Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
Merasa Bersalah


__ADS_3

"Kau mau bawa kemana adikku!" Seru Samudera dengan tatapan yang tajam melihat Julian yang menggenggam tangan Alexa.


"Aku akan membawa istriku pulang!" Jawab Julian tegas seraya membalas tatapan dari Samudera.


"Kau mau membawa putriku pulang untuk kau kembali sakiti?" Raymond menghunuskan tatapan tajamnya pada Julian.


Julian menghembuskan nafas pelan, "Ayah, demi Tuhan aku mencintai putrimu. Aku tidak akan melukainya lagi. Aku minta maaf atas kesalahanku. Dan aku berjanji kesalahan yang aku perbuat tidak akan terulang lagi."


"Bagaimana aku bisa mempercayaimu? Jika kau tidak akan menyiksa putriku lagi!" Tukasnya dingin.


"Raymond." Arabella membawa tangannya menyentuh dada bidang suaminya. "Saat itu mungkin Julian masih terbayang dengan rasa bersalahnya pada mantan kekasihnya itu. Dan apa yang dilakukan Julian tidak sepenuhnya salah dia. Aku yakin, dia tidak akan pernah menyakiti putri kita lagi. Aku mohon padamu biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka.Alexa sudah dewasa dan kau sendiri yang memilihkan Julian sebagai suami putrimu."


Raymond membuang napas kasar. Hal yang dia tidak inginkan adalah melihat putrinya menderita. Dia terlalu takut ada yang melukai, Alexa. Namun, diapun tidak bisa terlalu banyak ikut campur dalam rumah tangga Julian dan Alexa. Alasan Raymond memilih Julian sebagai suami putrinya adalah karena latar belakang Julian dan sifat pria itu yang menurutnya pantas menjadi suami dari putrinya.


Kini Raymond melangkah mendekat pada Julian. Sesaat dia menatap tajam iris mata coklat Julian seraya berkata tegas. "Kali ini aku membiarkanmu membawa putriku. Dan ini terakhir kalinya aku melihat putriku menangis. Jika di masa depan kau masih membuat putriku menangis, aku tidak segan - segan menghabisimu dengan tanganku sendiri."


"Pah-"


Raymond mengangkat tangannya meminta agar Samudera untuk tetap diam. Samudera pun tidak memiliki pilihan lain selain menuruti perkataan Ayahnya itu.


"Aku berjanji tidak akan pernah melukai Alexa dan ini adalah terakhir kali Alexa menangis. Aku akan pastikan dia tidak akan pernah lagi menangis. Maafkan aku, Yah." Julian menurunkan suaranya dengan menatap tegas Raymond.


Meski sangat berat, akhirnya Raymond menganggukkan kepalanya. Kemudian Julian merengkuh bahu Alexa, membawa istrinya menuju ke arah mobilnya. Sedangkan Samudera yang berdiri di samping Arabella, dia terus menatap tajam Julian yang membawa adiknya. Dia pun tidak bisa lagi mengatakan apapun jika Ayahnya yang sudah turun tangan.


Kini Arabella mendekat ke arah Raymond. Dia memeluk lengan sang suami seraya berkata pelan, "Biarkan putri kita menyelesaikan masalahnya, Raymond. Aku mohon, jangan lagi seperti tadi. Kau hampir saja membuat putra kita dan menantu kita terbunuh."


"Aku membiarkan mereka berkelahi karena aku ingin melihat sebatas apa Julian berjuang mendapatkan wanita yang dia cintai. Karena seorang pria akan mengorbankan apapun termasuk nyawa sendiri jika memang dia mencintai wanitanya. Tidak akan ada yang terbunuh. Putraku tidak lemah. Dan pria yang aku pilih menjadi menantuku bukan pria yang sembarangan. Aku tidak mungkin memilihkan pria yang lemah untuk menjadi suami putriku." Raymond menjawab dengan tegas. Tatapannya terus menatap Alexa dan Julian yang sudah masuk kedalam mobil.


***

__ADS_1


Sepanjang perjalanan suasana hening tercipta. Alexa memilih memalingkan wajahnya keluar jendela. Sedangkan Julian yang tengah fokus mengemudikan mobil, dia melirik ke arah Alexa yang sejak tadi tidak ingin berbicara dengannya. Namun Julian tidak mempermasalahkan itu, mengingat sang istri yang masih marah padanya. Bagi Julian sudah bisa membawa Alexa pulang lebih dari cukup.


