Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
Perdebatan Alexa dan Julian


__ADS_3

Sinar matahari pagi menembus jendela, menyentuh wajah Alexa. Perlahan, Alexa yang tengah tertidur pulas, mulai membuka matanya. Dia menyipitkan matanya saat melihat dirinya masih berada di sebuah kamar asing yang beraroma obat itu.


Alexa hendak bergerak, namun tiba-tiba saat Alexa hendak bergerak dia merasa ada tangan kokoh yang melingkar di pinggangnya. Alexa langsung menoleh ke samping. Raut wajah Alexa berubah saat melihat sosok pria yang tertidur di sampingnya dengan tubuh bertelanjang dada dan terbalut oleh selimut tebal.


"Akh-" Alexa menjerit keras. Wajahnya berubah menjadi panik.


"Kenapa kau berisik sekali, Alexa! Ini masih pagi!" Terpaksa Julian membuka matanya. Dia menatap Alexa dengan tatapan yang kesal.


"Sialan kau, Julian! Aku ini sedang sakit kenapa kamu masih sempat-sempatnya tidur di ranjang yang sama denganku! Dan ini juga masih di rumah sakit kenapa kau tidak mengenakan pakaianmu! Kenapa kau selalu melanggar kesepakatan yang kau buat!"


"Diam, Alexa!" Bentak Julian kemudian langsung memakai kemejanya kembali.


"Lebih baik kau-" ucapan Julian terpotong saat seorang mengetuk pintu.


Suara ketukan pintu terdengar memecahkan keributan di antara Julian dan Alexa. Julian mengalihkan pandangannya dan langsung menginterupsi untuk masuk. Terlihat seorang pelayan melangkah masuk kedalam ruang rawat Alexa seraya membawa nampan yang berisikan bubur yang sebelumnya di pesan oleh Julian.


"Selamat pagi, Tuan.... Nyonya..." sapa sang pelayan seraya menundukkan kepalanya saat tiba di hadapan Alexa dan juga Julian.


"Berikan buburnya padaku," tukas Julian dingin.


"Baik,Tuan." sang pelayan memberikan bubur yang dia bawa kepada Julian. Kemudian, dia pamit undur diri dari hadapan Julian dan Alexa.


"Julian, bubur ini untuk siapa?" tanya Alexa sambil menatap Julian dengan lekat. Dia tidak ingin berdebat lagi dengan Julian.


"Untukmu. Setelah ini kau harus minum obat," Julian menyendokkan bubur itu ke mulut Alexa. Awalnya Alexa menolaknya karena mulutnya terasa pahit. Tapi tatapan tajam Julian sukses membuat Alexa membuka mulutnya dan mulai menikmati bubur itu.


"Julian sudah, aku tidak bisa makan banyak. Mulutku terasa pahit." jawab Alexa mengeluh.


"Tidak apa-apa, paling tidak kau harus makan." tukas Julian dingin dengan raut wajah yang datar.


"Hm, Julian kenapa kau tidak pergi ke kantor?" tanya Alexa serius.

__ADS_1


"Jangan mengajukan pertanyaan bodoh. Kau kemarin mencoba untuk bunuh diri dan berada di rumah sakit. Aku tidak mungkin ke kantor dengan keadaan kau yang masih berada di rumah sakit, bukan?" Julian menjawab dengan nada yang tampak enggan menjawab pertanyaan dari Alexa.


"Alexa" panggil Julian dengan serius.


"Ada apa?" tanya Alexa masih dengan nada ketus.


"Aku tidak ingin lagi kau membahas kesepakatan itu. Ini terakhir kalinya kau membahas kesepakatan itu." Tukas Julian dingin dan dengan nada tidak ingin di bantah.


Alexa mengangkat wajahnya menatap Julian. "Allright, aku setuju dengan apa yang kau inginkan. Aku tidak akan membahas kesepakatan yang kau buat. Tapi dimana kau melarangku dan mengatur hidupku maka aku juga memiliki hak untuk mengatur hidupmu dan melarangmu. Aku akan bertanya kenapa kau pulang malam. Aku akan bertanya kau dari mana. Dan aku akan ikut campur dalam hidupmu. Jika kau tidak menyukainya, maka jangan coba-coba melarang hidupku!" Jawabnya tegas.


