Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
Macan Manisku


__ADS_3

Alexa tersenyum, kemudian dia langsung mengambil ponsel milik suaminya dan menempelkan di telinganya untuk berbicara dengan Kakaknya.


"Hallo Kak?" jawab Alexa dengan nada suara yang begitu gembira saat panggilan teleponnya terhubung.


"Alexa, kau dan Adel baik - baik saja, kan? Katakan pada Kakak, apa kalian berdua terluka?" seru Samudera dengan nada cemas dari sebrang telepon.


"Kakak, aku dan Adel baik - baik saja. Jadi, kau tidak perlu mencemaskan aku, Kak.Aku tahu, kau pasti sudah tahu tentang kejadian hari ini. Tapi percayalah, Kak. Aku dan Adel baik - baik saja. Karena suamiku datang untuk menyelamatkan aku tepat waktu." jawab Alexa dengan lembut dari sebrang telepon.


Dan hembusan nafas kasar terdengar dari balik telepon milik Samudera. "Sudah seharusnya suamimu datang tepat waktu. Jika dia sampai terlambat. Aku pasti akan menghabisi suamimu dengan tanganku sendiri."


Mendengar ucapan dari sang Kakak, Alexa kembali mengulum senyumannya. "Sudahlah, Kak. Jangan marah - marah terus pada Julian. Aku juga tahu, Kakak itu sangat menyayangiku dan juga Adel. Tapi tenanglah, kami akan baik - baik saja. Lebih baik, Kak Samudera itu fokus untuk mencari seorang istri yang tepat untukmu."


"Berhenti bicara omong kosong, Alexa. Sudahlah, kau jangan pernah lagi membahas tentang itu!" Samudera menjawab dengan tegas.


Lagi - lagi Alexa kembali tertawa. Ya, dia tahu, jika Kakaknya itu pasti akan sangat marah jika membahas tentang calon istri. Pasalnya, orang tua mereka sering sekali menjodoh - jodohkan Kakaknya itu dengan banyak gadis cantik, dan kebanyakan dari anak pengusaha atau rekan bisnis kedua orang tuanya. Nyatanya? Tidak ada satupun yang Kakaknya itu inginkan. Dan semua gadis yang sudah berkencan dengan Samudera semuanya langsung di tolak oleh Kakaknya itu. Entah apa yang sudah di pikirkan oleh Samudera, dan pernah ada satu wanita yang tergila - gila pada Kakaknya dan masuk kedalam sepuluh wanita tercantik di dunia, tapi masih saja tetap ditolak oleh sang Kakak.


"Ya sudah, kau jaga dirimu baik-baik. Dan katakan pada suamimu itu. Jika dia berani melukaimu lagi atau pun dia tidak bisa menjagamu dengan baik, aku akan mengambil mu pulang.


"Iya, Kak. Dan kau juga harus jaga dirimu baik-baik."


Dan panggilan telepon pun tertutup, Alexa kemudian meletakkan kembali ponsel milik suaminya itu ke atas nakas.


"Sayang, tadi Kakakmu bilang apa?" tanya Julian yang penasaran saat Alexa sudah mengakhiri panggilan telepon dari Kakaknya.


"Kakakku tadi bilang, jika kau tidak bisa menjagaku atau kau melukaiku lagi, dia berkata akan membawaku pulang." jawab Alexa sambil mengulum senyumannya.

__ADS_1


"Sialan!" Julian mengumpat dengan kesal.


"Sudahlah, sayang. Kau jangan marah seperti itu." ucap Alexa sambil terkekeh saat melihat wajah kesal dari sang suami. "Kau tahu, kan. Kakakku memang seperti itu, karena dia itu sangat mencintai dan menyayangiku. Seandainya kau memilki adik perempuan, aku juga yakin, kau pasti akan melakukan hal yang sama seperti apa yang telah di lakukan oleh Kak Samudera padaku."


Julian kembali menghembuskan nafas kasar. "Tetapi, Kakakmu itu selalu mencari masalah denganku."


"Sayang. Dengarkan aku." Alexa menangkup pipi suaminya kemudian mengecup rahang sang suami. "Jangan marah - marah lagi yah. Karena Kak Samudera itu sangat menyayangiku dan Kak Vanya. Dan apa yang sudah terjadi denganku pasti Kak Samudera akan ikutan panik jika dia mendengar kabar aku menghilang. Terlebih lagi, Adel juga menghilang bersamaku."


