Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
Sebuah Kenyataan Yang Terpendam


__ADS_3

"Tuan Julian." Kenzo menundukkan kepalanya saat melihat Julian keluar dari ruang rawat Alexa.


"Kenzo, ada yang ingin aku lakukan sebentar. Kau tunggu di sini, jaga istriku. Hubungi aku jika ada sesuatu," ucap Julian dingin.


Kenzo menggangguk patuh. "Baik Tuan,"


Julian melanjutkan langkahnya, hendak keluar dari rumah sakit. Namun, tiba - tiba langkah Julian terhenti melihat sosok pria yang berdiri di hadapannya dan menatapnya begitu tajam. Julian membuang napas kasar, melihat Erlangga, Ayahnya datang menemuinya. Sejak dulu hubungannya tidak pernah baik dengan Ayahnya sendiri.


"Ikut aku," tukas Erlangga dingin dan sorot mata tajam pada Julian.


Julian tidak menjawab. Terpaksa dia mengikuti Ayahnya itu yang membawanya ke sebuah ruangan yang ada di rumah sakit. Meski sebenarnya dia tidak ingin menuruti keinginan Ayahnya itu, tapi dia tidak memiliki pilihan.


"Ada apa?" Julian bertanya dengan nada dingin saat dirinya dan Ayahnya tiba di sebuah ruangan.


Tiba - tiba Erlangga melayangkan pukulan di pelipis Julian. Julian mengumpat kasar di dalam hati. Dia memilih diam dan tidak membiarkan Ayahnya terus memukulnya. Ya, dia tahu kemarahan Ayahnya karena kebodohannya sendiri.


"Apa kau tahu kesalahanmu Julian Dominic!" Erlangga berteriak begitu menggelegar.


"Aku tahu kesalahanku. Aku akan menebusnya," jawab Julian tegas.


Erlangga menggeram. Kilat matanya begitu tajam dan penuh dengan kemarahan. "Apa kau sudah tahu semuanya tentang Berlian? Dan apa kau ingin tahu alasanku tidak pernah menyetujui hubunganmu dengannya?"


"Berhenti membahasnya." jawab Julian dingin, wajahnya tampak enggan jika Ayahnya membahas tentang Berlian.


Erlangga menggelengkan kepalanya tegas. "Kau memintaku untuk berhenti membahasnya? Tapi kenapa kau berani melukai istrimu, Hah!" Teriaknya keras.


"Aku tahu aku salah! Jadi berhentilah untuk membahas tentang Berlian lagi!" Seru Julian meninggikan suaranya.


"Apa kau ingin mencari masalah dengan keluarga Jhonson! Hingga membuat Alexa dalam bahaya!" Erlangga berteriak begitu menggelegar. Kilat matanya kian menajam karena sejak tadi putranya itu tidak berhenti melawannya.

__ADS_1


Julian menghembuskan nafas kasar. "Ya, aku salah. Semua rencanaku tidak sesuai dengan apa yang aku pikirkan. Aku minta maaf."


Pertama kalinya Julian mengucapkan kata maaf pada Ayahnya. Selama dia hidup tidak pernah satu kali pun dia meminta maaf pada Ayahnya. Hubungan mereka berdua memang begitu buruk.


Erlangga memejamkan matanya sesaat. Dia berusaha mengendalikan amarah dalam dirinya saat Julian meminta maaf. "Kau tidak tahu kesalahan besar yang telah kau lakukan, Julian. Sekarang keluarga Alexa pasti sangatlah marah padamu. Apa kau ingin kehilangan istri dan anakmu?"


"Aku akan menjelaskan semuanya pada keluarga Alexa. Sungguh aku sangat menyesali perbuatanku, Ayah."


Erlangga membuang napas kasar. Dia terdiam sejenak. Hingga kemudian dia berucap. "Sejak awal, kau hanya menduga Berlian Adelia Haddes adalah wanita baik yang bersikap polos saat di depanmu. Apa kau tahu? Sebenarnya Berlian tidak sebaik yang kau pikir. Satu lagi, kau selalu berpikir anak yang ada di kandungan Berlian adalah anakmu. Betapa bodohnya kau mudah mempercayai Berlian, putraku."


Raut wajah Julian berubah saat mendengar apa yang di katakan oleh Ayahnya itu. Seketika rahangnya mengetat. Kilat mata tajam dan penuh kemarahan begitu terlihat jelas.


"Apa maksudmu? Jangan berani kau memfitnah Berlian!" Bentak Julian keras.


"Memfitnah?" alis Erlangga terangkat, dia menyunggingkan senyuman mengejek. "Kenyataannya adalah Berlian telah tidur dengan Jacob Webber rekan bisnismu. Dia putus asa saat mendengar kau di jodohkan dengan Vanya. Dan di saat dia putus asa, dia mengantarkan dirinya sendiri pada Jacob hingga mereka berakhir di ranjang. Well, wanita yang selama ini kau cintai itu sebenarnya sudah mengkhianatimu."


"Kau bohong! Berlian bukan wanita seperti itu!" Seru Julian meninggikan suaranya.


