Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
Rencana Devan


__ADS_3

"Erlangga, apa semua perizinan untuk ekspor dan impor ada masalah?" tanya Julian dengan nada yang dingin.


"Tidak ada masalah, Tuan. Semua berjalan dengan lancar. Sebentar lagi kita akan mengirimkan wine ke Asia karena pasokan wine yang mereka butuhkan sangat banyak dan hasil anggur di tahun ini juga sangat memuaskan." jawab Erlangga "Tuan Julian, untuk pemesanan wine yang berusia dua puluh tahun hingga tiga puluh tahun juga ikut meningkat dengan pesat, Tuan." lanjutnya memberikan laporan tambahan.


"Erlangga, untuk wine yang berusia tiga puluh tahun, aku ingin kau naikan harganya menjadi dua kali lipat. Karena permintaan yang tinggi. Dan untuk wine yang berusia dua puluh tahun, kau bisa naikkan lima puluh persen dari harganya. Selain itu, agar ongkos kirim jauh lebih murah, kau tingkatkan biaya minimal. Aku ingin mereka memesan paling tidak dua puluh lima persen meningkat dari minimal pembelian mereka."


Devan berdecak kagum saat mendengar ucapan dari Julian. Dia bahkan tidak menyangka dengan apa yang di pikirkan oleh sahabatnya itu. Ketika pangsa pasar naik, sahabatnya itu begitu berani menaikkan harga jual. Bahkan, Julian tidak memberikan potongan sedikitpun malah meningkatkan minimal pembelian. Jika perusahaan yang lain, mungkin tidak akan berani dengan apa yang Julian putuskan. Pasalnya, jika perusahaan yang tidak begitu besar atau perusahaan yang memulai bisnis ini dari bawah, mereka pasti akan menjualnya dengan harga yang murah. Namun, tidak mementingkan kualitas dari produk. Sedangkan Julian tidak memperdulikan tentang harga karena prinsip Julian kualitas jauh lebih penting. Selama ini, memang banyak sekali perusahaan yang menurunkan harga wine demi bisa bersaing dengan Dominic Group, sayangnya setiap lawan yang ingin bersaing dengan Dominic Group pasti akan mengalami kekalahan karena Julian selalu mempertahankan kualitasnya dan tidak mempedulikan para pesaing yang berlomba-lomba menurunkan harga.


"Baik, Tuan." jawab Erlangga patuh.


"Pergilah. Kau boleh menyelesaikan pekerjaanmu." ucap Julian dengan nada dingin.


Kemudian Erlangga menundukkan kepalanya, lalu pamit undur diri dari hadapan Julian dan juga Devan.


"Julian, aku sungguh tidak menyangka kau berani menaikkan harga produkmu?" Devan berucap setelah Erlangga sudah pergi.


"Aku rasa, aku tidak perlu menjelaskannya padamu lagi karena kau sudah mengenalku," jawab Julian.

__ADS_1


"Tapi bagaimana jika ada pesaing yang memiliki produk yang sama denganmu tetapi mereka menurunkan harganya? Apa kau tidak takut, Julian?" tanya Devan dengan tatapan yang lekat pada Julian.


"Di dalam dunia bisnis aku tidak pernah sekalipun merasa takut dengan apa yang sudah aku putuskan. Karena selama ini aku tidak pernah kalah. Aku tidak pernah kehilangan pelanggan dengan apa yang aku putuskan. Lagi pula, barang murah biasanya akan di cari oleh banyak orang. Tetapi belum tentu kualitasnya terjamin. Sedangkan, barang yang mahal dan memiliki kualitas yang terbaik, hanya orang - orang tertentu saja yang bisa mendapatkannya. Dan aku ingin membuat orang kesulitan mendapatkan produk wine dari perusahaanku." jelas Julian dengan pandangan yang lurus kedepan.


Mendengar penjelasan dari Julian, Devan pun mengangguk - anggukan kepalanya dan berkata. "Aku juga setuju dengan pendapatmu itu. Kau ternyata memiliki cara pikir yang luar biasa dan aku sangat mengakui itu."


"Tapi maaf, aku tidak ingin menerima pujian.Karena aku tahu diriku, jadi kau tidak perlu memujiku." balas Julian dengan dingin.


