
Julian menghembuskan nafas kasar. Dia tidak lagi menjawab Kenzo. Kini dia melangkahkan kakinya keluar. bersamaan dengan Kenzo yang mengikuti langkah Julian.
Di lobby rumah sakit, kilatan kamera terarah pada Julian. Beberapa kali wartawan hendak bertanya pada Julian, namun dengan cepat Julian masuk kedalam mobil. Julian memejamkan matanya sesaat, masalahnya dengan Alexa belum selesai kini dia harus dihadapkan dengan masalah yang baru. Namun meski demikian, Julian harus memikirkan cara bagaimana bisa berbicara dengan Alexa. Walau dia harus berhadapan dengan Samudera, kakak dari istrinya yang selalu mencari masalah dengannya itu.
***
Alexa duduk di balkon kamar seraya melihat langit di malam hari yang cerah. Bintang - bintang yang tampak indah membuat Alexa tidak henti menatapnya. Sesaat Alexa memejamkan matanya saat dia merasakan hembusan angin yang menyentuh kulitnya.
"Alexa?" Arabella berdiri di ambang pintu menatap putrinya dengan lekat.
"Mama," Alexa mengalihkan pandangannya, melihat ke arah Arabella yang kini mendekat ke arahnya.
"Ini sudah malam, sayang. Kenapa kau tidak beristirahat?" Arabella memakaikan selendang di tubuh putrinya. Angin malam yang sedikit kencang membuatnya khawatir. Terlebih kini putrinya tengah mengandung.
"Terima kasih, Mah." Alexa tersenyum saat melihat Arabella memberikan selendang. "Aku masih belum mengantuk, Mah." lanjutnya memberitahu.
Arabella duduk di samping putrinya. Kini dia membawa tangannya mengelus lembut pipi Alexa. "Sekarang anak Mamah sudah besar dan akan menjadi seorang Ibu. Mamah bangga padamu." Arabella menyentuh jemari Alexa. " Selama ini Papamu selalu berjuang untukmu agar memiliki kehidupan yang hebat. Dia begitu mencintaimu. Begitupun dengan Mamah yang mencintaimu."
Alexa tersenyum mendengar perkataan Ibunya. "Terima kasih Mah, aku tahu kau dan Papah selalu memberikan yang terbaik untuk hidupku."
Arabella pun tersenyum. "Kau tahu? Sejak dulu Mamah sangat yakin, anak - anak Mamah akan selalu di penuhi dengan kebahagiaan. Seperti saat ini, meski kau memiliki masalah, Mama yakin kau akan tetap bahagia.Mama bisa melihat kau sebenarnya sudah mencintai Julian. Kau ingat bukan, waktu Mama bercerita Mama dan Papah tidak saling mencintai di awal pernikahan kami? Tapi pada akhirnya kami saling jatuh cinta dan hidup bahagia. Dan itu juga akan terjadi pada hidupmu dan juga Julian."
Alexa terdiam, raut wajahnya langsung berubah saat mendengar perkataan Ibunya. Terlihat kesedihan yang begitu mendalam di iris matanya. Wajahnya tampak muram tidak seperti sebelumnya.
Arabella menghela nafas dalam melihat Alexa yang tampak muram. Kemudian dia membawa tangannya mengelus lembut pipi Alexa seraya berkata, "Alexa setiap pernikahan pasti akan tetap memiliki masalah. Tidak ada yang tidak memiliki masalah. Dulu Mama juga sering menenangkan pikiran Mama jika memiliki masalah dengan Papamu. Tapi tetap saja Papamu memaksa Mama untuk pulang. Dia akan menjemput paksa Mama jika Mama meninggalkannya lama. Setidaknya, setiap masalah, kami akan membicarakannya. Sifat Papamu keras hampir sama dengan Julian."
"Tapi Julian telah melukaiku. Dia bukan Papa yang mencintai Mama." bulir air mata menetes membasahi pipinya. Tepat di saat Alexa menangis, Arabella langsung menarik tangan putrinya masuk kedalam dekapannya.
"Sayang, jangan menangis." Arabella mengeratkan pelukannya, dia mengecup kepala putrinya. "Bijaklah dalam bersikap. Dengarkan penjelasan suamimu. Kau boleh mengambil sebuah keputusan tapi ingat, jangan pernah mengambil keputusan di saat kau sedang marah. Banyak orang yang mengambil keputusan di saat marah dan berakhir pada penyesalan."
