
Sudah tiga hari Julian tidak banyak berbicara dengan Alexa. Setiap kali dia mengajak berbicara, istrinya itu akan selalu menghindar darinya. Sejak kejadian malam itu, Alexa lebih banyak diam.
"Alexa, kau darimana?" ucap Julian saat melihat Alexa baru masuk kedalam kamar.
"Dari dapur, aku habis mengambil minum dan buah saja." Alexa menjawab dingin.
"Alexa, ada yang ingin aku katakan padamu?"
"Sekarang katakan apa yang ingin kau katakan?" Alexa berseru dengan nada tegas. Sambil meletakkan air minum dan buah yang dia bawa tadi di atas meja.
"Aku minta maaf Alexa untuk kejadian beberapa hari yang lalu." Julian berucap menurunkan nada suaranya. "Tiga hari sudah lebih dari cukup untuk kau mendiamkanku dan itu sangat menyiksaku. Sungguh, aku tidak bisa hidup tanpamu." ujar Julian menurunkan nada suaranya lagi. Terlihat wajahnya tampak begitu putus asa.
"Kau salah, Julian. Kau bukan tidak bisa tanpa aku. Selama ini kau masih hidup dalam bayang - bayang Berlian! Kau tidak pernah bisa tanpanya! Aku hanya sebagai orang baru yang menjadi cadanganmu di saat kau merindukannya!" Alexa menjawab dengan raut wajah yang tampak begitu memendam kepedihan. "Aku rasa, sudah tidak ada alasan aku harus tidur di kamarmu." lanjut Alexa. Kini Alexa berbalik, hendak melangkah meninggalkan Julian. Sudah cukup Alexa mendengar tentang Berlian dia tidak ingin lagi mendengar nama wanita itu.
Tatapan Julian berubah menjadi tajam saat mendengar perkataan dari Alexa. Julian kemudian mencengkram erat tangan Alexa. "Siapa yang mengizinkanmu untuk kita tidur terpisah? Kau harus tetap berada di kamar ini! Karena keluargaku membutuhkan keturunan. Kau tahu bukan, aku adalah anak tunggal. Sudah sejak lama keluargaku mengharapkan keturunan dariku, Alexa!" Tukasnya dingin dengan nada yang tidak ingin di bantah sedikitpun.
"Lepas! Aku tidak ingin tidur di kamarmu lagi! Apalagi mengandung anakmu!"
"Kenapa kau sulit sekali mendengar perkataanku, Alexa?" desis Julian tajam di telinga Alexa.
"Sakit Julian! Lepaskan aku!" Alexa kembali berontak.
"Ini terakhir kalinya kau mengatakan ingin tertidur terpisah dariku. Aku tidak ingin lagi mendengarnya! Apa kau mengerti! Dan jangan pernah mendiamkanku lagi hanya karena masalah tentang Berlian."
"Kenapa kau selalu memaksaku Julian!"
Alexa menggeram. Pria yang ada di hadapannya tidak berhenti memaksa dirinya. Hingga kemudian, tatapan Alexa berakhir pada pisau yang berada di samping piring buah. Dengan cepat Alexa langsung mengambil pisau itu dan menempelkannya ke lehernya.
"Alexa! Apa kau sudah gila! Lepaskan pisau itu!" Wajah Julian berubah menjadi panik, saat Alexa menempelkan pisau ke lehernya.
"Biarkan aku pergi, atau kau akan melihat aku akan melukai diriku." tukas Alexa dengan penuh ancaman.
__ADS_1
"Aku bilang lepaskan pisau itu!" Bentak Julian.
Alexa semakin menekan pisau itu ke lehernya. Hingga mengeluarkan sedikit darah. Sedangkan Julian yang melihat darah keluar dari leher Alexa, dia langsung melepaskan tangan Alexa dan melangkah mundur.
"Jangan pernah menghalangi langkahku, Julian! Kau masih hidup dalam bayang - bayangannya maka lepaskan aku! Rumah tangga kita tidak akan pernah berjalan jika di hatimu masih tersimpan wanita itu. Ayah dan Ibuku di jodohkan, dan berakhir saling mencintai. Mereka membesarkan anak-anak mereka dengan cinta dan kasih sayang. Bagaimana kau ingin memiliki anak, tapi kau tidak akan mungkin memberikan cinta dan kasih sayang? Anakmu pasti akan hancur mengetahui Ayahnya hanya menginginkannya hanya demi sebagai pewaris hartamu itu."
Alexa berkata dengan penuh ketegasan. Dia mulai menurunkan pisaunya saat Julian mulai melangkah mundur. Alexa berbalik, dia berjalan cepat meninggalkan kamar. Sedangkan Julian hanya membatu dan terdiam. Dia hendak mengejar Alexa, tapi dia tidak ingin Alexa kembali berusaha untuk melukai dirinya.
...***...
Tangis Alexa pecah di dalam mobil. Dia menginjak gasnya dan menambah kecepatan mobilnya. Hatinya hancur dan sesak dengan semua sifat Julian. Dia begitu lelah dengan semua ini. Bagiamana bisa dia hidup dengan suami yang tidak bisa lepas dari masa lalunya?
Ya, Alexa memilih pergi. Entah sampai kapan, tapi dia terlalu lelah dengan semua ini. Ketika dia merasa hubungannya membaik dengan Julian, tapi kenyataannya itu tidaklah sepenuhnya nyata. Perhatian Julian hanya karena pria itu memilki tanggung jawab atas dirinya. Jauh dari dalam hati Julian, dia yakin. hanya Berlian, wanita yang bahkan sudah tidak ada lagi ada di dunia ini. Tapi tidak akan pernah tergantikan olehnya.
