
"Hiks, lebih baik kau membunuhku, dari pada aku harus hidup menjadi wanita yang sangat murah dan tidak punya harga diri, bunuh aku saja." pinta Alexa meraih tangan Julian dan meletakkannya ke lehernya.
"Sekali saja kau tidak membuatku marah, apa itu rugi untukmu, huh?!" Desis Julian semakin memangkas jarak dengannya
"Cukup Julian aku lelah. Kau pikir di sini hanya kau saja yang kesal, marah dan sakit hati?" Alexa menatapnya lekat, ia menunjuk ke arah dirinya sendiri. "Aku juga, aku sudah di bohongi, di sakiti dan sekarang di tawan, di perlakukan seperti hewan, siapa yang lebih menderita?"
Julian melepaskan tangan Alexa. "Jangan bertanya siapa yang menderita! Satu lagi kau harus bisa menjadi seperti Berlian, ini perintah!"
"Jangan pernah menyamakan aku dengan Berlianmu yang sudah pergi Julian!"
Julian menatapnya lekat dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Alexa. Julian menyatukan keningnya dengan kening gadis itu.
"Tubuhmu sudah menjadi milikku, sama halnya dengan hidupmu, sudah berada di tanganku. Karena kau sendiri yang sudah membawa dirimu masuk kedalam sangkarku, Alexa " bisik Julian.
Di detik Julian pergi, air mata Alexa mulai berlinang membasahi pipinya sungguh dia tidak pernah menyangka hidupnya akan seperti ini. Ia menarik selimut dan menyembunyikan tubuhnya di balik selimut putih tebalnya.
Seorang wanita yang kini membuka pintu kamarnya, Novi menatap iba. Wanita itu berjalan masuk kedalam kamar Alexa dan tangisan Alexa kian membesar.
Alexa pasti kaget, shock dan setengahnya ia juga tidak percaya kalau laki - laki yang menjadi suaminya adalah laki - laki kasar.
"Nyonya Alexa....." Novi menyentuh pundak Alexa pelan - pelan. Selimut yang Alexa pakai kini terbuka pelan saat Novi dengan perlahan - lahan melepaskannya.
"Novi...." lirih Alexa.
Alexa langsung memeluk lengan Novi dengan sangat erat. Wanita itu membalas pelukan Alexa sama eratnya.
"Nyonya Alexa tidak apa-apa, kan? Tuan tidak macam - macam kan?" tanya Alexa beralih menangkup pipi putih Alexa.
"Tidak, tapi aku ingin pergi darinya. Novi." Alexa menundukkan kepalanya. "Aku ingin pulang....."
"Ssssshht.... Nyonya Alexa jangan keras - kerasnya menangisnya, Tuan Julian akan sangat marah nantinya," ujar Novi menggeleng - gelengkan kepalanya dan mengusap pipi Alexa.
Alexa meraih tangan Novi dan menatapnya penuh harap.
"Novi.... Novi aku tahu kamu pasti bisa kan membantu aku keluar dari sini? Aku yakin kamu pasti bisa kan, Novi? Aku mohon.... Laki - laki itu sangat menyeramkan, Novi." seru Alexa masih menangis dengan sesegukan.
Novi masih memeluk Alexa dan mengusap punggung Alexa dengan sangat lembut.
__ADS_1
"Nyonya Alexa jangan khawatir, asal Nyonya Alexa patuh dan menurut pada Tuan Julian, saya yakin Tuan Julian tidak akan berani macam-macam dengan Nyonya."
Alexa langsung mengangguk - anggukkan kepalanya dan memeluk erat Novi seraya menangis - nangis.
...***...
Praaaannng...
Julian membanting kasar guci yang ada di ruangan kantornya. Kini keadaan ruang kerja Julian begitu berantakan. Ya, amarahnya meledak. Tidak mampu lagi tertahan. Semua perkataan Alexa berada di benaknya. Hal yang membuat Julian marah adalah dia tidak mengerti kenapa dirinya harus menginterogasi Alexa seperti tadi malam. Bahkan dia tidak menyadari telah melanggar kesepakatan yang telah dia buat
"Sialan kenapa dengan diriku?" geram Julian penuh dengan kemarahan.
Julian membuang napas kasar, dia mengambil gelas sloki yang berisikan wine dan menegaknya hingga tandas. Sesaat Julian terus mengumpat, dia tidak menyangka dirinya telah melampaui batasannya. Kini semuanya menjadi begitu rumit.