Julian menggeram. Rahangnya mengetat. Tangannya terkepal begitu kuat. "Tidak bisa!"


"Aku membencimu, Julian! Aku akan meminta Adel untuk menghubungi pengacaraku! Kita akan bercerai!"


"Diam Alexa! Sampai kapanpun kau hanya akan tetap menjadi istriku, aku bersumpah akan membunuh pengacaramu jika kau sampai berani mengajukan perceraian," desis Julian dengan penuh ancaman.


"Kau tidak setuju?" Alexa menatap dingin Julian, dia tersenyum sinis. "Jika kau tidak setuju maka kau jangan ikut campur dalam hidupku!" Kini Alexa hendak beranjak berdiri, meski dia merasakan sedikit perih di bagian pergelangan tangannya, namun dia memilih untuk menahan rasa perihnya.


Alexa nyaris tertawa kala mendengar permintaan khusus Julian. "Apa begitu pentingnya wanita itu, Julian? Kau bahkan tidak bisa melupakan seseorang yang sudah tidak ada lagi. Tapi maaf, aku menolak! Ruangan yang penuh dengan fotomu dan wanita itu aku akan menyimpannya di gudang!"


"Alexa!" Geram Julian dengan tatapan tajamnya.


"Apa?" tantang Alexa. "Kau tidak suka? Apa kau berniat memukulku karena aku berani melawanmu? Atau kau mau mengurung dan merantaiku lagi?!"


Julian membuang napas kasar. Dia berusaha meredakan amarah dalam dirinya. "Aku tidak memiliki kenangan apapun dengan Berlian. Hanya kamar itu yang sering di tempati olehnya. Itu adalah kamarnya. Jangan pernah merubah apapun yang ada di dalam kamar itu."


Alexa tersenyum patah. Hatinya begitu hancur apa yang di katakan oleh Julian. Dia merasakan hatinya tertancap pisau yang tajam. Kamar itu sering di tempati oleh Berlian? Pantas saja Julian melarangnya untuk masuk. Karena kamar itu telah memiliki banyak kenangan hingga membuat Julian tidak akan pernah bisa melupakannya.


"Aku harap kau mengerti, Alexa. Melupakan apa yang telah terjadi tidak semudah itu. Aku dan Berlian berpisah karena kedua orang tuaku memaksa menikah dengan saudara perempuanmu." Julian menurunkan nada suaranya saat mengatakan itu pada Alexa.


"Kenapa kau tidak berontak saat aku menggantikan saudara perempuanku?" tanya Alexa dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

__ADS_1


"Aku tidak bisa mempertaruhkan nama baik keluargaku," jawab Julian. "Keluargaku memilihmu. Mereka tidak pernah mau memiliki pasangan hidup untukku. Bagi mereka, kau pantas bersanding denganku. Meski aku menolak, aku juga tetap tidak akan pernah bisa menikah dengan wanita yang aku inginkan."


"Baiklah, aku tidak akan pernah menganggu ruangan itu. Ruangan yang berisikan kenanganmu dengan mantan kekasihmu." Alexa berkata tegar. Saat air matanya mulai menetes dia langsung menghapuskannya. "Aku ingin pulang terlalu banyak hal yang membuat pikiranku berantakan. Aku harap kau mengerti Julian."


Julian mengangguk. "Kita pulang bersama."


"Aku tidak ingin pulang kerumahmu, Julian!"


"Maksudmu?"


"Aku ingin menenangkan diriku di rumah Adel."


"Aku tidak akan pernah mengijinkanmu, Alexa."


"Kau sangat egois, Julian!" Isak Alexa. Dia memilih membuang wajahnya tidak menatap Julian.


Julian menggeram dia berusaha untuk mengendalikan amarahnya. "Apa yang aku putuskan tidak akan pernah berubah Alexa. Sekarang, kau istirahatlah. Aku tidak akan pergi jauh, aku di depan ruanganmu. Dan jangan lupa untuk meminum obatnya."


...********...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.

__ADS_1


__ADS_2