
"Julian, aku sudah bilang kan? Aku ingin kau menemaniku ke suatu tempat? Itu kenapa agar diriku saja yang menyetir." Alexa mendongakkan kepalanya, menatap Julian dengan penuh harap.
"Baiklah, untuk kali ini saja." Julian pun terpaksa mengalah. Karena jika tidak, istrinya itu akan merajuk, dan berujung mendiamkan dirinya lagi.
Alexa tersenyum senang, "Terima kasih, sayang."
Julian hanya mengangguk singkat, meski wajahnya tampak kesal. Kini Julian masuk di kursi penumpang depan sedangkan Alexa masuk kedalam kursi pengemudi. Tidak berselang lama, Alexa mulai melajukkan mobilnya dengan kecepatan sedang, meninggalkan halaman parkir rumah sakit.
"Alexa, pelankan kecepatanmu." tegur Julian saat istrinya itu mulai menambah kecepatan mobilnya.
Alexa pun mendengus tidak suka. "Kau juga sering mengendarai mobil dengan kecepatan penuh. Kenapa aku tidak boleh?" ucapnya keras kepala.
"Alexa, apa kau tidak ingat? Kau itu sedang hamil?" Julian berkata tajam dan penuh dengan peringatan.
"M-maaf." bibir Alexa tertekuk. Dia langsung menurunkan kecepatannya. Wajah sang suami yang tampak begitu menyeramkan membuat Alexa mau tidak mau langsung menuruti ucapan suaminya.
Julian pun menghembuskan nafas pelan. Kemudian dia membawa tangannya mengusap dengan lembut kepala Alexa. Ada rasa bersalah dalam dirinya karena mengucapkan kata dengan nada tinggi.
Kini Alexa melanjutkan perjalanan dengan kecepatan sedang.Cuaca yang cerah membuat suasana hatinya pun mencair.
***
"Alexa, kenapa kau membawaku kesini?" Julian terkejut saat mobil yang di kemudikan oleh Alexa memasuki area pemakaman yang begitu dia kenali.
"Turunlah, nanti kau akan tahu." ucap Alexa dengan lembut.
Tanpa lagi bertanya, Julian turun dari mobil bersamaan dengan Alexa yang juga turun dari mobil. Alexa memeluk lengan Julian, membawa sang suami masuk kedalam pemakaman.
Raut wajah dingin dan tanpa ekspresi. Julian menatap dingin salah satu pemakaman yang ada di sana. Terlihat bunga mawar yang berada di pusara makam itu.
"Jelaskan padaku, kenapa kau membawaku kesini?"Julian berkata begitu tegas dan tidak suka.
__ADS_1
"Hubunganmu dengan Berlian belum sepenuhnya berakhir, Julian. Kau harus mengakhirinya." Alexa menjawab dengan tatapan yang lembut pada makam Berlian.
Ya, Alexa sengaja membawa Julian ke area pemakaman Berlian. Karena bagaimanapun Julian masih memiliki hubungan yang belum di tuntaskan. Alexa hanya ingin kedepannya tidak akan ada lagi masa lalu dari suaminya itu. Mungkin Alexa begitu egois, karena dia hanya ingin Julian menjadi miliknya dan satu - satunya wanita yang ada di hati Julian. Ya, hanya dirinya dan bukannya wanita lain. Alexa hanya memberikan kelonggaran, jika wanita yang ada di hati Julian lainnya adalah Bella, Ibu mertuanya. Selain itu, dia tidak ingin ada lagi wanita lain di hati Julian. Meski itu hanya wanita yang ada di masa lalunya sekalipun.
Julian menghembuskan nafas pelan. "Sayang, hubunganku dengan Berlian sudah berakhir. Aku sudah tidak lagi memikirkannya sejak kau masuk dalam hidupku, Alexa. Kini rasa bersalahku juga sudah hilang saat aku tahu dia sudah mengkhianatiku di masa lalu."
Alexa tersenyum, dia memeluk tubuh Julian seraya berkata, "Sekarang Berlian telah mendengarnya. Aku hanya ingin dia tahu, kau sekarang hanya milikku. Aku adalah wanita yang egois, bukan? Karena aku tidak ingin jika suamiku ini mengingat lagi tentang masa lalunya."