__ADS_1
Arabella mengurai pelukannya, dia menghapus air mata putrinya itu dan melanjutkan perkataannya, "Sekarang, lebih baik kau istirahat. Kau sedang hamil Alexa. Angin malam tidak baik untuk wanita hamil."
"Mamah, aku ingin di sini sebentar saja. Nanti aku akan segera masuk kedalam Mah," jawab Alexa dengan suara yang pelan.
"Baiklah, tapi ingat jangan terlalu lama berada di luar," Arabella mengecup kening putrinya. "Mama harus kembali ke kamar. Papamu tidak akan mau tidur, jika Mama tidak di sampingnya."
Alexa tersenyum. Dia menganggukkan kepalanya. Kini Arabella melangkah meninggalkan Alexa yang masih berada di balkon kamar. Ya, Alexa sudah tidak lagi terkejut. Kedua orang tuanya sejak dulu memang sangat mesra. Bahkan Alexa bisa melihat Ayahnya itu begitu mencintai Ibunya. Hal yang sangat Alexa kagumi dari Ayahnya adalah dia pria yang hebat dan menyayangi keluarganya. Jujur saja, itu yang membuat Alexa iri. Entah dirinya akan bisa memiliki kehidupan seperti kedua orangtuanya atau tidak.
Suara dering ponsel terdengar membuat Alexa mengalihkan pandangannya. Dia mengambil ponselnya yang ada di atas meja, kemudian dia menatap ke layar. Seketika raut wajah Alexa berubah, saat melihat ponselnya nomor Julian yang terlihat di layar ponselnya. Dia langsung terdiam dan tidak tahu harus apa. Hingga saat ini dering ponselnya berhenti Alexa sedikit lebih tenang. Ya, Alexa tidak mau lagi bertemu dengan Julian, Alexa kesal, Alexa marah dan ia trauma dengan apa yang terjadi padanya saat ini. Kini Alexa memilih menonaktifkan ponselnya. Kemudian dia beranjak dari tempat duduknya dan masuk kedalam kamar.
***
Kamar Alexa sangat dingin dan gelap, jam menunjukkan pukul setengah satu dini hari, Alexa yang belum nyenyak dalam tidurnya, ia mencoba agar ia benar-benar bisa tertidur.
Gadis itu tersentak saat tiba-tiba ranjangnya bergerak, Alexa terdiam dan napasnya yang terdengar memburu.
"Aku sangat merindukanmu, maafkan aku sayang," lirih laki - laki itu.
Teramat kaget Alexa dengan kedatangan Julian, entah nyata ataupun hanya sekedar halusinasi atau memang benar - benar Julian.
"Aku yakin, kau belum tidur kan?" Alexa bicaralah, bisik Julian melepaskan pelukannya.
"Sayang ini aku, aku datang kesini." ujar Julian mencekal tangan Alexa yang menutupi ke-dua telinganya.
" Tidak, tidak, tidak.... ini hanya halusinasi, tidak mau... tidak mau Julian! Pergi, pergi, pergi!" Teriak Alexa keras - keras dan begitu histeris.
Ada apa dengan Alexa, Julian langsung membalikkan tubuh Alexa dan memeluknya dengan erat.
Sadar akan bukan halusinasi, melainkan sosok Julian yang berada di hadapannya saat ini.Alexa memberontak ia melawan dengan menangis histeris.
__ADS_1
Lepaskan aku! Aku benci padamu, Julian.. lepaskan!" Teriak Alexa dengan kakinya yang menendang - nendang.
"Sayang tenanglah... ini aku Alexa!" Julian mencengkal kedua pundak Alexa.
Kedua mata Alexa terbuka, gadis itu menangis kuat - kuat dan langsung terduduk. Alexa mundur perlahan-lahan menjauh dari Julian.
Rasa takut, benci, trauma kini menyeruak dalam hati Alexa. Gadis itu bersudut di tepi ranjang hingga Julian mendekatinya.
"Apa yang terjadi denganmu? Ini aku Alexa." bisik Julian menyentuh pipi Alexa.
"Tidak! Aku bilang pergi! Pergilah! PERGI!" Teriak Alexa memukuli kepalanya sendiri dan menangis keras - keras.
Sakit hati Julian,saat ia tahu kondisi Alexa yang seperti ini. Istri cantiknya berubah menjadi sangat menderita karenanya.
"Beberapa hari yang lalu kau baru saja selesai operasi. Jangan pukuli kepalamu seperti itu, Alexa. Aku minta maaf padamu, jangan seperti ini. Aku akan menjelaskan semuanya padamu, Alexa!"
...********...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1