"Apalagi maksudmu Ayah?" alis Julian bertautan, menatap dingin dengan kilat mata tajam diiris mata coklatnya.


"Kau ingat Julian, alasan kenapa saat kecil, aku tidak pernah berada di sisimu?" Erlangga menjeda ucapannya, dia menatap dalam putranya itu. "Ibumu berbohong mengatakan aku fokus pada bisnisku di negara S. Ibumu itu selalu menutupi semua keburukanku. Saat semua orang berkata buruk, ibumu mengatakan aku adalah pria yang baik. Dan kenyataannya aku tidaklah seperti itu."


Julian terdiam. Dia berusaha untuk mencerna semua perkataan Ayahnya " jelaskan semuanya!" Tukasnya dingin.


"Aku berselingkuh, saat aku sudah merencanakan pernikahanku dengan Ibumu." Erlangga kembali menghembuskan nafas kasar saat mengatakan itu. "Kesalahan yang aku perbuat membuat ibumu meninggalkanku dan membawamu pergi meninggalkan negara M."


Raut wajah Julian menajam. Dia mengetatkan rahangnya dan mengepalkan tangannya dengan kuat. Dia masih diam dan membiarkan Erlangga menyelesaikan ucapannya.


"Dan kau tahu, dengan siapa aku berselingkuh?" Erlangga menatap Julian dengan wajah yang bersalah.

__ADS_1


"Katakan!" Tegas Julian dengan sorot mata tajamnya.


"Adelia Haddes," jawab Erlangga dengan suara yang lemah.


Seketika raut wajah Julian berubah. Bagai tersambar petir, kakinya terasa begitu lemah. Dia menggelengkan kepalanya tegas, meyakinkan dengan apa yang dia dengar itu salah. "Jangan membohongiku!" Bentaknya keras.


Erlangga membuang napas kasar. "Aku tidak mungkin membohongimu. Aku berselingkuh dengan Adelia Haddes. Dulu, Adelia adalah Sekertaris pribadiku. Berlian bukan anakku, dia anak suami dari Adelia. Ini kesalahanku di masa lalu. Aku berselingkuh dari ibumu dengan sekretarisku sendiri. Bella, Ibumu pergi meninggalkanku saat dia mengandungmu. Dia tidak pernah memaafkan aku atas perselingkuhanku. Aku membutuhkan waktu hampir lima tahun agar membuat Bella kembali padaku. Aku tahu, sejak dulu kau begitu membenciku karena kau selalu mendengar aku sibuk mengurus pekerjaanku. Tapi sebenarnya bukan itu kenyataannya. Semua karena kesalahan di masa laluku yang tidak termaafkan."


"Dan salah satu alasan aku dan Ibumu melarang hubunganmu dengan Berlian adalah karena Berlian anak dari Adelia, wanita yang pernah membuat ibumu terluka. Ibumu lebih memilih untuk tidak mengatakannya padamu karena dia tidak ingin kau membenciku lebih dalam. Ini semua salahku, putraku. Harusnya aku mengatakannya dari awal, alasanku melarang hubunganmu dengan Berlian. Jika saja aku mengatakannya, maka ini tidak akan pernah terjadi."


Julian bungkam. Raut wajahnya menegang. Sepasang iris mata cokelatnya, menatap tak percaya. Pikirannya terus membayangkan berapa kali dia berontak pada kedua orang tuanya hanya demi mempertahankan hubungannya dengan Berlian. Wajah Bella, Ibunya muncul dalam benak Julian saat ini. Napas Julian memburu. Mengetahui kenyataan ternyata Ayahnya pernah berselingkuh dengan ibunya Berlian di masa lalu dan di tambah lagi dengan sebuah fakta jika anak yang ada di kandungan Berlian ternyata bukanlah anaknya.


"Kau, bagaimana mungkin kau berselingkuh dari ibuku?!" Seru Julian meninggikan suaranya. Tatapannya kian menajam. Tangannya terkepal dengan begitu kuat.


Erlangga memejamkan mata sesaat. Wajahnya muncul rasa bersalah. "Ini salahku. Tapi percayalah, aku telah menyesali semua kesalahanku, Julian."


Julian mengusap wajahnya dengan kasar. Dia ingin sekali menghajar Ayahnya karena telah melukai ibunya. Tapi pikiran Julian kini sedang memikirkan Alexa. Dia yakin, istrinya akan beranggapan jika dia masih lebih memilih Berlian, kekasihnya yang sudah tiada. Julian mengumpat kasar, jika saja sejak awal dia tahu ibunya Berlian adalah selingkuhan Ayahnya, Julian tidak akan mungkin terus mempertahankan hubungannya dengan Berlian. Hal yang sejak dulu Julian hindari adalah melukai hati Bella, Ibunya.


"Apa kalian berdua sudah selesai bicara? Jika sudah, biarkan aku berbicara dengan suami dari putriku." suara bariton memasuki ruangan dimana Erlangga dan Julian sedang berbicara.


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...

__ADS_1


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


__ADS_2