Derita Istri CEO

Derita Istri CEO
Pikirkan Baik-baik


__ADS_3

Alexa tersenyum patah. Sebuah senyuman yang mengisyaratkan kepedihan yang mendalam. Julian mencintainya? Tidak pernah sedikitpun terpikirkan oleh Alexa, Julian akan mencintainya. Terlebih dengan semua kenyataan yang baru saja dia dengar. Bukan tidak ingin berpikir positif, tapi Alexa hanya tidak ingin terluka.


"Aku lebih baik tidak mengharapkan apapun dari Julian. Karena mencintainya hanya akan meninggalkan luka yang mendalam. Dan aku lebih memilih tidak membiarkan hatiku jatuh pada itu," ucap Alexa tegar. Tersirat dirinya berusaha untuk menguatkan diri saat mengatakan hal itu.


Devan membuang napas kasar. Tatapannya menatap Alexa tidak setuju. "Kau salah Alexa. Hidup Julian telah mati tepat dimana Berlian pergi. Banyak hal yang berubah darinya. Bahkan selama Kakak perempuanmu berada di sisinya, dia tidak pernah menganggapnya ada. Sedangkan kau? Dia perduli padamu. Dia marah jika ada yang mendekatimu, bahkan tadi aku melihat Julian begitu khawatir dengan kondisimu. Aku mengenal Julian sudah lama. Aku bisa tahu, jika dia jatuh cinta pada seorang wanita. Dan aku sangat yakin, Julian telah jatuh cinta padamu. Aku hanya memintamu untuk sedikit bersabar. Cepat atau lambat, Julian pasti akan melupakan Berlian dan pasti akan fokus pada dirimu." ucap Devan menjelaskan.


"Maaf Kak Devan, aku harus istirahat. Dan Terima kasih telah memberitahuku semuanya."


"Alexa, aku pun sebenarnya tidak tahu apa yang sudah Julian lakukan padamu hingga membuatmu melukai dirimu sendiri hingga seperti ini. Aku hanya ingin mengatakan, aku harap kau bisa memaafkan suamimu, jangan pernah mengambil sebuah keputusan saat kau sedang marah atau kecewa. Pikirkan baik-baik, jika takdir telah membuatmu dan Julian bersatu maka kalian memang di takdirkan bersama. Bersabarlah Alexa. Aku juga sebenarnya bisa melihat kau telah jatuh cinta pada Julian. Jangan membohongi dirimu. Aku berharap kalian memiliki kehidupan yang bahagia. Baiklah aku akan menunggu di luar hingga Julian datang kembali, lebih baik kau beristirahatlah...."


Alexa tersenyum getir. "Terima kasih, Kak Devan."


Alexa kembali terdiam. Saat mendengar perkataan Devan. Luka yang di berikan oleh Julian memang begitu dalam. Bahkan dia tidak tahu apakah dirinya bisa memaafkannya atau tidak. Dia pun mendengar perkataan Julian yang berkali - kali meminta maaf padanya. Namun entah kenapa hatinya masih sangat sakit.


...***...


Setelah mendapatkan pemeriksaan dari dokter yang menanganinya. Alexa berbaring seorang diri di kamar perawatannya sambil menatap langit-langit kamar.


Alexa yang sedari tadi pagi hanya berbaring, mulai merasakan ingin buang air kecil. Dengan mengerahkan sisa kekuatannya yang masih ada dalam dirinya Alexa bangkit dari tidurnya dan perlahan turun dari ranjangnya. Tubuhnya masih terasa sangat lemah, nafasnya juga masih terasa sedikit sesak. Dan dengan bersusah payah, akhirnya Alexa berhasil tiba di kamar mandi dengan membawa tiang infusnya. Bisa saja Alexa memanggil perawat untuk membantunya, tapi Alexa tidak ingin merepotkan siapapun.


Alexa benar - benar ingin menangis saat jarum infus membatasi ruang geraknya


"Kenapa aku tidak mati saja?" sebuah cairan lolos dari sudut matanya, "Hidup pun percuma jika tidak bahagia. Aku bukan boneka!" Gumam Alexa seorang diri di dalam kamar mandi itu.


Selesai dengan semua ritual yang ada di dalam kamar mandi, Alexa kembali melangkah kakinya yang terasa tak bertulang itu keluar kamar mandi tapi saat Alexa membuka pintu kamar mandi, Julian sudah berdiri menjulang di ambang pintu.


"Dasar gadis bodoh!" Seru Julian. "Kenapa kau tidak meminta tolong pada perawat, Huh?" ucap Julian kemudian langsung membopong tubuh Alexa ke atas ranjang.


"Eh? Julian turunkan aku! Aku bisa jalan sendiri!"


"Diamlah Alexa! Atau kau ingin aku memasung kakimu!"


"Kau sangat menjengkelkan, Julian!"


"Kenapa kau sangat menggemaskan Alexa, sampai aku ingin mengurungmu lagi," bisik Julian.


"Ja- jangan mengatakan seperti itu." Alexa langsung mendorong dada bidang Julian.