Kini mobil Alexa memasuki mansion milik Adel. Dia tidak tahu harus menemui siapa. Karena, Kakak laki - lakinya dan kedua orang tuanya berada di negara A. Sedangkan Vanya, Kakak perempuannya itu tidak di bisa di hubungi.
"Alexa? Kau datang?" Adel yang baru saja melangkahkan kakinya keluar dari rumah, hendak menuju ke arah mobilnya. Tapi langkahnya harus terhenti melihat Alexa turun dari mobil. Tunggu, raut wajah Adel langsung berubah ketika melihat mata Alexa yang memerah. Dan terdapat luka sayatan di leher Alexa.
Tanpa menjawab, Alexa langsung menghamburkan tubuhnya ke pelukan Adel dengan erat.
"Ada apa, Alexa?" Adel mengusap punggung Alexa, berusaha membuat sepupunya itu tenang.
"Julian," Isak Alexa pelan.
"Ada apa? Apa kau mengalami masalah yang berat?" tanya Adel menatap serius Alexa.
"Ada sedikit masalah saja di rumah."
"Kita masuk kedalam, aku akan membuatkanmu teh, agar kau lebih tenang." Adel merengkuh bahu Alexa, membawanya masuk kedalam rumahnya.
"Alexa, sebenarnya kau ada masalah apa?" Adel memberikan secangkir teh hangat, agar Alexa jauh lebih tenang. Kini Adel duduk di samping Alexa seraya mengambil kotak obat yang baru saja di ambil oleh pelayan. Kemudian Adel membantu mengobati luka yang ada di leher Alexa. "Kenapa kau bisa terluka seperti ini, Alexa? Ini perbuatan Julian lagi? Benar - benar keterlaluan dia!" Geram Adel.
__ADS_1
"Aku dan Julian bertengkar." Alexa memegang cangkir yang berisikan teh, dengan pandangan yang menerawang ke depan. Dia sedikit merintih, saat Adel memberikan alkohol di lukanya. Namun, beberapa detik selanjutnya wajah Alexa tampak begitu muram. Matanya sembab memerah.Meski tangisnya sudah mereda, tapi terlihat kepedihan begitu mendalam di matanya.
Adel menutup luka Alexa dengan perban. Beruntung, luka Alexa tidaklah terlalu dalam. "Sebenarnya kenapa Alexa? Kenapa kau bisa bertengkar lagi dengan Julian?"
"Apa kau mengenal siapa wanita ini?" Alexa menunjukkan layar ponselnya pada Adel.
"Aku tidak mengenal wanita ini," jawab Adel. "Tapi kenapa wanita itu bisa berfoto begitu mesra dengan Julian? Apakah dia kekasih Julian?" Adel bertanya dengan hati - hati.
"Ya," jawab Alexa datar. "Wanita itu bernama Berlian, kekasih Julian. Dia meninggal karena kecelakaan mobil dua tahun yang lalu tepat di saat Julian dan Kak Vanya bertunangan.Sejak awal, Julian tidak pernah mau di jodohkan.Tapi dia tidak bisa menolak keinginan kedua orang tuanya. Meski akhirnya Julian menerima perjodohan itu, tapi dia tetap mempertahankan Berlian. Dan ada satu ruangan yang Julian larang untuk aku masuki, itu adalah kamar Berlian. Dia tidak ingin membiarkanku masuk di kamar itu, karena di kamar itu memiliki banyak kenangan dengan mantan kekasihnya. Hingga akhirnya Julian terkadang menyiksaku saat dia tahu aku sudah memasuki ruangan yang dia larang itu, Adel."
Pada akhirnya, Alexa memilih untuk menceritakan semua masalahnya pada Adel. Dia tahu sepupunya itu bisa menyimpan rahasianya dengan baik. Saat ini Alexa memang membutuhkan seseorang untuk menemani dirinya.
Adel hanya terdiam ketika mendengar semua perkataan Alexa yang menjelaskan semua masalahnya. Sesaat dia menatap wajah sedih dari Alexa. Dan detik selanjutnya Adel mulai marah saat mendengar pernikahan kontrak dan perlakukan Julian yang selama ini kasar pada Alexa. "Astaga! Sebenarnya pernikahan macam apa yang kau dan Julian jalankan hingga kau mau membuat kesepakatan seperti itu? Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu, Alexa? Dan kenapa kau tidak pernah bercerita padaku atau paling tidak pada Kak Samudera. Apalagi tentang perlakuan Julian yang sudah kasar padamu? Aku benar - benar sakit kepala memikirkan pernikahan macam seperti itu, jadi kecurigaanku memang benar kan, kau itu tidak bahagia dengan pernikahanmu? Atau kau sudah mulai mencintainya?"
"Aku sulit menjelaskannya, Adel. Ini terlalu rumit. Tapi aku sendiri juga tidak mengerti tentang perasaanku pada Julian." balas Alexa.
Adel membawa tangannya menyentuh tangan Alexa, seraya berkata. "Alexa, jujur aku mencemaskan dirimu yang memutuskan menjadi pengganti dari Vanya. Terlebih setelah kau menceritakan semua ini. Aku takut kau memang sudah jatuh hati pada pria yang belum bisa menyerahkan hatinya padamu."
...*******/...
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.
__ADS_1