Julian pun tersenyum. Dia menarik dagu Alexa mencium dan ******* dengan lembut bibir Istrinya. "Tidak ada wanita lain di hatiku.Satu - satunya wanita yang akan selalu aku cintai hanya dirimu, Alexa."
"I trust you." Alexa mengaitkan tangannya leher Julian. Dia mengecup bibir sang suami. "Aku juga mencintaimu." bisiknya tepat di depan bibir Julian.
"Aku jauh lebih mencintaimu." Julian menjawab seraya menggesekkan hidungnya ke hidung Alexa.
***
Julian duduk di kursi kepemimpinannya. Dia mengetuk pelan meja dengan jemarinya berirama. Di ruang meeting, dia masih menunggu kedatangan Devan sedangkan Renier yang sedang menjelaskan beberapa project yang akan di jalankan tahun ini, Julian tidak terlalu memperhatikannya. Pasalnya, Julian sudah sangat kesal karena menunggu kedatangan Devan. Ya, Julian memang tidak suka, jika ada yang datang terlambat ketika sedang meeting dengannya.
"Berikan proposalnya aku akan langsung mempelajarinya." jawab Julian dengan raut wajah yang datar.
"Maaf aku terlambat." Devan melangkah masuk kedalam ruang meeting, dia langsung duduk di samping Julian.
"Kenapa kau baru datang sekarang?" Julian menghunuskan tatapan tajamnya pada Devan yang baru saja datang.
"Ada wanita yang menabrak mobilku, jadi aku bermain - main dulu dengannya." Devan menjawab dengan santai, dia menyandarkan punggungnya di kursi sambil menyunggingkan senyuman yang misterius.
"Anda tidak apa-apa, Tuan?" tanya Renier.
"Well, aku baik-baik saja, Tuan Renier. Tapi aku berharap andai dia tadi menabrakku mungkin itu jauh lebih baik." Devan menyeringai saat mengatakan itu.
Julian menaikkan sebelah alisnya menatap heran ke arah Devan, "Kalau kau berniat bunuh diri, tidak di saat sedang memilki janji denganku. Lain kali, kau selesaikan janjimu dulu baru kau bisa bunuh diri."
__ADS_1
Devan berdecak tak suka. "Kau ini, sangat menyebalkan sekali. Siapa yang mau bunuh diri coba?"
Julian tidak menghiraukan ucapan dari Devan. Dia memilih melanjutkan meeting dan membahas kerja sama yang tadi sudah di bahas oleh Renier. Devan pun tampak sumringah bahagia sepanjang meeting. Sedangkan Julian, dia menggelengkan kepalanya, melihat tingkah aneh dari temannya itu. Jika saja, Devan bukan teman baiknya sudah pasti dia akan langsung menendang Devan dari ruang meeting.
***
"Alexa!" Adel menghentakkan kakinya masuk kedalam ruang kerja Julian. Ya, sebelumnya dia sudah mendengar dari Kenzo, asisten Julian bahwa sepupunya itu sudah menunggu di ruang kerja Julian.
"Adel? Kau sudah datang?" Alexa mengalihkan pandangannya, menatap Adel yang sedang berjalan dan mendekat ke arahnya.
"Kenapa kau ini bisa makan dengan tenang di saat aku belum sampai?" Tatapan Adel kini menatap kesal ke arah Alexa yang tengah menikmati dark chocolate cake di tangannya.
"Kalau kau belum datang, mungkin saja kau sedang ada kerjaan yang belum kamu selesaikan. Dan aku itu makan karena aku sedang hamil, Adel. Kau ini bagaimana, bukankah ibu hamil nafsu makannya akan meningkat. Belakangan ini aku juga sudah tidak mual. Itu kenapa aku sekarang sedikit makan lebih banyak." jelas Alexa sambil menikmati makanannya.
Adel mendengus tak suka. "Tapi apa kau itu tidak memilki firasat buruk jika terjadi sesuatu padaku? Sebagai contoh semisal aku tadi kecelakaan hingga terlambat datang menemuimu. Padahal sejak tadi aku sudah mengirimkan pesan kepadamu. Harusnya kamu itu mencemaskan aku, Alexa!"
Kening Alexa berkerut, dia menatap bingung ke arah Adel. "Bukankah sekarang, kau datang padaku dengan keadaan yang baik-baik saja. Lalu? Apa yang harus aku cemaskan coba? Kau ini aneh sekali?"
******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1
.