
"Julian.." suara bariton memanggil nama Julian dengan nada suara yang cukup keras, membuat Julian yang baru saja keluar dari ruangan meeting, langsung mengalihkan pandangannya ke sumber suara itu. Dan kini tatapan Julian tertuju pada Devan yang sudah berdiri tidak jauh darinya. "Ada apa kau datang ke perusahaanku? Bukankah aku tidak ada jadwal meeting denganmu?" tanyanya dingin pada Devan.
Ya, saat mendengar pertanyaan yang di ucapkan oleh Julian membuat Devan berdecak kesal. "Julian, bisakah kau menyambut kedatangan teman baikmu ini dengan sedikit lebih ramah. Kenapa sikapmu seperti ini setiap aku datang." jawabnya dengan nada yang kesal.
Julian tidak menjawab, raut wajah dingin dan tanpa ekspresinya yang terlihat malas saat mendengar apa yang sedang di katakan oleh Devan.Dan tanpa menjawab sepatah katapun, Julian lebih memilih untuk berjalan masuk kedalam ruang kerjanya. Tepat di saat Julian mengacuhkan keberadaannya, Devan kembali mendengus tak suka. Dan dengan menghela nafas panjang, Devan kemudian berjalan mengikuti Julian yang sudah lebih dulu masuk kedalam ruang kerjanya.
"Julian, ada yang ingin aku katakan padamu?" ucap Devan saat dia sudah masuk ke ruangan Julian dan duduk di hadapan Julian.
"Memangnya kau ingin mengatakan apa?" ucap Julian dari tempat duduknya, dan seperti biasanya dia langsung mengambil gelas sloki yang berisikan wine yang berada di mejanya dan menyesapnya secara perlahan.
"Aku hanya ingin berterima kasih kepadamu dan juga Istrimu karena semalam sudah mengijinkan aku untuk mengambil alih Adel yang tengah mabuk. Kedepannya, jika Adel kembali mabuk kalian harus melakukan hal seperti tadi malam." Ucap Devan, kemudian dia menarik kursi yang sedang dia duduki dan memajukannya agar bisa lebih dekat berhadapan dengan Julian. "Apa kau tahu? Saat kejadian Adel yang mabuk semalam, dia tidak sengaja menciumku. Dan aku sangat yakin tidak lama lagi dia pasti akan menerima lamaranku." lanjutnya dengan penuh percaya diri.
Mendengar ucapan dari Devan. Julian menghembuskan nafas kasar. Dia pun menatap Devan dengan malas. Ya, bagaimana tidak? Usianya kini sudah bukan remaja lagi. Tetapi dia masih harus mendengarkan curhatan dari Devan yang begitu antusias. Sahabatnya itu seperti seseorang yang baru pertama kalinya merasakan jatuh cinta. Dan Julian paling malas menghadapi sesuatu yang seperti ini. Karena dia tidak ingin di pusingkan dengan orang yang sedang kasmaran. Mungkin karena selama hidup Julian selalu mendapatkan wanita yang dia cintai dengan mudah berbeda dengan sahabatnya itu. Sebagai contoh saja yaitu saat dirinya sudah mencintai Alexa, namun saat itu Alexa sudah menjadi istrinya. Meski mereka pernah bertengkar sekalipun, akan tetapi Julian tahu, jika Alexa tidak akan pergi darinya. Istrinya itu akan terus selamanya menjadi miliknya. Namun berbeda dengan sahabatnya, Devan masih harus terus berjuang mendapatkan cinta dari wanita yang berkali - kali sudah menolak dirinya.
"Julian, kenapa kau dari tadi hanya diam saja? Sebenarnya kau itu mendengar ucapanku atau tidak?" Devan kembali bertanya dengan nada kesal. Pasalnya, Julian hanya diam saja, tidak mengatakan sepatah kata pun padanya.
"Dengarkan aku. Kau ini bukan lagi seorang pria yang masih remaja. Jadi kenapa kau selalu berlebihan sekali!" Ucap Julian sambil menenggak wine yang ada di tangannya hingga tandas.
__ADS_1
Devan berdecak pelan. "Kalau begitu, jangan salahkan aku jika aku akan menghasut Alexa kemudian dia akan meninggalkanmu. Dan aku akan pastikan kalau dia akan menolak ribuan kali. Meski kau sudah menjelaskannya. Sehingga kau bisa merasakan apa yang selama ini aku rasakan." ucap Devan memberikan sedikit ancamannya pada Julian.
"Dengar aku, Devan. Alexa itu adalah milikku. Jika dia ingin meninggalkanku, maka aku juga akan memiliki ribuan cara agar dia tidak bisa lari dariku. Dan sekalipun kau berhasil menghasutnya, aku pastikan Alexa akan tetap kembali padaku." Julian menjawab dengan nada tegas dan penuh penekanan.