Kini mobil Julian sudah memasuki mansion mereka. Julian lebih dulu turun dari mobil.Dia membukakan pintu mobil untuk istrinya. Saat Julia hendak mengulurkan tangannya untuk membantu Alexa dengan cepat Alexa langsung mengabaikan Julian. Julian pun memilih mengalah. Kemudian mereka melangkah masuk kedalam mansion mereka.


"Aku ingin tidur," Alexa berucap dingin saat memasuki mansion.


"Ya, ganti pakaianmu sebelum tidur." jawab Julian seraya mengelus rambut panjang Alexa.


Wajah Alexa dingin dan tanpa ekspresi. Dia mengangguk singkat dan melangkahkan kakinya menuju ke dalam kamar. Dia tidak ingin banyak bicara dengan Julian. Lebih baik baginya untuk beristirahat menenangkan pikirannya.


"Tuan Julian," seorang pelayan melangkah mendekat ke arah Julian saat Alexa baru saja masuk kedalam kamar.


"Ada apa?" tanya Julian dingin.


"Tuan, apa anda ingin saya memasak sesuatu untuk Nyonya? Biasanya wanita hamil termasuk pemilih dalam makanan," ujar sang pelayan memberitahu.


Julian menghembuskan nafas pelan. "Aku tidak tahu apa yang di inginkan oleh istriku. Kau siapkan saja semua makanan yang baik untuk ibu hamil."


Tanpa lagi berkata, Julian melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar. Sesaat Julian terdiam ketika melihat Alexa yang sedang duduk di sofa sambil melamun. Padahal istrinya itu tadi mengatakan ingin beristirahat.


"Kenapa kau belum tidur," Julian mendekat, lalu duduk di samping Alexa.


"Belum mengantuk." jawab Alexa dingin tanpa melihat ke arah Julian.


"Aku sudah meminta pelayan untuk menyiapkan makan malam. Lebih baik kau istirahatlah sebentar. Nanti aku akan membangunkanmu," ujar Julian seraya mengelus pipi Alexa. Alexa langsung membuang wajahnya saat Julian menyentuh pipinya. Namun tiba-tiba Alexa merasakan perutnya terasa seperti di aduk - aduk. Dia berdiri dan berlari menuju ke arah toilet. Julian yang melihat Alexa berlari, dia langsung menyusul istrinya itu.


Hueeekkk...


Alexa memuntahkan semua isi perutnya. Dia memutar keran dan membasuh mulutnya dengan air bersih. Wajahnya kini menjadi pucat. Kepalanya memberat, tepat di saat tubuh Alexa yang mulai tidak seimbang, Julian langsung menangkap tubuh istrinya.

__ADS_1


"Apa sering mual seperti ini?" Julian bertanya dengan tatapan yang begitu cemas. Dia memeluk erat pinggang Alexa. Kali ini tubuh Alexa begitu lemah, dia memilih membiarkan Alexa untuk memeluknya.


"Iya," jawab Alexa dengan suara yang pelan.


"Besok kita akan ke dokter," Julian mengusap lembut bibir Alexa yang masih basah itu.


"Tidak perlu. Aku sudah ke dokter. Dokter bilang wanita hamil akan selalu mual seperti ini," jawab Alexa dengan pelan namun tersirat dingin.


Julian membuang napas kasar. Dia tidak tega melihat Alexa harus mual seperti ini. Di tambah lagi dia melihat pipi istrinya yang mulai terlihat tirus. Dia tidak pernah tahu wanita hamil akan banyak penderitaan seperti ini.


"Maaf," Julian mengatakan itu penuh dengan penyesalan. Bagaimana pun Alexa hamil akibat ulahnya. Ya, dia memang tidak pernah berniat menunda memilki anak. Karena sejak dulu yang ada di pikiran Julian adalah jika dirinya dan Alexa memiliki anak, mereka tidak mungkin bisa terpisah. Apapun alasannya, dia akan bisa memiliki Alexa seutuhnya.


Alexa hanya membalas Julian dengan senyuman kecut di wajahnya. Dia tidak mengatakan apapun karena kepalanya pusing dan perutnya yang begitu mual.


"Lebih baik kau istirahat sebentar," ujar Julian lagi seraya menatap lembut iris mata cokelat Alexa.


Alexa menganggukkan kepalanya. Kini Julian merengkuh bahu sang istri dan mengantarkan Alexa agar membaringkan tubuhnya di ranjang.


*****


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


__ADS_2