__ADS_1


"Aku rindu kecupanmu Alexa." ujar Julian tiba-tiba.


"A- apa yang kau katakan. Aku tidak mau,"


Julian mendekatkan wajahnya hingga jarak mereka tidak lebih dari lima centi. Alexa terdiam seketika sebelum tangannya yang sakit terangkat memukul dada bidang Julian.


"Awwww....." pekik Alexa membuka mulutnya saat rasa sakit di pergelangan tangannya itu semakin kuat.


"Dasar gadis bodoh!" Caci Julian menatap Alexa dengan tatapan yang sangat menyebalkan.


Alexa terdiam saja, saat ia mengusap pergelangan tangannya.


Julian duduk di samping Alexa dan menarik tangan Alexa yang terluka dan mengusapnya dengan lembut. Sentuhan yang membuat Alexa menatapnya tanpa bisa berkata lagi.


"Berhenti menatapku atau kau benar-benar akan jatuh cinta padaku." ujar Julian masih dengan mengusap tangan Alexa.


Alexa menarik tangannya dan ia sangat benci dengan kalimat yang keluar dari bibir Julian.


"Aku membencimu," Alexa mengatakan itu dengan jelas di depan mata Julian.


Julian menatapnya dalam dan tersenyum miring.


Alexa berdecak sebal saat ini, Julian sangat menyukai gadis itu saat marah dan kesal wajahnya sangat merona.


"Rupanya kau sudah berani marah padaku kali ini, Hem.... menarik."


"Alexa......." suara wanita memasuki ruang rawat Alexa dengan keras membuat Alexa dan Julian langsung mengalihkan pandangannya pada sumber suara itu.


Seketika Julian menghembuskan nafas kasar, melihat Adel yang berlari masuk kedalam. Julian beranjak dari tempat duduknya, dia sedikit menjauh membiarkan Adel yang kini memeluk Alexa.


"Alexa, kau baik-baik saja kan? Aku sangat mengkhawatirkanmu? " tanya Adel sambil menangis dan memeluk erat Alexa.


"Jika kau memelukku seperti ini, besok kau sudah pasti tidak bisa lagi melihatku. Aku kesulitan bernapas, Adel." Alexa berucap dengan suara yang kesal.


"Eh? Apa aku memelukmu terlalu erat?" Adel mengurai pelukannya. Dia meringis tidak enak. "Maaf aku terlalu bahagia mendengar kau akhirnya baik - baik saja. Aku takut terjadi sesuatu padamu."


"Kenapa kamu bisa terluka seperti ini, Alexa? Astaga, kenapa setelah kau menikah aku selalu melihatmu terluka seperti ini? Apa karena Julian sering menyiksamu?" lanjutnya.

__ADS_1


Julian menghembuskan napas kasar. "Apa sebenarnya tujuanmu datang kesini?" tanyanya dingin dan tak suka dengan kehadiran Adel.


"Tujuanku kesini ingin memastikan keadaan sepupuku apakah dia baik - baik saja. Karena sudah beberapa hari ini aku tidak bisa menghubungi Alexa dan setelah aku berkunjung ke mansionmu aku mendengar sepupuku di rawat di rumah sakit. Dan sekarang lihatlah, apa yang aku khawatirkan benar kan, kau pasti sudah menyiksa sepupuku hingga seperti ini." ucap Adel menatap tajam ke arah Julian. "Kalau sampai Kak Samudera mengetahui keadaan adiknya seperti ini aku pastikan kau akan habis di tangannya!" Lanjutnya dengan nada penuh emosi.


"Kau-"


"Awwww...." Adel meringis kesakitan saat Alexa mencubitnya.


"Sakit Alexa! Kau kenapa sih, aku ini sedang memarahi suamimu ini!" Adele mencebikkan bibirnya menatap kesal ke arah Alexa.


Ya, Alexa sengaja mencubit Adel agar dia berhenti berbicara karena dia sudah melihat raut wajah Julian yang sedang menahan amarahnya. Dia tidak ingin jika terjadi sesuatu pada sepupunya itu.


"Adel, pulanglah aku ingin segera beristirahat. Nanti aku akan menghubungimu kalau aku sudah di perbolehkan pulang kerumah." ucap Alexa sambil memberikan kode pada Adel.


Adel pun langsung menggangguk cepat saat Alexa mengucapkan itu. "Baiklah Alexa, aku pergi dulu. Dan ingat, jangan sakit lagi..."


...***...


"Astaga, sepertinya aku akan mendapatkan masalah." Adel mendesah frustasi. Dia terus menjambak rambutnya.


"Apa kau ingin aku antar, Nona?" tawar Devan saat melihat Adel terlihat gelisah ketika keluar dari ruang rawat Alexa.


"No, thanks." ucap Adel ketus. Kemudian dia menghentakkan kakinya berjalan meninggalkan rumah sakit itu.


"Gadis yang menarik..." ucap Devan.


...*******...


Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D


Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~


Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁


Makasih...


Bersambung....

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.


__ADS_2