Suara dering telepon terdengar, Julian langsung menatap ke layar tertera nama Samudera, Kakak iparnya. Julian kemudian menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan.
"Ada apa? Aku sedang sibuk?"
"Lebih baik kau belajar sopan santun ketika bicara dengan Kakak dari istrimu? Karena aku bisa dengan mudahnya membawa adikku pergi?"
"Sayangnya Alexa sudah menjadi milikku. Tidak akan ada yang bisa mengambilnya dariku." jawab Julian.
"Meski dia pengganti tapi dia adalah istriku. Lebih baik kau urus masalahmu sendiri dan tidak perlu lagi mencampuri urusanku!"
Samudera menyunggingkan senyuman sinis dari balik teleponnya "CK! Kau itu menikahi adikku. Jadi aku berhak mencampuri urusan apapun yang mengenai adikku?"
"Apa tujuanmu meneleponku?" ucap Julian dengan menghembuskan nafas kasar.
"Aku hanya ingin memberitahukan padamu bahwa kedua orang tuaku belum bisa berkunjung ke negara M dalam waktu dekat. Dan juga aku ingin memastikan hidup adikku baik - baik saja. Karena aku sudah lama tidak bertemu dengan adikku? Di tambah lagi ponsel adikku tidak bisa di hubungi. Padahal aku ingin bertanya padanya bagaimana kau memperlakukannya. Karena jika aku sampai mendengar kau melukainya, kau akan tahu akibatnya Julian Dominic!" Lanjutnya dengan nada penuh penekanan dan ancaman.
"Aku rasa itu bukan menjadi urusanmu Tuan Samudera Johnson. Dan aku tahu apa yang aku lakukan pada istriku. Kau tidak perlu mencemaskannya. Karena istriku hanya akan tetap Alexa Olivia Jhonson."
"Aku harap ucapanmu bukan omong kosong. Jika sampai aku mendengar dia terluka karena dirimu, aku akan datang ke negara M dan melenyapkanmu dengan tanganku sendiri." Samudera memberikan peringatan.
Setelah mendengar perkataan dari Samudera, Julian langsung mematikan teleponnya. Sebenarnya hati Julian merasa tidak tenang setelah mendengar ucapan dari Samudera. Padahal Julian tidak pernah takut pada siapapun tapi dia tidak tahu kenapa perkataan Samudera selalu muncul dalam benaknya.
"SIALAN!" Teriak Julian. "Kenapa Samudera bisa mengatakan hal seperti itu." gumam Julian seorang diri.
__ADS_1
Ya, Samudera dan Julian sejak dulu tidak pernah memiliki hubungan yang baik. Bahkan saat Vanya bertunangan dengan Julian, Samudera adalah orang pertama yang menentangnya. Dan terakhir saat Alexa menjadi pengganti Vanya, Samudera tidak bisa melakukan apapun. Karena saat itu keadaan terdesak. Dia pasti tidak mungkin melihat keluarga sendiri di permalukan.
...***...
Alexa masih terkurung di dalam mansion megah milik Julian Dominic. Ia mendekam dan duduk di dalam kamar yang terkunci.
"Desi, dimana Novi?"
"Novi sedang membersihkan kamar Tuan Julian, Nyonya."
Desi duduk di hadapan Alexa, wanita itu kini sedang mengupaskan buah apel yang kini sedikit demi sedikit di makan oleh Alexa.
"Apa Nyonya mau tambah lagi?" tawar Desi menatap Alexa yang melamun.
"Nyonya Alexa," panggil wanita itu lagi.
Alexa terjingkat dan ia langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak Desi. Aku sudah kenyang, aku minta sekarang kau keluarlah dan beristirahatlah," perintah Alexa.
Desi membungkukkan badannya dan ia langsung keluar dari sana.
Alexa kini menatap kakinya yang terlilit rantai lagi. Alexa mencoba untuk tidak menangis lagi, ia sangat lelah di perlakukan seperti hewan.
"Kenapa dia masih mengikatku, apa yang dia mau setelah mengambil semuanya dariku?" gumam Alexa seorang diri. "Papa... Kak Samudera, tolong bawa Alexa keluar dari sini," lirih Alexa menundukkan kepalanya.
...********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.