempuannya itu terlihat sangat indah. Hal yang Alexa sangat sukai dari saudara perempuannya adalah Vanya memilki senyuman dan mata yang lembut. Dia bagaikan gambaran seorang dewi yang bijaksana dan baik. Jangan di tanya, sudah banyak sekali orang yang membandingkan sifatnya yang keras dan sifat Vanya. Hanya satu kelemahan Alexa, yaitu suaminya sendiri. Sifat kerasnya akan luluh pada sang suami. Ya, Alexa mengakui akan hal itu.


"Kau juga sangat cantik. Sejak hamil kulitmu semakin cerah dan indah. Mama pernah bilang, kalau sedang mengandung anak perempuan. Ibu hamil anak perempuan, maka sang ibu akan terlihat sangat cantik. Mungkinkah keponakanku nanti adalah perempuan." Vanya berkata jujur. Dia tersenyum melihat penampilan adiknya yang tampak menawan. Entah kenapa, dia memiliki keyakinan, anak yang di kandung Alexa mungkin saja perempuan.


Alexa menghela nafas dalam "Semoga saja itu benar, Kak. Karena aku ingin sekali mempunyai anak perempuan. Tapi aku yakin, Julian pasti menginginkan anak laki - laki."


Vanya berdecak pelan tidak menyetujui perkataan adiknya itu. "Aku yakin, Julian pasti akan menyukai anak perempuan juga. Lagi pula, laki - laki atau perempuan sama saja. Terpenting mereka sehat."


Alexa tersenyum. "Iya, kau benar. Ya sudah, ayo kita makan. Pelayan ku tadi membuatkan rendang."


Alexa kembali tersenyum, "Kalau begitu, ayo kita makan bersama."


Vanya menganggukkan kepalanya. Kemudian dia dan Alexa mulai menikmati makanannya yang telah terhidangkan di atas meja.


"Alexa, aku sudah mendengar kau itu akan pergi ke negara A?" ujar Vanya seraya menatap Alexa yang tengah menikmati makanannya.


"Iya, tapi aku juga harus menunggu sampai Julian memastikan tentang pekerjaannya di sini," Alexa mengambil orange juice di hadapannya dan meminumnya perlahan.


"Hm, Alexa." panggil Vanya dengan raut wajah yang serius.


"Ya, ada apa Kak?" tanya Alexa.

__ADS_1


"Aku sudah memutuskan menetap tinggal di negara L."


Alexa langsung terkejut saat mendengar perkataan dari Vanya. "Kau akan menetap tinggal di negara L? Kenapa tiba-tiba, Kak?" desaknya agar Kakaknya itu menjelaskan padanya.


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin tinggal di sana saja. Tapi percayalah, aku akan mengunjungimu nanti jika kau sudah melahirkan." Vanya menjawab dengan suara yang tenang.


"Aku ingin bertanya padamu," ucap Alexa dengan serius.


"Kau ingin bertanya apa?" Vanya menatap dalam manik mata cokelat Alexa.


"Mungkinkah kau pindah ke negara L, untuk menghindari pria yang kau sukai itu? Maksudku si pengacara itu kan?" Alexa bertanya seraya menatap mata Vanya penuh selidik.


"Ya, dan sebenarnya ada yang aku sembunyikan darimu, Alexa. Tapi aku mohon, kau jangan mengatakannya pada siapapun. Aku hanya mengatakan ini padamu karena aku sangat percaya padamu," Vanya berucap dengan suara yang pelan.


"Katakan." Alexa mengangguk yakin, dia berjanji tidak akan mengatakan pada siapapun.


Vanya terdiam sesaat. Raut wajahnya tampak begitu muram. "Sebenarnya, aku pernah beberapa kali kencan dengannya saat aku masih bertunangan dengan Julian.Tapi hubungan kami hanya sebatas teman saja. Karena dia tidak pernah menganggapku lebih dari itu. Dan kepindahanku ke negara L, karena aku ingin menenangkan hatiku."


*******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


__ADS_2