Devan menghembuskan nafas panjang menatap ke arah Julian dengan malas saat Julian mengatakan jawabannya dengan begitu percaya dirinya.Kini gantian Devan yang menyambar botol wine yang ada di hadapannya dan menuangkan ke gelas sloki yang kosong, kemudian di sesapnya perlahan. "Terserah kau saja, yang terpenting kau harus selalu mendukung hubunganku dengan Adel."
Julian mengangkat bahunya tak acuh. Dan dia tidak menjawab apa yang di katakan oleh Devan tadi.
"Tuan Juliannnn...!" Seru Kenzo, assisten dari Julian itu langsung menerobos masuk kedalam ruang kerja milik Julian. Sontak Julian dan Devan pun sangat terkejut melihat Kenzo yang langsung masuk kedalam ruang kerjanya dengan terburu-buru dan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Ada apa? Kenapa kau bisa berlari masuk seperti itu, Ken? Tidak bisakah kau mengetuk pintu terlebih dulu?" tanya Julian dengan tatapan yang begitu dingin
"Masalah besar?" alis Julian terangkat, menatap serius ke arah Kenzo. "Memangnya masalah besar apa yang kau maksud itu, Ken?" tanyanya dingin.
Kenzo terdiam sebentar. Kemudian dia melihat ke arah Julian dan Devan secara bergantian. Dan di ruang kerja Julian, hanya ada dirinya dan juga Devan. Kenzo sudah terbiasa melaporkan masalahnya pada Julian serta Devan juga terkadang terlibat di dalamnya Karena selama ini, Devan memang sering membantu Julian di perusahaan.
"Iya, ada apa, Kenzo? Bicaralah kenapa kau malah diam saja?" kali ini Devan yang bertanya dengan serius sambil menatap ke arah Kenzo yang berdiri dan masih diam saja.
__ADS_1
"Begini Tuan. Saya ingin menyampaikan, jika sudah banyak sekali pembatalan order wine yang di batalkan secara tiba - tiba, Tuan. Apa Tuan tahu, hampir lima puluh persen pembatalan wine yang berada di Asia sudah di batalkan secara bersamaan. Dan saya mendengar, ada salah satu perusahaan yang memproduksi wine dan mereka menurunkan harga wine yang ada di pasaran, hingga turun menjadi tujuh puluh persen. Dan saya juga, masih belum bisa mendapatkan informasi tentang perusahaan apa yang menurunkan harga jual wine nya hingga tujuh puluh persen itu. Akibat dari ulah perusahaan itu, mereka sudah berhasil menghasut para customer kita untuk berpindah haluan ke perusahaan milik mereka, dan itu yang menyebabkan perusahaan kita mengalami kerugian yang cukup banyak, Tuan." jelas Kenzo dengan raut wajahnya yang gelisah saat menjelaskan masalah yang terjadi.
"Memangnya perusahaan yang seperti apa hingga berani menurunkan harga jual wine menjadi tujuh puluh persen? Apa perusahaan mereka sudah tidak waras? Mungkinkah mereka tidak tahu, bahwa mereka sudah membuat bangkrut perusahaan mereka sendiri?!" Seru Devan dengan nada yang kesal saat mendengar semua penjelasan dari Kenzo. Kemudian tatapan Devan beralih pada Julian yang sejak tadi tampak terlihat tenang - tenang saja. "Julian, apakah kau juga akan berencana untuk menurunkan harga jual wine nya? Kau juga bisa kan menurunkan harga wine itu, tapi aku yakin kau tidak akan bertindak sebodoh itu kan, hingga ikut menurunkan harga jual wine yang lebih dari lima puluh persen."
"Tidak akan pernah." jawab Julian dengan tegas, kemudian menyandarkan punggungnya di kursi. Lalu, dia mengetuk pelan mejanya secara berirama."Aku tidak akan pernah sekalipun menurunkan harga jual wine, meski itu hanya satu euro. Tidak akan pernah. Lebih baik membiarkan saja apa yang mereka mau. Karena tujuan dari mereka adalah menginginkan aku untuk bersaing harga dengan mereka. Aku juga tidak ingin bertindak bodoh untuk mengikuti permainan mereka. Lagi pula, pabrik wine milikku hanya sebagian dari bisnisku yang lain. Dan itu tidak akan pernah memengaruhi bisnisku yang lainnya. Karena mereka tidak akan pernah mampu untuk menjatuhkan perusahaanku dengan cara yang rendahan seperti itu."
****
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.