Mendengar ucapan dari Julian, Devan kembali berdecak kesal. "Kau ini memang sangat menyebalkan sekali. Sudahlah, aku tidak akan membahas masalah pekerjaan lagi. Karena ada yang ingin aku tanyakan padamu?" ucapnya dengan nada yang serius.


"Julian, jika aku harus membayar seseorang untuk menculik Adel, lalu aku yang akan menjadi penyelamatnya, menurutmu bagaimana?" tanya Devan tentang rencananya agar bisa mendapatkan cinta dari Adel.


"Jadi? Kau ingin bertindak sebagai penolongnya?"


"Iya, tapi rencanaku itu masih belum matang. Dan aku terpaksa akan melakukan ide itu karena aku tidak memiliki pilihan lain. Kau sendiri juga tahu bukan? Kalau aku itu hanya memiliki waktu selama satu bulan saja untuk mendapatkan cinta dari Adel dan aku mau tidak mau kalah, karena aku ingin secepatnya Adel harus menjadi milikku." Devan berucap memberikan alasannya.


"Aku rasa, apa yang di katakan oleh Adel ada benarnya bahwa kau itu memang sudah kehilangan kewarasanmu. Bagaimana bisa seorang Devan Anggara berpikir hal konyol seperti itu untuk mendapatkan cinta dari Adel." ucap Julian sambil menggeleng tak percaya dengan apa yang dia dengar ini. Ya, tidak heran jika Adel selalu mengatakan jika Devan itu tidak waras. Bagaimana bisa ada orang yang berniat menculik orang yang di cintainya dan akan berpura - pura layaknya menjadi superhero untuk menjadi penyelamatnya. Meskipun itu hanya sebuah keinginan, yang masih tersusun belum sempurna yang ada di dalam benak sahabatnya itu.

__ADS_1


"Julian, aku hanya memberitahukan ideku yang tiba - tiba saja muncul di otakku. Aku juga belum tentu akan menjalankan ide itu. Tetapi kau malah menghinaku?" seru Devan tidak terima.


Julian menghembuskan nafas kasar, "Tapi kau bisa menggunakan cara yang lain, Devan, agar wanita yang kau cintai itu akan terkesan saat dia melihatmu. Bukannya dengan idemu yang memang tidak waras itu, Devan Anggara. Dan aku bisa pastikan jika kau tetap pada rencanamu itu Adel malahan akan semakin membencimu dan kau akan kehilangannya. Apa kau ingin seperti itu, Hah?!"


"Aku hanya baru saja mengutarakan ide itu padamu, Julian. Dan belum tentu juga aku akan melakukan rencana itu. Karena rencanaku itu masih belum matang, makannya aku bertanya padamu lebih dulu untuk memberikan pendapat.Kau tentunya juga tahu, jika sikap Adel masih sangat dingin saat bertemu denganku. Terakhir saat aku bertemu dengannya saja, dia juga masih menolakku. Untukku itu, aku akan memikirkan rencana yang lainnya jika kau tidak setuju dengan ide gilaku itu." ucap Devan sambil mengeluarkan rokok, dia langsung menyalakan dan mengisap rokok "Julian, apa kau tidak ingin merokok?" tawar Devan karena tidak biasanya Julian tidak langsung ikutan merokok dengan dirinya.


"Aku sedang mengurangi untuk merokok. Karena Alexa, tidak menyukai jika aku sering merokok." jawab Julian yang langsung mendapatkan tawa dari Devan. Ya, bagaimana tidak tertawa, saat mendengar ucapan dari Julian? Karena sejak dulu Julian itu selalu menyindir teman - temannya jika para temannya sangat patuh apabila pacar dari para temannya itu melarang untuk merokok. Karena Julian tidak ingin hidupnya itu di atur meskipun dia juga menjalin hubungan dengan wanita yang cantik. Jika sampai ada yang berani mengatur kehidupan Julian, sudah bisa di pastikan Julian akan langsung meninggalkan wanita itu. Tapi lihatlah sekarang? Karena permintaan dari istrinya dia langsung menurutinya dan satu - satunya wanita yang dapat mengendalikan Julian hanyalah Alexa. Sungguh, Devan masih tidak menyangka jika Julian akan sangat tunduk pada istrinya.


"Kenapa kau tertawa? Memangnya ada yang lucu?"


*******


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁

__ADS_1


__ADS_2