"Lupakan semuanya." Julian memilih untuk tidak membahasnya lagi. Karena, jika dia terus membahasnya dia akan semakin kesal dengan Samudera.


Alexa mengulum senyumannya. Dia pun terus mengecupi rahang sang suami. "Sayang, apa kau tahu? Jika kau marah seperti ini? Kau itu terlihat semakin tampan."


Julian pun tersenyum saat mendengar pujian dari sang istri. Ya, karena sangat jarang sekali jika Alexa memuji dirinya. Dan kini, Julian mendekatkan bibirnya ke bibir Alexa dan berbisik, "Siapa yang sudah mengajarimu, hm? Kenapa istriku sekarang, sangat pandai sekali merayu, hm?"


"Memangnya siapa yang sedang merayumu? Aku itu, hanya berkata dengan jujur saja kalau kau itu sangatlah tampan!" Cebik Alexa kesal karena di ledek oleh sang suami.


Julian kemudian kembali menciumi seluruh wajah Alexa dengan gemasnya. "Baiklah, untuk malam ini kau boleh beristirahat. Tapi aku tidak menjamin untuk malam besoknya."


***


Pelupuk mata Adel bergerak, saat merasakan silau matahari pagi menyentuh wajahnya.Perlahan, Adel pun mulai membuka matanya. Kemudian mengerjap dan menggeliat. Dan, di saat Adel sudah membuka matanya, dia merasakan seluruh tubuhnya terasa begitu remuk. Apalagi, di area inti bagian bawahnya yang terasa masih sangat sakit dan perih.


"Akh, kenapa tubuhku sangat sakit sekali." ucap Adel sambil merintih saat merasakan sakit di sekujur tubuhnya dan dengan perlahan Adel memulai memijat pelipisnya dan mencoba mengingat kembali apa yang sudah terjadi padanya, hingga membuat tubuhnya begitu sakit seperti ini.


Namun tiba-tiba, sesuatu muncul di dalam benak Adel. Dan ingatannya pun mulai berputar kembali tentang kejadian yang terjadi tadi malam. Kemudian, raut wajah Adel berubah menjadi tegang, dan di detik selanjutnya, Adel melihat ke arah samping. Dan benar saja, Adel kini sedang menatap punggung polos dan kekar seorang pria.

__ADS_1


Adel pun meremas dengan kuat rambutnya dan merutuki kebodohannya. Ya, tadi malam Adel sudah terbawa oleh suasana. Harusnya, dia langsung memaki pria yang sudah berani menyentuhnya. Tapi, kenapa dia hanya diam saja? Adel bersumpah, dia pun sangat membenci dirinya sendiri.


"Bodoh, bodoh. Kenapa kau itu begitu bodoh sekali, Adel!" Geram Adel pelan pada dirinya sendiri.


"Ya, kalau begitu. Aku harus segera pergi sekarang." muncul ide di dalam benak Adel. Terlebih, saat melihat Devan yang masih tertidur dengan pulas. Dengan cepat dan masih menahan rasa perih di inti bagian bawahnya, Adel pun langsung bangkit berdiri sambil menarik selimut tebal itu untuk menutupi tubuhnya yang polos. Namun, di saat Adel ingin pergi, kakinya itu tidak sengaja menginjak selimutnya sendiri hingga membuatnya terjatuh di lantai.


Brakkk.


"Awww..." Adel menjerit dengan sedikit keras saat terjatuh di lantai. Ya, tubuhnya saja masih terasa begitu remuk. Dan sekarang, dirinya pun langsung terjatuh, hingga membuat rasa sakitnya pun semakin bertambah.


Mendengar suara jeritan yang sedikit keras itu pun Devan langsung terbangun dari tidur pulas nya. Dan, seketika saat Devan sudah membuka matanya, dia langsung menyunggingkan sedikit senyumannya saat melihat Adel yang sudah berada di bawah.


"Macan manisku ini, sepertinya ingin mencoba melarikan diri dariku?" ucap Devan sambil tersenyum dengan misterius.


***


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


__ADS_2